
Keesokan harinya, seperti biasa Alice akan menghidangkan sarapan di meja makan sebelum Ell bekerja.
Alice kemudian pergi setelah melihat kedatangan Ell.
Ia akan sarapan setelah pria itu berangkat ke kantor.
Setelah selesai sarapan, Alice membuat bekal makan siang untuk Ell agar pria itu tidak perlu makan di luar.
Alice sama sekali tidak memikirkan perkataan Ell waktu itu, untuk tidak mengurusi kehidupannya.
Entahlah, ia hanya ingin melakukannya untuk Ell.
Alice kemudian memegang dadanya.
Lagi-lagi jantungnya berdetak begitu kencang setiap kali memikirkan Ell.
Alice berusaha menghiraukan apa yang terjadi dengannya.
Ia kemudian keluar dari apartemen dengan membawa bekal di tangannya.
--
Seorang pria berjalan dengan begitu gagahnya sambil memegang jas di tangannya.
Seketika semua tatapan orang-orang di sana tertuju padanya.
Setelan kemeja yang begitu pas di tubuh Brein dan wajahnya yang berparas tampan, membuatnya semakin menawan.
"Bukankah itu pria yang kemarin?
Apa ia akan bekerja di sini bersama kita?"
ucap salah seorang karyawan pada temannya yang berada di sana.
"Dia begitu tampan.
Aku senang jika ia bekerja di sini.
Setiap hari aku bisa memandang wajahnya yang tampan itu."
ucap karyawan lainnya dengan wajah terpesona.
Brein hanya diam dan tetap menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan ucapan-ucapan yang terdengar di telinganya.
Hingga akhirnya ia telah sampai di depan ruangan Ell.
Sama seperti sebelumnya, Celine menghampirinya lagi.
"Pak Ell sudah menunggu anda di dalam Pak."
"Baiklah terima kasih."
Brein kemudian masuk ke dalam ruangan Ell.
"Bukankah dia semakin tampan dengan penampilan seperti itu?
Sepertinya mulai saat ini, Pak Ell punya saingan di kantor ini.
Pak Brein sama tampannya dengannya.
Hanya saja sifat keduanya sangat berbeda.
Pak Ell dengan kesan dinginnya, dan Pak Brein dengan kepribadian ramahnya."
ucap Celine dengan wajah berbinar.
Ell langsung menghampiri Brein setelah menyadari kedatangannya.
"Apa kau sudah siap bekerja mulai hari ini?"
"Tentu saja aku sudah siap."
ucap Brein dengan semangat.
"Kalau begitu, katakan padaku kau ingin bekerja di bagian mana Brein."
"Apa aku boleh melihat-lihat dulu?
__ADS_1
Aku akan menentukan pilihanku setelah aku melakukan observasi terlebih dahulu."
"Baiklah, terserahmu saja.
Aku akan mengantarmu sekaligus aku akan memperkenalkanmu dengan semua karyawan di sini."
Brein tersenyum dan kemudian mengangguk.
Ell dan Brein kemudian berjalan bersama menuju satu per satu ruangan.
Mereka mengawali dengan masuk ke Divisi satu.
Semua karyawan langsung beranjak dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Ell bersama Brein.
"Saya ingin memperkenalkan kalian semua karyawan baru yang akan bekerja mulai hari ini bersama dengan kalian di perusahaan ini."
Ell kemudian mempersilahkan Brein untuk berbicara.
"Saya Brein Christian.
Senang bertemu dengan kalian semua.
Saya berharap kita bisa menjalin hubungan kerja sama yang baik."
Semua karyawan yang berada di Divisi Satu menyambut Brein dengan baik.
Sang Kepala Divisi kemudian menjelaskan bagaimana alur pekerjaan Divisi Satu.
Sebenarnya Brein sudah mengetahui dan memahami itu semua.
Tujuannya melakukan observasi sebenarnya adalah agar ia bertemu dengan Alice dan berkeja di bagian yang sama dengan gadis itu.
Beberapa saat kemudian mereka kemudian pindah ke ruangan lain.
Sama halnya dengan ruangan tadi, Brein mendengar seputar pekerjaan.
Hingga mereka masuk ke dalam ruangan Divisi Pemasaran, dimana Alice berada.
Awaknya Alice tidak menyadari kedatangan Ell dan Brein.
Alice mengikuti arah pandang mereka hingga ia melihat Ell berdiri bersama dengan seorang pria.
Alice kemudian ikut berdiri bersama yang lain.
Sekilas Alice bertatapan dengan Ell dan kemudian pandangan Alice teralihkan pada pria yang berdiri di samping Ell.
Alice membelalakkan matanya.
Ia begitu terkejut saat menyadari bahwa pria itu adalah Brein.
(Kak Brein...) gumam Alice di dalam hati.
Brein kemudian memberikan senyuman pada Alice yang terlihat begitu terkejut melihatnya.
"Brein kau boleh memperkenalkan dirimu."
ucap Ell.
Brein mengangguk dan kemudian mulai memperkenalkan dirinya.
Matanya terpusat pada Alice yang sedang menatapnya dari kejauhan.
Setelah selesai, Brein kemudian berbisik pada Ell.
"Aku ingin bergabung di divisi ini Ell."
"Benarkah?
Baiklah kalau begitu."
Ell kemudian menyampaikan perilah Brein yang akan bergabung di divisi tersebut.
"Mulai saat ini Brein akan bergabung di sini dan menjadi satu tim dengan kalian.
Saya berharap kalian semua menjadi partner kerja yang solid dan memiliki hubungan yang baik kedepannya.
Ibu Mariana, tolong berikan laporan evaluasi kerja yang saya minta kemarin pada Celine."
__ADS_1
"Baik Pak.
Nanti saya memberikan laporan tersebut pada Celine."
"Baiklah, terima kasih atas waktu kalian.
Brein, kau sudah bisa mulai bekerja.'
"Baik Pak Ell."
Ell tersenyum tipis dan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Satu per satu karyawan kembali ke mejanya.
"Brein, mejamu ada di sana."
Mariana menunjuk meja yang berada di belakang meja Alice.
"Terima kasih Ibu Mariana."
"Sama-sama."
Mariana kemudian meninggalkan Brein dan kembai ke meja kerjanya.
Brein duduk di mejanya.
Ia kemudian membalikkan tubuhnya untuk melihat Alice yang sedang bekerja.
Brein hendak berdiri dan menyapa Alice, namun suara wanita di sampingnya menghentikan niatnya.
"Hai, aku Sania.
Senang bertemu denganmu Brein."
Sania mengulurkan tangannya pada Brein dengan wajah berbinar.
Brein membalas uluran tangan wanita itu dan tersenyum tipis.
"Senang bertemu denganmu juga Sania."
"Seperti apa yang dikatakan Pak Ell tadi, aku ingin kita semakin dekat kedepannya."
ucap Sania dengan senyuman penuh arti.
Brein menganggukkan kepalanya.
Sementara tangan wanita itu masih menggenggam tangannya dengan erat dan belum juga melepaskannya.
Brein kemudian menarik tangannya hingga akhirnya membuat tangannya terlepas dari tangan Sania.
"Oh maaf."
ucap Sania.
"Jika kau perlu bantuan, kau bisa langsung mengatakan padaku Brein."
tambah Sania.
"Oh baiklah."
Brein langsung menggeser posisinya lebih jauh dan mengalihkan pandangannya ke komputer di hadapannya agar bisa terhindar dari Sania yang terlihat berniat menggodanya.
Ia kurang menyukai sikap wanita itu.
Sementara di mejanya, Alice sedang berkutat pada pikirannya.
Ia memikirkan Brein yang terlihat begitu akrab dengan Ell tadi.
Apa Brein berteman baik dengan Ell?
Jika memang benar, suatu hal yang benar-benar kebetulan.
Mengingat akhir-akhir ini dirinya yang selalu bertemu dengan pria itu.
Namun sedikit aneh rasanya jika ia harus berhubungan dengan teman dekat Ell apalagi berada di divisi yang sama.
Tentu ia akan bertemu dengan Brein setiap hari.
__ADS_1