Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Suasana baru


__ADS_3

Hari-hari di sekolah dijalani Alice dengan penuh kesabaran dan ketabahan.


Sejak hari dimana Rayn pergi, semua temannya semakin memperlakukannya dengan buruk.


Tidak jarang Alice berniat melaporkan perbuatan mereka pada pihak sekolah.


Namun hal itu selalu ia urungkan mengingat sekolah itu adalah milik Keluarga Dakota.


Yang berarti pihak sekolah akan memberitahu kejadian yang menimpanya pada keluarganya termasuk Bibinya.


Bukannya mendapat pembelaan, sebaliknya Bibinya akan menyalahkannya atas perbuatan yang sama sekali kesalahannya.


Ia akan dicap sebagai pembuat onar di sekolah.


Miris!


Namun begitulah takdir yang dimiliki Alice.


Ia harus menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran.


Tidak terasa Alice sudah lulus SMA.


Seperti biasa, ia mendapatkan nilai yang sangat memuaskan.


Ia merupakan siswa peraih nilai tertinggi di sekolahnya.


Namun hal itu tidak menjamin bahwa Alice akan berkuliah di kampus yang diimpikannya.


Dan ia bahkan tidak akan memiliki kesempatan itu.


Bibinya telah memaksanya untuk berkuliah di kampus yang berada di bawah naungan Keluarga Dakota.


Sama hal nya dengan Ell dan Kate yang juga berkuliah di sana.


Kehidupan kampus tidak jauh berbeda dari kehidupan di sekolah dulu.


Alice kembali mendapat pengasingan dari Mahasiswa lain.


Dan sebaliknya, Ell dan Kate selalu mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa dari mereka.


Namun sejak dulu hal itu tidak pernah membuat Alice iri pada Ell dan Kate.


Alice menganggap bahwa Ell dan Kate berhak mendapatkan perlakuan yang berbeda darinya.


Bahkan ia sangat mensyukuri hal itu.


Ia berharap tidak akan ada orang lain mengalami hal sama seperti yang dialaminya.


Alice lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan.


Ia akan kembali ke rumah saat ia lelah ataupun mengantuk.


Entahlah.


Kehidupan di keluarganya juga masih sama.


Alice hanya berusaha menghindari hal yang akan membuatnya semakin menjadi beban bagi Keluarga Dakota.


Soal Rayn, ia masih berkomunikasi pada Sahabatnya itu.


Tidak ada yang berubah.


Alice menceritakan semua yang terjadi padanya.


Dan hal buruk yang diceritakannya selalu saja membuat Rayn begitu kesal dan marah.


Bahkan Rayn sering kali berniat datang ke Indonesia hanya untuk membalas perbuatan orang-orang yang menyakiti Alice.


Alice selalu saja tertawa menyikapi hal itu.


--


Sepulang dari kampus, Alice langsung pulang ke rumah.


Saat Alice masuk ke dalam rumah, Alice melihat keluarganya tengah berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama.


"Alice, kau sudah pulang sayang?


Kemarilah, bergabung di sini.


Kita akan makan malam bersama."

__ADS_1


Laura menyambutnya dengan senyuman.


Salah satu hal yang tidak berubah, Laura Bibinya selalu menyayanginya dengan sepenuh hati.


Salah satu sosok yang membuatnya mampu bertahan di Keluarga itu.


Begitu juga dengan Pamannya Mario, dan juga Paman Sergio yang selalu bersikap ramah padanya.


Alice meletakkan tasnya dan kemudian berjalan menuju meja makan.


Ia mengambil tempat duduk yang berada di sebelah Ell.


Soal Ell, pria itu masih sama seperti terakhir kali.


Walaupun tergolong dingin dan irit bicara, namun Ell tidak pernah memperlakukannya dengan buruk lagi.


Pria itu juga selalu membalas sapaannya walaupun hanya dengan senyuman tipis.


"Bagaimana perkuliahanmu di kampus Alice?


Tidak ada kendala kan?


Jika terjadi sesuatu, kau bisa mengatakan pada Paman ataupun Bibi."


ucap Mario.


Alice tersenyum.


"Sejauh ini, semuanya lancar Paman."


"Syukurlah kalau begitu.


Paman tahu kau bisa mengatasi permasalahan apapun sayang."


"Lagian dia bukan anak-anak lagi.


Kau tidak perlu memperlakukannya seperti itu Mario.


Biarkan ia belajar menjadi gadis yang mandiri dan tidak menyusahkan orang lain!"


ucap Marine dengan nada sinis.


Senyuman Alice perlahan menghilang.


"Kate, bukankah kau mengatakan pada Bibi akan mengikuti kontes lusa?"


Bagaimana semua persiapanmu sayang?"


ucap Laura yang mencoba mencairkan kembali suasana.


"Manajer dan agensi benar-benar mempersiapkan semua keperluanku Bi.


Mereka sangat berharap aku bisa memenangkan kontes bergengsi itu."


"Syukurlah sayang.


Ibu juga berharap seperti itu.


Jika kau memerlukan bantuan, segera beritahu Ibu ataupun Ayah.


Bibi Laura dan Paman Sergio juga selalu siap membantumu.


Kami semua di sini selalu mendukungmu sayang.


Benarkan?"


Marine melihat satu per satu anggota keluarga, kecuali Alice yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


"Iya Kate. Paman dan Bibi akan selalu mendukungmu sayang."


ucap Sergio meyakinkan.


Seketika perasaan sedih menghinggapi hati Alice.


Ia kecewa karena sampai sekarang nyanyatanya ia belum bisa menjadi bagian dari keluarganya.


Sebaliknya ia selalu dianggap benalu.


Bukan hanya dari pihak luar namun juga dari keluarganya yang tidak lain dari Bibinya.


Selama ini ia optimis bahwa kelak semuanya akan berubah menjadi jauh lebih baik.

__ADS_1


Saat dimana Bibinya akan berubah dan bisa menerima kehadirannya di sana.


Namun sepertinya harapannya tidak akan pernah berbuah manis.


Kebencian yang dimiliki Bibinya untuknya tidak berkurang barang sedikitpun.


Ia hanya bisa menangis dalam diam.


Alice kemudian melihat ke arah anggota keluarganya satu per satu.


Senyuman yang terpancar di wajah mereka menggambarkan dengan jelas bahwa saat ini mereka benar-benar bahagia mendengar kabar bahagia Kakaknya, Kate.


Seandainya saja ia diberi satu kesempatan oleh Tuhan untuk melihat senyuman Ayah dan Ibunya.


Rasanya pasti bahagia sekali.


Alice dengan segera langsung menghapus air matanya dan ikut tersenyum mendengar kabar bahagia dari Kakaknya.


Setelah selesai makan malam, semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu kecuali Alice yang memilih untuk membantu Ibu Rihana bersih-bersih di dapur.


Seperti saat ini Alice mencuci semua piring kotor.


"Nona Alice, Nona seharusnya tidak di sini.


Biar saya yang membereskan semua pekerjaan ini Non."


Alice tersenyum dan tetap melanjutkan kegiatannya.


"Tidak apa-apa Bu.


Aku hanya menyukai kegiatan ini.


Ibu duduklah di kursi itu."


Ibu Rihanna tersenyum melihat kebaikan hati yang dimiliki Alice.


Sedari dulu jika ada waktu, Alice selalu membantunya melakukan pekerjaan rumah.


Alice juga tidak pernah menganggapnya sebagai pembantu.


Sebaliknya gadis itu selalu memperlakukannya seperti Ibu kandungnya sendiri.


Setelah selesai mencuci piring, Alice ikut duduk bersama Ibu Rihanna.


"Nona Alice, Ibu turut sedih atas perkataan yang diucapkan oleh Nyonya Marine pada Nona."


Alice memegang tangan Ibu Rihanna yang terlihat khawatir padanya.


"Ibu tidak perlu khawatir.


Sekarang aku sudah bisa memaklumi perkataan Bibi Marine padaku.


Walaupun sempat merasa sedih, tapi aku masih bisa menahannya Bu.


Ibu juga tahu, sejak kecil aku sudah mendapatkannya.


Dan sekarang aku sudah terlatih untuk itu Bu."


Alice memasang senyuman di wajahnya.


Ibu Rihanna kemudian mengelus wajah Alice dengan lembut.


"Ibu senang mendengarnya.


Bertahanlah Nona.


Ibu yakin, suatu saat Nona akan menemukan kebahagiaan yang melimpah."


Alice tersenyum.


"Amin Bu.


Ibu juga jaga kesehatan ya.


Jika perlu sesuatu, Ibu bisa memberitahu Alice."


"Baik Nona."


Melihat Ibu Rihanna rasanya ia bertemu dengan Ibu kandungnya sendiri.


Kasih sayang yang selama ini ia dapatkan dari Beliau juga membuat Alice bisa merasakan kasih sayang layaknya seorang Ibu pada anaknya.

__ADS_1


Masih teringat jelas pada saat pertama kali datang ke rumah itu, Ibu Rihanna lah yang merawatnya bahkan menghiburnya di saat sedih.


__ADS_2