Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Saat terakhir bersama Rayn


__ADS_3

Alice masuk ke dalam kelas.


Seperti biasa, beberapa siswa yang sudah berada di dalam kelas menatapnya dengan sinis.


"Kalian sudah mendengar kabar bahwa Rayn akan pindah ke luar negeri?"


ucap salah satu teman sekelas Alice.


"Benarkah?


Mengapa begitu tiba-tiba?"


"Sepertinya orang tuanya akan menjalankan bisnis disana."


"Ya, aku tahu orang tua Rayn memang menjalankan bisnis di luar negeri."


"Aku sangat penasaran bagaimana jadinya nanti Alice setelah Rayn pergi meninggalkannya.


Kalian tahu sendiri bahwa selama ini Rayn yang melindunginya dari olokan semua siswa di sekolah."


"Yang pasti ia akan begitu menderita nantinya.


Aku sedikit kasihan dengannya."


ucapnya dengan nada mengejek.


Alice tidak menghiraukan mereka saat mendengar namanya disebut.


Ia tetap fokus dengan buku pelajaran yang berada di hadapannya.


Tiba-tiba Rayn datang dan kemudian menghampirinya.


Semua siswa yang berada di dalam kelas, termasuk Alice terkejut dengan kedatangan Rayn.


"Aku ingin bicara denganmu Alice."


Alice masih diam di tempatnya.


Rayn kemudian menarik tangannya dan membawanya keluar dari kelas.


Saat ini Rayn dan Alice sedang berada di lantai atas gedung sekolah.


Mereka berdiri bersampingan dengan mata menatap lurus ke depan.


Beberapa saat kemudian, Rayn membuka suara.


"Ayahku tetap tidak mengubah keputusannya Alice.


Bahkan ia mempercepat keberangkatan kami ke luar negeri.


Ayahku juga sudah memberitahu pihak sekolah.


Kami akan berangkat lusa nanti."


Perasaan sedih begitu menyelimuti hati Alice.


Rasanya ia ingin menangis saat ini.


Namun ia berusaha mengontrol dirinya.


Bagaimanapun itu adalah keputusan terbaik untuk keluarga Rayn.


Ia tidak boleh ikut campur.


Alice kemudian menghadap Rayn dan memasang senyum di bibirnya.


"Baiklah Rayn.


Aku senang mendengarnya."


Rayn kemudian mendekati Alice.


"Alice, maafkan aku."


"Kau tidak perlu minta maaf Rayn.


Kau sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.


Kenapa kau minta maaf?"


"Aku meninggalkanmu sendirian disini.


Aku meninggalkanmu bersama orang-orang jahat."


Alice tersenyum.


"Aku tidak sendirian Rayn.


Aku masih memiliki keluargaku disini."


"Aku berjanji akan kembali."


"Dan aku akan menunggu saat itu tiba.


Kita tidak akan putus komunikasi juga bukan?


Kita masih bisa berhubungan walau dengan jarak yang jauh Rayn.


Asalkan kau masih mau menerima panggilan atau pesan dariku."


"Tentu saja aku mau Alice.


Aku tidak akan pernah melewatkan panggilan ataupun pesan darimu."


"Kau dan aku selamanya akan tetap bersahabat Rayn.


Aku tidak mau khawatir akan kehilanganmu."


Rayn tersenyum.


"Hem, aku juga tidak akan pernah melupakanmu Alice."


Rayn dan Alice tersenyum satu sama lain.


Rayn kemudian maju selangkah dan kemudian memeluk tubuh Alice.


"Aku mohon beritahu aku setiap kali kau memiliki masalah Alice.


Aku selalu siap mendengarkanmu.


Kalau perlu aku akan mengirim seseorang untuk menjagamu di sini."


"Aku akan memberitahumu setiap masalahku Rayn.

__ADS_1


Tapi kau tidak perlu mengirim seseorang."


"Baiklah, aku tidak akan melakukannya Alice.


Alice tersenyum di dalam pelukan Rayn.


--


Alice keluar dari kamarnya dan secara tidak sengaja bertemu dengan Kate yang baru saja pulang kerja.


"Alice, Kakak dengar Rayn akan pindah ke luar negeri.


Apa itu benar?"


"Iya Kak. Orang tua Rayn ingin menjalankan bisnisnya disana."


"Kakak ikut sedih mendengarnya Alice.


Rayn adalah pria yang baik.


Dia selalu menjagamu dan melindungimu di sekolah.


Rayn sangat berarti untukmu kan?"


Alice menganggukkan kepalanya.


"Rayn adalah sahabatku Kak.


Sebenarnya aku tidak ingin Rayn pergi.


Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Itu juga keputusan keluarga Rayn.


Kedua orang tua Rayn lebih tahu apa yang terbaik untuknya."


"Kau benar Alice.


Kakak yakin Rayn tidak akan pernah melupakanmu.


Walaupun mungkin jauh, ia pasti akan selalu memberi kabar dari sana.


Kau tidak perlu khawatir Alice."


Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.


"Aku tidak akan khawatir Kak."


--


Keesokan harinya, Rayn berpamitan dengan teman-temannya di sekolah.


Setelah pulang sekolah, Rayn dan Alice berencana akan pergi jalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkakatan Rayn keesokan harinya.


Alice dan Rayn berjalan menuju parkiran.


Di belakang mereka, Monica dan Michelle menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


"Lihat saja Alice.


Sekarang mungkin kau bisa bersenang-senang.


Tapi tidak lama lagi, senyuman di wajahmu itu akan hilang dan berganti menjadi tangisan."


ucap Monica dengan nada memperingati.


Kesedihannya akibat kepergian Rayn membuatnya semakin membenci Alice.


Ia merasa harapan yang dimilikinya selama ini untuk bisa bersama Rayn selama di Indonesia lenyap begitu saja karena Alice.


Selama ini ia berusaha membuat Rayn menyukainya.


Namun sebaliknya, Rayn malah begitu membencinya karena Alice.


Dan sekarang, saat-saat terakhir pria itu di Indonesia malah pergi dengan Alice bukan dengan dirinya.


Alice memang adalah penyebab penderitannya.


Michelle tersenyum melihat kemarahan yang tergambar jelas di wajah Monica.


Bisa dipastikan Monica akan melakukan pembalasan pada Alice.


"Itu bagus", pikirnya.


Rayn membawa Alice pergi ke salah satu tempat wisata.


"Kau suka dengan tempat ini Alice?"


"Hem, aku suka Rayn."


Rayn tersenyum.


"Syukurlah kalau kau suka.


Oh ya aku tadi membeli ini."


Rayn memberikan plastik yang berisi cemilan pada Alice.


"Terima kasih Rayn."


"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam sana?"


Rayn menunjuk ke tempat yang ramai pengunjung.


"Hem, sepertinya disana menyenangkan.


Ayo kita ke sana Rayn."


Rayn dan Alice mengelilingi satu per satu bagian dari tempat wisata yang mereka kunjungi.


Wajahnya keduanya terlihat berseri-seri.


Rayn dan Alice memang begitu menikmati jalan-jalan mereka.


Setelah selesai jalan-jalan, Rayn dan Alice pergi ke tempat makan favorit mereka.


Tempat yang selalu mereka kunjungi setiap kali selesai ujian sekolah.


Makanan yang telah mereka pesan akhirnya terhidang di meja.


Rayn dan Alice mulai menikmati makanan yang berada di piring mereka masing-masing.


"Aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini nantinya Alice.

__ADS_1


Makanan seperti ini juga tidak akan bisa aku temukan disana."


"Dan aku juga akan merasakan hal yang sama sepertimu Rayn."


"Pikiranku juga tidak akan tenang disana.


Aku memikirkanmu sepanjang hari.


Aku khawatir denganmu Alice."


Keduanya seketika membisu.


Kesedihan kembali dialami Rayn dan Alice.


"Rayn, sudahlah.


Kau tidak perlu khawatir padaku.


Kau tahukan aku gadis yang kuat?


Aku sudah mengalami banyak hal sejak kecil Rayn."


"Iya aku tahu kau gadis yang kuat Alice.


Hanya saja aku masih khawatir dengan orang-orang yang jahat padamu."


"Memang sangat sulit untuk menghentikan perbuatan buruk mereka Rayn.


Yang bisa aku lakukan hanyalah bersabar dan bertahan dengan keadaan buruk sekalipun.


Dan aku pastikan padamu bahwa aku bisa menghadapi semuanya."


Alice tersenyum riang.


Ia berusaha meyakinkan Rayn bahwa ia akan baik-baik saja.


Ia tidak mau Rayn khawatir dengannya.


"Hem." Rayn tersenyum tipis.


--


Hari sudah malam.


Waktunya Rayn untuk mengantar Alice pulang ke rumah.


"Terima kasih telah mengantarku pulang Rayn."


"Sudah seharusnya aku mengantarmu pulang Alice.


Tidak perlu berterima kasih."


Alice terkekeh mendengar ucapan Rayn.


"Baiklah.


Kau hati-hati di jalan ya.


Dan ingat, tidak perlu mengebut."


ucap Alice dengan nada memperingati.


"Iya aku tahu Alice.


Kau selalu mengingatkanku soal itu."


Rayn dan Alice saling tertawa.


Tiba-tiba keadaan seketika menjadi hening, mengingat besok Rayn akan pergi jauh.


"Rayn, besok aku akan datang tepat waktu."


Alice bersikap seolah ikhlas dengan kepergian Rayn.


"Hem, aku akan menunggumu di bandara Alice."


"Jangan sampai ada barang yang tertinggal."


ucap Alice.


"Hem."


"Baiklah, hari sudah malam.


Kau harus pulang Rayn."


Rayn tersenyum dan kemudian mengangguk.


Ia membalikkan badannya dan berniat pergi.


Namun baru beberapa langkah, kakinya berhenti.


Rayn kembali menghampiri Alice dan kemudian memeluknya.


"Jika aku bisa menghentikan waktu, aku ingin menghentikannya sekarang juga.


Aku ingin lebih lama lagi bersamamu Alice."


Alice tersenyum di dalam pelukan Rayn.


"Kita tidak akan bisa berpisah hanya karena jarak Rayn.


Aku akan selalu ada untukmu.


Dan begitu juga dengan sebaliknya."


Rayn melepaskan pelukannya.


"Sudahlah, kita tidak boleh bersedih seperti ini.


Kau juga harus cepat pulang Rayn.


Besok kau akan berangkat.


Orang tuamu pasti sedang menunggumu."


"Baiklah, aku akan pulang Alice.


Jaga dirimu."


Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.


Rayn kemudian menaiki motornya dan keluar dari halaman rumah.

__ADS_1


Alice masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian Rayn.


Ia menghapus air matanya dan kemudian masuk ke dalam rumah.


__ADS_2