Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Ares


__ADS_3

“Ssshh… huuft…,” desis Bening menahan perih.


“Maaf, aku kurang pelan ya?” tanya Tia.


“Nggak kok, kamu udah pelan, akunya aja yang nggak tahan sakit, makasih ya…," jawab Bening berterima kasih pada Tia.


"Tinggal dikit lagi tahan yah. Ini aku kasih salep biar nggak bengkak!" tutur Tia lagi.


"Yang bagian ini biar aku sendiri!” jawab Bening merasa sudah cukup baikan.


Begitu rombongan Putri Aille masuk ke Mobil, walau sempat terjadi cekcok kecil dan Tia hampir ikut dicekal tidak boleh masuk. Tia langsung berlari memeriksa Bening.


Betapa tidak hancur hati Tia, bak dihantam petir, melihat keadaan Bening.


Sebagai sahabat yang menyayangi Bening dan mengerti keadaan Bening dari kecil, Tia ikut merasakan sakit melihat Bening terlunta, terus digempur dengan ujian.


Tia pun bergegas melepas tali pengikat Bening, sesegera mungkin mencari bahan untuk membersihkan wajah Bening dan mengobati dengan obat seadanya. Dengan penuh kasih dan kelembutan Tia pun mengompres pipi Bening yang lebam.


“Beneran bisa?” Tanya Tia memastikan, Bening selalu sungkan jika ditolong.


“Iyah, bisa!”


“Tangan kamu sakit nggak? Mana lagi yang sakit?”


“Udah kok, aku baik- baik aja, aku Cuma sedikit pusing!” jawab Bening tersenyum, lalu mengambil kain kompres dan mengompres wajahnya sendiri.


Tia pun menyerahkan alat kompresnya dan membiarkan Bening mengobati lukanya sendiri.


“Mereka siapa Bening? Kenapa mereka jahat banget sih? Kita harus lapor polisi! Ini tindak Kriminal dan penganiayaan!” ucap Tia menggebu mengeluarkan isi otak penasaranya setelah melihat Bening lebih baik.


“Tidak usahlah!” jawab Bening malas membahas rombongan Aille, sembari meletakan air kompresan dan berusaha bangun.


Tia pun melongo mendengarnya, Tia pun memutar tubuhnya menatap Bening yang berusaha bangun walau terlihat menahan sakit.


“Kok nggak usah sih? Bening! Kamu nggak usah sok jagoan, lihatlah wajahmu dan tubuhmu! Kamu hampir dibunuh lho, mereka aja kasar sama aku! Mereka harus dihukum!” jawab Tia tidak terima jika rombonhan Aille dibiarkan. Tia kan tidak tahu.


Bening tidak menjawab, walau berjalan pelan, Bening berlalu ke dapur melewati barang- barangnya yang berserakan.


Bening menatap getir rumahnya, tapi dia kemudian dia tepis.Setelah mengembalikan alat kompres ke dapur, Bening meraih satu kotak kecil yang dia letakan di dekat televisi. Rupanya dia mencari obat sakit kepala.


Setelahnya dia kembali duduk, memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di tembok.


Tia pun hanya bisa menyaksikannya dengan gemas, Bening terlihat diam dan memikirkan sesuatu.


“Apa pusing sekali? Kita ke dokter ya!” Tanya Tia bijak, Tia yakin Bening masih syok sedih dan sakit sehingga masih belum mau bicara dan ngobrol.


“Nggak usah!” jawab Bening kembali menolak ajakan Tia.


“Aiih Bening! Kamu terlihat pucat, aku tahu kamu sakit, kita harus ke dokter sekalian periksa dan visum!” jawab Tia lagi semakin menggebu.


“Tidak!” jawab Bening tidak kalah ngotot, bahkan sedikit membentak, walau dirinya masih memejamkan matanya.


“Gleg!” Tia yang berniat membantu dan peduli tapi ditolak langsung terdiam, bahkan Tia tercekat dan sedikit tersinggung.


“Oke… I am sory! Aku emang nggak tahu apapun tentang kamu, maaf kalau ikut campur. Maaf kalau aku bukan sahabat yang baik, aku hanya ingin membantu, kalau kamu nggak butuh aku, aku pulang!” jawab Tia sedikit emosi.


Mendengar kata Tia, hati Bening ikutan tersayat dan merasa bersalah.


Tidak ada yang bisa mengerti perasaan Bening. Saat ini ia, diliputi kebingungan, takut kalut dan syok. Bening berharap Daka segera pulang dan dia bisa ceritakan semuanya. lantas setelah itu Bening bisa menentukan sikap harus bagaimana. Sayangnya Daka tak ada.


Bening pun membuka matanya yang sudah berkaca- kaca sedari tadi.


“Tia…maaf!” ucap Bening terbata memahami kemarahan Tia. Bening pun meraih tangan Tia.


Tia yang sempat emosi semakin tidak tega melihat Bening. Hingga akhirnya, mereka saling pandang dengan tatapan saling memancarkan sorot kegundahan, mencurahkan kasih dan keduanya kemudian sama- sama berkaca- kaca dan sama- sama meneteskan air mata.


“Cerita, Bening… kamu kenapa? Siapa mereka? Aku nggak tega liat kamu begini? Jangan diam aja!” ucap Tia lagi.


"Hiks...." Bening tidak menjawab, hanya menunduk dan menahan agar tidak menangis.


Melihat Bening yang begitu rapuh, Tia segera memeluk Bening, memberikan usapan lembut berharap memberi kekuatan untuk Bening.


Sesaat mereka berpelukan, dan setelah Bening bernafas stabil, Bening mengurai pelukan mereka.


"Cerita!" bisik Tia.


“Its Ok, Tia. Everything will be Ok. Aku baik- baik aja, kamu jangan khawatir!” bisik Bening masih menampakan kekuatan dirinya. Bening bingung bagaimana mencurahkan kebingunganya.


Dan tetap saja, Tia langsung menegakan badanya dan menatap Bening.


“Aku teman kamu kan? Hanya orang gila yang bilang kamu begini baik? Kamu hampir dibunuh!”


“Tapi ksmu lihat kan? Aku selamat. Udah kita lupakan tadi, kita rapihkan rumahku dulu ya!” jawab Bening sok tegar malah mengalihkan pembicaraan ingin merapihkan rumahnya.


“No. harus cerita dulu! Atau jangan- jangan kamu punya utang? Atau salah ke mereka!” jawab Tia tegas dan malah berfikir tidak- tidak.


“Hhhh…,” Bening pun menghela nafasnya dan masih sempat tersenyum.


“Kok malah senyum sih?” Tanya Tia kesal.


“ Abis kamu ngawur. Tenang! Aku tidak kenal mereka, dan sepertinya kita tidak akan bisa melawan mereka! Udah lupain! Mungkin juga aku pantas mendapatkan ini!” ucap Bening lagi tetap sok tegar.


Entah apa yang Bening pikirkan hingga Bening mengambil kesimpulan yang terjadi adalah kewajaran.


“Kok gitu? Nggak bisalah lupa, enak aja! Siapa mereka?” Tanya Tia lagi tidak peduli omonhan Bening. “Nggak mungkin kan orang nggak kenal- kenal tiba- tiba main geruduk ke sini!”


“Aku mungkin tidak hutang ke mereka, atau kenal ke mereka, tapi mungkin benar apa katanya, aku mengambil milik mereka! Aku merebut Daka dari mereka jadi mereka marah padaku,” ucap Bening lagi.


“Ck!Sssh..” Tia langsung berdecak dan memotong kata Bening dengan mengangkat tangan. “Nggak usah pakai bahasa yang aku nggak ngerti! Cerita yang jelas! Ngerebut Daka gimana?” pinta Tia gemas.


“Aku udah cerita belum sih sama kamu?” Tanya Bening lagi.


“Tentang apa?”


“Pernikahanku?’

__ADS_1


“Kamu belum cerita, tapi Leon udah, tapi apa hubunganya?” Tanya Tia kemudian.


“Entahlah, sepertinya mereka keluarga Daka atau orang yang seharusnya ada di sisi Daka, tapi aku berfikir, mungkin aku memang salah, seharusnya Daka milik mereka kan? Kenapa juga aku menikahi orang yang tidak tahu siapa dirinya?” ucap Bening kemudian dengan suara paraunya.


Tia yang mendengarnya pun mengernyit mencoba memahami.


“Tapi nggak gitu juga kan? Kalau memang mereka keluarga Daka? Mereka harusnya terima kasih ke kamu bicara baik- baik. Kamu udah tolong Daka. Kata Leon kalian menikah juga dipaksa kan? Menurutku mereka tetap salah. Kenapa harus main geruduk!”


“Itu yang aku tidak mengerti, ya sudahlah, kita rapihkan rumahku dulu, yuk!” ajak Bening malas bercerita.


“Cerita dulu beres- beresnya entar! Aku masih penasaran? Sepertinya mereka keluarga kaya? Kamu nggak penasaran?” jawab Tia masih tetap ngotot ingin bahas.


Sayangnya Bening sudah bangun dan beres- beres. Sebenarnya Bening bukan tidak penasaran tapi sangat, bahkan di otak Bening berputar dengan banyak prasangka, tapi Bening takut menerka. Bening tidak sanggup menerima kenyaataan yang ada. Bening juga bingung harus melepas atau bertahan.


Itu sebabnya Bening mencoba mengalihkan pembahasan dengan merapihkan rumah.


“Ishh… malah beberes,” Tia pun mendesis kesal ke Bening yang memaksa diri sibuk menata rumahnya lagi.


“Nggak nyaman Tia kita cerita tempat begini, rapihin sebentar nanti kita cerita lagi!” jawab Bening tanganya sudah sibuk memunguti barang- barangnya dan kembali menempatkan sesuai tempatnya.


“Yaya, yang udah jadi istri, naapsu banget beresin rumah!” jawab Tia kesal akhirnya ikut Bening rapih- rapih.


Bening terkekeh dan tetap melanjutkan pekerjaanya.


“Ya bukan gitu juga kali, kalau udah rapih kan kita nyaman ceritanya, Tia.” sahut Bening walau tak menatap Tia.


“Yayaaa…,” jawab Tia lagi.


Dengan cekatan mereka berdua pun bekerja sama rapih- rapih.


“Oh ya, omong- omong, kamu kok tiba- tiba ke sini?” Tanya Bening kemudian menoleh ke Tia.


Sekarang tinggal menata isi tas pemberian Leon yang di berikan ke Leon dan barang- barang Daka lain yang di obrak abrik Aille.


“Penasaraaan kan? Kenapa aku kesini. Selain jadi malaikat penolongmu. Aku punya banyak cerita buat kamu!” jawab Tia langsung tersenyum puas saat Bening menanyakan kedatanganya dan dia baru merasa dia bak pahlawan.


“Yaya! Ibu Periku! Terus emang kamu bawa kabar apa?” Tanya Bening.


“Mau cerita dulu? Atau beberes dulu?” Tanya Tia malah ngeledek Bening.


“Beres- beres! Tinggal sedikit!” jawab Bening bersikukuh menyelesaikan beberesnya.


“Ah kenapa nggak cerita dulu sih? Aku nggak sabar pengen cerita nih!” jawab Tia lagi.


Dan sekarang Bening yang tadi menangis semakin terkekeh ingin tertawa melihat Tia. tapi tawanya dia tahan karena pipinya ternyata terasa sakit saat digerakan.


“Tuh kan kualat, masih sakit kan? Udah lanjt nanti kita cerita dulu!” ucap Tia melihat Bening menahan tawa.


“Ya udah, cerita sambil beberes!” jawab Bening sembari melipat baju- baju Daka.


“Tau nggak?"


"Apa?"


"Alika nggak jadi pentas di istana! Dia dikembalikan di sanggar dan hanya mendapat hadiah juara saat kemarin aja!” tutur Tia bangga dan senang mengadukan keadaan Alika.


“Ya!"


"Kok bisa?"


"Kamu nggak tahu? Di istana kan lagi rame desas desus tentang putra mahkota!” ucap Tia lagi.


“Maksudnya? Desas desus apa?” Tanya Bening mengernyit lagi tidaj mengerti.


“Aihh kamu kuper banget sih. Rame tau. Tapi its oke. Itu urusan orang atas dan nggak penting buat kita. Aku juga nggak ngerti bagaimana persisnya. Intinya, pesta raja yang seharusnya Alika tampil nggak jadi. Gaji besar yang dijanjikan Alika juga batal. Alika kembali jadi penari rendahan. Kudengar ada guncangan di keluarga raja!” tutur Tia dengan bangga dan puasnya menceritakan kemunduruan Alika.


Tia tahu Alika menang karena curang, saat Alika tidak jadi tampil mereka pun puas dan senang. Karena ternyata desas desus keberadaan Pangeran Aberald mulai bocor ke luar istana. Bahkan saat ini keadaan istana mulai panas akan penentuan pengalihan kekuasaan dan beberapa kebijakan. Bahkan acara besar yang akan diselenggarakan berganti dengan upacara duka.


Akan tetapi Tia dan Bening tidak tertarik tahu cerita istana. Mereka hanya fokus ke nasib Alika. Bening yang sebelumnya sudah melupakan tentang dunia tari mengangguk termenung dan menghela nafasnya.


“Rencana Tuhan memang nggak bisa ditebak ya! Aku jadi percaya, kalau memang bukan hak kita walau sudah di depan mata ya akan tetap lewat,” ucap Bening menyimpulkan.


“Iyah…, udah sombong banget padahal dia, Bilang ke teman- teman sanggar, katanya mau selfi sama Pangeran Mahkota. Jadi penari utama. Hmmm eh nggak tahunya nggak jadi! Hahaha. Syukurin tuh!” ucap Tia lagi masih mencibir Alika.


“Tapi aku penasaran, kok bisa ya? Raja batalin festival besar yang udah biasa dilakukan? Aku malah baru denger!” jawab Bening lagi sekarang jadi ingin tahu.


“Entahlah!” jawab Tia mengedikkan bahu. "Udah itu urusan orang atas. Bukan urusan kita!" jawab Tia lagi.


“Yaya. Terus cerita apalagi? Itu doang?” Tanya Bening lagi.


“Ye…. Itu kan juga berita besar kan?” jawab Tia.


“Ya… besar sih? Tapi tambahin kek!"


"Tambah gimana?


"Heheh... kirain kamu mau cerita perkembangan hubungan kamu dengan Leon! Sekarang kan tempat kerja kalian udah sama- sama di kota!” jawab Bening sekarang gentian menggoda Tia.


“Iiih… apaan sih?” jawab Tia langsung tersipu malu.


Bening kembali tertawa, sebab sepupunya kan memang naksir berat ke Tia. Sesaat Tia membiarkan Bening tersenyum, dan mereka tertawa bersama. Akan tetapi Tia tiba- tiba terdiam seperti berfikir sesuatu.


“Kok diam? Udah jadian belum? Cepatlah menikah! Nikah itu seneng lho!” pancing Bening lagi sekarang keluar centilnya.


Sayangnya Tia masih tetap diam.


“Kalau kamu nikah sama Leon, aku kado deh!” goda Bening lagi kan kita sepupuan.


“Masih ada kabar lain!” ucap Tia dengan raut serius.


“Apa? Apa? Ayo cerita!” pinta Bening sekarang dalam waktu singkat benar- benar sudah ceria lagi.


“Alika sama Kak Naka mau nikah, kemarin mereka tunangan meriah banget!” ucap Tia pelan mengira Bening akan sedih mendengarnya.


“Oh itu” jawab Bening pelan.

__ADS_1


“Maaf, aku datang waktu itu, aku cari kamu, tapi kamu nggak ada, aku kira kamu diundang,” ucap Tia lagi.


Bening yang tadinya tertawa hanya tersenyum.


“Aku tahu kok, tapi aku nggak bisa datang!” jawab Bening kemudian.


"Kamu nggak sedih kan?" tanya Tia.


"Nggak lah. Aku sama Daka juga kemarin sibuk jualan!" jawab Bening.


"Oh. ya udah. Ya itu aja sih ceritaku!” jawab Tia kemudian.


"Oke!" Bening pun tersenyum lalu melanjutkan pekerjaanya merapihkan rumahnya, dan Tia pun membantunya.


Akan tetapi tiba- tiba Bening terhenti dari pekerjaan. Bening memegang dua dompet, Bening pun memeriksa dompet itu dengan gusar bahkan tampak obrak - abrik isinya. Seketika itu Bening yang sudah ceria kembali menitikan air mata.


“Bening kamu kenapa lagi?” Tanya Tia bingung tiba- tiba Bening menjatuhkan sesuatu dan menangis.


“Bening…,” panggil Tia lagi karena isakan Bening semakin keras.


“Bening kamu kenapa? Kamu masih sakit hati ya masalah Naka?” tanya Tia menebak.


“Maaf, harusnya aku nggak bahas mereka!” ucap Tia mengira Bening tiba- tiba menangis ingat Naka.


Akan tetapi Bening menggelengkan kepalanya dan menyeka air matanya, kemudian tampak menghadap ke Tia.


“Bawa aku pergi!” ucap Bening tiba- tiba.


“Pergi? Pergi gimana?” tanya Tia bingung.


“Aku harus pergi, aku harus pergi! Aku harus tinggalkan Daka!” ucap Bening gugup dan sangat gelisah.


Tia pun semakin bingung.


“Ya tapi kenapa Bening? Kamu tenang dulu. Kamu kenapa?”


“Ayo cepat pergi dari sini! Aku harus pergi!” ucap Bening lagi semakin emosional dan Bening malah bangun ke kamarnya dan mengemasi barangnya.


Tia semakin terpaku tidak mengerti, akan tetapi dia tidak bisa banyak bicara, Tia mengikuti Bening dan mengabulkan kata Bening. Hari itu pun kemudian Tia membawa Bening pergi.


****


Di tempat lain,


Pangeran Abe, Leon, dan Bernand melanjutkan misi mereka.


Bernand pun mengikuti mau Pangeran memanggil pria yang bernama Ares.


Walau tidak bisa mengingat jelas, berdasar dari puing rangkaian mimpi Pangeran Abe yang dia susun dan disambungkan dari foto- foto yang dibawa Bernand, Ares adalah sekertaris sekaligus putra pengasuh setia Pangeran Abe.


Tidak mempunyai kekhawatiran sedikitpun tentang Bening, Pangeran menghabiskan waktunya, menemui Ares.


Dan begitu melihat Pangeran Abe, Ares beserta orang setianya Pangeran Aberald yang selama ini sudah lelah mencari langsung bersimpuh dan menangis haru.


"Panjang umur dan terberkati yang mulia?" ucap Ares menghamba pada Tuanya.


“Keyakinan ibu tidak pernah salah, ini benar- benar keajaiban, Pangeran masih hidup!" ucap Ares sembari menangis.


"Bangunlah!" ucap Pangeran Abe sekarang merasa aneh jika orang lain bersimpuh padanya.


"Ampuni saya yang mulia. Ampuni saya tidak becus melindungimu. Aku siap menerima hukuman apapun darimu, yang mulia!" ucap Ares lagi masih bersimpuh.


"Sudah bangunlah!" ucap Pangeran Abe sekarang jauh lebih berhati lembut dan baik.


Ares pun bangun. Lalu Pangeran Abne mempersilahkan Ares duduk. Meski begitu, Ares tetap menjaga jarak dari Pangeran Abe.


"Yang mulia harus segera pulang, kami sudah mencari anda kemana- mana, suasana di istana sangat kacau, semua orang mulai menanyakan anda Pangeran, perusahaan juga butuh anda Pangeran! Kami merindukanmu,” ucap Ares sembari menyeka air matanya.


"Ehm.." Pangeran Abe yang sudah banyak menjadi Daka dan belum sempurna ingatanya, masih canggung mendengar ucapan Ares.


"Aku belum bisa kembali!” ucap Pangeran Abe kemudian.


“Tapi yang mulia harus segera pulang. Yang mulia Raja, Pangeran Alexander dan Adelfino hampir mengumumkan kematian anda. Saya tidak bisa membayangkan jika Raja memberikaan kuasa pada Pangeran Adelfino atau Alexander? Yang mulia Pangeran Abe harus pulang.” ucap Ares lagi.


Mendengar itu Pangeran hanya tersenyum getir lalu menoleh ke Leon dan Berand.


Dalam benak Pangeran Abe tergambar, wajah manis yang tersenyum padanya saat bangun tidur dan menyajikan makanan, juga isak tangisnya yang disakiti sauadaranya datang.


Kehidupan terindahnya adalah saat bersama Bening. Pangeran Abe masih ingin hidup sebagai Daka.


Akan tetapi sekarang Daka tahu, di pundaknya ada tanggung jawab besar yang harus dia pikul.


Leon yang masih gemetaran berhadapan dnegan Daka si sombong yang ternyata seorang Pangeran tidak berkutik ditatap Daka.


Baginya Daka sekarang begitu terlihat berwibawa, seperti Tirani yang tidak bisa dijangkau walau ada di depanya.


Daka kemudian melirik ke Bernand, Bernand sejak awal sudah curiga melihat Daka. Dia juga sudah tahu sejak pertemuan di tempat kerjaanya saat seharusnya Pangeran Abe datang tapi tidak, keberadaan Pangeran Abe memang sangat dibutuhkan.


“Benar kata Tuan Ares, Pangeran. Perusahaan, istana dan keluarga anda membutuhkan Pangeran Abe, Pangeran Abe harus segera pulang. Pangeran juga harus mendapatkan pengobatan yang terbaik untuk sakit Pangeran!” ucap Bernand memberi saran.


“Adakan pertemuan orang- orangku, jangan dulu beritahu ayah dan adik- adiku! Aku masih ingin menjadi Daka!” ucap Daka kemudian. “Mengerti?”


Ares pun mengangguk, Ares mengerti, rupanya Pangeran Abe ingin berhati- hati. Walau keluarga, tapi tidak bisa ditebak, siapa yang dari hati menginginkan Daka kembali dan mati.


“Siap, Pangeran. Kapan dan dimana? Saya akan atur semuanya!” jawab Ares menyanggupi karena itu memang pekerjaanya mematuhi semua titah Pangeran Abe.


“Beri waktu aku dua jam, aku merindukan istriku, aku tidak bisa bernafas jika lama- lama tidak bertemu denganya!” jawab Pangeran Abe dengan tidak tahu malu menampakan kebucinanya.


Leon pun hanya menelan ludah.


Sementara Ares mendengar kata istri, dia yang belum tahu kalau Daka menikah melotot kaget.


“Istri?” celetuk Ares spontan.


“Kenapa?” Tanya Daka enteng, "Aku mau pulang dulu. Antarkan aku!"

__ADS_1


“Auh!” Bernand langsung menginjak kaki Ares dan berbisik, “Daka sudah menikahi seorang gadis,” bisik Bernand melirik ke Leon.


"Siap Pangeran!" jawab Bernand mengerti


__ADS_2