Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Siapa Kamu?


__ADS_3

“Hanya pusing saja Mbak?” tanya petugas apotik.


Bening mengangguk. “Iya,”


“Mau yang merek apa?” tanya petugas lagi.


“Terserah Mbak, yang penting pusingku sembuh!” jawab Bening.


Lalu petugas apotik mengambilkan obat lalu menuliskan resepnya.


“Ini diminum 3 kali sehari, setelah makan ya, Mbaknya nggak ada alergi obat kan?” tanya Petugas.


“Nggak,” jawab Bening menggelengkan kepala. “Berapa?” tanya Bening.


“10 ribu!” jawab petugas.


Bening pun membayarnya lalu segera pergi dari apotik.


Ya setelah Bening berputar berpindah dari satu toko ke toko lain melamar pekerjaan tak dapat, Bening malah pusing. Dan sekarang Bening berusaha mengobati sakitnya sendiri.


“Hhrrg.. ck! Kenapa pusing banget sih!” keluh Bening hanya dibawa berjalan keluar apotik saja rasanya seperti berbayang.


Bening pun duduk di depan toko dan ingin segera minum obatnya. Karena Bening tidak membawa air minum, Bening merogoh sakunya ingin membeli minum. Namun ternyata di sakunya tinggal 5 ribu.


“Haissh… ck. Uangku tinggal segini? Kalau aku beli air mineral, bagaimana aku pulangnya?” gumamnya lagi tambah dongkol dan pusing.


Ternyata Bening hanya punya uang sisa cukup untuk ongkos pulang ke kos Tia.

__ADS_1


Tapi Bening memang haus,


“Percuma aku ngongkos tapi aku sakit, yang penting aku sehat dulu, nanti aku bisa jalan kan?” gumam Bening memilih menggunakan uangnya untuk beli minuman saja.


Bening pun membeli minuman dan meminum obatnya. Karena uang ongkos habis setelah pusingnya reda, Bening kembali berjalan menuju kosan Tia.


“Kenapa aku cepet banget capek sih? Baru juga jalan bentar? Kenapa pusing lagi?” keluh Bening lagi kesal dengan badannya sendiri. Padahal sebelumnya Bening bersepeda berkilo kilo kuat, jarak kosan Tia juga sebenarnya sudah dekat.


Bening pun berhenti sejenak, berdiri di dekat jembatan. Keningnya berkeringat dan perut bagian bawahnya terasa pegal dan kram.


"Sshh.. Ya Tuhan. Kenapa aku sakit segala sih? Di saat begini? Dasar tubuh merepotkan!" umpat Bening saking kesalnya sampai mengatai dirinya sendiri.


"Ih...," keluh Bening memeluk perutnya yang baru kali ini terasa kram.


Kebetulan di hadapan Bening adalah sungai yang airnya mengalir deras. Bening pun memilih berhenti sejenak dan duduk di bahu jembatan di papan cor yang bersih, dan besandar di situ, lalu menghabiskan air mineral yang tersisa dalam botol di genggamanya.


“Ck… Bahkan minum saja aku tidak punya,” decak Bening sangat kesal lalu melempar kuat botol itu ke sungai.


Sesaat mata Lelah Bening menoleh ke air yang mengalir, seketika itu, Bening meneteskan air matanya, rasanya sangat Lelah, putus asa, juga bingung dan sedih.


“Aargh…” mendadak Bening setengah berteriak tidak peduli orang yang lewat menoleh ke arahnya, untungnya, siang hari dan kendaraan berlalu cepat, jadi tak begitu mengganggu orang.


"Hiks ..," Air mata Bening pun lolos dan mengaliri pipinya.


Setelah berteriak, Bening mengusap mukanya yang basah akan air mata.


“Mamaah aku ingin mati saja, cabut nyawaku saja Tuhan. Kenapa kamu beri aku nasib sesial ini?” teriak Bening kesal dengan derai air mata.

__ADS_1


“Mamaah...," rintih Bening ingat mamah ya.


"Kenapa mama tega ninggalin Bening begini? Bening sendirian Mah? Bening nggak kuat! Hiks.. hikss…,”


“Apa salah Bening Mah? Apa salahku…!” teriak Bening sepuasnya kebetulan jalanan lengang.


“Kenapa dunia begitu kejam? Mamah semua yang Bening punya diambil Alika! Kenapa Papa berubah jadi Bonekanya nenek sihir damitri itu Ma? Kak Naka juga ninggalin Bening. Bening ikhlas, Bening berusahaa Bahagia Bersama Daka, tapi Daka kembali sakitin Bening. Semua laki- laki sama saja, semua jahat semua monster dan tidak punya hati!” racau Bening asal meluapkan emosi yang sangat menyesakan dadanya.


Bening sudah disakiti Ayahnya, lalu laki- laki yang dia idamkan juga lebih memilih Alika, dan saat hatinya ditautkan pada Daka, Bening dihadapkan kenyataan pada seseorang yang meminta Bening menjauhinya karena Daka bertunangan.


“Huughs… huhu…,” Bening kembali menangis keras sampai sesenggukan, saat mengingat mengingat Daka. Entah kenapa dadanya terasa sangat sakit melebihi sakit mengingat Alika dan ayahnya.


“Mama… aku nggak kuat!” rintih Bening lagi.


“Nggak! Aku nggak mau jadi benalu buat Tia, aku mau mati saja!” racau Bening sendirian


Bening kemudian terdiam masih dengan derai air mata. Dengan tubuh letihnya, Bening berdiri, lalu matanya tertuju pada dinding jembatan.


“Gleg!” Bening menelan ludahnya lalu mengusap air mata di pipinya kasar. Pikiran buruk pun berdatangan.


Kaki Bening pun tergerak untuk memanjat ke dinding jembatan itu, dan datang bisikan yang kuat untuk Bening melompat masuk ke dalam arus sungai.


Bening berfikir, sekarang Bening sendirian, mencari pekerjaan susah, Bening tidak ingin merepotkan Tia.


“Apa kamu mau lompat?” tanya seseorang mengagetkan Bening. “Bodoh sekali!” ucap orang itu.


Bening pun langsung menoleh dan mengernyit.

__ADS_1


“Siapa kamu?”


__ADS_2