Sorry For Hurting You

Sorry For Hurting You
Tidur Bersama


__ADS_3

Ell keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya.


Ia berjalan sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Matanya kemudian menangkap Alice yang berbaring di tempat tidur.


Gadis itu belum tidur juga.


Ell mendekati tempat tidur dan duduk di sisi ranjang.


"Ada apa hem?


Apa kau sedang mengkhawatirkan sesuatu?


Atau lukamu semakin perih?


Katakan padaku, aku bisa memeriksa lukamu."


Alice tersenyum mendengar banyak pertanyaan Ell tersebut.


"Aku tidak apa-apa Kak.


Aku hanya tidak bisa tidur."


"Hem, baiklah.


Oh ya, duduklah.


Aku ingin melihat kondisi wajahmu."


Alice menyentuh wajahnya.


Memang benar, tamparan keras itu masih meninggalkan perih di wajahnya.


Ia kemudian mengganti posisinya menjadi duduk.


Ell bisa melihat bukti kejahatan yang dilakukan Marine pada Alice.


Rasa kesalnya pada Marine kembali menyerang Ell.


Ia tidak menyangka seorang Bibi akan melakukan hal jauh seperti itu pada Keponakannya sendiri.


"Sebentar, aku akan mengambil sesuatu."


Alice menatap Ell yang tengah mengambil sesuatu dari lemari.


Untuk apa Ell membawa kotak obat?


Pria itu kembali menghampirinya dengan kotak obat di tangannya.


Ell mengambil jarak semakin dekat dengan Alice.


Ia menatap wajah itu sebentar dan kembali merasa menyesal atas apa yang dialami Alice hari ini.


"Maafkan aku ya.." ucap Ell dengan tatapan lirih.


"Kenapa Kakak harus meminta maaf?


Apa yang aku alami bukan karena Kakak."


"Entahlah.


Aku hanya merasa bertanggung jawab atasmu.


Luka pada kakimu dan juga wajahmu yang kemerahan membuat aku juga ikut merasakan sakitnya.


Ell kemudian menyentuh pipi Alice dan mengelusnya dengan lembut.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun melakukan hal itu lagi padamu."


Ell dan Alice saling menatap satu sama lain.


Seolah keduanya bisa merasakan apa yang tengah mereka rasakan saat ini.


Ell tersenyum dan kemudian menautkan rambut Alice pada telinganya.


Ia akan mengoleskan obat agar kemerahan di pipi Alice segera hilang.


"Kak, biar aku yang melakukannya sendiri." ucap Alice agar tidak membuat suasana di antara mereka semakin tegang.


"Tidak, aku yang akan mengolesinya untukmu.


Kau hanya perlu menunggu sampai selesai.."


Alice akhirnya pasrah dan membiarkan Ell memberikan obat pada wajahnya.


"Apa aku menyentuh pipimu terlalu kasar?"


Alice langsung menggelengkan kepalanya karena nyatanya Ell begitu lembut mengoleskan obat itu ke pipi nya.


Ell sudah selesai melakukan tugasnya dan kemudian mengembalikan kotak obat itu ke tempatnya semula.


"Sekarang tidurlah, ini sudah malam.


Besok kita akan kembali ke Jakarta pada pagi hari."


Ell memperbaiki selimut Alice dan memastikan gadis itu sudah pada posisi yang nyaman untuk tidur.


"Hem, baiklah Kak."


Alice tersenyum pada Ell.


Pria itu begitu perhatian padanya.

__ADS_1


"Kakak bersiap untuk tidur juga kan?" Alice hanya memastikan Ell tidak keluar kamar lagi.


Ia khawatir masih ada obrolan lagi soal dirinya dan Marine


"Hem, aku juga akan tidur.


Aku akan tidur di sana."


Ell menunjuk ke arah sofa yang tidak jauh dari sana.


Alice melihat ke arah sofa tersebut.


Menururnya benda itu tidak cukup menampung tubuh Ell yang memiliki tinggi badan ideal.


Bisa dipastikan Pria itu akan mengalami pegal keesokan harinya.


Apalagi Ell sempat menggendongnya keluar dari hutan dalam waktu yang cukup lama.


"Kakak yakin akan tidur di sana?" ucap Alice dengan ekspresi dan nada ragu.


"Hem, apa ada tempat lain selain di sofa itu?


Atau kau ingin aku tidur seranjang denganmu?


Aku mau saja, asalkan kau sama sekali tidak keberatan." ucap Ell dengan nada menggoda.


Ia hanya ingin membuat Alice tersenyum dan benar saja, gadis itu sekarang tersenyum padanya.


"Kak Ell, kau ada-ada saja.." ucap Alice dengan kikuk.


"Tapi bukan hal yang salah jika kita tidur bersama.


Bukankah kita adalah sepasang suami dan istri?


Aku bisa tidur di sampingmu malam ini Alice."


tambah Ell kembali menggoda Alice.


"Kau Ell, hentikan!"


Perkataan Ell membuat Alice semakin gugup karena ia tidak menyangka Ell akan memberikan jawaban seperti itu atas pertanyaannya.


"Baiklah, sekarang tidurlah.


Aku juga akan berbaring di sofa."


Alice tersenyum dan kemudian mengangguk pelan.


Ell juga bersiap untuk tidur.


Namun saat di sofa, tubuhnya tidak mendapatkan posisi yang nyaman karna ukuran sofa tersebut terlalu kecil untuknya.


Ell menatap ke arah tempat tidur, jangan sampai pergerakannya membuat Alice terganggu.


Tanpa disadarinya, Alice menyadari hal itu.


Alice juga sudah menduga hal itu sebelumnya.


Pastinya sangat tidak menyenangkan tidur di sana.


Ia mulai merasa bersalah karena Ell tidak bisa tidur di ranjang karena dirinya.


"Kak Ell.."ucap Alice tiba-tiba.


Ell cukup terkejut dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


Ia pikir Alice membutuhkan sesuatu.


"Alice kau masih belum tidur?


Apa kau memerlukan sesuatu?"


"Kak Ell, bagaimana jika kita tidur bersama?" Alice menutup kedua matanya saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


Walaupun ia sudah berulang kali mempertimbangkannya.


"Hem, apa maksudmu Alice?"


"Bukankan ranjang ini memiliki ukuran yang besar?


Kita bisa berbagi ranjang Kak.


Ell tersenyum dan kemudian menghampiri Alice.


"Kau yakin mau berbagi ranjang denganku?"


Ell menatap Alice dengan lekat.


Alice perlahan menganggukkan kepalanya.


Sungguh tidak ada pilihan lain.


"Lagian ranjang ini juga milik Kakak."


"Baiklah kalau begitu."


Ell langsung mengambil posisi di samping Alice.


Sementara Alice perlahan bergeser untuk memberikan jarak antara Ell dan dirinya.


"Hem, nyamannya.


Memang akan sulit jika sepanjang malam aku tidur di sofa dengan ukuran yang terlalu kecil.." ucap Ell dengan senyuman berbinar.

__ADS_1


Alice tidak menjawab kalimat Ell tersebut karena jujur saja, saat ini ia tengah berusaha mengontrol detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang.


Bagaimana tidak, saat ini dirinya tidur bersama dengan Ell.


Bahkan mereka berdua berada di dalam selimut yang sama.


"Alice.." panggil Ell dan kemudian mengubah posisi tidurnya ke samping.


"Hem? ucap Alice tanpa mengalihkan tatapannya yang masih lurus ke depan.


"Bukankah kita seharusnya melakukan sesuatu yang lebih dari ini?


Suami Istri biasanya tidak hanya berdiam diri saat berada di ranjang.


Perkataan Ell langsung membuat Alice memalingkan wajahnya ke arah pria itu.


"Apa maksud Kakak berkata seperti itu?" ucap Alice dengan ekspresi terkejut.


Ekspresi Alice membuat Ell ingin tertawa keras.


Namun ia berusaha menahannya karena masih ingin melakukannya lagi.


"Aku hanya ingin..." kalimat Ell terpotong.


"Ingin apa?" tanya Alice lagi.


"Ingin..."


"Kak Ell?


Jangan memikirkan hal yang aneh-anah." ucap Alice dengan nada memperingati.


"Aku ingin mencubit pipimu karena kau terlihat begitu menggemaskan saat ini."


Ell kemudian tertawa keras.


Alice kesal dengan Ell yang sudah berhasil menjahilinya.


Namun perlahan ia tersenyum


Ini pertama kalinya Alice melihat pria itu tertawa lepas karena dirinya.


"Kakak sudah puas menjahiliku?


"Maafkan aku. Tapi aku memang tidak bisa menahannya karena melihat ekspresimu tadi."


"Baiklah, aku percaya dengan ucapan Kakak."


Alice masih memasang wajah kesalnya.


"Iya, maafkan aku ya.


Kemarilah."


Alice mengubah posisinya menghadap ke arah Ell.


Tidak disangka Ell malah mendekat sehingga memperkecil jarak mereka.


Keduanya saling bertatapan.


"Sekarang waktunya tidur.


Kau tidak boleh begadang, hem?"


Aku juga sudah berada di sampingmu saat ini.


Aku tahu kau tidak bisa tidur tadi karna memikirkanku kan?"


Alice tidak menjawab dan masih menatap kedua mata itu.


Ell mengelus pipi Alice kemudian menyelipkan rambut Alice ke telinganya.


"Sekarang tutup matamu."


Alice tersenyum dan menutup kedua matanya.


"Selamat tidur Alice.."


"Selamat tidur Kak Ell." ucap Alice dengan mata tertutup.


Ell tersenyum dan menaikkan selimut Alice dengan penuh hati-hati.


Tidak lama setelah itu, terdengar napas teratur yang menandakan bahwa Alice sudah tidur.


Ell menatap wajah teduh itu.


Rasanya begitu nyaman melihat Alice tidur di hadapannya.


Entah pikiran dari mana, Ell mendekatkan wajahnya dan kemudian mencium kening Alice.


"Selamat malam Alice.." ucapnya setelah mencium kening Alice.


"Aku sama sekali tidak menyesali apa yang aku lakukan hari ini.."


Ell kemudian menutup kedua matanya dan mulai tertidur.


Keduanya tidur bersama dengan posisi saling berhadapan.


Hal yang tidak pernah diduga oleh siapapun bahwa mereka akan tidur di ranjang yang sama.


Keduanya dalam keadaan sadar bahkan Ell dengan senang hati berada di samping Alice.


Kecupan di kening itu juga menjadi bukti bahwa Ell ingin memulai sesuatu yang lebih dari apa yang disepakati mereka selama ini.

__ADS_1


__ADS_2