Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Permintaan


__ADS_3

Ell sedang memeriksa dokumen-dokumen di meja kerjanya.


Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.


Ell melihat Ayahnya masuk dengan raut wajah marah.


Ia yakin Ayahnya datang untuk memarahinya.


"Ell, apa yang kau lakukan di sini?


Bukankah Ayah sudah memintamu untuk melakukan pemotretan dengan Alice?


Kenapa kau pergi begitu saja, hah?"


"Aku tidak memiliki waktu untuk itu semua Ayah."


ucap Ell dengan nada santai.


Matanya juga tidak beralih dari dokumen yang berada di tangannya.


"Apa kau bilang?


Kau tidak memiliki waktu untuk hal sepenting itu?


Bagaimana jika media tahu bahwa kau sebenarnya tidak berniat menikah?


Mereka akan kembali menimbulkan argumen buruk tentang keluarga kita."


"Aku tidak peduli Ayah."


"Ell!"


Nada bicara Sergio mulai meninggi.


Ell kemudian menutup dokumen yang berada di tangannya dan menghampiri Sergio yang menatapnya dengan tatapan marah.


"Aku sudah berkorban sejauh ini Ayah.


Apa itu belum saja cukup untuk memulihkan nama baik keluarga kita?"


Sergio menghela napas.


Ia tahu Putranya itu begitu tidak menyukai pernikahannya.


"Ell, kau sendiri tahu bahwa saat ini keluarga kita masih dalam pergunjingan masyarakat.


Pernikahan adalah cara satu-satunya agar semuanya berhenti.


Semuanya termasuk pernikahanmu hanyalah sementara.


Dalam jangka waktu 6 bulan kau bisa berpisah dengan Alice, bahkan mungkin lebih cepat jika keadaan cepat membaik.


Kau hanya perlu bersabar Nak.


Maaf karena Ayah memaksamu untuk menikah."


"Aku tetap tidak mau melakukan pemotretan itu Ayah."


Ell tetap memegang teguh keputusannya.


"Baiklah, kalau kau memang tidak mau.


Ayah tidak akan memaksamu untuk melakukan pemotretan.


Tapi Ayah minta kau mau mengikuti semua persiapan yang lain."


"Hem.."


ucap Ell sekilas.


"Kalau begitu Ayah pergi.


Ada sesuatu yang harus Ayah urus lagi."


Sergio kemudian keluar dari ruangan Ell.


Sepergian Sergio, Ell mengurut kepalanya yang terasa begitu penat.


Pernikahan itu begitu membebaninya.


--


"Alice..."


Alice menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.


Dan ia tahu siapa pemilik suara itu.


Ia membalikkan badannya dan tersenyum melihat Kate yang tengah berjalan ke arahnya.


"Kau baru pulang dari butik?"


"Iya Kak."


"Apa semuanya berjalan dengan lancar?"


Alice menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah kalau begitu.


Jika ada kendala, kau bisa beritahu Kakak.


Dan untuk Ell..


Sikap Ell mungkin menunjukkan ketidaksukaannya.


Tapi Kakak harap kau memahaminya Alice."


"Iya Kak.

__ADS_1


Aku paham bagaimana perasaan Kak Ell.


Seharusnya kami tidak terlibat dalam pernikahan ini."


"Semua akan baik-baik saja Alice.


Kakak bisa pastikan itu."


Kate mengelus pundak Alice dengan lembut.


"Hem, aku tahu Kak."


"Baiklah, sekarang kau lebih baik membersihkan diri.


Nanti malam kita akan makan malam keluarga."


Alice menganggukkan kepalanya dan kemudian meninggalkan Kate.


Kate menatap punggung Alice dengan lekat.


(Aku harap Ell tidak membuat Alice terluka.)


--


Tidak terasa semua persiapan pernikahan sudah selesai dilakukan dan besok adalah hari dimana Ell dan Alice menikah.


Hal itu membuat Alice merasa begitu gelisah karena besok statusnya telah berganti menjadi seorang Istri.


Apa yang akan terjadi besok setelah ia menikah dengan Ell?


Ell, pria itu akan menjadi Suaminya.


Walaupun mungkin hanya sekedar formalitas dan dalam waktu yang sementara.


Namun besok ia akan mengucapkan janji pernikahan.


Itu artinya pernikahan mereka bukanlah hal yang main-main.


Alice akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pernikahannya yang singkat itu.


Sementara Ell sedang mengobrol dengan Ayah dan Ibunya.


Ia berniat mengatakan sesuatu pada mereka.


"Ayah, Ibu, aku ingin mengatakan sesuatu.


Ini adalah permintaanku setelah menikah."


"Apa yang ingin kau katakan pada Ayah dan Ibu Ell?"


tanya Laura.


"Setelah menikah aku ingin Alice dan aku tinggal di apartemenku."


"Apa?


Kalian berdua bisa tinggal di rumah ini."


"Aku tidak memiliki alasan khusus Ayah.


Aku hanya ingin memiliki kehidupan sendiri setelah menikah.


Dan saat aku berpisah dengan Alice, aku akan kembali lagi ke rumah ini."


"Tapi Ell.."


"Ibu, aku mohon.."


"Baiklah kalau itu yang kau mau Ell.


Ayah akan memberitahu Paman Mario dan Bibi Marine soal permintaanmu itu.


Ayah sendiri menerimanya permintaanmu."


"Terima kasih Ayah."


Sementara Laura menatap ke arah Ell dengan tatapan khawatir.


Ia tidak mau Ell dan Alice tinggal terpisah dari mereka.


Memang tidak ada yang ia takutkan dari hubungan Ell dan Alice.


Hanya saja jika tinggal dengan mereka, ia bisa mengontrol Ell yang mungkin akan melukai Alice nantinya.


Laura tahu bahwa saat ini Ell kembali membenci Alice.


Ia tidak mau Alice semakin menderita.


--


"Apa?


Ell ingin tinggal bersama Alice di apartemennya?"


ucap Marine dengan nada terkejut setelah mendengar pernyataan dari Suaminya.


"Benar sayang."


"Bagaimana bisa Ell mengajukan permintaan seperti itu Mario?


Kita semua tahu bahwa pernikahan mereka hanya sekedar formalitas.


Mereka tidak perlu tinggal berdua di tempat itu."


Hal itu tentu membuat Marine takut sekaligus khawatir.


Takut jika pernikahan itu perlahan menjadi sungguhan.


Walaupun ia pikir itu tidak mungkin, mengingat Ell yang membenci Alice.

__ADS_1


Namun tetap saja, Ell adalah seorang pria.


Dan ia akan tinggal berdua dengan Alice yang berstatus sebagai Istrinya.


"Sudahlah Marine.


Itu permintaan Ell, kita harus menghormatinya.


Kita juga tidak punya alasan untuk menolaknya.


Publik juga pasti berpikir bahwa akan lebih baik mereka tinggal terpisah dari kita setelah menikah.


Keputusan Ell sangat bagus.


Benarkan begitu?"


"Entahlah, sayangnya aku tidak berpikir seperti itu Mario."


Dibalik pintu kamar mereka, Kate begitu sedih mendengar pembicaraan orang tuanya dari luar.


Ell akan pergi jauh darinya dan itu artinya ia akan jarang bertemu dengan Ell.


Apa pria itu sengaja melakukan hal itu untuk menjauhinya?


Jika memang benar, itu adalah akibat perbuatannya sendiri.


Ia yang meminta Ell untuk setuju menikah.


--


Kate mengetuk pintu kamar Alice.


Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Alice.


"Kak Kate..."


Alice tersenyum melihat kedatangan Kate.


"Kenapa kau belum tidur?"


"Aku hanya tidak bisa tidur Kak."


Kate tersenyum dan kemudian duduk di ranjang Alice.


Alice ikut duduk di sampingnya.


"Kakak tahu bagaimana perasaanmu saat ini.


Kau pasti begitu gelisah karena besok adalah hari pernikahanmu.


Walau pernikahan besok bukanlah pernikahan sungguhan.


Tapi aku yakin semua gadis pasti tidak bisa tidur karena pada dasarnya pernikahan terjadi di antara dua orang saling mencintai yang mengucapkan janji pernikahan."


Kate tersenyum mengingat impiannya menikah dengan pria yang dicintainya.


Dan besok pria itu menikah dengan orang lain.


Senyum itu berubah seketika.


Alice menundukkan kepalanya.


Ia juga ingin menikah dengan pria yang dicintainya dan dicintainya.


Namun kenyataannya besok ia menikah dengan pria yang tidak mencintainya.


Ia sedih, sangat.


Ia hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup.


Dan itu mustahil untuknya, mengingat dalam jangka waktu dekat ia akan berpisah dengan Ell.


Alice sama sekali tidak berharap apapun dengan pernikahannya.


Ia hanya berharap Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuknya dan semua orang.


Kate kemudian menggenggam tangan Alice.


"Besok kau akan menikah.


Kau akan mengucapkan janji di hadapan semua orang.


Kau tidak perlu khawatir Alice.


Kakak ada bersamamu.


Dan setelah menikah, kau bisa menghubungi Kakak jika kau memerlukan sesuatu."


Alice membalas genggaman Kate.


"Terima kasih Kak.


Kakak sangat baik padaku."


"Tentu saja Kakak sangat baik padamu Alice.


Kau adalah Adik Kakak."


Alice tersenyum dan kemudian memeluk tubuh Kate.


Air matanya perlahan menetes.


Perasaan bersalahnya kembali muncul mengingat Kate adalah wanita yang dicintai oleh Ell.


Seharusnya Kate yang bersanding dengan Ell.


Tapi ia juga sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


Jika waktu bisa diputar, ia tidak akan menelpon Ell hari itu.

__ADS_1


__ADS_2