
Marine menyalakan TV di kamarnya.
Awalnya ia tersenyum saat salah satu siaran TV menayangkan berita mengenai ajang fashion yang dimenangkan oleh Kate kamarin.
Ia pikir berita itu akan memperlihatkan kemenangan Kate namun tidak saat ia melihat Alice muncul di sana.
Senyumnya perlahan memudar saat melihat Ell menggenggam tangan Alice saat memasuki gedung acara.
Marine menggeram kesal saat membaca judul berita itu yang membicarakan kemesraan antara Ell dan Alice.
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
ucap Marine saat kembali melihat Ell menggenggam tangan Alice dari layar TV.
Tidak biasanya Ell bersikap baik pada Alice.
Penampilan Alice juga terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Perlahan Marine mulai khawatir pada Ell.
Ia takut Ell mulai jatuh cinta pada Alice dan keinginannya selama ini untuk membuat Kate menikah dengan Ell tidak akan pernah terjadi.
Marine menggelengkan kepalanya.
"Tidak, sebisa mungkin aku harus mencegah hal itu terjadi.
Ada banyak cara untuk membuat Ell terus membenci Alice.
Dan Ell hanya akan menyayangi Kate saja.
Kondisi keluarga juga sudah semakin membaik.
Mereka akan segera berpisah.
Ya, mereka akan segera berpisah."
Marine menarik napas kasar dan kemudian melihat kembali ke layar TV.
Ia bersumpah tidak akan membiarkan hal itu terjadi!
Marine menghampiri Mario yang sedang bersiap-siap ke kantor.
"Mario, apa persiapan acara yang akan kita lakukan untuk masyarakat sudah selesai?"
"Persiapannya hampir selesai sayang.
Sergio memberitahuku bahwa kita masih harus berkodinasi dengan perangkat desa setempat.
Kita akan melakukan perjumpaan dengan mereka terlebih dahulu dan kemudian mendatangi masyarakat."
"Itu bagus.
Aku senang tidak ada kendala dalam acara itu.
Semoga dengan acara itu, masyarakat kembali percaya pada kita dan nama baik keluarga kita secepatnya kembali."
"Iya kau benar sayang.
Kepercayaan mereka perlahan mulai tumbuh saat pernikahan Ell dan Alice dilaksanakan.
Aku sangat berterima kasih pada mereka berdua karena sudah mau berkorban."
"Ya, saat kondisi sudah kondusif, mereka akan segera bercerai.
Masyarakat tidak akan mempermasalahkan hal itu karena usia mereka terbilang muda untuk menikah.
Mereka akan berpikir Ell dan Alice belum cukup dewasa dalam menjalani pernikahan."
Mario mengangguk.
"Semoga tidak terjadi kesalahpahaman lagi."
Mario kemudian mengelus wajah Marine.
"Aku berangkat sayang.
Aku dan Sergio akan berdiskusi lebih lanjut tentang hal itu."
Marine tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah."
Mario kemudian meninggalkan Marine di dalam kamar.
Senyum menyeringai perlahan muncul di wajah Marine.
"Aku akan menunjukkan dimana tempat yang layak untukmu Alice!"
--
Marine mengetuk pintu kamar Kate.
Kate langsung mengalihkan perhatiannya dari buku di tangannya saat pintu kamarnya terbuka.
Ia tersenyum saat melihat Ibunya masuk.
Kate menutup bukunya dan kemudian meletakkannya di atas meja.
"Kau tidak bekerja sayang?"
ucap Marine sesaat setelah duduk di samping Kate yang duduk di tepi ranjang.
Kate menggelengkan kepalalanya dan kemudian tersenyum.
"Tidak Bu.
Manajer memberikanku libur selama seminggu.
Ia memberiku banyak waktu untuk istirahat.
Karena akhir-akhir ini aku memang terlalu sibuk untuk mempersiapkan acara kemarin."
"Manajermu melakukan hal yang bagus sayang.
Tentu kau harus istirahat banyak.
Kau juga harus menjaga kesehatanmu, mengerti?"
Kate tersenyum.
"Hem, aku akan menjaga kesehatanku Bu.
Oh ya, apa Ibu ingin mengatakan sesuatu padaku?"
"Keluarga kita akan mengadakan acara amal sekaligus perjumpaan dengan masyarakat minggu depan.
Acara itu bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan mereka pada keluarga kita."
"Ya, aku sudah mendengarnya dari Ayah Ibu."
"Kau akan berpartisipasi dalam acara itu bukan?
Ibu pikir ini waktu yang tepat agar semua anggota keluarga kita berpartisipasi dalam acara itu.
Media juga akan datang dan mengadakan wawancara dengan kita."
"Hem, kalo begitu aku akan ikut Ibu."
Marine tersenyum.
"Itu bagus sayang.
Kita semua hanya perlu bersiap-siap.
Kate menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baik Ibu."
"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Ell?
Apa dia berubah sejak menikah?
Ibu pikir akhir-akhir ini kalian jarang bertemu."
"Ell masih sama seperti dulu Bu."
Kate menghela napas.
Ia hanya tidak bisa memberitahu Marine yang sebenarnya.
"Sebenarnya kami sering bertemu di kantor Bu.
Hanya saja kegiatanku yang padat sehingga aku tidak bisa selalu mengajak Ell pergi keluar."
"Oh benarkah?
Ibu senang mendengarnya sayang.
Hubungan kalian tidak boleh renggang Kate.
Bagaimanapun Ell yang selalu berada di sisimu sejak kalian kecil.
Ell sangat berarti bagimu bukan?"
Kate menganggukkan kepalanya.
"Ell adalah pelindungku Bu.
Tentu dia sangat berarti untukku."
Marine tersenyum puas.
Itu bagus.
Dirinya yakin Ell tidak akan pernah berubah pada Kate.
Ia tidak perlu memusingkan berita tadi.
--
Makan malam sudah terhidang di meja makan.
Ell dan Alice mulai menikmati makanan mereka.
Sejak hubungan Ell dan Alice membaik, mereka memang selalu makan bersama.
"Mulai besok, selama seminggu kita akan kembali ke rumah untuk mempersiapkan acara amal keluarga kita.
Kuharap besok kau sudah bersiap-siap."
Alice menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya ia sudah mengetahui hal itu karena tadi siang Mario menghubunginya.
Perasaan Alice sedikit khawatir mengingat dirinya akan kembali ke rumah Keluarga Dakota.
Dirinya tidak siap untuk mendapat reaksi negatif dari Bibinya lagi.
Bahkan terakhir kali Bibinya sama sekali tidak mau melihat wajahnya di rumah itu.
Alice menundukkan kepalanya.
"Ada apa?
Apa yang sedang kau pikirkan saat ini?"
Alice langsung menaikkan wajahnya dan menatap Ell.
"Tidak Kak.
"Lalu, mengapa kau tidak menyentuh makananmu dari tadi?"
"Hem, aku.."
Alice berusaha mencari alasan yang tepat.
"Aku merasa sayur ini sedikit hambar Kak.
Sepertinya aku menaruh garam terlalu sedikit."
"Aku pikir tidak ada yang kurang dengan rasa sayurnya."
ucap Ell setelah mencicipi sayur buatan Alice.
"Tapi baiklah kalau memang merasa seperti itu.
Kau boleh menambahkan garam lagi."
"Tidak Kak.
Aku akan memakannya."
Alice kemudian memasukkan sayur ke dalam mulutnya.
Sebenarnya rasa sayur itu sangat pas.
Hanya saja ia terpaksa ia harus berbohong pada Ell.
Ell masih menatap Alice yang berada di sampingnya.
Apa yang sebenarnya sedang gadis itu pikirkan?
--
Keesokan harinya, saat di kantor...
Alice tengah sibuk membereskan berkas di mejanya.
Tiba-tiba Brein menghampirinya.
"Alice, kenapa kau tidak menungguku tadi pagi?
Padahal aku ingin berangkat ke kantor bersamamu.
Kau juga tidak membalas pesanku."
ucap Brein dengan raut wajah murung.
"Maafkan aku Kak.
Tadi pagi aku harus berangkat lebih pagi karena ada pekerjaan yang harus aku kerjakan secepatnya.
Aku juga terburu-buru sehingga melewatkan pesan Kakak."
Di dalam hati, Alice meminta maaf pada Brein karena saat ini ia terpaksa harus berbohong.
Nyatanya tadi pagi Ell memintanya untuk berangkat bersama ke kantor.
Terdengar nada perintah pada kalimat pria itu sehingga ia tidak bisa menolaknya.
Apalagi sebelumnya ia sempat menolak ajakan Ell.
"Baiklah, aku memaafkanmu Alice.
Tapi dengan satu syarat, sore ini kau harus pulang bersamaku."
"Hem, maafkan aku Kak Brein.
Aku tidak bisa.
Karena nanti sore aku harus pulang dengan Kak Ell karena ada acara penting di rumah."
__ADS_1
"Acara penting?
Apa aku boleh mengetahui acara apa itu?"
"Minggu depan keluarga kami akan mengadakan acara amal Kak.
Sehingga kami akan sibuk mempersiapkan acara itu."
"Oh benarkah?
Kalau begitu, apa kau perlu bantuan?
Aku akan siap membantumu Alice."
"Terima kasih Kak.
Tapi sepertinya Paman dan Bibi sudah mengatur semuanya."
"Baiklah.
Oh ya, ini sudah jam makan siang.
Kali ini kau tidak boleh menolak ajakanku."
Alice terkekeh karena mengerti maksud ucapan Brein barusan.
"Baiklah, aku tidak akan menolak lagi Kak."
Brein tersenyum puas karena Alice menerima ajakannya makan siang bersama.
"Apa kau mau kita makan di luar?"
"Hem, ide yang bagus."
"Baiklah ayo kita berangkat.
ucap Brein dengan nada semangat.
Alice tersenyum dan kemudian mengangguk.
Ia berjalan bersama Brein keluar ruangan.
Beberapa saat kemudian, Alice dan Brein sudah sampai di depan restoran dimana mereka akan makan siang.
Mereka berdua kemudian masuk dan mengambil meja yang berada di dalam restoran.
Pelayan menghampiri meja mereka dan menanyakan pesanan.
"Kami berdua memesan yang ini."
ucap Brein.
Dan hal itu membuat Alice terheran, karena Brein kembali menyamakan pesanan mereka.
"Baik Pak.
Mohon ditungggu sampai pesanannya datang."
Pelayan itu kemudian pergi.
"Kak Brein, apa Kakak tidak berniat memesan menu yang lain?"
"Tidak.
Aku hanya ingin memesan menu yang sama denganmu."
Alice mengerutkan keningnya dan kemudian menggelengkan kepala sambil tersenyum ke arah Brein.
Brein benar-benar sangat konyol.
"Kenapa? Apa tidak boleh?"
tanya Brein dengan tatapan menuntut.
"Bukan begitu Kak.
Tapi...
Ah yasudahlah."
Brein tertawa melihat ekpresi kekesalan di wajah Alice.
Sementara tanpa diduga, Ell juga berada di sana.
Ell sedang melakukan rapat bersama Client.
Matanya menatap Brein dan Alice yang berada tidak jauh dari tempatnya.
Pikirannya fokus pada Alice yang sedang tertawa pada Brein.
Hingga tidak menyadari bahwa sedari tadi ia sama sekali tidak merespon persentasi dari Client.
"Pak Ellijah..."
Ell akhirnya tersadar dan langsung mengalihkan perhatiannya.
"Apa Bapak setuju dengan tawaran kami tadi?"
"Oh maafkan aku.
Pikiranku sedikit teralihkan tadi.
Apa Bapak bisa mengulanginya kembali?"
"Baiklah Pak.
Kami akan mengulang persentasinya kembali."
Ell mengurut keningnya.
Bisa-bisanya ia menjadi tidak fokus saat ini.
Padahal ini adalah salah satu rapat penting dengan Client besar.
--
Sepulang kerja Alice berjalan bersama Brein menuju ke parkiran.
Ell mengirim pesan padanya bahwa pria itu sudah menunggunya di dalam mobil.
"Alice, sampai jumpa."
ucap Brein sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Alice tersenyum.
"Sampai jumpa Kak."
Ia kemudian berjalan dan mencari mobil Ell.
Ell perlahan mulai memanas saat melihat kebersamaan Brein dan Alice dari kaca spion mobilnya.
Beberapa saat kemudian Alice sudah menemukan mobil Ell dan membuka pintunya.
Ia tersenyum pada Ell saat masuk ke dalam mobil.
Namun Pria itu langsung memalingkan wajah dan menatap lurus ke depan.
Ell kemudian melajukan mobilnya.
Di dalam mobil Alice merasa Ell berbeda dari sebelumnya.
Sedari tadi Ell terlihat begitu dingin padanya.
Apa ia melakukan kesalahan lagi?
__ADS_1