Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Tidak serasi


__ADS_3

Saat ini Sergio sedang mengumpulkan semua karyawannya untuk memperkenalkan Alice pada mereka.


Terlihat mereka begitu terkejut saat melihat penampilan Alice yang terlihat begitu sederhana.


Bila dibandingkan dengan Direktur mereka dengan paras yang begitu tampan dan berpenampilan keren.


Sebelumnya mereka juga berharap bahwa Ell akan berjodoh dengan Kate yang terlihat begitu serasi dengan Ell.


Bagi mereka Alice sangat tidak pantas untuk menjadi Istri Ell.


"Ini Alice. Alice adalah Istri Putra saya, Ell. Seperti yang sudah kalian ketahui bahwa mereka menikah minggu lalu. Mulai saat ini Alice akan bekerja di kantor ini bersama kalian semua.


Dan Alice akan bekerja di Divisi Pemasaran.


Saya harap kalian semua memperlakukan Alice dengan baik dan mendukung pekerjaannya."


"Alice, ruanganmu berada di lantai gedung yang sama dengan Ell. Kalau kau memerlukan sesuatu, kau bisa langsung sampaikan pada dia atau melalui Celine.


Celine kau juga beritahu saya jika ada sesuatu yang penting soal Alice."


Celine mengangguk mengerti.


"Baik Pak."


"Baik, kalian semua boleh kembali ke ruangan kalian."


Satu per satu karyawan mulai pergi dari sana.


Alice bisa melihat dari tatapan mereka yang terlihat tidak suka padanya.


Dia sudah menduga itu sebelumnya.


"Alice sayang, semoga hari-harimu bekerja di sini baik.


Ayah tahu kau bisa melakukan pekerjaan barumu.


Kau memupunyai kemampuan yang sangat baik.


Jangan khawatir, setelah berpisah dengan Ell kau tetap bisa bekerja di sini."


"Terima kasih banyak Ayah.


Aku berjanji akan melakukan yang terbaik."


Sergio tersenyum dan kemudian mengelus bahu Alice.


"Celine...."


Celine langsung datang setelah mendapat panggilan dari Sergio.


"Tolong antarkan Alice ke ruangannya sekarang."


"Baik Pak.


Mari saya antar ke ruangan Nona."


"Sampai bertemu kembali Alice."


ucap Sergio.


Alice mengangguk dan kemudian tersenyum.


Celine kemudian mengantar Alice ke ruangannya yang berada di lantai gedung yang sama dengan ruangan Ell.


Celine dan Alice telah sampai di depan ruangan dimana Alice akan bekerja.


Di sana terdapat beberapa karyawan yang berada di devisi sama sepertinya.


Mereka menatap kedatangannya dengan tatapan tidak suka.


"Nona Alice, ini ruangan Nona.


Dan mereka adalah tim kerja Nona."


"Baiklah Celine.


Terima kasih karena telah mengantarku."


Celine tersenyum.


"Sama-sama Nona.


Seperti yang Pak Sergio katakan sebelumnya, jika Nona memerlukan sesuatu, Nona bisa sampaikan pada saya."


"Hemm, baiklah."


"Termasuk jika mereka memperlakukan Nona dengan buruk.


Saya tidak segan-segan akan memberitahu mereka pada Pak Sergio."


ucap Celine dengan tatapan kesal pada karyawan di sana.


Alice terkekeh melihat ekspresi Celine.


Baginy Celine adalah gadis yang baik dan lucu.


"Baiklah Celine."


Celine kembali tersenyum.


"Saya pamit kembali kalau begitu.


Pak Ell sebentar lagi juga akan kembali Nona."


Alice menganggukkan kepalanya.


Celine kemudian pergi dari sana.


Alice menarik napas panjang sebelum masuk ke dalam ruangannya.


Disana ia langsung disambut oleh Kepala Divisinya yang merupakan seorang Wanita dengan penampilan yang begitu elegan.


"Nona Alice, saya Mariana.


Saya Kepala Divisi Pemasaran."


Alice membalas uluran tangan wanita itu dan kemudian melepaskannya.


"Senang bertemu dengan anda Ibu Mariana.


Saya mohon bimbingan anda selama saya bekerja di sini."


Mariana tersenyum.


"Suatu kehormatan bagi saya kalau begitu."


Ibu Mariana sepertinya orang yang baik, pikir Alice di dalam hatinya.


"Silahkan duduk Nona.

__ADS_1


Meja milik anda di sana."


"Terima kasih banyak Bu."


Mariana membalas ucapan Alice dengan senyuman.


Alice kemudian berjalan menuju mejanya dan duduk di kursi miliknya.


Alice mencoba menyapa karyawan di sampingnya.


"Hai, aku Alice.


Senang bertemu denganmu."


"Hai.."


jawab wanita muda di sampingnya sekilas dengan tatapan malas.


Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya pada komputer di hadapannya tanpa berniat mengobrol dengan Alice.


Alice membalas sikap yang ditunjukkan wanita itu dengan senyuman.


Hal itu tidak akan mempengaruhinya.


Beberapa saat kemudian, Alice tidak sengaja melihat Ell baru saja datang.


Pria itu berjalan ke arah ruangannya.


Tiba-tiba Alice mendengar suara bisikan yang terdengar tidak jauh darinya.


"Kau lihat itu, Pak Ell begitu tampan.


Aku begitu terkejut tadi, saat melihat secara langsung bagaimana wujud asli Istrinya."


"Kau benar. Aku juga begitu terkejut.


Bahkan sebelumnya aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Pak Ell akan menikah dengan gadis lain selain Nona Kate."


Mata Alice masih melihat ke arah Ell yang saat ini sedang mengobrol dengan Celine.


Namun telinganya masih bisa mendengar suara di belakangnya.


Alice kemudian memutuskan pandangannya setelah melihat Ell masuk ke dalam ruangannya.


Alice lalu berniat pergi ke toilet.


Ia kemudian keluar dari ruangannya.


Saat Alice masuk ke dalam toilet, seorang pria tampan berjalan menuju ke ruangan Ell.


Pria itu menjadi pusat perhatian orang-orang di sana karena parasnya yang begitu tampan.


Bentuk tubuhnya yang tinggi dan proporsional semakin menambah daya tarik pria tersebut.


Celine kemudian menghampiri pria itu yang berniat masuk ke dalam ruangan Ell.


"Maaf saya Sekretaris Pak Ell. Apa anda memiliki janji dengan Beliau?"


Pria itu membuka kaca matanya.


Hal itu seketika membuat orang-orang di sana termasuk Celine ternganga.


"Aku sudah memiliki janji dengan Ell.


Kau tinggal mengatakannya saja.


Dia pasti akan tahu mengenai kedatanganku ke sini."


Celine akhirnya memutuskan pandangannya dari pria tampan di hadapannya dan kemudian masuk ke dalam ruangan Ell.


"Pak, seorang pria muda ingin bertemu dengan anda. Dia mengatakan bahwa Bapak sudah mengetahui kedatangannya kemari."


"Persilahkan dia masuk."


ucap Ell tanpa menghentikan kegiatannya memeriksa berkas-berkas di mejanya.


Celine kembali menghampiri pria itu.


Ia kemudian tersenyum padanya.


"Baiklah, anda boleh masuk ke dalam ruangan Pak Ell."


Pria itu tersenyum tipis dan kemudian mengangguk.


"Terima kasih."


Celine menarik napas panjang.


Pria itu memang begitu menarik.


Ia bisa melihat dari tatapan orang-orang yang berada di sana.


Ell menghentikan kegiatannya saat menyadari kedatangan pria yang sudah menghubunginya sejak seminggu yang lalu.


Walaupun sebelumnya mereka sempat putus komunikasi selama bertahun-tahun lamanya sejak pria itu kuliah di luar negeri.


"Kau sudah datang?"


tanya Ell


Pria itu menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya kau terlihat sibuk sekali.


Pantasan saja Ayahmu menunjukmu sebagai Direktur di usiamu yang terbilang cukup muda Ell."


Ell tersenyum tipis.


Ia kemudian berdiri dan menghampiri Temannya itu.


"Apa kabarmu Brein?


Kalau dihitung, kita sudah lama tidak bertemu selama bertahun-tahun lamanya.


Dan aku lihat, kau juga tidak berubah.


Walaupun sekarang kau terlihat lebih tampan dari sebelumnya."


Brein terkekeh mendengar pernyataan Ell.


"Dari dulu aku memang tampan kau tahu.


Aku salah satu Seniormu yang banyak digilai gadis-gadis saat di sekolah dulu.


Aku juga tidak kalah populer darimu."


Ell tersenyum.


"Baiklah aku mengakui semua apa yang kau katakan itu.

__ADS_1


Dan sebenarnya apa maksud perkataanmu waktu itu?


Kau memang benar-benar ingin bekerja di sini?


Bukankah keluargamu juga memiliki perusahaan di luar negeri?


Tentu kau akan menjadi penerus perusahaan itu bukan?


Kau juga tidak perlu repot-repot untuk kembali ke Indonesia."


"Aku tidak main-main dengan ucapanku waktu itu Ell.


Aku memang benar-benar ingin bekerja di sini."


"Dan apa sebenarnya alasanmu bekerja di sini?"


Ell memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Brein terdiam sejenak dan kemudian membuka suara.


"Kau tahu aku orang yang sangat misterius bukan?


Aku tidak bisa memberitahumu."


"Kau tidak berniat melakukan sesuatu yang buruk padaku kan?"


ucap Ell dengan tatapan menyeringai.


"Mungkin aku bisa merebut posisimu karena aku begitu menyukai ruangan besar ini."


Brein kemudian berjalan ke dekat jendela.


"Jika ruangan ini menjadi milikku, aku bisa melihat pemandangan indah seperti ini setiap hari."


Ell terkekeh mendengar pernyataan konyol Brein.


Brein memang pria yang suka bercanda.


"Baiklah kau bisa bekerja di sini.


Tapi kau ingin bekerja di bagian apa?


Aku hanya bingung ingin menempatkanmu dimana."


"Besok aku akan menentukan pilihanku."


"Terserahmu saja kalau begitu."


Brein tersenyum puas


"Aku senang mendengarnya.


Oh ya, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Kate?"


Ell diam sesaat.


"Tidak ada kemajuan sama sekali.


Bahkan lebih tidak ada harapan dari sebelumnya.


"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?"


tanya Brein seolah-olah tidak tahu menahu soal apa yang terjadi.


"Aku menikah dengan gadis lain."


"Apa?


Bagaimana bisa kau menikah dengan gadis lain selain Kate?


Bukankah kau menyukai Kate?


Dan mengapa kau menikahi gadis itu?"


Ell menghembuskan napas kasar.


"Aku terpaksa menikah dengannya.


Hanya saja aku dan dengannya akan berpisah cepat atau lambat.


Tapi itu sama sekali tidak akan mengembalikan hubunganku dengan Kate yang sudah mulai memburuk akibat pernikahan itu."


"Sebentar-sebentar, aku tidak mengerti.


Apa gadis itu memaksamu menikah dengannya?


Perkataanmu tadi seolah-olah menyebutkan bahwa dia adalah pelaku yang membuat hubunganmu dengan Kate memburuk."


"Tidak."


"Jadi mengapa kau berkata seperti itu?


Kau juga terlihat membenci gadis itu."


Ell kemudian menceritakan semua kejadian yang dialami keluarganya akibat peristiwa yang dialaminya dan Alice waktu itu.


"Jadi kau menyalahkannya atas apa yang tidak dilakukannya?


Dia juga korban sepertimu Ell."


"Entahlah. Hanya saja jika waktu itu aku tidak datang untuk menyelamatkannya, mungkin semua ini tidak akan terjadi."


"Kau menyesal?


Jadi kau lebih memilih gadis itu mati saat itu?"


Ell hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Brein barusan.


Brein menggelengkan kepalanya.


Ia berusaha menahan dirinya yang begitu kesal dengan pernyataan Ell barusan.


Nyatanya dirinya saja begitu kasihan saat membayangkan kejadian itu, saat dimana Alice sangat membutuhkan pertolongan siapapun.


(Aku tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk padamu saat itu Alice.


Aku sangat bersyukur karena bisa melihatmu sampai saat ini.)


"Aku tahu Ell, kau pasti sangat mencintai Kate.


Tapi kau juga tidak perlu menyalahkan gadis itu atas apa yang terjadi.


Jika kau memang ditakdirkan untuk bersama Kate, maka kau tidak perlu khawatir.


Kau pasti akan disatukan dengannya dengan cara apapun."


"Terima kasih Brein."


Ell sebenarnya menyadari bahwa Alice juga korban atas kejadian itu.

__ADS_1


Karena waktu itu ia juga langsung berlari untuk menolong gadis itu setelah mendapat panggilannya.


Hanya saja setiap kali melihat Alice, rasanya ia mengingat dirinya dan Kate yang saat ini terpisah akibat pernikahan itu.


__ADS_2