
“Kak Gita!” panggil seseorang dari seberang meja tempat Bening dan Naka makan.
“Uhuk...,” Bening yang sedang mengunyah dimsum udang langsung tersedak dan memuntahkan makanan yang dia kunyah. Bening mengenali suara yang memanggilnya.
Hanya keluarga Bening yang memanggil Bening dengan nama tengahnya, Bening Gita Hanjaya, dan dipanggil Gita.
“Hai Alikaa..,” sapa Naka dengan ramah.
Pada dasarnya Naka memang mempunyai hati yang baik, senyum yang tulus dan ramah pada siapapun. Itu sebabnya Naka Populer di hadapan adik- adik kelasnya saat dia SMA dulu.
“Kebetulan sekali kita ketemu di sini? Kok kakak nggak bilang- bilang ada ke sini?” tanya Alika ramah ke Bening karena ada Naka.
Bening yang sudah hafal dengan sifat Alika hanya tersenyum masam penuh kecewa. Bening mengambil tisu membersihkan bekas makanya.
Harapan indah Bening makan romantis dan jadian, sepertinya akan pupus dan rusak. Padahal saat di jalan tadi, Naka bilang ingin menyampaikan sesuatu.
Setelah sampai, karena mereka sengaja menunda makan, mereka ingin langsung makan dulu dan menunda ngobrol. Belum selesai makan malah Alika datang.
“Aku yang mengajaknya, mendadak,” jawab Naka membela Bening.
“Oh! Kak Naka yang ajak?" jawab Alika ekspresinya berubah sedikit kesal dan cemburu lalu melirik ke Bening.
“Kalau gitu, gabung sama kita aja!” jawab Alika menawarkan.
“Ehm.. ehm...,” Bening yang merasa sangat terganggu dan malas dengan Alika hanya berdehem. Dia ingin menolak tapi tidak bisa.
Naka yang hatinya baik langsung menyambut ramah. Dia hanya tahu, Alika adik Bening sehingga dia harus baik juga ke Alika. Dia tidak tahu kalau Alika mencintainya dan menginginkan dirinya.
“Oke... kenapa tidak, nggak apa- apa kan Ning?” tanya Naka.
“Yah!” jawab Bening terpaksa mengangguk.
Bening tidak mungkin menolak adiknya di hadapan Naka. Apalagi Alika bersikap manis dan ramah. Bening akan terlihat sebagai kakak yang jahat kalau tidak mengijinkan Alika gabung.
“Oh ya. Kamu ke sini sama siapa?” tanya Naka kemudian.
“Kalau sekarang sih sendiri, tapi sebentar lagi teman- temanku datang,” jawab Alika.
“Ooh!” jawab Naka.
Bening pun bernafas lega, itu artinya, dia akan bisa berdua dengan Naka lagi kalau Alika bersama temanya.
“Teman siapa Lika?” tanya Bening.
“Biasa Kak, anak- anak. Kan kata Papah sama Kakak, kalau aku dapat kebahagiaan, harus berbagi, aku mau traktir teman- teman. Kakak sama Kak Naka juga jangan bayar biar aku yang bayar! Oh ya Kaka, belum ucapin selamat ke aku? Kakak kemarin habis lomba kemana? Aku cari Kakak lho?” ucap Alika lagi dengan nada sedikit dinaikan dan menatap Bening dengan tatapan penuh ejekan.
Bening hanya tersenyum getir berusaha menutupi luka hatinya yang terbuka.
Untuk merayakan kemenangannya yang curang, ayah dan ibu Bening sampai memberi uang Alika untuk traktir teman- temanya. Sementara Bening hanya ingin kuliah tidak bisa dan harus bekerja sebagai penjaga museum yang sepi dengan gaji di bawah UMR dan hanya cukup untuk makan dan beli bensin.
__ADS_1
"Kakak pulang?" jawab Bening cepat malas biacara.
"Oh.. sayang sekali? Tapi kakak baik- baik aja kan?"
"Baik!"
"Oh ya. kaka belum ucapin selamat ke aku?" ucap Alika lagi semakin ingin menyakiti Bening.
"Maaf. Selamat ya!" ucap Bening.
“Oh ya..ya... selamat ya. Kamu udah menang!” tutur Naka ikut memberi semangat ke Alika.
“Makasih Kak! Hehe!” jawab Alika dengan raut bahagianya tidak peduli perasaan Bening dan seakan lupa kalau Bening juga ikut lomba dan kalah. Juga kalah karenanya.
“Oh ya Kak...aku mau tanya- tanya nih sama Kak Naka!” tutur Alika lagi malah duduknya mendekat ke Naka.
“Silahkan, mau tanya apa?” jawab Naka.
Naka adalah pemuda dengan karir mentereng, karena pintar, lulus SMA, langsung metrima di sekolah yang dibiayai Isyana dan langsung bekerja. Dia baru saja ketrima sebagai salah satu staff yang bekerja di Istana. Dia menjadi pegawai di kantor keuangan negara. Bagi Bening dan Alika itu keren.
“Mau tanya banyak, Kak,” jawab Alika jadi menyerobot ngobrol dengan Naka dan membiarkan Bening jadi pendengar.
“Ya udah apa?”
“Aku nanti gimana Kak?”
“Ya barangkali Kakak tahu, aku kan menang, habis ini aku ngapain?” tanya Alika.
Naka pun mengangguk dan menjelaskan.
“Nanti kan kamu disuruh kumpul dulu sama pengurus yang menangani penari. Ada pengarahan biasanya. Nanti kamu dikasih jadwal agendanya. Nanti kamu tinggal di karantina,” jawab Naka
“Kakak tahu nggak? Aku di karantinanya dimana?” tanya Alika lagi.
"Deket asrama kantor aku kalau nggak salah,"
"Waah benarkah? Kalau gitu boleh kan aku nebeng Kakak?" tanya Alika berapi- api.
"Boleh!"
"Oh ya Kak. Kalau di lingkungan istana aku harus ngapain? Aku bisa keluar nggak? Ada.tempat jajan dan nongkrong nggak? Terus gimana?" tanya Alika lagi semakin ceriwis bertanya dan semakin ingin memanasi Bening.
Karena ditanya, walau sebenarnya enggan. Naka yang baim tetap menjawabnya.
Sementara Bening diam menahan tangis dan gemuruh di dadanya. Bening benar- benar sakit dan ingin bangun pulang ke kontrakanya.
Menghadapi Alika dan menghadapi pria asing itu ternyata lebih menyakitkan Alika yang bermuka dua.
"Kamu di asrama makan udan dijatah. Kamu latian tiap hari," tutut Naka menjelaskan.
__ADS_1
Naka dan Alika pun tampak asik mengobrol sampai teman- teman Alika tiba. Sayangnya begitu tiba. Bukanya Naka dan Bening bisa berdua mereka malah tidak pergi dan membuat Bening semakin diacuhkan.
Sampai malam datang. Dan Naka merasa harus pulang.
"Aku harus pulang. Pulang yuk!" ajak Naka ke Bening
Bening mengangguk dan hendak mengikuti Naka. Tapi kembali lagi Alika yang terus menempel dan tidak membiarkan Bening bicara dengan Naka menyerobot.
"Kak Gita mau kemana?" tanya Alika.
"Pulang!" jawab Bening
"Pulang kemana?"
"Kontrakan," jawab Bening.
"Aku yang jemput. Aku yang antar. Kamu jangan khawatir! Kakakmu aman bersamaku!" jawab Naka ramah.
Tanpa Naka tahu perkataanya membakar amarah Alika.
"Kak Naka nggak usah antar Kak Gita. Kak Gita, Papah nanyain Kaka. Kakak malam ini pulang ke rumah sama aku aja!" tutur Alika tidak rela Naka mengantar Bening.
Bening langsung menelan ludah dan mengepalkan tanganya sementara Naka tersenyum lega.
Restoran tempat mereka makan ada di antara kontrakan Bening dan lingkungan Istana tempat Naka tinggal cenderung lebih dekat ke kota. Jika antar Bening akan memutar dan jika Bening pulang ke rumah orang tuanya Naka akan pulang lebih cepat.
"Oke!" jawab Naka.
Karena Naka sudah bilang oke. Bening pun tidak bisa menolak ajakan Alika.
"Ya sudah aku pulang ya!" tutur Naka ke Bening.
"Ya Kak!" jawab Bening dan Alika.
Selepas Naka pergi, Bening dan Alika langsung saling tatap.
"Kenapa kamu menatap kaka begitu?" tanya Bening tersinggung.
"Kakak pacaran sama Kak Naka?" tanya Alika.
"Apa urusanmu? Kakak ingin pulang. Mau apa Papah nanyain aku?" tanya Bening.
Alika tersenyum sinis.
"Apa ya?" jawab Alika dengan senyum licik dan sangat menyebalkan.
Bening hanya menghela nafasnya.
"Kamu kan yang taruh jarum di sepatu Kakak?" tanya Bening kemudian.
__ADS_1