Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Kesungguhan Ell


__ADS_3

Cahaya matahari di pagi hari mulai memenuhi ruangan, membangunkan Alice yang berada di posisi yang sama dengan semalam.


Perlahan ia membuka kedua matanya.


Saat kedua matanya terbuka sempurna, ia begitu terkejut melihat pemandangan di hadapannya.


Sampai Alice langsung beranjak dari tempat tidur namun terjatuh karena selimut masih melilit tubuhnya.


"Ah..."


Alice mulai merasakan kesakitan pada luka kakinya.


Jujur saja ia belum sadar sepenuhnya.


Ell langsung terbangun saat mendengar suara kesakitan Alice.


Ia melihat ke sekitar dan mendapati Alice berada di lantai.


Ia langsung menghampiri gadis itu yang terlihat kesakitan.


"Alice, kau tidak apa-apa?" tanya Ell dengan wajah khawatir.


Alice menatap wajah Ell dengan seksama.


Benar saja, ia belum sadar sepenuhnya.


Ia lupa bahwa semalam mereka berdua memang tidur bersama.


"Alice, lukamu?"


Ell memperhatikan luka Alice dengan serius.


Ia takut luka Alice semakin parah.


Ell kemudian menaikkan tatapannya pada wajah Alice yang menatapnya dengan penuh arti.


"Katakan padaku, apa kau terjatuh dari tempat tidur tadi?


Kau mengigau atau aku yang membuatmu terjatuh?"


"Aku..


Aku hanya terkejut melihat wajah Kakak tidur di hadapanku.


Aku lupa sampai aku terjatuh tadi.


Aku merasa bodoh sekarang."


Sungguh kejadian tadi tidak lain karena dirinya sendiri.


Ell terkekeh mendengar jawaban Alice.


Alice pasti terkejut bangun dari tidurnya dengan posisi mereka yang terbilang cukup dekat.


"Tidak, kau bukan bodoh.


Wajar saja kau terkejut seperti tadi.


Dan kita juga belum pernah tidur bersama sebelumnya.


Seorang gadis tidak akan terbiasa jika ada pria berada di ranjang yang sama dengannya.


Namun bedanya kita adalah Suami Istri."


Ell menatap Alice sekali lagi.


"Sudahlah tidak apa-apa.


Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri.


Kelak kau akan terbiasa dengan hal itu."


Alice tidak mengerti maksud perkataan Ell barusan.


"Maksud Kakak?"


"Tidak ada.


Sekarang kita obati lukamu lagi.


Sepertinya kau jatuh cukup keras tadi."


Ell kemudian memapah Alice menuju sofa.


Ia membawa kota obat dan mengobati luka Alice.


Darah Alice keluar cukup banyak.


Sepertinya gadis itu memang jatuh cukup keras tadi.


Sama seperti kemarin, lagi-lagi Ell berinisiatif sendiri membersihkan luka Alice dan membalutnya lagi.


Walaupun Alice sudah mencoba menolak namun pria itu tetap kekeh melakukannya.


"Sudah selesai.


Setelah ini kita sarapan di luar dan kembali ke Jakarta. " ucap Ell masih pada posisi jongkok.


Alice tersenyum dan kemudian menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih Kak.."


Kening Ell berkerut setelah mendengar ungkapan terima kasih Alice.


"Terima kasih untuk?"


"Terima kasih untuk semuanya.."


Ell tersenyum.


Seperti biasa, Alice selalu mengucapkan terima kasih atas apa yang ia lakukan.


Namun seketika ia sadar bahwa wajar Alice seperti itu karena selama ini orang-orang di sekitar nya termasuk dirinya menjadikan Alice layaknya beban bagi siapapun.


"Kau tidak perlu berterima kasih Alice.


Aku melakukannya karena aku ingin.


Aku tidak akan lagi melakukan apa yang pernah aku lakukan sebelumnya padamu." ucapnya dengan nanar.


Sudah cukup Alice menderita selama ini.


Sekarang ia sadar bahwa Alice gadis yang kuat.


Ia sudah diperlakukan buruk oleh banyak orang sejak ia masih kecil bahkan saat ia masih berada di dalam kandungan.


Ibunya pernah bercerita bahwa banyak orang yang tidak menginginkan kelahirannya dulu.


Pamannya meninggal dan tidak lama Ibunya juga pergi dan belum kembali.


Gadis yang begitu kuat, itu julukan yang cocok untuk seorang seperti Alice.


Seperti saat ini, ia melihat gadis itu masih bisa tersenyum dengan tulus bahkan setelah apa yang dialaminya kemarin.


Ell kemudian berdiri dan dan mendekat pada Alice.


"Sekarang kau ganti baju,


Aku akan menunggu di luar."


"Hem, baik Kak."


"Apa aku perlu membantumu?"


"Tidak perlu Kak." ucap Alice cepat cepat.


Ell hanya terkekeh mendengar jawaban Alice.


"Baiklah, kalau kau tidak mau."


Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Setelah pria itu benar-benar keluar dari sana, Alice mengeluarkan napas lega.


Sudah cukup semalaman ia harus mengontrol dirinya sendiri.


Apalagi setelah kejadian tadi pagi dan berakhir Ell kembali mengobati lukanya.


Perlahan Alice mulai tersenyum saat membayangkan hal itu.


Perasaannya begitu tenang mengingat hubungannya dan Ell sudah sangat baik.


Dan yang kemarin, itu diluar dari apa yang di pikirkannya.


Dirinya dan Ell tidur bersama?


Bahkan Ell menegaskan bahwa ia sama sekali tidak menyesali apa yang tengah ia lakukan.


Apa telah terjadi hal yang di luar dugaannya?


Tidak, tidak. Ia tidak mau berpikiran terlalu jauh.


Pikirannya sama sekali tidak masuk akal.


--


Ell berdiri di taman villa.


Ia memeriksa pemberitahuan email lewat handphone, namun sesekali melihat ke arah kamarnya yang tidak jauh dari sana.


"Ell.."


Suara yang begitu familiar terdengar di belakang Ell.


Tidak lama, ia langsung membalikkan badannya.


Dan benar saja, pemilik suara itu adalah Kate.


Kate berdiri di hadapannya dengan tatapan sulit diartikan.


"Ell, bagaimana keadaan Alice?"


Terlihat kesedihan di wajah Kate dan Ell tahu Kate pasti begitu kecewa dengan Ibunya.


"Dia sudah semakin membaik.


Hanya saja lukanya harus terus diobati seperti apa yang dikatakan Dokter kemarin."


"Aku, aku sungguh merasa bersalah atas apa yang dialami oleh Alice.

__ADS_1


Aku tidak menyangka Ibuku melakukan hal yang begitu buruk pada Alice.


Bahkan aku tidak bisa tidur sepanjang malam karena memikirkannya."


Kate kembali bersedih mengingat apa yang dilakukan Ibunya semalam pada Alice.


"Kau benar Kate.


Kau bisa tahu apa yang dirasakan Alice waktu itu saat sendirian di hutan.


Bahkan Bibi masih menyalahkannya saat semua orang khawatir pada kondisinya."


Ell menarik napas panjang sambil melihat ke arah lain dan kemudian menatap Kate.


"Bibi sudah melakukan hal buruk sejak Alice masuk ke dalam keluarga kita.


Kita berdua menyaksikannya sendiri Kate.


Jujur aku merasa bersalah karena sering kali menolak kehadirannya saat itu dan juga sempat menyalahkan atas apa yang aku alami.


Pernikahan itu sama sekali bukan kesalahannya.


Aku baru menyadari bahwa saat itu aku memang benar-benar ingin menyelamatkannya sama seperti yang aku lakukan semalam.


Aku menipu diriku sendiri Kate."


Kate menatap wajah Ell.


Ada kesungguhan di wajah pria itu saat mengatakan kalimatnya tadi.


Ia begitu mengenal pria itu.


Ell benar-benar serius mengatakannya.


"Aku merasa bersalah sampai tidak ingin terjadi sesuatu lagi padanya.


Aku ingin menjaganya." tambah Ell lagi dengan raut wajah tatkala semakin serius.


Kate terkejut dengan perkataan Ell berusan.


Ia menatap wajah pria itu dengan lekat.


"Ell, kau.."


"Aku benar-benar ingin melakukannya Kate." ucap Ell yang menegaskan bahwa dirinya memang serius.


Seketika air mata Kate jatuh setelah mendengar pernyataan Ell.


Jantungnya berdetak begitu kencang meskipun ia tahu bahwa dirinya akan menjadi nomor satu untuk Ell.


Selama ini Ell selalu memprioritaskan dirinya dari pada apapun.


Namun mendengar hal itu, membuatnya cukup khawatir.


Tidak, itu hanya di pikirannya saja.


Karena setelah mendengar perkataan Ell sebelumnya, pria itu hanya merasa bersalah pada Alice sehingga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada adik nya itu.


Harusnya dirinya tidak perlu khawatir dan justru senang karena Alice terhindar dari perbuatan jahat Ibunya.


"Ell, kau memang seharusnya melakukan itu.


Alice tidak boleh lagi mengalami hal buruk itu.


Dia sudah begitu banyak menderita.


Dan paling terpenting, untuk sementara waktu Alice tidak boleh berurusan lagi dengan Ibu.


Ayah, aku dan termasuk yang lain begitu kecewa dengan Ibu.


Semoga kali ini Ibu sadar akan perbuatannya"


"Aku juga berharap seperti itu Kate.


Namun setelah banyak hal yanh terjadi pada Alice, aku rasa Bibi tidak akan semudah itu menerima Alice dan berhenti melakukan hal buruk padanya.


Beruntung Alice tidak tinggal di sana sehingga kecil kemungkinan Bibi bertemu dengan Alice."


"Iya aku tahu itu Ell.


Semoga setelah kau dan Alice berpisah, Ibu sudah berubah.


Dan aku berharap tidak ada lagi masalah terkait hal masa lalu di keluarga kita."


Berpisah?


Jujur saja, akhir-akhir ini perpisahannya dengan Alice tidak pernah lagi terlintas di pikiran Ell.


Bahkan ia lupa bagaimana kehidupannya dan juga kehidupan Alice sebelum mereka menikah.


Apa karena dirinya dan Alice sudah cukup lama tinggal bersama sehingga membuat dirinya melupakan hal tersebut?


Atau ada sesuatu hal lain?


Dan kalimat panjangnya tadi benar-benar diungkapkannya pada Kate.


Ungkapan yang ingin menjaga Alice keluar begitu saja di hadapan Kate, gadis yang dicintainya selama ini.


Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

__ADS_1


__ADS_2