
Ares yang keseharianya menjadi pengawal pribadi Pangeran Abe dan bernafas di lingkungan kerajaan sejak lahir, langsung sigap.
Sebuah mobil mewah langsung terparkir di depan warung kecil itu begitu Ares menghubungi anak buahnya. Meski sudah tergolong mobil mewah, namun mobil itu, masih belum mobil Pangeran Abe yang biasa dipakai, itu hanya mobil yang Ares panggil dari anak buahnya, tidak terbayang seberapa kaya Pangeran Abe sebenarnya.
Begitu saja, walau hanya salah satu kendaraan yang sudah dipegang pengawal sebagai inventaris, pemilik warung dan beberapa pengunjung mulai saling berbisik, mobil yang dipanggil Ares sebagai pusat perhatian. Mereka semua menatap ke mobil, menunggu siapa orang beruntung yang mempunyai mobil semengkilat, besar dan gagah itu. Dan pemilik warung terharu, mobil bagus harga milyaran mau singgah masuk di rumah makan kecil. Tidak lama pria berbadan tinggi tegap mengenakan kaos dan berkacamata keluar.
Mobil itu datang beserta paketan seorang supir yang merupakan pegawai keamanaan kerajaan terlatih yang sudah dipilih dan disumpah mengabdi.
Ya, supir yang sebenarnya tentara berpangkat itu pun keluar dan turun dari mobilnya berjalan masuk. Sesuai perintah Ares, supir itu berpakaian casual sehingga orang pun tidak ada yang tahu jika mereka orang kerajaan.
Dia pun berjalan santai seperti layaknya orang makan. Padahal seharusnya dan sebelumnya, kemana Abe pergi selalu diikuti banyak pengawal dan pegawai berjaga, bahkan setiap tempat yang dikunjungi selalu diperiksa keamananya juga dipastikan kesiapanya, dikosongkan.
“Salam hormat yang mulia Pangeran Aberald!” sapa supir menunjukan sikap formal menghamba, begitu melihat Pangeran Abe yang berpenampilan sebagai Daka.
“Jangan begitu, ini tempat umum aku tidak mau orang mengenaliku sebelum waktunya!” jawab Daka celingak celinguk, entah kenapa sekarang dia tidak suka orang lain memperlakukanya dengan sikap formal.
Ares dan Bernand langsung mengedikan mata memberi kode pada Supir, agar mematuhi Pangeran Abe.
“Baik, Pangeran!” jawab Supir lagi.
“Panggil aku Daka, namaku, Daka!” jawab Pangeran Abe lagi,
“I-I iya Pang, Iya Tuan Muda Daka!” jawab supir terbata dan langsung dikode oleh Bernand.
Setelah bercakap sebentar, dan Ares memberitahu tugasnya, Supir yang bernama Bison mengangguk mengerti, segera mengikuti Daka yang sudahh gelisah ingin segera pulang.
Ares sendiri segera mengumpulkan orang- orang yang selama ini setia mengabdi pada Daka.
Daka pun melangkah dengan mengembangkan senyum kecil, di benaknya sudah tergambar wajah manis perempuan galak yang sudah menyelamatkan dan menjadi istrinya.
“Aku yakin kamu pasti kaget mendengar ceritaku, kamu harus bahagia, siapkan dirimu Sayang. Kamu pantas dapat ini. Kamu dewiku, kamu permaisuriku. Kamu tidak boleh menderita lagi!” batin Daka.
Daka tidak sabar ingin membahagiakan Bening, mengakhiri semua perjuangan Bening yang harus memerah keringat demi bertahan hidup.
Bison dengan sigap membukakan pintu untuk Daka, didampingi Leon dan Bernand mereka langsung melesat ke rumah kontrakan Bening.
****
Di Tempat lain
Dengan langkah cepat walau tanpa arah tepat, berbalut emosi, juga peningkatan energy yang tadinya hampir habis menjadi begitu menggebu berdiri bangun dan pergi. Bening meminta Tia secepatnya meninggalkan rumahnya.
Diiringi semilir angin, melewati jalan pedesaan yang dikelilingi pohon itu, dengan mengendarai motor Tia mereka berdua pergi ke kontrakan Tia yang tidak jauh dari sanggar tari yang sama dengan tempat Alika sekarang bekerja setelah batal ikut agenda kerajaan.
Duduk di belakang Tia dengan mengenakan helm, sepanjang jalan air mata Bening jatuh bercucuran. Hanya daun- daun yang berjajar rapi memagari jalan yang mengerti.
Bening tidak kuasa menceritakan semua jejalan prasangka yang bersemayam dalam benaknya.
Setelah memasuki gang masuk ke kontrakan Tia, Bening pun segera menyeka air matanya, walau rasanya sangat sulit untuk dibendung. Namun Bening enggan menjawab semua Tanya Tia. Jadi sebisa mungki dia tak ingin menampakanya pada Tia.
Setelah sepersekian detik mereka pun sampai ke rumah kecil tempat Tia tinggal.
“Sedikit berantakan, soalnya aku sering pulang ke rumah Papa Mamah, maaf ya” tutur Tia sungkan, memberitahu, sembari memutar kunci membuka pintu kontrakannya.
“Makasih, Tia… nggak masalah kok!” jawab Bening tersenyum.
Setelah pintu terbuka mereka pun segera masuk. Kontrakan Tia tidak jauh berbeda dengan rumah Bening, malah lebih sempit mengingat Tia hanya menjadikanya rumah singgah. Hanya ada ruang tamu yang sempit karena di ruang itu sudah merangkap ruang makan juga ruang santai, lalu ruang kamar dan kamar mandi.
Bening dan Tia sudah bersahabat lama sehingga begitu masuk, tanpa canggung, Bening langsung masuk ke kamar dan merebahkan badanya.
Sementara Tia malah beberes. Tia malu dan ingat. Dia terakhir meninggalkan kontrakan menyisakan beberapa pekerjaan seperti lupa menaruh mangkuk dan gelas kotor ke tempat cucian dan mencucinya. Tia pun membiarkan Bening berbuat sesuka hati agar dirinya tenang.
Bening sendiri langsung memeluk guling kembali menumpahkan air matanya, karena, ternyata usahanya menyembunyikan sedih dari Tia gagal. Entah kenapa setiap kali dia menahannya terasa begitu sesak menekan.
Setelah sepersekian detik Tia selesai mencuci piring dia menyalakan kompor membuat minuman hangat dan membawanya ke kamar. Tia berharap sembari meminum the hangat, Bening bisa lebih fresh dan berfikir jernih serta bersedia mengurai beban di benaknya.
“Teh… Bening!” ucap Tia menawarkan teh hangat ke Bening.
__ADS_1
“Hmm…,” Bening yang sudah reda karena cukup banyak menangis pun segera berbalik dari tidur tengkurapnya.”Iya…,” jawab Bening memaksa senyum walau matanya sembab juga suaranya parau.
Tia pun semakin iba, Tia duduk mendekat ke Bening dan menatapnya penuh kasih.
“Udah nangisnya?Udah lega? Kamu abis nangis kan? Ayolah Bening, cerita sama aaku? Ada apa?” Tanya Tia lembut.
Bening mengulum lidahnya dan menghela nafasnya yang terlihat masih begitu sesak.
“Nggak apa- apa!” jawab Bening bohong.
“Kamu pikir aku anak kecil yang bisa aku bohongi? Hah?” jawab Tia sewot Bening masih saja enggan cerita.
“Beneran nggak apa- apa! Aku Cuma pengen nginep di sini sementara waktu, maaf ngerepotin, aku akan cari kos- kosan kok, ” jawab Bening lagi malaj bicara tidak jelas, semakin menunjukan kalau dirinya sedang tidak stabil emosinya.
Tia pun semakin berdecak gemas.
“Nggak! Nggak aku kasih maaf, kalau kamu nggak mau cerita, aku nggak bolehin kamu di sini, sana pulang!” jawab Tia terkesan tega tapi sebenarnya amat sayang pada Bening.
Bening pun mengernyit cemberut, kenapa galaknya Tia tidak sembuh juga padahal dirinya sudah tidak galak.
“Pelit banget sih! Ya udah aku pergi!” jawab Bening menganggap serius dan ngsmbek.
Tia pun terkekeh dan langsung mencegah Benig.
“Terus kamu percaya gitu? Iya kamu boleh nempatin kontrakanku, tapi kamu kenapa harus pergi?” Tanya Tia lagi.
Sayangnya ditanya begitu Bening langsung terdiam.
“Oke… itu emang masalah rumah tangga kamu dan suamimu. Kalau kamu nggak bersedia cerita, its oke nggak apa- apa. Tapi setidaknya, aku harus tahu, kenapa kamu harus pergi. Aku nggak mau lhoh dimarahin gegara dikira bawa kabur istri orang!” ucap Tia kemudian.
Bukanya menjawab, Bening yang sudah berhenti menangis malah menunduk dan menitikan air matanya lagi.
“Aih… malah nangis! Ck!” decak Tia tambah bingung.
Tia kemudian mengambil secangkir teh hangatnya lalu mengulurkan ke Bening yang tampak meraih tisu Tia sendiri dan menyeka air matanya.
"Makasih ya!" Bening pun menerimanya dan mulai meneguknya perlahan.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi dengan kalian, lebih tepatnya bagaimana kalian menikah. Aku juga tidak tahu bagaimana suamimu. Aku hanya denger cerita dari Leon dan bertemu suamimu sekali aja. Tapi aku lihat dia pria yang baik, dia juga memperlakukanmu dengan sangat baik, bahkan menurutku dia memang naksir dan jatuh cinta ke kamu, makanya pas Leon cerita kalian menikah, aku happy banget dan dukung kalian. Kamu juga kan? Tapi..” tutur Tia lagi mengurai katanya berharap Bening mau cerita.
“Stop Tia!” potong Bening tiba- tiba. Tia pun langsung diam.
“Maaf, ,jdngan bahas dia dulu, boleh kasih aku waktu sendiri, aku akan cerita kaalau aku udah siap, tapi aku sekarang pengen sendiri dulu!” ucap Bening.
“Hhhhh…,” Tia pun menghela nafasnya dan mengangguk.
“10 menit aja!” ucap Bening lagi.
“Oke…,” jawab Tia.
“Makasih ya!” ucap Bening.
“Ya udah aku keluar dulu, aku beli makanan ya… kamu pengen makan apa?” Tanya Tia kemudian.
“Aku nggak pengen apa- apa !” jawab Bening lagi.
“Hmmm…,” Tia pun melengos sudah menebak, Bening pasti jawab itu, tapi Tia tahu makanan kesukaan Bening.
Tia pun mengikuti mau Bening dan membiarkan Bening sendiri. Tia pergi mencari makanan.
****
“Bagaimana aku harus cerita ke kamu Tia? Aku malu dengan diriku sendiri? Kenapa aku sebodoh ini dan serapuh ini?” batin Bening begitu Tia pergi.
Bening kemudian mengambil tasnya, membukannya. Akan tetapi tangan Bening berhenti, tanganya bergetar dan air matanya kembali menetes.
“Bagaimana bisa aku membiarkan diriku jatuh hati pada pria asing tak kukenal begini? Siapa dia sebenarnya? Sejahat apa dia dan keluarga sebenarnya?” batin Bening lagi.
__ADS_1
Bening memang sudah menebak dari awal, melihat pakaian Daka, barang yang Daka kenakan juga perangai Daka kalau Daka berasal dari keluarga kaya. Akan tetapi Bening tidak bisa menebak sekaya apa dan bagaimana kayanya.
Melihat luka sayatan, beberapa pukulan juga luka goresan bebatuan, Bening hanya menebak, Daka terlibat perkelahian dan mungkin hendak dibunuh. Itu artinya Daka berselisih dan bermasalah.
Ditambah, dengan datangnya rombongan Putri Aille yang memanggil Daka, Kak. Bening berfikir Daka bukan dari keluarga yang baik, sebab keluarga yang baik tidak akan berbuat kasar dan jahat.
“Apa dia keluarga bos mafia? Atau bahkan lebih dari itu?” gumam Bening lagi bergidik dan menggelengkan kepalanya.
“Bahkan dia benar- benar mencopet Dompet Tante Damita dan Tante Lisa? Apa dia bos copet?” gumam Bening kembali menutup tasnya tak kuasa melihat dompet ibu tiri dan calon ibu mertuanya yang gagal.
Bening kembali meneteskan air matanya merasa sangat sakit dan juga takut.
Bening merasa kecewa dan sakit yang teramat sangat. Dia sudah membela Daka mati- matian kalau Daka tak mengambil dompet Damita, bahkan Bening sangat percaya Daka benar- benar berjuang mendapatkan uang untuk dia, tapi terbukti Daka mencopet.
“Kenapa aku bisa sepercaya ini padanya? Dia punya uang dari mencopet? Bodoh sekali aku banyk bermimpi?” gumam Bening lagi.
Bening kemudian, memeluk tubuhnya bahkan memukuli tubuhnya sendiri mengingat satu bulan terakhir ini dia dan Daka sudah menjadi suami istri seutuhnya. Bayangan dirinya setiap saat membiarkan Daka menyentuhnya, menikmati percuumbuan panjang mereka membuat Bening menyesal. Bening yang mengira Daka terrnyata orang jahat. Bening pun meraung dan jijik dengan dirinya sendiri.
“Aku kotor, aku bodoh!” ucap Bening memukul- mukul dirinya sendiri.
****
“Beniiing! Bening! Sayaang! Kamu dimana?” Daka langsung kelimpungan begitu sampai ke rumah kecilnya yang penuh cinta itu sedikit berantakan tapi Bening tidak ada.
Leon seperti Daka, langsung ikut gelisah melihat beberapa sisa sampah pecahan perabot Bening juga barang- barang Bening yang belum selesai dirapihkan.
Sementara Bernand dan Bison kaget, dan terbelalak, Pangeran Putra Mahkota yang menjadi di negeri mereka yang mereka semua tahu perkataanya menjadi titah dan tidak ada yang berani menolak, juga kekayaan yang tak akan habis jika hanya untuk menghidupi anak cucu mereka sampai 7 turunan lebih, ternyata 1 bulan lebih tidak ada, hanya tinggal di rumah kecil.
"Kemana Bening?" tanya Daka gusar dan takut.
Leon ikut bertanya, Bernand dan Bison pun segera merapat.
“Cari Bening!” ucap Daka langsung keluar sifat aslinya memerintah. “Temukan Bening secepatnya, aku tidak mau dia kenapa- kenapa!” ucap Daka begitu panic setelah memeriksa ke kamar dan dapur, dan mendapati dapur berantakan.
Leon sang kakak yang hafal sifat Bening mengangguk ikut panic. “Sepertinya terjadi sesuatu dan ada yang mencoba mencelakainya!” ucap Daka ikut memeriksa.
“Brak…,” Daka yang kalut mengepalkan tanganya emosi dan panic.
“Aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyentuh wanitaku!” ucap Daka geram.
Bernand dan Bison yang tadinya tertegun ikut memeriksa sekitar.
“Ayo cepat cari, kita harus cari Bening segera!” ucap Daka tidak sabar dan keluar kalut membawa emosi.
"Tunggu Tuan!"
"Tunggu apa lagi. Ayo cepat temukan Bening!"
“Saya coba telepon Bening dulu, Tuan, kita yanua dulu!” jawab Leon.
Daka terdiam menyesal, ya ponsel memanh penting, pagi ini kan mereka sepakat akan punya ponsel sendiri- sendiri.
"Ponsel Bening aku yang pegang!" ucap Daka dengan penuh penyesalan.
“Ini, kan identitas orang kerajaan!” celetuk Bernand menemukan satu pin anak buah Aille yang terjatuh.
Semua pun langsung menoleh ke Bernand dan mendekat. Leon yang ngebleng dan kalut, mendengar ponsel Bening dibawa Daka lamgsung melemas menurunkan ponselnya.
Daka langsung mengeratkan rahangnya dan merebut pin yang ada di tangan Bernand. Lalu meremasnya dengan mata menyala .
"Tidak akan kuberi ampun!" gumam Daka.
“Ini artinya, orang kerajaan sudah mengetahui keberadaan anda, yang mulia!” ucap Bernand.
Daka tidak menjawab dan hanya mengeratkan rahangnya, matanya memerah penuh kemarahan dan ketakutan. Leon sendiri hanya menelan ludahnya gemetar. Itu artinya Bening dalam bahaya.
“Sebaiknya kita segera hubungi Tuan Ares dan ubah rencana, yang mulia!” ucap Bernand lagi memberikan usul.
__ADS_1