Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Tidak suka


__ADS_3

Brein mengantar Alice ke depan pintu apartemen.


Ia kemudian memberikan paper bag yang berisi peralatan make up dan juga baju pada Alice.


"Mulai besok, kau harus menggunakannya Alice."


Alice tersenyum dan mengangguk.


"Hem, aku akan menggunakannya Kak."


Brein menarik napas lega setelah mendengar jawaban Alice.


Akhirnya gadis itu berniat untuk mengubah penampilanmya.


"Baiklah.


Kalau begitu aku akan pergi Alice.


Besok aku akan menjemputmu dan kita berangkat bersama ke kantor."


Awalnya Alice ragu untuk menerima ajakan Brein.


Namun akhirnya ia setuju untuk berangkat ke kantor bersama Brein.


Brein meninggalkan Alice dan berjalan menuju lift.


Setelah melihat kepergian Brein, Alice kemudian masuk ke dalam apartemen.


Tanpa ia sadari, ada seseorang berdiri di balik dinding menatap ke arah Alice dengan tatapan lekat.


Ia juga sempat mendengar pembicaraan Alice dengan Brein tadi.


Ell berniat masuk ke dalam apartemen, namun dering pada handphonenya menghentikannya.


Ia langsung mengangkat panggilan penting yang berasal dari client-nya.


Alice masuk ke dalam kamar.


Selesai ganti baju, ia keluar dari kamarnya.


Namun di saat yang bersamaan, ia berpapasan dengan Ell yang baru masuk ke dalam apartemen.


Seketika pandangan mereka berdua bertemu.

__ADS_1


Ell melihat penampilan Alice yang sangat berbeda dari biasanya.


Kaca mata yang selama ini menutupi kedua mata Alice, kini tidak terlihat di wajah gadis itu.


Ia bisa melihat kedua mata indah itu.


Wajah Alice juga kini ditaburi riasan natural, yang sebelumnya Alice terlihat sangat polos tanpa memakai apapun.


Ell sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ia masih memandangi wajah itu dengan lekat


Alice mengedipkan matanya.


Sungguh ia bingung harus mengatakan apa di dalam kondisi canggung seperti itu.


Ell sedari tadi hanya diam dan menatapnya dengan tatapan penuh.


Pria itu bahkan belum juga masuk ke dalam kamarnya.


Alice memilin jari tangannya.


"Ah, aku akan menyiapkan makan malam Kak.


Sekarang, Kakak mandilah."


"Dimana kaca matamu?"


ucap Ell dan kemudian menggeser posisinya menatap ke arah Alice yang sudah berhenti melangkah.


Alice kemudian membalikkan badannya.


Ia melihat mata Ell yang terlihat menuntut jawaban darinya.


"Mulai saat ini, aku tidak menggunakan kaca mata lagi Kak Ell."


"Kenapa?


Bukankah selama ini kau selalu menggunakannya?


Dan kau juga memiliki rabun jauh bukan?"


Ell memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memperbaiki penampilanku menjadi lebih baik Kak.


Seseorang mengatakan padaku bahwa aku terlihat lebih baik dengan penampilan seperti ini."


Ell kemudian menatap penampilan Alice dari bawah ke atas.


Dan Alice bisa menyadari hal itu.


(Ada apa?


Apa penampilanku terlalu mencolok?)


Atau ada sesuatu yang aneh pada wajahku?)


Alice mulai memperhatikan pakaian yang digunakannya saat ini.


"Aku merasa penampilanmu sebelumnya jauh lebih baik dari pada ini."


Alice langsung menatap Ell dengan lekat.


Ya tentu saja, pria itu tidak akan pernah menyukai penampilannya.


Sebelumnya Ell juga pernah menilai penampilannya terlihat sangat biasa, saat perpisahan sekolah dulu.


Karena kehadirannya tidak pernah berarti apa-apa untuk Ell.


Ell juga pernah mengatakan hal itu padanya.


"Aku tidak suka."


tambah Ell kali ini dengan nada serius.


"Hem, aku tahu itu Kak.


Tapi aku menyukai diriku seperti ini."


Alice langsung membalikkan badannya dan pergi ke dapur.


Ia hanya tidak ingin mendengar penilaian buruk Ell pada dirinya lagi.


Hal itu sangat melukainya.


Ell mengepal tangannya dengan erat, memikirkan bahwa alasan Alice mengubah penampilannya adalah karena Brein.

__ADS_1


Dan ia tidak menyukainya.


Walaupun Alice terlihat sangat cantik dengan penampilan barunya.


__ADS_2