
Kate memutus panggilan dari Manajernya.
Tiba-tiba ada panggilan yang mengharuskannya pergi.
"Ada apa Kate?"
tanya Laura saat menyadari perubahan raut wajah Kate setelah menerima panggilan.
"Begini Bi.
Manajerku menyuruhku untuk kembali ke Jakarta.
Ada pertemuan yang mengharuskan aku datang ke sana."
"Tidak apa-apa Kate.
Kau boleh pergi.
Bibi dan Ethan yang akan menjaga Alice.
Kau tidak perlu khawatir sayang."
Kate kemudian melihat ke arah Alice yang masih tidur.
"Bibi yang akan memberitahu Alice soal itu.
Bibi yakin ia akan mengerti."
"Baiklah Bi.
Sampai bertemu di Jakarta Bi."
Laura menghusap bahu Kate dan mengangguk.
"Hati-hati di jalan sayang."
"Baik Bi."
Kate kemudian pergi meninggalkan ruangan Alice.
--
Alice bangun dari tidurnya.
Ia melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan sore hari menjelang malam.
"Kau sudah bangun sayang?"
"Bibi aku tidur begitu lama.
Maaf ya Bi."
"Kau tidak perlu minta maaf Alice.
Justru kau harus banyak istirahat."
"Dimana Kak Kate Bi?"
"Oh ya, Kate tadi dapat panggilan dari Manajernya untuk kembali ke Jakarta.
Jadi Bibi memperbolehkan Kate pergi.
Bibi pikir ada Bibi dan Ell yang akan menjagamu di sini."
"Tidak apa-apa Bi.
Aku yakin Kak Kate punya urusan yang sangat penting."
"Kau benar Alice.
Kalau begitu, sekarang kau harus makan malam.
Bibi sudah menyiapkan makanan untukmu."
Laura mengambil makanan yang sudah disediakannya untuk Alice.
__ADS_1
"Ini sayang.
Kau tidak boleh terlambat makan."
"Terima kasih Bi."
Alice mulai menikmati makannnya.
"Oh ya Bi, dimana Kak Ell?"
Alice memberanikan diri untuk bertanya.
"Ell pergi keluar sebentar sayang."
Laura memahami raut wajah Alice.
"Ell sudah makan malam.
Kau tidak perlu khawatir Alice.
Alice tersenyum dan kemudian melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, Alice menyalakan TV sekedar untuk menghilangkan kesedihannya terkait dengan keracunan yang dialaminya.
"Ada apa Bi?"
Alice melihat Laura menatap ke arah handphonenya dengan wajah gusar.
"Alice, Bibi lupa memberitahumu.
Tadi Bibi menerima panggilan dari sekolah untuk datang ke camp, membicarakan kejadian yang kau alami kemarin sayang.
Sementara Bibi tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini.
Sedari tadi Bibi menelpon Ell, namun ia sama sekali tidak menjawab panggilan Bibi."
"Tidak apa-apa Bi.
Aku bisa sendiri di sini.
Lagian kondisiku sudah membaik Bi."
Kau tidak boleh sendiri dalam keadaan seperti ini.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ell?"
"Bi, tidak apa-apa."
Alice mencoba meyakinkan Laura.
"Kau yakin tidak apa-apa jika kau sendirian di sini Alice?"
"Aku yakin Bi.
Suster juga sering datang ke sini Bi.
Jika perlu apa-apa, aku bisa memanggil mereka."
"Baiklah Alice.
Bibi tidak akan pergi lama.
Bibi akan segera kembali sayang.
Jika terjadi sesuatu, segera hubungi Bibi."
"Baik Bi.
Bibi hati-hati di jalan ya."
"Hem.."
Laura mengelus kepala Alice dengan lembut.
"Bibi pergi Alice.."
__ADS_1
Laura kemudian keluar dari ruangan Alice.
Saat berjalan di lorong rumah sakit, Laura bertemu dengan Ell yang baru saja datang.
"Dari mana saja kau Ell?
Sedari tadi Ibu menghubungimu, namun kau sama sekali tidak menjawab.
Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Aku baik-baik saja Bu.
Hanya saja tadi daya handphoneku habis."
"Oh begitu, syukurlah Ell.
Oh ya, Ibu akan pergi ke camp untuk membicarakan terkait masalah yang menimpa Alice kemarin.
Ibu mohon kau menjaga Alice di sini dan jangan tinggalkan dia.
Kau mau kan Ell?"
"Baik Bu.
Aku akan disini menemaninya."
"Bagus.
Ibu pergi dulu."
Alice terdiam sejenak.
Ia teringat dengan kejadian yang dialaminya kemarin.
Mengapa Monica dan Michelle sebegitu membencinya sampai-sampai melakukan hal yang mencelakai dirinya?
Selama ini ia diam dan bahkan menerima perlakuan mereka, karena berharap suatu saat nanti mereka akan mau menerimanya.
Tapi sepertinya tidak.
Perlahan air mata Alice mulai menetes.
Ia mengingat semua yang dialaminya selama ini.
Ia berusaha menahan semuanya.
Namun tak pelak ia hanyalah seorang gadis SMA yang ingin dikasihi oleh orang di sekitarnya.
"Apa salahku?
Mengapa mereka tega melakukan hal itu padaku?
Mengapa mereka tidak menginginkanku?"
Air mata Alice bercucuran.
Ia mengeluarkan semua kesedihannya.
Alice menutup kedua matanya dan menangis terseduh-seduh.
Ell hanya bisa melihat Alice dari luar dan mendengar tangisannya.
Tangisan itu menggambarkan kepedihan yang begitu dalam.
Ell tahu Alice pasti tidak menyangka bahwa Monica dan Michelle akan melakukan hal buruk itu padanya.
Ya, ia sudah mengetahui siapa pelaku yang meracuni Alice
Yang tidak lain adalah Monica dan Michelle.
Kemarin saat kembali ke camp, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Michelle dan Monica.
Monica ketakutan saat mendengar bahwa Alice di rawat di rumah sakit.
Lain halnya dengan Michelle yang sepertinya menyikapi hal itu dengan santai.
__ADS_1
Ell yakin bahwa Michelle adalah dalang utama yang mengakibatkan Alice keracunan.
Mereka benar-benar keterlaluan!