Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Sadarkan diri


__ADS_3

Ell, Rayn dan Kate menunggu hasil pemeriksaan Dokter di luar.


Mereka terlihat begitu gelisah.


Tiba-tiba pintu ruangan dimana Alice dirawat terbuka.


Mereka bertiga langsung menghampiri sang Dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan Alice?


Dia baik-baik saja kan Dok?"


ucap Kate.


"Kondisi Alice sudah stabil dari sebelumnya.


Dan kita tinggal menunggu sampai ia sadar.


Namun Alice harus tetap dirawat di sini sampai diperbolehkan pulang."


"Syukurlah."


Kate menarik napas lega.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alice Dok?


Mengapa ia bisa sampai keracunan makanan?"


"Nona Alice sepertinya tidak sengaja memakan makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi oleh virus atau bakteri.


Akibatnya ia mengalami keracunan makanan."


"Apa?


Tapi bukankah kita makan makanan dan minuman yang sama?


Bagaimana bisa Alice keracunan sementara kita dan murid-murid yang lain baik-baik saja?"


Rayn merasa ada yang mencurigakan.


"Kau benar Rayn.


Aku juga tidak mengerti bagaimana bisa hal itu terjadi."


Ell berpikir bahwa sepertinya Alice keracunan bukanlah karena ketidaksengajaan.


Namun karena perbuatan seseorang yang pasti tidak menyukai Alice.


Kira-kira siapa yang melakukan hal itu?


Mengingat begitu banyak murid-murid di sekolah yang tidak menyukai Alice.


"Baik Dok.


Terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama.


Saya permisi."


Dokter kemudian meninggalkan mereka.


Rayn melipat kedua tangannya, mencoba memikirkan sesuatu.


"Aku yakin ada orang yang sengaja ingin meracuni Alice."


"Apa?


Bagaimana kau bisa berkata seperti itu Rayn?"


"Aku hanya curiga.


Tidak mungkin pihak sekolah yang melakukannya.


Pasti salah satu murid dalang di balik semua ini.


Selama ini mereka juga sering memperlakukan Alice dengan buruk.


Bukan hal yang mustahil mereka akan melakukannya."


"Ya, kau benar Rayn.


Siapa orang yang tega melakukan hal itu pada Alice?


Padahal selama ini Alice tidak pernah membalas perbuatan buruk mereka."


Kate meneteskan air mata.


Ia begitu sedih mengingat semua perlakuan buruk yang sering diterima Alice dari orang-orang.


Sungguh ia sangat kasihan pada Alice.


Ell menghampiri Kate dan menghusap-usap bahunya dengan lembut.


"Tenanglah.


Alice akan segera pulih."


Kate meletakkan kepalanya di dada Ell.


Dan Ell kemudian membawa Kate ke dalam pelukannya.


--


Kate memegang tangan Alice.


Alice masih belum sadar juga setelah mereka lama menunggu.


"Lebih baik kembali ke camp.


Aku yang akan menemani Alice di sini."


"Tapi aku masih ingin menunggu sampai ia sadar."


"Kita bertiga tidak akan bisa tinggal di sini Kate."


"Tapi..."


"Apa yang dikatakan Rayn benar Kate.


Pihak sekolah juga pasti sedang menunggu kita kembali.


Besok kita bisa datang lagi ke sini."


Kate akhirnya mengangguk.


Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama di sana sampai Alice sadarkan diri.


"Aku mohon tolong jaga dia."


ucap Kate pada Rayn.

__ADS_1


"Hem, kau tenang saja.


Aku akan di sini sampai Alice sadar."


"Terima kasih."


"Kalau begitu kami pergi."


ucap Ell.


Ia kemudian menuntun Kate keluar dari ruangan.


Setelah Ell dan Kate pergi, Rayn duduk di kursi dan menatap Alice.


Tangannya perlahan menyentuh tangan Alice dan kemudian menggenggamnya.


"Alice, kau tahu aku tidak bisa melihatmu seperti ini.


Bahkan sebelumnya aku merasa begitu khawatir dan takut terjadi apa-apa padamu.


Dan sekarang, aku sadar bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpamu.


Aku mohon kau cepat sadar, hem?


Aku ingin segera melihat kau tersenyum."


Rayn tersenyum dan kemudian mengelus tangan Alice dengan lembut.


--


Kedua mata Alice perlahan terbuka.


Matanya menangkap nuansa putih berada di sekitarnya.


Alice kemudian menoleh ke samping dan melihat seseorang tengah tidur di sisi ranjangnya.


"Rayn.."


ucapnya dengan lembut.


Rayn seketika terbangun saat mendengar suara Alice memanggilnya.


Dan ia begitu bahagia melihat Alice sudah sadar.


Ia langsung memeluk Alice dengan erat.


"Alice...


Aku sangat senang melihatmu sudah sadar."


Ia kemudian melepaskan pelukannya.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?


Kau lapar? Aku akan mengambil makanan untukmu."


Alice tersenyum dengan wajah pucatnya.


"Aku hanya haus Rayn."


"Haus?


Sebentar aku ambilkan air."


Rayn langsung menuangkan air ke dalam gelas yang berada di atas meja.


Setelah itu, ia membantu Alice mengubah posisinya menjadi duduk.


"Terima kasih Rayn."


"Hem."


Rayn kembali meletakkan gelas itu ke atas meja.


Kate dan Ell kembali datang ke rumah sakit.


Dan kali ini mereka datang bersama pihak sekolah.


Pihak sekolah juga ingin menanyakan langsung pada Alice perihal makanan yang menyebabkannya keracunan.


Mereka berjalan menuju ruangan Alice.


Setelah sampai di depan ruangan, Kate perlahan membuka pintu.


Dan matanya langsung menangkap Alice yang sudah sadar.


Kate langsung menghampiri Alice.


"Alice kau sudah sadar?"


Alice tersenyum.


"Iya Kak."


Kate memegang tangan Alice.


"Kau baik-baik saja kan?"


Alice mengangguk.


"Hem.."


Ell dan Pihak sekolah kemudian menghampiri Alice.


"Alice, apa benar kemarin kau memakan makanan yang biasa disiapkan oleh pihak sekolah?


Kau keracunan karena makanan itu?"


tanya salah seorang Guru.


Alice mengerutkan keningnya.


Apa kemarin ia keracunan makanan hingga masuk ke rumah sakit?


Itu berarti Monica dan Michelle yang meracuninya.


Karena mereka yang memberikan makanan itu padanya.


Seketika perasaannya menjadi sedih.


Ia tidak menyangka bahwa mereka akan melakukan hal seburuk itu padanya.


"Alice kau tidak apa-apa?"


Kate menyadari perubahan raut wajah Alice.


Alice kemudian berusaha menyembunyikannya.


"Iya Bu.


Kemarin saya hanya makan makanan yang disediakan oleh pihak sekolah."

__ADS_1


"Sebenarnya Ibu tidak mengerti mengapa hanya kau yang keracunan makanan Alice.


Sementara murid-murid yang lain baik-baik saja.


Tapi nanti Ibu akan menanyakan langsung ke pihak yang menyediakan makanan.


Mungkin kesalahan terjadi karena mereka."


--


"Alice..."


Seketika mereka semua melihat ke arah sumber suara.


Dan Laura langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaanmu sayang?


Bibi begitu terkejut saat mendengar kau berada di rumah sakit."


"Keadaanku sudah lebih baik dari sebelumnya Bi.


Kemarin aku keracunan makanan hingga dibawa ke rumah sakit."


"Apa?


Bagaimana bisa kau keracunan makanan Alice?


Mengapa pihak sekolah bisa seceroboh itu?"


"Hal itu pasti tidak disengaja Bi."


"Dan yang lain?


Apa kalian baik-baik saja?"


Laura menatap Ell, Kate dan Rayn satu per satu.


"Kami baik-baik saja Bi."


ucap Kate.


Laura mengeluarkan napas lega.


"Syukurlah.


Bibi sangat khawatir terjadi apa-apa pada kalian."


"Oh ya, apa kalian sudah makan?


Bibi membawa banyak makanan untuk kalian.


Dan khusus untuk Alice, Bibi memasak makanan kesukaanmu sayang."


Alice tersenyum.


"Terima kasih Bi.


Alice sangat senang."


"Kalau begitu, kau harus makan sayang."


Laura kemudian menyiapkan makanan untuk Alice.


Kate juga ikut bahagia melihat Laura begitu perhatian pada Alice.


Paling tidak Bibinya itu bisa memberikan kasih sayang yang tidak diberikan Ibunya pada Alice.


Setelah selesai makan, mereka mengobrol sementara Alice tetap berbaring di ranjang.


"Rayn, sekarang kau harus kembali ke camp dan pulang ke Jakarta.


Kau sudah menungguiku di sini semalaman.


Kau juga tidak boleh sakit karenaku.


Di sini juga sudah ada Bibi yang akan merawatku."


"Kau tenang saja Rayn.


Bibi akan menjaga Alice dengan baik."


Kate dan Laura tertawa bersama.


Mereka paham bahwa Rayn sepertinya begitu menyukai Alice.


Sementara Ell hanya diam, duduk di sofa sambil menengok ke arah handphonenya.


Alice seketika menjadi salah tingkah karena ucapan Laura yang terdengar seperti menggoda dirinya dan Rayn.


"Baiklah kalau begitu.


Aku akan kembali.


Beritahu aku kalau kau sudah diperbolehkan pulang."


Alice menganggukkan kepalanya.


"Hem, sampai jumpa di sekolah Rayn.


Terima kasih."


Rayn tersenyum.


"Bibi, Kate aku akan kembali ke camp."


"Baiklah Rayn.


Terima kasih telah menjaga Alice dengan baik."


Kate menatap Alice dan Rayn satu per satu.


"Bibi akan segera menghubungimu jika terjadi sesuatu pada Alice."


Laura kembali melontarkan godaan.


Rayn terkekeh.


"Baiklah Bi."


Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Alice.


"Aku pergi."


Alice tersenyum dan mengangguk.


Rayn kemudian membalikkan badannya dan berjalan keluar.


Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Ell yang duduk di sofa.


Ell menyadari hal itu, ia menatap ke arah Rayn yang sudah keluar.

__ADS_1


__ADS_2