
Daka tidak peduli Bening marah atau berontak, Daka hanya merasa dadanya sesak melihat Bening menangis dan dihina. Bahkan kepala Daka seperti berputar, seperti dejavu pernah ada di situasi seperti itu.
Daka menarik Bening dan menyeret Bening keluar dari kafe itu.
"Daka!" pekik Bening kaget dan hanya bisa menatap Daka.
Daka tidak mengucap sepatah katapun, rahang tegasnya terlihat menegang. Tangan kekarnya mencengkeram kuat tangan Bening sampai Bening merasa sakit. Sorot matanya juga tajam, lurus dan fokus ke depan tidak menoleh ke Naka atau yang lain.
"Daka tanganku sakit!" ronta Bening, tapi Daka tetap meminta Bening ikut keluar.
"Bening… kamu mau kemana? Siapa dia?" panggil Naka hendak mengejar Bening.
"Naka!" Bentak Mama Bening menghentikan. Naka.
Bening berusaha melawan Daka tapi malah tambah sakit, Bening melihat ke Naka. Sayangnya Naka memilih ibunya, tidak mengejarnya dan itu membuat Bening tambah sakit hingga tubuhnya melemas dan tidak melawan Daka lagi.
****
"Duduk! Kamu tidak lihat dia meninggalkanmu?" bentak Mama Naka ke Naka.
Naka terlihat duduk tidak lagi peduli Bening. Makanan pesanan mereka memang belum disentuh. Sepertinya Mamah Naka, Adik Naka masih akan tetap melanjutkan makan siang.
****
"Kakak!"
Tepat di depan pintu restoran, Bening dibuat kaget. Alika baru saja menutup pintu mobilnya dan memanggilnya.
Daka langsung melepaskan cengkeraman tangan Bening begitu keluar restoran. Daka menoleh ke Bening menunggu respon Bening ke Alika.
Alika kemudian beralih menatap Daka. Mereka pun saling tatap dan memperhatikan.
"Kakak di sini? Dia siapa? Pacar Kakak?" tanya Alika dengan mata penuh telisik.
Bening yang habis menangis dan sesak, hanya bisa menghela nafasnya mengatur nafas.
"Kakak habis nangis?" tanya Alika lagi tidak menunggu jawab Bening.
Belum Bening menjawab juga. Adik Naka terlihat keluar, memanggil Alika.
"Kak Aliik!" panggil Dede.
Alika, Daka dan Bening menoleh.
"Akhirnya kakak, datang juga! Ayo sini masuk!" seru Dede.
Bening langsung memalingkan pandanganya bertambah perih luka di dadanya.
"Haii…!" jawab Alika ramah. Lalu Alika menoleh ke Bening.
"Alika diundang teman kuliah Alika makan siang. Alika duluan ya Kak!" bisik Alika tersenyum sinis, melewatkan Bening.
Bening tidak mampu mengucap sepatah katapun. Tubuhnya membeku dihantam rasa sakit yang bertubi.
Angan dan mimpinya baru saja diterbangkan setinggi langit, dalam sekejap mata dihentakan ke bawah. Rasanya sekujur tubuh Bening remuk seketika dan ingin menghilang. Tapi nyatanya, Bening dipaksa oleh kehidupan untuk tetap berdiri seperti apapun sakit yang dia rasa.
"Hhh…Ck. Bodoh banget sih kamu jadi perempuan!"
Daka yang memoerhatikan, Bening diam membeku mencebik dan menghina Bening.
Terhadap Daka, yang Bening anggap orang asing dan tidak penting, berani menoleh.
"Kamu mengataiku bodoh?" tanya Bening sedikit nyolot, marahnya bertumpuk.
"Tuh. Kamu bisa ngomong nyolot dan berani. Kenapa tadi diam saja?" ejek Daka lagi.
Bening langsung diam dan menciut dikatai Naka. Di depan Naka, Bening memang membeku. Bening selalu ingin terlihat baik di depanya.
"Kenapa kamu diam saja direndahkan begitu sama calon mertuamu?" ejek Daka lagi. "Hah…," Daka mengejek Bening lagi.
Bening masih diam. Dalam hatinya memang berontak, sampai kapan Bening akan terus kalah dari Alika. Lalu Bening, menoleh ke meja yang tadi dia duduki.
Bening menatap nanar, baju cincin yang dia pilih belum dia ambil. Semua masih tergeletak di sana. Kenapa Naka tak mengejar dan memberikan pada Bening? Tempat duduknya juta sekarang diduduki Alika.
"Berani nggak? Sana lawan itu ibu- ibu!" Tantang Daka lagi.
"Kamu nggak tahu apa- apa! Nggak usah ikut campur!" jawab Bening ketus tidak ingin membahas.
Bening memilih berjalan meninggalkan Daka.
"Huh… cemen!" ejek Daka setengah berteriak. "Beraninya cuma dikandang. Cuma berani ke aku sama Leon doang! Bodoh! Emang bodoh sih kamu!" ejek Daka terus.
Walau sudah berjalan, Bening masih dengar kata Daka. Ejekan Daka cukup membuat hati Bening tersentil. Tapi kalau dipikir kata Daka memang benar. Bening langsung mengepalkan tangan tersinggung dan tiba- tiba berhenti.
"Huh?" pekik Daka, penasaran apa Bening mau mode ngomel ke Daka? Atau sedang menangis lebih keras.
Sesuai keinginan Daka. Rupanya Bening termakan hasutannya. Bening berbalik badan, berjalan cepat menuju kembali ke meja.
Alika, Naka dan Ibunya pun kaget yang sedang menyantap makanan pesana Bening kaget dengan kedatangan Bening.
"Bening?" pekik Naka.
"Kakak?" pekik Alika.
"Besar juga nyalimu? Berani kembali ke sini? Oh ya mau ikut makan? Boleh? T duduk di sebelah sana ya. Atau ambil kursi bawa sini. Tempat duduknya hanya 4 soalnya," tanya Mama Naka sinis.
"Mah!" pekik Naka melerai ibunya, Naka merasa tidak nyaman Ibunya terus jahat ke Bening.
Bening langsung mengangkat tangan menghentikan Naka.
"Cukup Kak! Bening cuma mau nyampaiin sesuatu ke Tante Lisa," ucap Bening dingin.
Mamah Naka tersenyum sinis.
"Apa? Tante baik lho. Ayo kita makan bersama! Ini adikmu kan? Temani adikmu?" jawab Tante Lisa. .
"Saya sudah kenyang! Ke sini cuma mau bilang. Aku Bening Gita Hanjaya. Anak Sulung Hanjaya. Aku tidak bodoh dan tidak lelet. Terima kasih Tante sudah menghinaku. Ingat perkataan saya ini, Tante. Kalau Tante memilih dan menganggap dia!" ucap Bening menunjuk Alika.
"Alika putri Damita, lebih baik dari aku. Tante akan menyesal!" lanjut Bening lantang.
__ADS_1
"Kakak! Apa maksud Kaka bicara begitu? Alika salah apa? Alika memang tidak lebih baik dari Kaka. Tapi jaga sopan santun, ke mamahnya Kak Naka, Kak! Kakak ada apa?"
Tanya Alika menampakan kebaikanya di depan Bu Lisa dan Naka. Alika yang merasa menang tidak terima dijelekan.
"Kamu memang pandai berakting Alika. Tapi aku bersumpah. Kelak topengmu akan terbalik!" ucap Bening mengepalkan tanganya
"Kakaak!" jawab Alika lagi menampakan muka sedih.
"Tenang Nak. Sabar ya!" ucap Mama Naka ke Alika lalu menatap Bening sinis.
Bening tidak peduli dan langsung berbalik.
"Bening tunggu!" panggil Naka.
Naka langsung bangun hendak meraih tangan Bening. Tapi tangan Naka kembali dicekal ibunya.
"Naka duduk!" bentak ibunya.
"Mah. Mamah keterlaluan ke Bening? Naka harus kejar Bening!"
"Itukah perempuan yang kamu pilih Naka?" tanya Tante Lisa mengejek Bening ke Naka dan masih Bening dengar walau samar.
"Lihatlah dia pergi bersama lelaki lain dan tidak sopan ke mamah. Belum juga jadi istri, bagaimana nanti kalau dia jadi istrimu? Dia tidak pantas untukmu!" ucap Tante Lisa lagi.
Naka pun terdiam menoleh ke luar. Dalam pandangan Naka. Daka memang terlihat mensejajarinya Bening.
"Laki- laki itu kan yang duduk di situ Kak?" sambung Adik Naka ternyata saat datang sempat melirik ke wajah Daka yang ganteng.
"Tidak mungkin kan semua ini sengaja?" tanya Lisa menghasut Naka lagi.
Naka terdiam menunduk tidak berkomentar . Dia hanya mengepalkan tangan tapi tetap murung dan tidak menoleh ke Alika.
Alika yang sedang dalam misi pun duduk manis, bersikap seolah tidak tahu apa- apa dan berwajah polos.
"Aku ibumu Naka!" lirih Mama Lisa lagi.
Naka masih diam
"Sudah. Makananya keburu dingin ayo dimakan! Alika? Kamu udah kenal kan dengan Naka? Tante nggak perlu kenalkan lagi kan? Yuk makan!" tanya Bu Lisa.
Alika mengangguk manis.
"Kak Naka, Kakak kelas Alika, Tante!" jawab Alika.
Lisa pun tersenyum menyambut Alika.
"Oh ya. Selamat ya? Kata ibumu kamu kemarin menang? Lomba!" lanjut Lisa memuji Alika.
"Terima kasih, Tante!" jawab Alika lagi.
Mereka pun beramah tamah sambil melahap makanan yang sudah Bening dan Naka pilih.
****
Bening yang terbakar komporan Daka akhirnya berani melawan Lisa, Bening plong mengeluarkan emosinya. Kemudian berjalan cepat meninggalkan restoran.
Daka hanya memperhatikanya, kemudian mengejarnya.
"Jalanya cepet banget sih! Makan apa sih?" tanya Daka berusaha mensejajari Bening.
Bening tidak menjawab dan terus berjalan cepat.
Daka kemudian meraih tangan Bening agar berhenti.
"Iih!" Bentak Bening setengah menjerit dan menghentakan tangan Daka sampai Daka mundur kaget.
"Serem amat?" gurau Daka santai.
Bening dengan mata basahnya menatap kesal ke Daka.
"Nggak usah ganggu aku dan nggak usah ikut campur! Puas kan? Aku berani kan?" bentak Bening ke Daka.
Daka tersenyum lagi santai.
"Huuh!" Daka terbengong tersenyum
"Nggak usah ikuti aku!" bentak Bening.
"Ya. Tapi jangan bentak- bentak juga. Malu diliatin orang. Kamu mau kemana? Aku lapar! Makan yuk!" tutur Daka kemudian.
"Malas. Aku tidak lapar!" jawab Bening lagi dan tetap berjalan cepat meninggalkan Daka.
Daka tidak mengejar tapi menoleh ke sekeliling.
Halte bus menuju ke desa berlawanan arah dari langkah Bening. Itu berarti Bening berjalan tanpa arah dan nanti pasti akan balik untuk pulang. Daka menebak, Bening pasti berjalan hanya untuk meluapkan emosinya.
Daka pun mengangkat ujung bibirnya, tersenyum simpul. Lalu tanganya merogoh ke saku besarnya.
Tanpa ada orang tahu, saat Naka dan ibunya membicarakan Bening di bangku yang saling membelakangi Daka, tas Lisa terbuka dan Daka melihat dompetnya.
Dengan tangan tertutup meja, tangan Daka merogoh dan mengambil dompet Lisa.
"Aku penasaran sekaya apa dia?" gumam Daka membuka dompet Lisa.
Ternyata isinya lumayan banyak. Ada sekitar satu jutaan lebih.
"Lumayan bisa makan siang! Kalau dia kaya. Uang segini nggak berarti kan?" gumam Daka lagi.
Daka yang sudah kelaparan tidak sabar untuk makan. Daka pun menuju ke tukang sate lontong pikul yang berhenti di bahu jalan.
Daka memilih makan di pinggir jalan, agar saat Bening sudah puas menangis dan kembali, bisa cepat melihatnya.
"Dua porsi Pak!" pesan Daka.
"Dua?"
"Iya!"
"Makan sini? Atau bungkus?"
__ADS_1
"Makan sini." jawab Daka.
"Makan sini semua?" tanya tukang sate lagi.
"Iya!" jawab Daka.
Tukang sate itu memperhatikan Daka dan bertanya lagi.
"Dua?" tanya tukang sate lagi meyakinkan.
"Iya dua porsi Pak! Makan sini!" jawab Daka mantap.
"Oh yaya!"
Tukang sate mengangguk tapi dengan tatapan aneh. Karena memang pekerjaanya dia memulai membakar satenya.
Setelah beberapa menit, dua porsi satai beserta lontong jadi. Tukang sate pun menyajikanya. Daka mulai menyantapnya dan satu porsi hanya dia letakan di sampingnya.
Tebakan Daka tepat. Baru ke tusukan ke 5 Daka makan, dari kejauhan, Bening tampak berjalan dengan wajah murung ke arahnya.
Daka pura- pura tidak melihat dan berwajah datar asik makan satenya dengan lahap.
"Enak banget makan sendirian!" gerutu Bening berdiri cemberut ke Daka.
"Ehm…," Daka melepasnya satu tusukan sate yang dia makan dan diletakan ke piring. Tidak menanggapi Bening tapi menoleh ke Tukang Sate.
"Pak, saya dengar suara wanita? Bapak dengar nggak? Perasaan nggak ada wanita ya Pak?" tanya Daka ke tukang sate mengajak Bening bercanda.
"Plak!" Bening langsung mencucu dan memukul bahu Daka kencang.
"Awh!" keluh Daka tertawa menahan pukulan Bening.
"Kamu nggak lihat aku? Kamu ngatain aku hantu?" bentak Bening..
"Yaya. Maaf. Aku lapar. Malas ikutin kamu jalan cepet banget! Nggak jelas lagi!" jawab Daka.
Tukang Sate hanya senyum- senyum, sekarang baru tahu kalau Daka pesan dua.
Bening hanya diam lalu duduk di samping Daka dengan hidung kembang kempis masih dengan suasana hati yang buruk.
"Nih makan. Udah aku pesenin! Baik kan aku?" ucap Daka kemdudian menyerahkan porsi satunya.
Bening tidak langsung menerima, tapi menatap Daka penuh telisik.
"Ini nanti siapa yang bayar?"
"Kamulah!" jawab Daka enteng.
"Nggak mau. Enak aja! Kamu yang makan! Sate mahal. Tauk!" jawab Bening mengembalikan satenya.
"Ck. Udah makan. Aku tahu kamu lapar. Aku yang bayar!" ucap Naka lagi.
"Beneran?" tanya Bening.
"Bener! Aku yang bayar!" jawab Daka mantap.
Bening masih tidak puas. Dia menatap Daka lagi dengan penuh curiga.
"Kamu mau nraktir aku?"
"Iya!"
"Emang kamu punya uang? Punya uang darimana? Emang uangmu cukup buat periksa?" tanya Bening banyak.
"Ck!" Daka berdecak dan sedikit menghentakan piringnya. "Tinggal makan ribet banget sih jadi cewek. Sini kalau nggak mau aku makan!" tutur Daka menarik piring Bening.
"Ya.. jangan!" jawab Bening menarik piringnya.
"Ya udah kalau mau makan makan aja. nggak usah banyak tanya!"
"Hmm ya!" jawab Bening makan.
Mereka berdua terdiam
"Bener kamu yang bayar?" tanya Bening lagi.
"Iyah!" jawab Daka meyakinkan.
Bening mengangguk mantap melahap satenya. Kemudian mereka makan bersama di pinggir jalan.
Bening tidak tahu, Daka berubah jadi pencopet calon mertuanya yang sombong.
Tepat jam 4, bus sore mengarah ke desa datang. Daka dan Bening naik, sepanjang jalan mereka diam bahkan Bening tidur.
Daka tersenyum dan membiarkan Bening bersandar di bahunya. Sementara Daka melihat sekeliling.
Entah, apa sebabnya dan entah seperti apa kehidupan Daka sebelumnya. Tapi berada di tempat umum, mendengarkan pengamen jalanan dan melihat penumpang banyak orang dengan keunikan masing- masing terasa menyenangkan bagi Daka. Seperti hal yang baru.
Bahkan Daka memperhatikan betul detail kendaraan itu dan merekam dalam otaknya.
"Museum.. museum…," terdengar kondektur memberitahu kalau halte di depan arah museum tua
"Udah mau sampai!" ucap Daka membangunkan Bening.
Bening mengerjapkan mata sembabnya.
"Yuk siap- siap!" ajak Daka.
sesampainya di bawah mereka langsung ke parkir sepeda. Daka mengambil sepedanya.
"Naik!" ucap Daka.
"Tanganmu udah sembuh?" tanya Bening takut lengan Daka pegal jika direntangkan mengendalikan stang sepeda
"Naik!" bentak Daka lagi.
Bening diam dan akhirnya naik
Sore itu, Daka pun membonceng Bening dengan sepeda Bening. Daka mengendalikan stangnya dan satu tangan masih dia tekuk.
__ADS_1