Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Tukang Parkir


__ADS_3

Daka pun mandi pagi karena diajak Bening pergi ke kota. Sayangnya hari ini hanya berpakaian biasa, masih dengan kaos oblong hadiah doorprise milik Leon. Sebab Daka baru hanya mampu beli satu stel pakaian yang menurutnya nyaman dan bagus.


Saat membeli saja, itu membuat Leon memarahi Daka. Sudah tahu uangnya sedikit, barang yang pertama Daka pegang yang kualitas paling bagus. Leon menggelengkan kepala, heran selera Daka tinggi.


Tapi begitu disadarkan Leon Daka hanya membeli kelas menengah dan satu stel saja. Pakaian itu sudah dipakai di hari kemarin.


Sesampainya di museum, teman- teman Bening jadi salah fokus ke Daka. Walau berbalut pakaian lusuh, tapi ketampanan Daka tidak bisa berbohong, tetap nampak. Hanya saja Daka terlihat seperti bad boy dan berandalan.


Daka tampak tinggi tegap dengan matanya yang menatap dalam dan tenang. Teman- teman Bening beberapa terkesima melihatnya karena Daka jadi terlihat menantang dan macho.


Tapi beberapa dari mereka mencibir, Daka terlihat sedikit acak- acakan, terlihat tidak mapan dan miskin. Mereka pun saling berbisik.


"Itu yang namanya Naka?" tanya teman Bening yang bernama Susi.


"Tapi yang kemarin jemput dia lebih kurus bukan itu, rapih juga. Naik motor gede!" tutur yang lain.


"Bentar aku liatin lagi!"


"Iya sih? Beda ama yang kemarin?"


"Lebih gantengan yang ini?"


"Ishh nggak deh. Mending yang kemarin yang ini kaya urakan?" jawab yang lain.


"Ssstt...,"


Daka dan Bening semakin mendekat, mereka pun diam.


Daka tampak tertarik dengan suasana museum yang masih mempertahankan bangunan model jaman kuno itu. Dia pun pamit ke Bening untuk melihat sekeliling, Daka tidak peduli teman Bening yang semua menatapnya.


Sementara Bening menghampiri teman kerjanya sesama pramuwisata untuk menyapa.


"Hai... pagi..?" sapa Bening.


"Pagi"


"Tumben kalian pada udah siap? Mau ada berapa sekolah yang berkunjung ke sini?" tanya Bening


"1 SMP, 3 rombongan sekolah dasar!"


"Oooh,"


"Pacar kamu?" bisik Teman Bening.


"Bukan!" jawab Bening cepat menggelengkan kepala.


"Terus?"

__ADS_1


Bening pun menoleh ke Daka, lalu berlari kecil dan menyeret Daka.


"Apa sih?" tanya Daka dingin.


"Ikut aku bentar!" ucap Bening dengan percaya diri menarik ujung kaos Daka seakan Daka orang dekat untuk Bening.


Ya, bagi Daka, Bening memang satu- satunya yang dia kenal. Tempatnya bergantung hidup, tempat tinggal dan meminta makan.


Daka kemudian mengikuti Bening.


"Kenalin temen aku," ucap Bening. "Daka!"


Teman- teman Bening pun mengangguk menyambut Daka. Tapi sayangnya Daka hanya mengangkat sisi bibirnya ke atas tanpa menariknya ke samping kanan kiri untuk tersenyum. Daka tidak menyapa teman- teman Bening dengan baik, bahkan merasa enggan menoleh.


"Hish...," desis Bening gemas kenapa Daka tetap songong. Padahal kan kalau mau dapat kerjaan wiyata seperti Bening setidaknya harus ramah. "Senyum...," bisik Bening geram.


Bukanya mengikuti Bening, Daka malah menghempaskan tangan Bening dan berlalu masuk ke museum.


Teman- teman Bening jadi ikut bergidik kesal, kecuali satu orang yang bernama Cica.


"Oooh soo cool. Dia jomblo kan Ning?" ucap Cica matanya langsung keluar lope- lope dan menangkupkan kedua tangan di bawah dagunya gemas.


"Iiissh...," Bening dan teman- temanya langsung mendesis heran dan jijik.


"Berandal, sombong songong gitu dibilang cool?" ejek teman Bening.


"Dia tipe gue banget!" ucap Cica.


"Beneran?" tanya Bening heran.


"Hooh!" jawab Cica.


"Hooh. Lo gila apa gimana sih?" tanya Bening disetujui teman- temanya.


"Ganteng, sedikit nakal, tapi menjaga pandangan dan senyum ke orang banyak. Dia nanti hanya akan, tersenyum padaku?" ucap Cica dengan matanya menerawang jauh membayangkan drama- drama yang dia tonton.


"Hoek!" ejek Teman Bening.


"Sook weeh ambil sana. Ambil. Kalau kamu bisa pacarian dia. Aku seneng banget da sumpah. Biar beban aku berkurang!" sahut Bening lagi.


"What?" tanya teman- teman Bening heran. "Beban hidup kamu? Emang dia siapa?"


"Dia...,"


Bening pun hendak menceritakan tentang Daka. Sayangnya baru mulai bercerita, bus study tour anak- anak sekolah datang.


Bening menunda cerita. Mereka pun berpencar ke tempat kerja masing- masing . Ada yang menempatkan diri di ruang tiket, ada yang bersiap menjadi, pemandu wisata dan ada juga yang bertugas merobek tiket.

__ADS_1


Bening dan teman- temanya pun menyambut pengunjung dengan sangat semangat. Sebab belum tentu seminggu sekali tempat mereka bekerja ada pengunjung. Mereka tidak mau menyiakan kesempatan.


Bening sendiri, bertugas menjadi pemandu, dengan membawa senter untuk masuk ke ruang- ruang museum yang gelap. Sebab bangunan itu adalah museum istana kuno kedua yang ada ruangan bawah tanahnya dan menjadi favorit pengunjung.


Hingga tiba Bening sampai ke ruangan bawah tanah yang di ruangan itu ada patung penari. Di bawah patung itu ada tulisan namanya. Putri Sirtaki.


"Ini putri Sirtaki kan? Penari bayaran yang menemani raja?" celetuk salah satu siswa pengunjung.


Di Negara itu anak sekolah kelas menengah belajar tentang sejarah kerajaan mereka. Banyak juga tayanyan televisi yang membuat cerita legenda tentang kisah- kisah roman tokoh di masa lalu.


"Iya... kan dia yang menyebabkan Putra Makhota mati bunuh diri karena dia menghianati Putra mahkota. Kenapa dibuatkan patungnya segala sih? Aku kesal tahu?" jawab yang lain


"Tapi dia kan dicintai Putra Mahkota? Bahkan dia mengandung anak Putra Mahkota. Ya meski ending meninggalnya mengenaskan. Mungkin untuk mengenang kali? " jawab yang lain.


"Tetap aja aku nggak suka. Penari bayaran tidak punya kasta. Malas di sini yuk ke tempat lain!" celetuk yang lain.


Bening hanya menyimak, mendengarkan..


"Kalian salah!" ucap Daka tiba- tiba muncul.


Anak- anak pun langsung menoleh.


Bening yang bertugas menyalakan lampu dan membawa lampu senter ikut terkejut.


"Putri Sirtaki itu hanya sebuah julukan!" ucap Daka mantap.


"Putri Sirtaki bernama asli Adara, dia bukan penari bayaran. Dia penari terpelajar yang menjadi kekasih Pangeran. Pangeran tidak bunuh diri, tapi dibunuh oleh Putri Mahkota istrinya sendiri. Putri Alisha. Putri Alisa kesal karena tak kunjung hamil sementara Putri Adara sudah hamil. Beliau hendak memberi racun untuk Putri Adara, tapi Pangeran yang memakanya. Untuk menutupi kejahatanya, Putra mahkota dibuat seakan menenggak racun?" jawab Daka.


Bening langsung melotot.


"Adik- adik... kalau kalian tidak suka Putri Sirtaki nggak apa- apa. Lanjut aja ke tempat yang lain yaa. Kalian baca buku sejarah kan? Sudah lanjutkan perjalanan kalian!" ucap Bening menengahi.


Daka langsuny mencebik. Sementara Bening langsung memcingkan matanya dan kembali menarik Daka.


"Heh... kamu sok tahu banget sih, buat cerita roman tentang keluarga raja? Disebarin ke anak- anak lagi. Tahu darimana?" omel Bening kesal.


"Tau aja. Putri Sirtaki itu permaisuri sesungguhnya. Bukan Ratu Alisha!" jawab Daka ngeyel.


"Sshh!" Bening pun tidak mau dengar, dan langsung menghentikan Daka.


"Entahlah kamu baca dari buku apa. Dan nonton film karangan siapa. Yang pasti terhadap anak sekolah dan cerita kerajaan nggak usah ngarang. Sst dah diam. Sana kamu tunggu di depan!" omel Bening lagi.


"Pelit banget?"


"Oh ya. Aku ajarin kamu dapatkan uang. Sekarang pergi ke halaman. Banyak bus dan motor tuh. Jadi tukang parkir sana! Nanti kamu dapat uang. Ingat naik bus dan makan di kota pakai uang!" omel Bening lagi.


Daka pun hanya mendengus. Sementara Bening terus mendorong Daka untuk keluar. Daka akhirnya menuruti Bening, menjadi tukang parkir.

__ADS_1


__ADS_2