
Jika di depan Tia dan Bening tanpa ada Naka atau ibunya, Alika berani menampakan sifat aslinya. Melihat sesuatu yang dibawa Bening mencurigakan, mata Alika menyala dan langsung merebut kasar sepatu Bening. Bening mempertahankanya sehingga mereka berebut.
“Apa ini?” bentak Alika.
“Bukan urusan kamu!” jawab Bening melawan.
“Sinih!” ucap Alika tidak mau kalah.
Tya yang melihatnya membela Bening, adik Naka yang melihat ikut andil, sehingga akhirnya karena tarik- tarikan kreseknya sobek, dan sepatu Bening terjatuh.
“Hhhh..,” Mata Mika langsung tertuju pada sepatu Bening kemudian tertawa sinis. “Apa yang bisa kamu rubah dengan sepatu ini? Besok pagi gue masuk asrama buat mulai berlatih untuk tampil di acara? Kenapa kamu iri?” tantang Alika.
Bening mengeratkan rahangnya dan menatap Alika dengan tatapan penuh sesak menahan geram, kenapa Tuhan beri Bening saudara sejahat Alika.
Bening berusaha berjongkok mengambil seapatunya tapi langsung diinjak oleh Alika.
“Minggir!” bentak Bening.
“Kamu yang minggir!” ucap Alika mendorong Bening sehingga Bening terjungkal jatuh.
“Alika... apa- apaan kamu?” bentak Tya.
“Kalian yang apa- apaan? Mau apa kalian kesini? Nggak tahu malu banget sih, cewek nyamperin ke rumah cowok?” ejek Alika memutar balikan fakta.
“What?” pekik Tya dan Bening mengernyitkan mata. Bening langsung menepuk kedua telapak tanganya membersihkan dari debu di halaman Naka karena dia gunakan untuk menyangga tubuhnya. Bening kembali bangkit dan melawan Alika.
“Apa kamu bilang?” pekik Bening.
Alika hanya berdiri menatap sinis.
“Kamu sendiri ngapain di sini? Hah? Kamu boleh ambil ayahku, ambil kamarku, ambil kesempatan juaraku, tapi jangan pernah bohongi Kak Naka! Kak Naka itu pacarku, Kak Naka itu cintanya ke aku. Bukan ke kamu! Kamu yang tahu diri!” lanjut Bening emosi.
Di saat yang bersamaan motor Naka sayup- sayup terdengar, Alika kemudian merubah mimik wajahnya. Bahkan berusaha nangis.
“Woah?” pekik Bening dan Tya terheran- heran.
“Aku tahu Kak, Kak Naka itu pacar Kakak, aku ke sini sama Dede besok pagi kan Alika mau masuk Asrama di lingkungan sini, apa salah, Alika ke sini minta tolong sama Kak Naka?” ucap Alika pandai.
Bening dan Tya pun jadi gelagapan setelah tahu motor Naka mendekat bahkan dalam beberapa detik sudah berada di belakangnya.
“Ada apa ini?” tanya Naka mematikan mesin motor, belum turun baru melepas helmnya.
Alika melirik ke Dede, dan menampakan muka baiknya.
“Kak Naka..,” pekik Bening gelagapan justru jdi tersangka.
“Pacar Kakak ini jahat banget sih Kak? Masa Dede sama kak Alik dimarahi gara- gara di sini. Pantas mamah nggak suka?” imbuh Dede bekerja sama dengan Alika.
Naka kemudian menatap Bening, Bening langsung menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu, Kak!” ucap Bening cepat.
“Ehm...,” dehem Naka jadi bingung.
“Alika ke sini kan mau minta bantuan Kak Naka, dimana asramanya, Alika juga mau tau tempat ini,” lanjut Alika melancarkan aksinya.
Dan dia berdiri di atas sepatu Bening satu- satunya bukti kejahatanya. Sepatu tari Bening kan sangat tipis sementara dia sekarang menggunakan sepatu kat.
“Bening... kamu kenapa sih? Sama adik sendiri jahat begini? Kamu ke sini mau apa?” tanya Naka sedkit kecewa.
Bening terbengong sakit dikatai jahat ke Alika.
“Kalau mamah tahu, pacar Kakak nyamper ke sini? Pasti Mamah marah? Udah sih Kak putusin aja!” imbuh Dede lagi.
“Kak... mereka fitnah Bening, bukan begitu, Bening mau kasih tahu sesuatu ke Kakak!”
“Hoh...,” Alika dan Dede mencibir.
“Jelasin apa?” tanya Naka.
“Alika itu jahat Kak! Bening kalah karena dia? Dia curangin Bening!!” ucap Bening berusaha jujur.
“Hiks... hiks...,” Alika kemudian menangis dibuat- buat.
Dede pun langsung merangkul Alika simpati. Naka menelan ludahnya jadi bingung.
“Kakak tega banget ngatain Alik begitu?”
“Bening kamu apa- apaan sih?” tanya Naka tidak percaya.
“Sungguhan, buktinya sepatu yang sedang diinjak Alika. Dia masanga jrum untuk lukai Bening, itu sebabnya Bening jatuh di pertengahan pertunjukan!” ucap Bening lagi menjelaskan.
Alika semakin mengencangkan tangisanya.
“Kaka boleh iri sama Alika, Kakak boleh cemburu sama Alika, tapi kenapa Kakak tega begini?” isak Alika.
__ADS_1
Bening pun geram hendak maju memukul Alika.
“Bening!” bentak Naka.
Melihat Bening emosi dan Alika terlihat menangis, Naka jadi mengira Alika yang jujur.
“Kakak!”
“Kak Naka nggak nyangka kamu gini Ning?” ucap Naka.
“Kak!” pekik Bening menelan ludahnya kecewa dengan sikap Naka.
“Kita punya tantangan buat takhlukin Mamahku, untuk kasih restu kek kita. Kak Naka terima kamu apa adanya, Kak Naka pikir kamu berhati baik dan bisa hadapi semuanya dengan kepala dingin. Kenapa kamu begini Ning? Kok kamu sampai melakukan ini? Kalah atau menang sebuah pertandingan itu biasa, kamu harus lapang dada. Kakak kecewa sama kamu!” ucap Naka mengutarakan kekecewaanya.
“Gleg,” Bening tersendat tidak bisa membalas ucapan kata Naka kecuali dengan rasa kecewa.
"Kak Bening jujur! Bening bukan jahat!"
"Ck... Bening? Kakak kecewa ke kamu!" ucap Naka lagi menghardik Bening. Naka berlalu meninggalkan Bening dan berjalan masuk.
Alika kemudian tersenyum sinis.
Satu bulir air mata Bening menetes jatuh.
“Pergi sana kamu! Aku nggak mau punya kakak ipar kaya kamu!” usir Dede dengan tatapan sinisnya.
“Loser!” ejek Alika. “Nih ambil sepatumu! Kamu pikir kamu bisa kalahin aku?” ejek Alika.
Bening tidak menjawab hanya bisa mengepalkan tanganya.
Dede kemudian menggandeng Alika masuk ke rumah kakaknya.
“Udah pulang aja yuk!” ajak Tya merangkul Bening.
Bening berjongkok mengambil sepatunya, secinta apapun Bening pada Naka, prinsip bagi Bening mengemis kepercayaan, walau dia ingin menunjukan kebenaran dan kasian ke Naka, tapi Bening juga merasaan sakit saat Naka tidak percaya padanya.
Dengan langkah pelan mereka pun pergi meninggalkan rumah Naka.
****
Di dalam mobil, Daka memegangi kepalanya, Daka terbangun menyadari dirinya sendirian di mobil di melihat sekeliling. Melihat Bening bertengkar dengan Alika, Daka gatal ingin menolong.
Sayangnya, saat Daka membuka mobil dan melihat jalanan itu, kepala Daka berputar. Daka seperti pernah atau tidak asing dengan komplek perumahan itu. Daka kembali menutup mobil dan memegangi kepalanya yang pening.
Di saat yang bersamaan Bening tiba di mobil. Tya langsung membuka pintu mobilnya dan menoleh ke Daka.
“Daka kamu kenapa?” tanya Tya kaget melihat Daka.
Bening yang sedih ikut panik dan menoleh. “Kamu mabuk AC?” tanya Bening menebak mengira Daka mabuk ditinggal sendiri di mobil.
Daka pucat pasi, heranya kepalanya penuh keringat. Daka pun hanya menggelengkan kepalanya tidak menjawab.
Tya yang mengira apa yang Bening tebak benar langsung membuka pintu mobilnya.
“Kamu kenapa Daka?” tanya Bening jadi ikutan panik dan memeriksa Daka.
“Cepat pulang! Ayo ke rumahmu! Ayo pulang!” lirih Daka memejamkan matanya tidak kuat jika membuka mata dan kepalanya berputar.
Bening dan Tya saling tatap masih di mobil belum naik ke mobil dan membiarkan pintu mobilnya terbuka. Sehingga Alika yang memperhatikan dari kejauhan melihatnya.
Bening tampak memegang tangan Daka panik, Daka masih terus menyandarkan kepalanya. “Kita ke rumah sakit ya!” ucap Bening.
“Tidak! Bawa aku pulang, pulang. Aku tidak suka tempat ini!” lirih Daka masih sadar.
“Tapi kamu kenapa jadi pucat begini?” tanya Bening.
“Aku udah minum obat kok! Aku tidak suka tempat ini!” ucap Daka terus mengulang.
Tya pun mengkode Bening untuk pulang saja. Tya langsung mengantar Bening ke rumah kontrakanya.
****
Alika tersenyum licik melihat dari kejauhan ada laki- laki di mobil. “Siapa laki- laki itu? Itu kan laki-laki waktu itu?” guman Alika. Saat sudah di rumah Naka, Alika langsung mennghubungi ibunya.
Melalalui pesan elektronik mereka pun merencanakan menyelakai Bening lagi.
“Mamah aku nggak mau, Kak Naka terus ingat Kak Bening. Pokoknya Kak Bening harus disingkirkan atau dinikahkan dengan orang lain agar Kak Naka melupakanya!” rengek Alika ke ibunya.
“Ya... Mamah dan Papah udah jodohin dia dengan Tuan Barri, tapi ada laki- laki yang mengaku pacarnya!” jawab Ibu Damita.
Mendengar itu Alika langsung menceritakan semuanya, dan Ibu Damita jadi curiga siapa Daka. Mereka pun muncul ide untuk memata- matai Bening dan meminta orang lain ke tempat Bening.
****
__ADS_1
Entah berapa tepatnya umur Daka, kalau dilihat dari postur tubuh dan wajah seumuran dengan Naka sekitar 24 tahun. Tapi kali ini, Daka menjadi seorang pria lemah yang menjadi asuhan Bening.
Karena sudah minum obat, Daka kembali tertidur tapi, jadi sangat lemah, seperti teler.
“Bangun, Daka!” ucap Bening ketika sudah sampai.
Daka membuka matanya, lalu turun dari mobil tanpa berkata- kata dan langsng merebahkan badanya lagi.
Tya dan Bening saling tatap lagi.
“Dia selalu begini?” bisik Tia.
Bening mengangguk. “Awalnya lebih parah, dia pingsan. Tapi kalau sehat dia baik, suka bantu aku mengerjakan pekerjaan kecil kaya nyapu gitu!” ucap Bening memberitahu.
“Kamu merawatnya sendirian?” tanya Tya lagi.
“Ada bantuan Pak Tabib!” jawab Bening lagi.
“Kamu buat selebaran atau laporan sih? Serem dan kasian tahu dia kalau suka sakit begini?” bisik Tya lagi.
“Ya sejak awal aku ingin gitu, tapi dia menolak dan melarang,”
“Tapi kasian kalau dia gini terus!”
“Ya besok aku pikirkan!” jawab Bening.
“Ya udah, gue pulang yak. Kakak gue mau make mobil gue katanya!” ucap Tya pamitan.
Bening mengangguk. “Makasih ya!”
“Lo baek- baek. Sabar. Tentang Naka jodoh nggak kemana! Tentang dia, nolong orang pahalanya banyak kok!” bisik Tya menepuk bahu Bening.
Tya pun pergi, Bening menutup pintunya dan segera membersihkan diri. Bening juga menyempatkan membuat bubur juga air hangat.
Walau sering kesal dan suka marah- marah, melihatt Daka kembali lemah membuatnya kasihan. Bahkan khawatirnya Bening ke Daka melebihi sakitnya atas tindakan Naka.
Bening kemudian mendekat ke Daka, duduk di sampingnya, menatap Daka dalam- dalam.
“Siapa kamu sebenarnya? Keluargamu pasti sedang mencarimu?” batin Bening.
Lama Bening memperhatikan Daka, hingga di luar keinginan Bening secara sadar, hanya reflek sebuah reaksi normal, tangan Bening walau gemetar terulur memeriksa kening Daka lalu menyentuh tanganya meminta bangun untuk makan dan minum dulu, juga cuci tangan dan kaki sebelum tidur.
“Da_ka...,” lirih Bening.
Sayangnya saat Bening menyentuh tangan Daka, Daka langsung menggenggam tangan Bening dan menariknya.
“Hhh,” pekik Bening kaget dan terlonjak.
“Ibunda... abe ingin bebas..,biar paman saja, Abe tidak suka... Abe tidak ingin...,”
“Hoh!” pekik Bening kaget dan menatap Daka heran. Daka mengigau entah apa maksudnya.
“Abe?” gumam Bening, “Apa nama aslinya Abe? Abe siapa? Aberald? Bukan nggak mungkin?” gumam Bening lagi berusaha melepaskan tangan Daka, hanya saja Daka malahh menarik Bening dan memeluknya.
****
Bahkan mata- mata ibu Damita tiba di kampung Bening lebih dulu di dekat kontrakan Bening, karena Tya masih amatiran membawa mobilnya.
“Laki- laki itu tinggal di rumah Nona Bening Nyonya?” lapor mata- mata Ibu Damita.
“Apa?” pekik Ibu Damita.
“Ya... teman Nona Bening sudah pulang, tapi laki- laki itu tidak!”
“Oke terus awasi dan tetap di situ!” titah Ibu Damita.
Mata- mata Ibu Damita kemudian memfoto Bening yang jatuh ke pelukan Daka.
Bu Damita langsung merajuk dan lapor ke suaminya.
“Inih kelakuan anakmu! Pantas dia menolak menikah dengan Tuan Barri, begini masih ganggu pacar Alika!” omel Bu Damita.
Ayah Bening hanya diam memperhatikan foto Bening.
“Mereka sekarang berduaan di rumah Bening, jangan tinggal diam Pah! Ayo bertindak!”
“Bertindak apa Mah? Ini sudah malam?” jawab ayah Bening, jam dinding memang sudah menunjukan pukul setengah 8 malam. Jika ke kontrakan Bening mereka akan tiba sekitar jam 12 malam.
“Kita harus gerebek Bening. Kita nikahkan mereka segera. Jangan sampai Bening hamil dan bikin malu kita! Kalau bening udah nikah, kita kan udah bebas tanggung jawab dari Bening!” hasut Bu Damita lagi.
Ayah Bening yang memang di bawah kendali Bu Damita pun patuh. Mereka langsung menyiapkan mobil, lalu mengajak beberapa karyawan menuju ke kontrakan Bening.
"Ya sudah ayo!" jawab Ayah Bening.
__ADS_1