
Alice dan Brein berlari untuk menghindari hujan yang tiba-tiba turun begitu derasnya.
Mereka kemudian berteduh di salah tempat tunggu yang biasanya di datangi orang-orang.
Namun kali ini hanya ada mereka berdua di sana.
Brein mengambil sapu tangan dari sakunya.
Ia melihat ke arah Alice yang terlihat kebasahan.
"Alice, ini...."
Brein menyodorkan sapu tangannya pada Alice.
Alice langsung melihat ke arah sapu tangan pemberian Brein.
Ia tersenyum dan kemudian mengambil sapu tangan itu.
Alice membuka kaca matanya dan kemudian menyeka air yang membasahi wajahnya.
Brein tersenyum melihat wajah Alice tanpa menggunakan kaca mata.
Matanya memandangi gadis itu yang terlihat begitu cantik.
"Alice...."
Alice menghentikan kegiatannya dan kemudian mengarahkan pandangannya pada Brein.
Seketika Brein melihat sepasang mata indah itu menatapnya.
Brein menatap Alice dengan lekat.
Gadis pemilik mata indah yang ada di hadapannya saat ini adalah bayi mungil yang pernah ia kagumi dulu.
Dan sekarang wajah itu masih sama.
Cantik!
"Alice, apa seseorang pernah mengatakan padamu bahwa kau memliki mata yang sangat indah?"
Alice begitu terkejut sekaligus tidak mengerti maksud ucapan Brein barusan.
Ia mengerutkan keningnya.
"Apa maksud Kakak?
Aku tidak mengerti."
ucap Alice dengan ragu.
"Kalau begitu kau harus ikut denganku.
Kau akan mengetahuinya nanti."
Brein kemudian menarik tangan Alice.
Sementara Alice masih belum memahami apa maksud dari perkataan Brein.
Brein menghentikan taksi yang lewat dan kemudian membawa Alice masuk kesana.
"Kak Brein, kita akan pergi kemana?
Aku harus pulang."
Alice melihat ke arah jalanan.
Matanya kemudian melihat jam tangannya.
Ia harus pulang untuk memasak makan malam.
Brein tersenyum.
"Kau pasti pulang Alice.
__ADS_1
Tapi tidak sekarang.
Bukankah kau ingin mengetahui maksud perkataanku tadi?
Aku akan memberitahumu sebentar lagi.
Percayalah padaku, hem?"
Alice perlahan menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat tujuan.
Alice menatap gedung mewah di hadapannya dan kemudian mengarahkan pandangannya pada Brein yang berdiri di sampingnya.
Apa tujuan Brein membawanya ke tempat itu?
Brein tersenyum simpul melihat ekspresi Alice yang menunjukkan banyak pertanyaan di wajahnya.
"Ayo masuk."
Alice mengikuti langkah Brein dari belakang.
Saat Alice dan Brein masuk ke dalam, mereka disambut dengan hangat oleh sang pemilik.
Mata Alice tertuju ke arah pelanggan di sana.
Banyak dari mereka yang sedang melakukan perawatan kecantikan.
"Ada yang bisa yang kami bantu Tuan?"
Brein sekilas melihat ke arah Alice dan kemudian membisikkan sesuatu pada sang pemilik toko.
Alice hanya diam sambil menunggu penjelasan dari Brein mengenai alasan mengapa mereka datang ke sana.
"Nona Alice.
Sekarang Nona ikut dengan kami."
"Percaya padaku Alice."
Brein mencoba meyakinkan Alice.
"Ayo Nona..."
Alice kemudian terpaksa mengikuti langkah sang pemilik toko yang mengajaknya pergi.
Alice duduk di salah kursi.
Di hadapannya terdapat cermin yang menggambarkan dengan jelas wajahnya.
Seseorang berdiri di depannya dan mulai merias wajahnya.
Pertama sekali mereka memasang lensa kontak pada kedua mata Alice.
Alice bisa melihat dengan jelas tanpa menggunakan kaca mata sekarang.
Alice kemudian melihat ke arah cermin sekilas.
Apa sebenarnya tujuan Brein membawanya ke salon seperti ini?
Alice menutup kedua matanya dan membiarkan karyawan salon mengoles satu per satu riasan pada wajujiahnya.
Brein duduk tidak jauh dari sana.
Ia menyilangkan kedua tangannya sambil tersenyum ke arah Alice.
"Alice, aku akan menghentikan semua perkataan orang-orang yang selama ini menghina penampilanmu.
Kau layak mendapatkan perlakuan baik dari siapapun."
Beberapa saat kemudian, wajah Alice sudah dipoles dengan sempurna.
Alice tersenyum melihat penampilannya saat ini.
__ADS_1
Ini kali ketiga ia melihat wajahnya terlihat berbeda dari biasanya.
Pertama saat pernah pergi bersama Kate, kedua saat pernikahan dan kemudian hari ini.
"Mari Nona.
Saya akan menunjukkan hasil riasan saya pada Boss dan Tuan Brein."
Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.
Mereka berjalan menghampiri Brein dan sang pemilik salon yang sedang mengobrol.
Pandangan Brein seketika teralihkan saat menyadari kedatangan Alice.
Ia langsung berdiri setelah melihat penampilan Alice.
Brein terpukau begitu juga dengan orang-orang di sana.
Alice memegang erat tangannya.
Brein memandanginya sedari tadi.
Brein melangkahkan kakinya mendekati Alice.
"Kau sangat cantik Alice."
ucap Brein dengan penuh keyakinan.
Alice tersenyum mendengar pujian Brein.
Ia sebenarnya sangat gugup saat ini.
Entah mengapa, ia merasa aneh jika dipandangi seperti itu.
"Apa ini jawaban dari maksud perkataan Kakak tadi?"
Brein menganggukkan kepalanya.
"Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa kau memiliki hal yang tidak bisa dilihat orang-orang selama ini.
Dan aku harap, mulai saat ini kau harus menunjukkannya pada mereka semua Alice."
"Aku..."
Alice masih ragu untuk melakukannya.
Sungguh ia menyukai penampilannya yang seperti biasanya.
"Aku juga sangat menyukai penampilanmu sebelumnya Alice.
Tapi percaya padaku, penampilannya jauh lebih baik saat kau seperti ini."
"Tuan Brein benar Nona.
Nona terlihat begitu cantik dengan penampilan seperti ini.
Tidak ada yang salah dengan mengubah penampilan menjadi lebih baik dari sebelumnya."
Alice tersenyum.
Walaupun ia menyukai penampilannya yang sebelumnya, namun perkataan Brein benar.
Selama ini ia mendapat hinaan dari orang-orang soal penampilannya.
Apalagi sejak ia menikah dengan Ell.
Penampilannya yang begitu sederhana, membuatnya dicap tidak pantas bersanding dengan Ell.
Sudah cukup ia mendapat semua penghinaan itu.
Kini waktunya ia berubah dan berusaha membuat dirinya menjadi lebih baik.
Bukan untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang melainkan untuk kebaikan dirinya sendiri.
__ADS_1