
Dengan mengayuh sepeda yang satu hari dia tinggalkan di tempat penitipan, Daka melaju ke kontrakan Bening.
Walau dulu dia ejek sempit dan panas, itu satu- satunya tempat ternyaman untuk Daka sekarang. Dan setelah melihat komplek rumah Bu Maria, Daka baru tahu ada banyak rumah yang tidak layak di huni di dunia ini.
Hati Daka pun semakin bercampur aduk tidak bisa dijelaskan. Entah bagaimana kehidupan aslinya, tapi Daka begitu terpukul dan seperti kaget melihat dunia Bu Maria.
"Bening aku pulang...," batin Daka tidak sabar ingin melihat wajah ayu Bening.
Karena mengayuh cepat, tidak selang berapa lama dari Daka turun bus, lalu masuk ke desa, kini Daka sampai di kontrakan Bening.
Bening sudah pulang lebih dulu dan tampak melamun sedih duduk di teras rumahnya.
“Sudah pulang rupanya? Kau menungguku?” tanya Daka cepat begitu memarkirkan sepedanya.
Daka tersenyum senang melihat Bening duduk di teras, seperti layaknya istri pada umumnya yang menunggu suaminya pulang kerja.
“Ehm.. nggak,” Bening hanya berdehem malu mau mengakui menunggu Daka. Bening mengalihkan mukanya dari Daka.
Meski sebenarnya, walau sering bertengkar, sejak ada Daka, Bening memang merasa punya teman hidup dan jika Daka tidak ada, membuat hatinya terganggu dan bertanya kemana Daka. Walau tidak Bening akui, Bening akan kesepian dan ada yang hilang jika Daka tidak ada, bahkan seringnya khawatir.
Daka tidak peduli diacuhkan. Dia kemudian mendekat dan duduk di samping Bening. Walau seharusnya istri dan suami saat pulang saling cium tangan, tapi mereka tidak, itu tidak masalah bagi Daka. Hanya melihat Bening duduk di teras menanti Daka tetap bahagia.
“Bilang aja iya, apa susahnya sih!” jawab Daka.
Sayangnya berbera dengan harapan Daka. Begitu Daka duduk di dekat Bening, bau sampah dan keringat langsung menyengat menusuk hidung Bening. Bening pun segera menutup hidungnya.
“Kamu kok bau banget sih? Abis ngapain sih?” tanya Bening.
“Namanya juga kerja. Aku baru pulang bekerja keras. Aku mau jadi suami yang bertanggung jawab seperti yang kamu mau! Jadi ya gini!” jawab Daka berbohong dan percaya diri. Padahal Daka sama sekali belum bekerja.
"Kerja apaan sih?" cibir Bening lagi.
Sebenarnya mendengar perkataan Daka, hati Bening berdesir, tapi akal sehat Bening masih enggan menerimanya. Karena bagi akal sehat Bening rasanya sangat bodoh mencintai pria yang tidak punya asal usul. Sedari tadi juga Bening kan memegang ponselnya menunggu balasan Naka.
Tidak peduli Bening cemberut, Daka mengambil uang dari sakunya.
"Nih uang aku kerja hari ini!" ucap Daka lagi sok sokan dan pura- pura kasih uang. Padahal itu sisa uang copetan dari dompet ibu tiri Bening. Daka melihat tayangan di tivi kalau suami itu kasih uang ke istri sepulang bekerja.
“Sana ih mandi! Bau!” jawab Bening cemberut sembari merima uang seratus ribuan.
“Iya istriku!” jawab Daka tersenyum percaya diri.
“Ish...,” desis Bening, mendadak wajahnya merah lalu memalingkan wajahnya dari Daka.
Daka kemudian masuk ke dalam dan menuju ke kamar mandi.
"Ini kan uangku. Kamu masih hutang banyak denganku?" cibir Bening sangat perhitungan dan matre. "Setelah semua uangku kembali kita harus cerai dan kamu harus pergi?" gumam Bening lagi.
Bening kembali menelpon Naka. Walau Bening merasa sakit hati karena Naka tidak percaya padanya. Bening masih berjuang ingin menjelaskan ke Naka kalau dirinya tak seperti yang Naka pikir.
Bening juga ingin menceritakan tentang Daka yang bersamanya karena Bening menolongnya. Rasanya sangat sakit, tidak rela, tidak terima jika orang yang dia cinta menganggapnya buruk.
Sayangnya Bening yang sudah mengirim pesan banyak sedari kemarin, diulang pagi, tetap belum ada balasan.
__ADS_1
Hal itu membuat dada Bening sesak. Sudah ditinggal Leon kini Naka tampak benar- benar acuh. Sampai Bening putus asa. Bening pun berdiri masuk hendak menyalakan lampu teras karena hari mulai gelap.
“Thut... thuut..,” tiba- tiba ponsel Bening yang dia letakan di atas kasur lantai berbunyi.
Bening pun segera duduk di kasur lantai membukanya.
Sejurus kemudian Bening membaca rentetan kata balasan dari Naka yang sudah dia tunggu seharian ini.
Sayangnya raut bahagia Bening saat tadi melihat kotak masuk, sekarang padam, berubah menjadi suram dan gelap.
“Kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi Bening.
Aku tidak peduli siapa laki- laki yang bersamamu. Aku Tidak mau tau apapun.
Kaka salah sudah percaya padamu, kakak kecewa ke kamu. Padahal Kak Naka udah menentang Mamah Kakak demi Kamu.
Maafin Kak Naka, sepertinya hubungan kita memang tidak bisa diteruskan.
Pesan kakak, hentikan semua ambisimu. Terima kenyataan dan syukuri apa yang kamu punya.
Kalahkan egomu jika kamu ingin sukses dan bahagia, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaanmu hanya akan menghancurkanmu”
Seketika itu air mata Bening pun kembali menetes. Bening ditembak lewat hape, jadian lewat hape dan sekarang diputus pun lewat hape. Padahal Bening memendam perasaanya bertahun- tahun. Bersikap baik dan menunjukan perasaanya walau tak berani mengungkapkan juga bertahun- tahun.
Mulai dari selalu bersedia menemani Naka pergi. Membantu mengerjakan tugas Naka. Membuatkan bekal dan makanan untuk Naka saat sekolah dulu. Bahkan Bening juga menabung untuk membelikan Naka kado ulang tahun. Dulu semua Bening beri tulus sebagai adik kelas yang memendam rasa ke kakak kelasnya.
Terlebih semua tuduhan Naka adalah salah. Nasehat Naka dan isinya memang baik dan benar, tapi itu semua bukan untuk Bening.
Satu hal pesan Naka yang benar untuk Bening. Bening harus terima dan Syukuri apa yang Bening dapat sekarang.
“Kamu salah, Kak... kamu salah!” batin Bening menangis merasa sangat sakit selalu difitnah.
Bening pun mencoba membalas pesan Naka lagi. Sayangnya pesan Bening centang satu. Saat Bening mengklik hendak menelpontidak bisa. Daan saat Bening melihat, profil Naka sudah tak terbaca lagi.
"Aku diblokir?" guman Bening dan hatinya terasa semakin sakit.
"Segitunya kamu Kak? Sampai harus blokir nomerku?" gumam Bening lagi.
"Hiiks...hiiks...," tangis Bening pun pecah tidak terkendali.
Tidak punya malu lagi terhadap Daka, di atas kasur lantai rumah sempitnya itu, Bening memeluk kedua lututnya dan menangis keras serta sesenggukan.
"Huhu....hu... u!"
Daka yang sedang mandi sampai mendengar. Dan jadi panik. Daka segera menghentikan mandinya.
Karena terburu- buru, Daka hanya melilitkan handuknya dan segera keluar dari kamar mandi untuk memeriksa.
"Hei.. kamu kenapa?" tanya Daka khawatir melihat Bening menangis.
"Huu...huu...," Bening masih memeluk kedua lututnya menangis.
Daka jadi semakin khawatir. Tidak peduli dia hanya memakai handuk, Daka lalu mendekat dan duduk di samping Bening dan meraih pundaknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Daka menepuk bahu Bening dengan tanganya yang basah.
Merasa direngkuh Daka, Bening mengangkat wajahnya berniat menepis tangan Daka.
Tapi sejurus kemudian Bening melotot kaget melihat Daka tanpa baju.
"Kamu apaan sih?" omel Bening sambil terisak.
"Ya kamu kenapa menangis?" tanya Daka.
"Pakai baju ih?" ucap Bening memalingkan muka.
"Ya.. kamu kan sering lihat pas obatin lukaku?" jawab Daka merasa biasa saja bertelan jang dada. Bening kan memang sudah merawat Daka selama itu.
"Ya tapi nggak kaya gini!" ucap Bening lagi sambil cemberut sambil sesenggukan.
"Ya kamu kenapa sore- sore nangis kaya orang kesetana. Dikira diapain lagi sama aku. Kamu kenapa?"
"Aku putus! Hiks..hiks.." jawab Bening terisak lagi. "Kak Naka mutusin aku!"
Mendengar jawab Bening, Daka tidak khawatir lagi. Daka malah tersenyum simpul bahagia. Bagi Daka itu berita bagus, lagian kan mereka sudah menikah, ya memang harus putus.
"Ya sudah dia berarti bukan jodohmu. Kan kamu udah menikah sama aku!" jawab Daka.
"Hugs...hughs..., tapi aku cintanya sama dia! Bukan sama kamu!" jawab Bening dengan jujurnya tidak peduli perasab Daka yang sudah tumbuh subur bahkan mengembang dengan pesat.
"Ck...," Daka pun hanya berdecak menelan ludahnya.
"Dia kerempeng. Gantengan aku!" jawab Daka lagi.
Bening tidak peduli kata Daka dan mengelap ingusnya.
"Issh jorok!" cibir Daka.
Mendengar kata jorok Bening pun sengaja ingin memberikan ingusnya ke Daka.
Daka pun menjauhkan tubuhnya menghindari terkena ingus Bening.
"Niih...niih..," ucap Bening kesal nekat menyodorkan ingusnya.
Daka pun terus mundur hingga terjatuh ke kasur lantai dan Bening yang semangat memberikan ingusnya ikut terjatuh men indih Daka yang tidak memakai baju. Hingga Bening menyentuh Dada Daka.
Mereka pun bertatapan sangat dekat, Daka juga menatap Bening dengan lekat, membuat Bening gelagapan. Entah dari mana datangnya terasa ada hawa panas yang datang ke dada Bening.
"Ehm..," dehem Bening langsung bangun salah tingkah dan canggung. "Sana teruskan mandimu. Itu busa samponya masih ada!" ucap Bening tergagap.
"Ya!" jawab Daka sembari mengusap rambutnya. Ternyata iya ada busanya.
Daka pun langsung bangun.
"A. ak!"
Sejurus kemudian Bening langsung teriak menutup matanya. Begitu Daka bangun ternyata handuknya terlepas jatuh. Tepat di hadapan Bening lebih tepatnya di atas Bening karena Bening duduk Daka berdiri, adik kecil Daka tampak berdiri kokoh, tegang dan tampak sangat kuat.
__ADS_1