
Alice memandang dirinya di depan cermin dengan tangan tergenggam erat.
Dirinya sudah selesai berdandan dan sebentar lagi ia akan menuju altar.
Jantungnya berdetak begitu cepat.
Ia begitu gugup dan rasanya ia ingin melarikan diri saat ini.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang tangannya.
Alice melihat ke arah pemilik tangan itu.
Kate tersenyum padanya.
"Kau begitu cantik Alice."
Ia tahu Kakaknya itu pasti berniat menenangkan dirinya.
"Kau tidak perlu gugup sayang."
Ya, Kate pasti mengetahui kegugupannya.
Terlihat dari wajahnya yang begitu gelisah sedari tadi.
"Kak, aku hanya..."
Alice tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Kakak tahu Alice.
Kau hanya perlu berjalan dengan mata menatap lurus ke depan, sampai di hadapan Pendeta.
Kau pasti bisa melaluinya."
Kate mengelus bahu Alice dengan lembut.
Alice kemudian menganggukkan kepalanya.
Ya, ia bisa melaluinya.
Beberapa saat kemudian, Mario datang menjemputnya.
Alice berjalan menuju Pamannya yang tengah tersenyum padanya.
Ia memegang lengan Mario.
Sebelum pergi, Alice melihat ke belakang.
Kate mengangguk padanya.
Alice dan Mario kemudian berjalan menuju altar.
Sesampainya di altar, Alice melihat banyak orang tengah berdiri sambil melihat ke arahnya.
Semua mata tertuju padanya.
Dan tentu saja itu membuatnya gugup.
Alice menutup matanya sebentar, mencoba mendapatkan kembali kekuatannya.
Matanya kemudian menatap lurus ke depan.
Dan tampak seorang pria dengan setelan lengkap berdiri dengan mata menatap ke arahnya.
Sosok itu masih memberinya tatapan datar.
Langkahnya terhenti saat sudah sampai di hadapan Ethan.
Mario memberikan tangan Alice pada Ethan.
Hati Alice berdesir saat tangan Ethan menyentuh tangannya.
Mereka berdiri di hadapan Pendeta dan mengucapkan sumpah pernikahan.
Saat mendengar Ethan mengucapkan sumpah pernikahan, Alice menatap pria itu.
Tanpa disadarinya, air mata lolos dari pelupuk matanya.
Rasanya sesaat ia mendengar seseorang sedang berjanji di hadapan semua orang akan menjaga dan melindunginya.
Alice kembali meneskan air matanya.
Seolah tersadar bahwa kalimat itu bukanlah sungguhan.
Pernikahannya dengan Ell hanya sebagai alat untuk memulihkan nama baik keluarga mereka.
Kini tiba saatnya giliran Alice mengucapkan sumpah pernikahan.
"Aku...."
"Aku...."
Rasanya Alice tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Matanya menatap ke arah Pendeta dan juga ke arah Salib yang berdiri tegak di dalam Gereja.
(Aku akan membohongi Tuhan dan juga banyak orang.
Sebenarnya aku tidak bisa melakukan ini.
Apa yang harus kulakukan Tuhan?)
Suara bisikan orang-orang yang berada di sana mulai terdengar karena Alice belum juga mengucapkan Sumpah Pernikahan.
Sementara Ell hanya diam di tempatnya.
Tidak berniat melihat ke arah Alice yang berdiri di sampingnya.
"Nona Alice, apa anda bisa melanjutkan pernikahan?
Anda bisa membatalkannya jika anda tidak menyetujui pernikahan ini."
ucap Pendeta.
Sontak hal itu membuat Keluarga Dakota gelisah.
"Apa yang anak itu sedang lakukan?
Dia berniat menghancurkan semuanya dan mempermalukan keluarga kita di hadapan kerabat kita?"
Mario hanya bisa diam dengan mata menatap ke arah Alice.
Ia yakin Alice tidak akan melakukan apa yang Istrinya katakan barusan.
"Alice sayang..."
ucap Laura, berharap Alice segera berbicara.
Alice perlahan menarik napas dan kemudian membuka suara.
"Maafkan aku Pendeta.
Aku hanya terlalu gugup tadi.
Sekarang aku sudah siap."
__ADS_1
Pendeta itu tersenyum.
"Baiklah Nona Alice.
Sekarang anda bisa mengucapkan Sumpah pernikahan."
Mendengar ucapan Alice barusan membuat Keluarga Dakota akhirnya bisa bernapas dengan lega.
Alice kemudian mengucapkan Sumpah pernikahan.
Setelah selesai, mata Alice kembali melihat ke arah Salib.
(Maafkan aku Tuhan, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku tidak bisa menyakiti mereka.).
"Sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang Suami Istri.
Anda bisa mencium Nona Alice."
Dari ekor matanya, Alice melihat Ell mengubah posisinya menjadi berhadapan dengannya.
Apa Pria itu benar-benar akan menciumnya?
Alice perlahan menggeser tubuhnya.
Kini ia sudah berhadapan dengan Ell, yang berstatus sebagai Suaminya.
Alice melihat ke bawah, tidak berani menatap Ell.
Perlahan ia merasakan penutup kepalanya di buka.
Alice mengepal tangannya dengan erat.
Beberapa saat kemudian Alice merasakan sebuah ciuman menempel di keningnya.
Alice melihat lurus ke depan setelah Ell selesai menciumnya.
Sesaat matanya bertemu dengan mata Ell yang juga menatapnya.
Pandangan Ell langsung teralihkan setelah mendengar suara tepukan orang-orang.
Sementara Kate saat ini sedang meneteskan air mata di tempatnya.
Ia sedih setelah menyadari bahwa sekarang Ell benar-benar sudah menikah dengan orang lain.
Ia kemudian menghapus air matanya.
Berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada yang berubah di antara mereka berdua.
Pernikahan itu bukanlah sungguhan dan semuanya akan kembali seperti semula.
Ell akan kembali padanya.
Setelah upacara pernikahan selesai, kemudian dilanjutkan dengan acara selanjutnya.
Semua acara berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Keluarga Dakota pulang ke rumah dan berkumpul untuk membicarakan rencana selanjutnya.
Ell dan Alice sudah berganti pakaian.
"Apa kalian harus pergi malam ini Ell?"
tanya Mario.
"Iya Paman."
"Baiklah, jika memang itu keputusanmu."
"Alice, kau bisa membereskan barang-barangmu sayang."
"Bibi akan membantumu Alice."
Alice tersenyum dan mengangguk.
Ia dan Laura kemudian pergi ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Alice mulai memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Alice..."
"Iya Bi..."
Alice menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Laura.
Laura tersenyum.
Ia kemudian mengajak Alice duduk di ranjang.
Laura mengelus pipi Alice dengan lembut.
"Mulai saat ini, kau harus memanggil Bibi dengan sebutan Ibu.
Karena bagaimanapun kau sudah menjadi Istri Ell."
"Tapi Bi, pernikahan ini.."
"Pernikahan ini memang bukanlah sungguhan dan kelak mungkin kau dan Ell akan berpisah.
Tapi ingat sayang, walaupun pernikahan kalian hanya sementara tapi Bibi ingin kau melakukan pernikahan ini sebagaimana mestinya.
Bibi tahu Ell akan bersikap buruk padamu Alice.
Bibi mohon bertahanlah.
Ell hanya masih belum memahami semuanya.
Bertahanlah sayang, hem?"
Alice tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Maafkan Bibi Alice.
Selama ini Bibi membiarkanmu menderita seperti ini."
"Tidak Bi, Bibi tidak melakukan kesalahan apapun."
Alice menggelengkan kepalanya.
"Kau selalu mengorbankan dirimu sayang.
Bahkan kau harus kehilangan impianmu."
"Tidak apa-apa Bi.
Aku sudah merelakan semuanya."
"Bibi begitu menyayangimu Alice.
Kau sudah seperti Putri kandung Bibi.
Bibi selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.
Berharap kau segera mendapatkan kebahagiaanmu sendiri."
Alice meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Bi."
Alice dan Laura kemudian berpelukan.
Alice menumpahkan perasaannya di dalam pelukan Laura.
--
Kate mengikuti Ell dari belakang, mencoba untuk berbicara dengan pria itu.
Belakangan ini Ell selalu menghindarinya.
"Ell..."
panggil Kate dari belakang.
Namun Ell tidak menghentikan langkahnya.
"Ell, aku mohon berhenti."
ucap Kate dengan nada putus asa.
Akhirnya Ell menghentikan langkahnya.
Kate langsung mendekati Ell.
"Cepat, katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku."
ucap Ell dengan nada dingin.
"Jika aku berbicara denganku, paling tidak tatap mataku Ell."
Ell menarik napas dan kemudian berbalik.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?"
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak ingin kau seperti ini lagi Ell.
Sampai kapan kau menghindariku terus?"
Kate menatap Ell dengan tatapan senduh.
"Aku tidak punya alasan untuk bertemu denganmu Kate."
"Bahkan jika aku yang ingin bertemu denganmu?"
Mata Kate perlahan mulai berkaca-kaca.
"Kau sendiri yang memilih jalan ini Kate."
"Kau masih saja menjadikan itu sebagai alasan untuk menghindariku?
Kau tahu sendiri kita sama sekali tidak punya alasan lain."
"Tapi kau tidak perlu memintaku untuk menikah Kate!
Bahkan jika mereka memaksaku menikah, aku tidak ingin mendengar kalimat itu darimu."
"Baik, aku tahu aku salah.
Tapi apa kau akan menikah jika aku tidak melakukannya?"
"Paling tidak aku tidak mendengar kalimat itu darimu."
Karena pada dasarnya, Ell akan melakukan apapun yang Kate inginkan darinya.
Namun nyatanya gadis itu juga ikut memintanya untuk menikah.
Ia kecewa, sangat.
Gadis yang dicintainya memintanya menikah dengan orang lain.
Kate menundukkan kepalanya.
Kalau begitu, tidak ada jalan baginya untuk membuat Ell mau memaafkannya.
Ell kemudian pergi meninggalkan Kate.
Dan di sana Alice juga ikut mendengar semuanya.
Saat ingin keluar, ia tidak sengaja mendengar pembicaraaan Ell dengan Kate.
Ia semakin meyakini bahwa Ell begitu mencintai Kate.
Terlihat dari raut kekecewaan di wajahnya saat mengatakan bahwa Kate menjadi alasannya untuk menikah dengannya.
Perasaan bersalah Alice kembali muncul.
Kalau saja ia tidak setuju waktu itu, Kate tidak perlu meminta Ell untuk menikah.
Dan hubungan keduanya akan baik-baik saja.
Supir memasukkan koper Ell dan Kate ke dalam bagasi.
Semua anggota keluarga mengantar kepergian Ell dan Alice.
Ell dan Alice kemudian pamit dan memberi pelukan.
Alice memeluk semua anggota keluarga, tapi kecuali Marine.
Marine memalingkan wajah dan menghindar saat Alice hendak memberikan pelukan.
"Hati-hati sayang.."
"Baik Bu."
"Jaga kesehatanmu sayang."
ucap Mario pada Alice.
"Akj akan menjaga kesehatanku Paman."
"Baiklah, kami akan berangkat."
"Hati-hati di jalan."
Ell dan Alice kemudian masuk ke dalam mobil.
Mereka berdua duduk di bangku belakang.
Sebelum pergi, Ell dan Alice melambaikan tangan
Hingga akhirnya mobil melaju dan meninggalkan halaman rumah.
Selama perjalanan yang ada hanyalah keheningan di antara mereka berdua.
Ell menatap lurus ke depan dan sesekali memainkan hp nya.
Sementara Alice menatap ke arah luar.
Ia sama sekali tidak berani melihat ke sampingnya.
Rasanya suasana begitu mencekam.
Bagaimana saat mereka hanya tinggal berdua nantinya?
__ADS_1
Mereka berada di ruangan yang sama nantinya.
Tentu ia yang harus memulai semuanya.