
Ell masih mengedarkan pandangannya untuk mencari Alice.
Namun ia sama sekali tidak melihat gadis itu di pesta.
Ia gelisah di tempatnya.
Entah mengapa ia khawatir pada Alice.
Ia takut Alice tidak datang ke pesta.
Kate yang berada di samping Ell, menyadari ada sesuatu yang aneh pada Ell dari tadi.
Sedari tadi Ell hanya diam dan tidak menanggapi tamu yang datang.
"Ell, ada apa?
Kau sedari tadi diam saja,
Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Tidak, aku hanya memikirkan pekerjaan kantor saja."
Ucapan Ell membuat Kate tergelak.
"Aku tahu kau pria yang gila kerja Ell.
Tapi aku mohon lupakan pekerjaan kantor sebentar.
Karena acara ini begitu penting untuk keluarga kita."
"Hem, baiklah."
Ell melihat ke arah jam tangannya.
"Kate, sebentar.
Aku ke kamar mandi dulu."
"Baiklah."
Apa yang dikatakan Ell sama sekali tidak benar.
Ia tidak pergi ke dapur melainkan pergi ke kamar Alice untuk memastikan sendiri mengapa gadis itu belum datang juga.
Ell mengentuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
Tidak ada respon, akhirnya Ell masuk ke dalam kamar Alice.
Ell terkejut saat tidak menemukan siapapun di sana.
Setelah itu, ia memeriksa ke kemar mandi.
Namun Alice juga tidak berada di sana.
Ell kemudian memutuskan untuk mencari Alice di dapur.
Ia pergi ke dapur, namun juga tidak menemukan Alice di sana.
Di sana hanya ada Ibu Rihanna dan pembantu yang lain.
Ell menemui Ibu Rihanna.
"Ibu Rihanna, apa Ibu tahu dimana Alice?
Alice tidak ada di pesta.
Aku sudah mencarinya di kamarnya, tapi ia tidak ada disana.
Apa Bibi menyuruhnya mengerjakan pekerjaan lain?"
ucap Ell sambil sesekali mengedarkan pandangannya.
Awalnya Rihanna hanya diam karena mengingat ancaman yang dilontarkan Marine padanya.
Namun bila mengingat Alice, ia sangat khawatir pada gadis itu.
Alice masih belum pulang sampai sekarang.
Ia harus memberitahu Ell agar Ell bisa membawa Alice pulang.
"Ibu, apa Ibu tahu dimana Alice?"
tanya Ell sekali lagi.
"Sejujurnya, Nona Alice tidak ada disini Tuan Ell.
Atau lebih tepatnya Nona Alice tidak berada di villa."
Ell mengerutkan keningnya.
Beberapa saat kemudian ia memahami apa maksud perkataan Rihanna barusan.
"Apa maksud Ibu?
Alice tidak ada di villa?
Kalau begitu, Alice dimana?"
"Tadi sore Nyonya Marine menyuruh Nona Alice memberikan undangan pada masyarakat yang tinggal di pedesaaan Tuan.
Nyonya Marine memaksa Nona Alice untuk tidak akan pulang sebelum memberikan semua undangan itu.
Dan hingga saat ini, Nona Alice belum pulang.
Saya takut terjadi apa-apa pada Nona Alice.
Apalagi Nona Alice harus melewati hutan sebelum masuk ke perumahan rakyat."
Perasaan Ell seketika diselimuti rasa ketakutan setelah mendengar Alice pergi dan belum pulang saat ini.
Pikirannya mulai berpikiran yang tidak-tidak.
Bagaimana jika saat ini gadis itu tengah tersesat di hutan sendirian?
Dengan kondisi gelap dan mencekam tentunya.
Ia masih bisa mengingat bagaimana kemarin Alice begitu ketakutan di kamarnya.
"Mengapa Ibu tidak memberitahuku tadi?
Dengan begitu, aku bisa membawa Alice pulang lebih cepat."
"Maafkan saya Tuan Ell.
Tapi Nyonya Marine memaksa saya untuk tidak memberitahu siapapun soal Nona Alice."
"Bibi sudah sangat keterlaluan!
Mengapa ia begitu tega memperlakukan Alice seperti ini?
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Alice di sana?"
"Saya sangat khawatir dengan Nona Alice Tuan.
Ini sudah malam dan Nona Alice belum juga kembali."
"Ada apa ini Ell?"
Tiba-tiba Laura datang dan menghampiri mereka.
"Ibu Rihanna, ada apa?
Wajah Ibu terlihat begitu risau."
Laura memperhatikan wajah Rihanna dengan lekat.
"Nona Alice pergi ke pedesaan dan sampai sekarang Nona Alice belum kembali juga Nyonya."
"Apa?
__ADS_1
Bagaimana bisa Alice pergi ke sana?
Bukankah seharusnya ia bersiap-siap menuju ke pesta?"
"Nyonya Marine menyuruh Nona Alice pergi ke sana untuk memberikan undangan pada masyarakat pedesaan Nyonya."
"Apa?"
Laura begitu terkejut mendengar bahwa Marine adalah dalangnya.
"Bagaimana bisa Marine begitu tega melakukan itu pada Alice?
Perbuatan Marine sama saja dengan membahayakan Alice.
Sekarang apa yang harus kita lakukan?
Akan bahaya jika Alice masih berada di sana.
Tapi saat ini keluarga masih fokus dengan acara.
Di luar juga banyak masyarakat dan wartawan.
Tidak boleh ada keributan atau kegaduhan sedikitpun.
Mereka juga tidak boleh tahu tentang hal ini."
"Aku akan pergi mencari Alice Bu."
"Apa yang kau katakan Ell?
Kau tahu kau sangat dibutuhkan di sana.
Ayahmu juga sedang mencarimu untuk memberikan sambutan pada tamu dan juga kau harus tetap berada di sana selama berjalannya acara."
"Ibu akan menyuruh pengawal untuk mencari Alice.
Kau kembalilah ke pesta."
"Tidak Ibu.
Aku yang akan mencarinya sendiri."
Ell mulai membuka jasnya hingga menyisakan kemejanya.
"Ell kau tidak bisa pergi."
Laura memegang tangan Ell yang berniat pergi.
"Aku juga tidak bisa berdiam diri disini dan membiarkannya sendirian disana Ibu.
Aku harus pergi mencarinya."
ucap Ell dengan raut wajah yakin.
Ia kemudian memberikan jasnya pada Laura.
Laura melihat kesungguhan di wajah Putranya.
Ini pertama kalinya ia melihat Ell benar-benar khawatir.
Dari dulu Ell selalu optimis terhadap sesuatu dan ia tidak pernah khawatir terhadap apapun.
Dan saat ini ia bisa melihat hal itu di wajah Putranya.
"Baiklah, kau bisa mencari Alice Ell.
Tapi bawa beberapa pengawal bersamamu."
"Terima kasih Ibu."
Laura mengelus pipi Ell sebelum akhirnya membiarkannya pergi.
Ia hanya bisa tersenyum melihat kepergian Putranya.
Ell akhirnya pergi mencari Alice dengan beberapa pengawal.
"Ingat kita berpencar.
Kalian berdua ikut aku.
Sementar sisanya kalian mencari ke sana."
"Baik Tuan Ell."
Mereka semua kemudian berpencar mencari Alice.
Selama pencarian, Ell mengendarkan pandangannya dengan begitu teliti.
Ia bahkan meneriaki nama Alice begitu keras berulang kali.
Berharap Alice bisa mendengar suaranya.
Yang hanya di pikirannya saat ini adalah Alice seorang.
Ia harus membawa Alice pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Saat ini mereka sudah memasuki wilayah hutan.
Bayangan saat Alice ketakutan kembali menghampiri pikiran Ell.
Ell mengepal tangannya dengan erat dan langsung melangkahkan kakinya cepat.
"Alice...."
teriak Ell.
Ell membawa senter di tangannya.
Ia berlarian ke sana kemari tanpa lelah.
"Alice...."
Ell kembali meneriaki nama Alice.
Di lokasi yang sama, Alice dengan kondisi terbaring, mengangkat tangannya sambil memegang flash handphonenya.
Berharap seseorang menyadari kehadirannya di sana dari cahaya handphonenya.
Sesaat kemudian, kedua matanya terbuka.
Ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Dan suara itu begitu ia kenali.
Ia seperti mendengar suara Ell.
Tidak, ia memang berharap seseorang datang menolongnya.
Tapi tentunya bukan Ell.
Ia tidak mau Ell menolongnya.
Ia hanya tidak mau membenani pria itu lagi.
Terakhir saat Ell datang menyelamatkannya, ia menghancurkan harapan di dalam diri pria itu.
Dan sekarang tidak lagi.
Ia tidak mau membuat Ell menderita lagi karena dirinya.
Terlebih acara hari ini sangat penting untuk Ell dan Keluarganya.
Jika Ell datang, tentunya pemulihan nama baik keluarganya tidak berhasil.
"Aku mohon jangan datang Kak Ell.
Aku mohon."
ucap Alice dengan lirih.
__ADS_1
"Alice..."
Ell melangkahkan kakinya dengan cepat sambil mengarahkan senter di tangannya ke semua arah.
Sesaat ia menemukan sebuah cahaya dari arah pepohonan yang berada sejauh 4 meter darinya.
"Alice.."
Ell kemudian langsung pergi ke arah dimana cahaya itu berada.
Ia yakin cahaya itu akan membawanya pada Alice.
Dan benar saja, ia terperangah saat melihat cahaya itu berasal dari handphone Alice.
"Alice..."
Ell langsung mendekat pada Alice yang terbaring di tanah.
Alice begitu terkejut melihat kehadiran Ell di sana.
Ternyata Ell memang benar-benar datang untuk menolongnya.
"Kak Ell.."
"Alice, akhirnya aku bisa menemukanmu."
Ell sangat lega karen- akhirnya bisa menemukan Alice.
"Kak Ell, apa yang Kakak lakukan di sini?
Kakak seharusnya berada di pesta saat ini."
"Aku datang untuk mencarimu Alice.
Kau baik-baik saja?"
Mata Ell langsung terperangah melihat darah yang berasal dari kaki Alice.
"Alice, kakimu.."
"Kakiku terbentur batu saat berjalan pulang Kak.
Hingga aku tidak bisa kembali karena kondisi Kakiku yang seperti ini."
"Maafkan aku.."
Dua kata itu lolos begitu saja dari mulut Ell setelah melihat apa yang dialami oleh Alice.
"Kenapa Kakak harus minta maaf?
Aku yang salah, karena tidak memperhatikan langkahku tadi.."
"Baiklah, ayo kita sekarang pulang.
Lukamu harus segera dibalut."
"Tidak, Kakak harus pulang sekarang.
Semua orang pasti tengah mencari Kakak.
Kakak tidak boleh melewatkan acara itu."
"Apa maksudmu berkata seperti itu Alice?
Aku datang kesini untuk membawamu pulang."
Ell terkejut dengan respon yang diberikan oleh Alice.
"Aku akan menunggu pertolongan yang lain.
Kakak kembalilah.
Aku masih bisa menunggu."
Alice masih bertekad pada keinginannya.
"Aku tidak akan mendengarkanmu.
Aku akan membawamu keluar dari sini."
Ell berniat langsung mengangkat tubuh Alice.
Namun Alice bergerak menolaknya.
"Kak aku mohon, tinggalkan aku.
Aku tidak mau menghancurkan hidupmu lagi."
Alice menatap Ell dengan tatapan senduh, berharap Ell pergi meninggalkannya.
"Aku mohon.."
ucap Alice lagi.
Ell kemudian melepaskan tangannya dari tubuh Alice.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Alice.
Aku juga tidak peduli terhadap hal lain."
Ell mengeluarkan kalimat itu dengan nada serius.
"Tapi aku.."
Alice mencoba kembali berusaha.
"Aku Suamimu!
Aku sangat khawatir padamu Alice."
ucap Ell dengan menekan kalimatnya.
Kalimat Ell membuat Alice tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Ia hanya bisa meneteskan air mata.
"Kemarilah, naik ke punggungku.
Apa kakimu bisa bergerak?"
Alice perlahan menganggukkan kepalanya.
Ell kemudian berbalik dan menunggu Alice naik ke badannya.
Setelah Alice naik ke badannya, Ell kemudian berdiri dan membawa Alice pergi dari sana.
"Aku yakin kau sudah mendengar teriakanku.
Kenapa kau tidak memanggilku?
Kau sengaja agar aku tidak bisa menemukanmu?"
Alice hanya diam dan menganggukkan kepalanya.
"Kau bisa kehabisan darah dan apa kau tidak takut hal itu bisa membahayakan dirimu sendiri?"
"Aku lebih memilih mati kehabisan darah daripada harus menjadi beban orang lain lagi."
Ucapan Alice barusan membuat Ell menghentikan langkahnya.
Dan membuatnya teringat dengan perlakuannya dan juga keluarganya yang selama ini selalu menyalahkan Alice dan menjadikannya seolah menjadi beban bagi semua orang.
Ell mengarahkan wajahnya pada Alice yang bersandar di bahunya.
(Maafkan aku....)
Beberapa saat kemudian, Ell melanjutkan langkahnya keluar dari hutan.
Para pengawal juga mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1