Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Rayn pergi


__ADS_3

Alice menatap jam tangannya.


Sepulang sekolah ia berencana akan langsung pergi ke bandara untuk menemui Rayn di sana.


Walaupun masih memiliki waktu pulang ke rumah, Alice pikir akan lebih baik jika ia menunggu Rayn disana.


(Aku tidak boleh terlambat)


Bel pulang berbunyi.


Alice langsung memasukkan buku serta peralatan tulisnya ke dalam tasnya.


Ia kemudian berjalan menuju pintu kelas, bersiap-siap pergi.


Tiba-tiba kedatangan Ibu Ratna, Wali Kelasnya menghentikan langkah Alice.


"Alice..."


Beliau mendekati Alice.


"Iya Bu.."


"Alice, Ibu ingin menyampaikan perintah Kepala Sekolah padamu untuk memberikan pelajaran tambahan pada murid kelas XI pada siang ini."


Alice begitu terkejut mendengar hal itu.


Ia memang siswa yang dipilih sekolah untuk memberikan pelajaran tambahan di sekolah.


Namun mengapa Kepala Sekolah menyampaikan hal itu begitu tiba-tiba?


"Tapi kenapa begitu tiba-tiba Bu?


Biasanya pihak sekolah akan memberitahuku jauh-jauh hari."


ungkap Alice dengan nada kecewa.


Hari ini adalah hari yang sangat penting baginya.


"Apa yang kau katakan memang benar Alice.


Hanya saja sebagian besar murid-murid kelas XI memilih hari ini untuk diadakan pelajaran tambahan.


"Tapi Bu, aku..."


"Alice, kau tahu sendiri bahwa kau adalah siswa terpilih.


Tidak ada yang bisa menggantikanmu Alice."


Alice menatap jam tangannya.


Waktu yang dimilikinya hanya 3 jam saja.


Baiklah, ia akan berusaha mempercepat pelajaran agar bisa mempersingkat waktu.


Murid-murid kelas XI sudah berkumpul di ruangan dan bersiap menerima pelajaran tambahan.


Alice mengambil buku pelajaran dan kemudian menerangkan pelajaran secara menyeluruh.


Setelah menerangkan pelajaran, Alice mulai memberikan latihan soal untuk menguji pemahaman mereka.


Namun sayangnya, mereka semua tidak ada yang lulus bahkan mendapat nilai yang sangat rendah.


Sangat aneh, mengingat di dalam ruangan itu terdapat banyak murid pintar.


Tapi mereka tidak bisa menyelesaikan soal yang tergong masih sederhana.


Alice kemudian kembali menerangkan dan mencoba memberikan penjelasan agar juniornya bisa paham dan mengerti.


Tanpa Alice sadari, Monica dan Michelle berdiri di depan ruangan itu dan menatap ke arahnya.


Mereka begitu puas melihat pemandangan yang berada di hadapan mereka.


Michelle dan Monica adalah dalang yang melakukan itu.


Sebelumnya mereka menghasut murid-murid kelas XI untuk mengambil pelajaran tambahan pada hari ini.


Hal itu mereka lakukan agar Alice tidak bisa pergi menemui Rayn di bandara.


Mereka rasa akan menyakitkan bila Alice tidak sempat menemui Rayn sebelum akhirnya pergi jauh.


Benar-benar pembalasan yang setimpal!


Alice kembali melihat ke arah jam tangannya.


Waktunya yang dimilikinya semakin habis.


Namun juniornya masih ingin melanjutkan pelajaran walaupun seharusnya sudah berakhir.


"Monica, kau lihat itu?


Alice terlihat begitu gelisah saat ini.


Ia pasti sangat kebingungan."


Michelle terkekeh.


Monica tersenyum puas.


"Alice tidak akan bisa pergi menemui Rayn.


Dan bisa dipastikan, Rayn juga akan marah padanya karena tidak menepati janji.


Aku rasa itu pembalasan yang sepadan dengan apa yang telah dilakukannya selama ini."


"Kau benar Monica.


Alice tidak hanya ditinggalkan Rayn, tapi ia juga akan kehilangannya."


Sementara di bandara Rayn masih menunggu kedatangan Alice.


Rayn mencoba menghubungi Alice, namun gadis itu tidak menjawab panggilannya.


Seketika perasaannya menjadi khawatir saat ini.


Apa telah terjadi sesuatu pada Alice?

__ADS_1


Tidak biasanya Alice seperti ini.


Apalagi kemarin Alice telah berjanji padanya untuk datang.


"Rayn, ayo kita masuk.


Sebentar lagi kita akan berangkat."


"Aku mohon sebentar lagi Ibu.


Aku ingin menemui seseorang sebelum aku pergi."


"Baiklah. Ayah dan Ibu akan menunggumu di dalam."


Rayn mengangguk.


Ia kembali menatap layar handphonenya, menunggu panggilan atau balasan pesan dari Alice.


Alice sama sekali tidak memiliki waktu lagi.


Ia harus segera pergi.


Alice kemudian membawa tasnya dan menemui Ibu Ratna.


"Bu, maafkan aku.


Hari ini aku tidak bisa menambah waktu pelajaran tambahan.


Besok aku akan melanjutkannya Bu.


Sekali lagi, aku minta maaf Bu."


"Tapi Alice.."


Tanpa berkata lagi, Alice kemudian langsung pergi meninggalkan sekolah.


Di depan sekolah ia menghentikan sebuah taksi untuk membawanya pergi ke bandara.


Di dalam taksi, Alice memijit keningnya sambil melihat ke arah jam tangannya.


Matanya mulai berkaca-kaca.


Ia takut Rayn sudah berangkat.


Namun ia tetap optimis bahwa Rayn masih menunggunya di sana.


Sesampainya di bandara, Alice langsung berlari menuju ruang tunggu.


Ia mengedarkan seluruh pandangannya.


"Rayn..."


ucap Alice dengan nada sedih.


Alice melihat ke sana kemari.


Namun ia belum juga menemukan Rayn.


Alice tertegun.


Air matanya mulai menetes.


Alice menundukkan kepalanya sambil memeluk erat tasnya.


Rayn benar-benar sudah pergi.


Pria itu marah padanya karena telah mengingkar janji.


"Alice..."


panggil seseorang.


Alice langsung menaikkan wajahnya setelah mendengar suara seseorang yang begitu dikenalnya.


Dan benar saja.


Rayn sedah berdiri di hadapan Alice.


Tentu saja hal itu membuat Alice begitu terkejut.


"Rayn, kau..."


"Aku yakin kau akan datang Alice..."


Alice langsung berdiri dan kemudian menghapus air matanya.


"Rayn, maafkan aku.


Aku tidak bermaksud untuk mengingkar janji."


"Hem, aku tahu Alice.


Jika kau memang mengingkar janji, kau tidak akan datang kesini."


"Tadi di sekolah dilakukan pelajaran tambahan.


Dan aku harus ke sana."


"Kau tidak perlu memberi penjelasan padaku Alice.


Yang terpenting adalah kau sudah ada disini bersamaku."


"Aku kira kau sudah pergi Rayn."


"Kami mengambil penerbangan selanjutnya Alice."


"Benarkah?"


"Hem, aku memohon pada kedua orang tuaku agar aku bisa bertemu denganmu."


Alice tersenyum lega.


Beruntung Rayn belum pergi.


"Terima kasih Rayn."

__ADS_1


"Kau juga tahu bahwa aku tidak akan pergi sebelum bertemu denganmu."


Alice kembali tersenyum.


"Kalau begitu, sekarang kau harus ikut denganku".


Rayn menarik tangan Alice.


Sebelum berangkat, mereka mengobrol banyak sembari memanfaatkan waktu yang tersisa.


Alice tertawa mendengar lelucon dan candaan yang diberikan oleh Rayn.


Di saat seperti ini, Rayn masih bisa memberikan hiburan padanya.


Beberapa saat kemudian, mereka mendengar pengumuman keberangkatan pesawat yang akan digunakan oleh Rayn.


Alice berdiri di hadapan Rayn.


Matanya menatap lekat pria itu.


Rayn mengambil syal dari tasnya.


Ia ingin memberikan syal itu pada Alice.


"Alice, aku memberikan ini padamu."


Rayn kemudian memasangkan syal itu ke leher Alice.


"Kau akan mengingatku setiap kali kau memakai syal ini."


Alice menatap ke arah syal pemberian Rayn dan kemudian tersenyum.


"Terima kasih banyak Rayn.


Terima kasih untuk semuanya.


Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku dan selalu ada untukku."


Rayn juga ikut tersenyum.


"Sama-sama Alice.


Selama ini kau juga membuat hari-hariku jauh lebih berwarna dari sebelumnya.


Jaga dirimu baik-baik Alice.


Aku mohon kabari aku jika terjadi sesuatu padamu."


"Hem, aku akan mengabarimu Rayn.


Kau juga harus menjaga kesehatan di sana.


Kau tidak boleh telat makan lagi."


"Baiklah, aku berjanji tidak akan telat makan lagi."


Tiba-tiba Rayn dan Alice mendengar Ibu Rayn memanggil.


"Kau harus pergi Rayn.


Pesawat akan segera berangkat."


Rayn memegang tangan Alice dengan erat.


"Berjanjilah kau tidak akan melupakanku Alice."


"Aku tidak akan pernah melupakanmu Rayn."


Mata Alice mulai berkaca-kaca.


Sungguh ia begitu sedih saat ini.


"Itu bagus."


Rayn ikut meneteskan air matanya.


Ia kemudian memeluk Alice dengan erat.


Keduanya saling meluapkan kesedihan mereka di saat pertemuan terakhir mereka.


Beberapa saat kemudian, mereka selesai berpelukan.


"Pergilah Rayn, Paman dan Bibi sudah menunggumu."


Rayn perlahan mengangguk.


"Aku pergi Alice."


"Safe flight Rayn."


"Hem."


Rayn kemudian melepaskan tangan Alice dan membalikkan badannya.


Alice menatap punggung Rayn yang mulai menjauh darinya.


Air mata Alice kembali menetes.


Sebelum masuk, Rayn sempat melambaikan tangannya pada Alice.


Dan Alice membalas lambaian itu.


Hingga pada akhirnya Rayn benar-benar pergi meninggalkannya.


"Rayn..."


ucap Alice dengan nada senduh.


Alice kemudian berjalan menuju kursi dimana ia dan Rayn mengobrol tadi.


Alice duduk di kursi itu dan kemudian menangis di sana.


Seketika momen-momen bersama Rayn terngiang di pikiran Alice.


Segalanya menjadi lebih baik sejak Rayn datang dalam kehidupannya.

__ADS_1


Dan kini semuanya telah berubah dan akan kembali seperti semula.


Dimana tidak ada seorangpun mau menerimanya dengan apa adanya.


__ADS_2