
Kate memperkenalkan Ell pada perancang busana yang dikenakannya pada ajang tadi.
Beliau begitu senang bertemu dengan Ell dan mereka akhirnya mengobrol panjang.
Di sela-sela pembicaraan mereka, Ell merasa ada yang kurang.
Ia kemudian melihat ke sekelilingnya dan ternyata Alice tidak ada di sana.
Ya, ia asyik mengobrol hingga melupakan gadis itu.
Ell kembali melihat ke sekelilingnya.
Kate yang berdiri di sampingnya menyadari bahwa Ell terlihat mencari sesuatu.
"Ada apa Ell?
Kau mencari seseorang?"
ucap Kate dengan suara pelan.
Kate kemudian tersenyum tipis pada perancang busana nya yang masih mengobrol dengan Manajernya.
Mata Ell masih melihat ke arah lain dan hal itu membuat Kate bertanya-tanya.
"Aku tidak melihat Alice sedari tadi.
Apa kau tahu dia dimana?"
"Oh, Alice mungkin sedang ke kamar mandi.
Dia pasti akan kembali sebentar lagi."
Kate tidak menduga bahwa ternyata sedari tadi Ell sedang mencari Alice.
Tidak, Ell merasa tidak seperti itu.
Sedari tadi ia tidak melihat Alice di sana.
Jika Alice memang pergi ke kamar mandi, gadis itu seharusnya sudah kembali.
Perasaannya mulai tidak enak.
Ell perlahan melepaskan tangan Kate dari lengannya dan berniat pergi mencari Alice.
Namun tangan Kate menahan lengannya.
"Ell kau mau kemana?
Kita masih mengobrol dengan Tuan Andreas."
"Aku ingin pergi mencari Alice.
Kau mengobrol lah dengan Tuan Andreas."
"Tapi Ell.."
Belum sempat Kate melanjutkan kalimatnya, Ell sudah pergi meninggalkan mereka.
Kate sebenarnya ingin menyusul Ell, namun ia tidak mungkin meninggalkan Tuan Andreas yang masih ada di sana.
Terpaksa Kate harus tetap di sana. Kate mengangguk setiap kali Tuan Andreas mengajaknya berbicara, namun pikirannya sedari tadi masih mengarah pada Ell yang meninggalkannya.
Dan alasan pria itu meninggalkannya adalah karena Alice.
Tidak biasanya Ell seperti ini.
Ell perlahan mulai berubah.
Padahal sebelumnya Ell sama sekali tidak peduli dengan Alice bahkan sangat membencinya.
--
Alice sedari tadi mengarahkan matanya pada langit.
Perasaannyaa perlahan mulai membaik karena hal itu.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Alice terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya.
Namun ia semakin terkejut saat melihat seorang pria yang berdiri di hadapannya.
"Kak Brein...."
Brein tersenyum melihat Alice yang terlihat begitu terkejut melihat kehadirannya di sana.
"Mengapa Kakak bisa ada di sini?"
ucap Alice masih dengan wajah terkejutnya.
"Aku mengikutimu.."
Suara Brein terdengar santai.
"Apa?"
Alice tidak mengerti dengan ucapan Brein barusan.
Brein tersenyum tipis.
"Kau sangat lucu dengan ekspresi seperti itu Alice."
Brein kemudian menyilangkan kedua tangannya.
"Ya, aku memang mengikutimu ke sini."
Alice semakin tidak mengerti.
Brein kemudian berdiri di samping Alice.
"Ah, sebenarnya aku juga menghadiri ajang fashion malam ini.
Temanku mengundangku ke sini.
Dan aku melihatmu datang bersama Ell."
Brein menatap Alice dengan lekat.
Hal itu membuat Alice gelisah
Apa Brein sudah mengetahui pernikahan mereka?
Mengingat banyak wartawan yang menyorotnya dan Ell tadi dan pria itu sempat menggenggam tangannya.
"Tentu kalian datang untuk melihat penampilan Kate.
Aku ingin menemui kalian berdua, tapi kondisi tidak memungkinkan tadi."
tambah Brein.
__ADS_1
Akhirnya Alice dapat bernapas dengan lega.
Brein sepertinya belum mengetahui kebenarannya.
"Lalu setelah acara selesai, tadi aku tidak sengaja melihatmu dan mengikutimu dari belakang.
Ternyata kau pergi ke sini.
Kenapa kau sendirian Alice?
Dimana Ell dan Kate?"
"Mereka ada di ruangan Kak Kate.
Aku hanya ingin sendiri Kak jadi aku pergi ke tempat ini."
"Ya, aku pikir kau pasti tidak suka keramaian dan juga tatapan orang-orang di sekitarmu.
Tapi menurutku hal itu wajar Alice.
Kau sangat cantik malam ini."
"Sama seperti mereka, aku juga tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu."
Kalimat Brein membuat Alice gugup.
Apalagi nada bicara Brein terdengar begitu serius kali ini.
"Hem, aku berpenampilan seperti ini karena aku tidak ingin mempermalukan Kak Kate Kak.
Acara ini adalah acara yang spesial untuk Kate dan aku ingin memberikan yang terbaik untuknya."
Alice mencoba memberikan penjelasan di tengah kegugupannya.
"Oh benarkah?
Kalau begitu kau berhasil Alice
Semua orang di gedung tadi terlihat begitu terpukau melihat penampilanmu."
Alice membalas ucapan Brein dengan senyuman tipis.
Sementara Ell sedang mencari dimana keberadaan Alice.
Ia sempat mencari di luar dan juga di parkiran, namun ia tidak menemukan Alice di sana.
Sayangnya Alice juga tidak membawa handphonenya tadi sehingga Ell tidak bisa menghubunginya.
Ell kemudian kembali masuk ke dalam gedung.
Ia berjalan menyusuri gedung sambil menatap ke sekelilingnya dengan begitu teliti.
Namun hasilnya tetap nihil.
Ell menjadi semakin khawatir pada Alice.
Ia takut terjadi apa-apa pada gadis itu karena masih belum menemukannya.
Lalu Ell menemui petugas keamanan yang berada di sana.
Siapa tahu mereka melihat Alice.
"Permisi, apa anda melihat gadis mengenakan gaun merah ada di sekitar sini?
Atau mungkin berjalan lewat sini tadi."
Ell langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya, kau benar.
Apa kau melihatnya?"
"Saya tadi melihat Nona itu masuk ke dalam lift Tuan.
Kemungkinan ia pergi ke lantai atas.
Tuan bisa mencarinya di sana."
Ell tersenyum puas.
"Baiklah, aku akan pergi ke sana.
Terima kasih atas informasinya."
Ell langsung mencari Alice ke lantai atas.
Ia yakin Alice berada di sana.
Akhirnya Ell bisa bernapas dengan lega.
Angin malam menembus kulit Alice sehingga membuatnya merasa kedinginan.
Mengingat gaun yang ia gunakan sedikit terbuka di bagian atas.
Namun Alice berusaha menyembunyikannya walaupun sedari tadi ia sudah menggenggam tangannya dengan erat karena menahan kedinginan.
Ell melangkahkan kakinya dengan cepat agar bisa segera menemukan Alice.
Matanya menatap kesana kemari hingga pandangannya tarhenti pada 2 orang yang berdiri tidak jauh darinya.
Awalnya ia begitu terkejut namun ia berusaha mengontrol perasannya.
Ell perlahan mulai mendekati mereka.
Hingga langkahnya terhenti saat melihat Brein melepaskan jasnya dan memasangkannya di tubuh Alice.
Alice terkejut saat merasakan jas terpasang di tubuhnya.
Ia melihat ke arah Brein yang tengah menatapnya.
"Kau boleh menyembunyikan apapun soal dirimu pada orang lain Alice.
Tapi kau tidak boleh menyembunyikannya dariku, hem?"
Brein kemudian menaruh tangannya di kepala Alice dan mengelus kepala Alice dengan lembut.
"Kau mengerti?"
Alice hanya diam menerima perlakuan Brein.
Sungguh saat ini ia tidak tahu harus melakukan apa.
Bahkan ia sulit mengeluarkan kata dari mulutnya.
Brein menurunkan tangannya.
"Tidak baik kau berlama-lama di sini.
Bisa-bisa kau mati kedinginan.
__ADS_1
Ikutlah bersamaku, aku akan mengantarmu pulang."
Ell mengepal tangannya dengan erat.
Entah mengapa ia begitu marah melihat Brein memperlakukan Alice seperti itu.
Bahkan tatapan Brein pada Alice sangat intens layaknya pria yang mencintai seorang wanita.
Bibir Alice keluh.
Ia ingin menolak ajakan Brein namun entah mengapa ia tidak bisa.
Bagian dari dirinya ingin pulang bersama pria itu mengingat saat ini Ell sedang bersama Kate.
Tentu ia tidak mau merusak momen bahagia mereka.
"Kau tidak perlu mengantar Alice pulang Brein."
Suara yang begitu familiar di telinga Alice tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka.
Alice langsung mengalihkan tatapannya dari Brein menuju ke arah sumber suara.
Dan benar saja, Ell berjalan mendekati mereka dengan tatapan datar.
Alice terkejut melihat kedatangan pria itu.
Sebelumnya ia pikir Ell tidak akan mencarinya.
"Kau dan Kate sedari tadi pasti mencari Alice sehingga kau datang ke sini Ell.
Kau tenang saja Ell, aku akan mengantar Alice pulang.
Kau boleh kembali ke ruangan Kate dan katakan padanya untuk tidak khawatir."
Ya, benar kata Brein.
Ell pasti mencarinya ke sana karena Kate juga.
"Alice, sebaiknya kita pergi.
Aku akan mengantarmu pulang.
Belum sempat Alice menjawab, Brein langsung menarik tangan Alice dan berniat pergi membawanya.
Namun langkah keduanya terhenti saat tangan Alice yang satunya dii ditahan oleh Ell.
Alice melihat ke arah tangan Ell yang memegang erat tangannya.
Kini kedua tangannya dipegang oleh kedua pria itu.
"Kau tidak bisa membawa Alice pergi.
Dia kesini bersamaku.
Jadi dia juga akan pulang bersamaku."
Ell menatap Brein dengan raut wajah tidak ter artikan.
"Bukankah kau masih punya urusan di dalam?
Tidak seharusnya kau membiarkan dia pergi sendirian tadi.
Alice juga tidak nyaman di sana.
Kau tidak perlu menahannya seperti ini."
ucap Brein seolah mengerti bagaimana perasaan Alice.
"Kau juga seharusnya menemuiku dan Kate terlebih dahulu tadi dari pada harus datang ke sini Brein.
Bisa-bisanya kau tidak memberitahu kami bahwa kau juga ada di sini."
Ell kemudian melihat ke arah Alice.
"Dia akan pulang bersamaku."
ucap Ell dengan menekan kalimatnya.
"Kalau begitu, Alice sendiri yang akan menentukan ia ingin pulang dengan siapa."
Brein kemudian menatap Alice.
"Alice pulanglah bersamaku.
Aku akan membawamu pulang tanpa harus menunggu di sana lagi."
ucap Brein dengan kesungguhan.
Alice diam sesaat.
Pikirannya kemudian tertuju pada momen bahagia Ell bersama Kate tadi.
Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mulai menjaga jarak dengan Ell.
Ia akan melakukan cara untuk memperkecil perasaannnya pada Ell.
Alice kemudian mengalihkan pandangannya pada Ell yang tengah menatapmya.
Ia perlahan melepaskan tangannya dari Ell.
"Aku ingin pulang bersamamu Kak Brein."
ucap Alice pada Brein.
Kali ini ia berusaha tidak melihat ke arah Ell.
Brein tersenyum.
Ia senang mendengar jawaban Alice.
"Kalau begitu ayo kita pergi.
Ell, sebaiknya kau kembali."
Brein dan Alice kemudian pergi meninggalkan Ell di sana.
Sementara Ell hanya diam di tempatnya, masih melihat ke arah Brein dan Alice yang mulai menghilang.
Ell kemudian menarik napas dengan kasar.
Perasaannya bercampur aduk saat ini.
Ia marah dan bingung di saat yang bersamaan.
Ell marah karena Alice menolak pulang bersamanya dan lebih memilih Brein.
Namun Alice berhak pergi bersama pria lain.
Malah seharusnya dengan senang hati ia membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1