
Daka keluar kamar, hendak melanjutkan paginya. Daka yang tertarik dan jatuh cinta dengan Bening semangat melalui hari.
Daka ke kamar membersihkan diri. Dia juga ke dapur melihat stok makanan dan membuat makanan seadanya.
****
Bening terdiam, matanya mengikuti langkah Daka keluar, dengan banyak kata yang memenuhi otaknya seperti benang yang membulat.
“Hooh? Santai sekali dia? Dia pikir ini kamarnya dan menjadi rumahnya? Percaya diri sekali? Aku tergila- gila padanya? Hoh? Sulit dipercaya. Amit- amit jangan sampai? Ish.. Dia itu manusia atau jin sih?” batin Bening.
Masih terus tidak terima.
“Ya Tuhan aku mimpi kan? Kenapa aku malah terjebakk menjadi istrinya? Aku lagi yang bawa dia? Hah! Bagaimana ini? Bagaimana caranya lepas?” gumam Bening menyeringai sendiri.
Bening lalu meraih bantal dan menenggelamkan muka dengan posisi setengah bersujud dan menung ging,
“Haish... ini gila,gila..,” gumam Bening terus merutuki dirinya sendiri.
“Ah.. h.. Mamah, aku mau tenggelam aja kalau gini?”
Bening masih terus mengeluh. Bahkan berlama- lama di kamar hanya sekedar mengusir kegalauanya dengan mengomel melampiaskan semua kesalnya.
****
Daka yang sudah selesai bersih- bersih berniat mengambil alat make up seperti sisir dan minyak wangi juga jaket, yang masih berbungkus kresek di ruang tamu. QSaat Daka berjalan, Daka berhenti dan tersenyum melihat tingkah Bening. Bening masih belun turun dari kasur apalagi menutup pintu.
Melihat Bening di posisi menung_ging, otak iseng Daka keluar lagi, mata Daka pun terhenti pada sapu yang tergeletak di dekat sepeda Bening.
“Huuf, jadi kayu ini yang membuatku babak belur?” gumam Daka memegang gagang sapu Bening.
Daka pun iseng masuk ke kamar Bening lagi, dengan sapu itu dia toel pan_tat Bening.
“Ak..,” pekik Bening langsung
menggelimpang. Merasa ada sesuatu yang membuatnya sakit.
“Ini kasur bukan tempat olah raga jungkir balik!” ucap Daka cepat.
“Apa sih kamu?” jawab Bening kesal diganggu.
“Dasar aneh!”
“Haish.. kamu yang aneh, ngapain ganggu- ganggu aku? Ini kan kamarku. Punyaku. Terserah aku lah!”
“Mandi sana!”
__ADS_1
“Ye... nyuruh nyuruh! Jangan bilang kamu lupa ingatan lagi. Aku yang punya rumah. Ingat itu”
“Hari semakin siang, aku hanya ingatkan. Kamu harus kerja?”
“Nggak usah ngatur- ngatur! Masa bodo aku kerja apa enggak! Lagian siapa kamu?” jawab Bening dengan mulut mecucu karena kesal.
“Aku suamimu!” jawab Daka mantap.
“Ish...,” desis Bening kali ini terdiam jika disingguny tentang suami.
“Kalau kamu nggak mau mandi ya sudah terserah. Aku mau pinjam sepeda Leon!!” ucap Daka kemudian.
Bening kemudian mengernyit.
“Buat apa?” tanya Bening cepat.
“Buat pergi!”
“Pergi kemana?” tanya Bening lagi tambah kaget. Daka kan baru sembuh baru saja dengan jelas Bening dengar Daka mengigau lagi. Walau kesal tapi Bening juga timbul rasa kasian jika Daka mode sakit.
“Cari uang!” jawab Daka singkat.
“What?” pekik Bening kali ini Daka benar- benar membuatnya tercengang.
“Ehm....,” dehem Bening.
Bening mendadak salah tingkah dan menatap Daka tidak menyangka.
Bening masih tidak habis fikir, dia mengira percakapan mereka itu, sebuah pertengkaran dan tujuan Bening, seharusnya Daka paham kalau Bening ingin dia pergi alias sadar diri. Bukan berusaha sungguhan.
Bening masih berharap Daka sepertinya menganggap pernikahan semalam adalah sebuah jalan keselamatan dan kesepakatan.
Bening gelagapan dan jadi tidak mengira. Kenapa Daka bisa sungguhan ingin membuktikan jadi suami. Kenapa Daka beneran ingin dan menganggap pernikahan mereka nyata.
“Kamu serius? Kamu memang bisa kerja apa? Kamu tahu daerah sini?” tanya Bening kemudian berusaha agar Daka tidak berlanjut.
“Bisa! Tahu!” jawab Daka singkat dan mantap.
Bening menelan ludahnya, malah jadi panik kalau Daka beneran membuktikan dan ingin jadi suaminya.
“Udah- udah kamu di rumah aja, oke! Tugas kamu adalah kamu harus segera sembuh dari lupa ingatanmu, ingat siapa kamu dan asal usulmu! Kita bisa bercerai dan pergi dari rumah ini, jangan repotin aku lagi!” jawab Bening kemudian.
“Aku tidak akan merepotkanmu!” jawab Daka lagi dengan muka datar tanpa ekspresi.
“Haish... tapi kamu harus sembuh dan ingat siapa kamu dulu. Nggak usah bawel. Lagian nggak usah ngadi adi deh. Parkirin motor aja nggak bisa. Emang kamu mau kerja apa? Please jangan bikin masalah dan bawa- bawa aku lagi!” omel Bening lagi.
__ADS_1
“Saat aku berjalan kemarin aku melihat ada tulisan membuka lowongan kerja! Kerjanya nggak susah, jadi pelayan. Tapi kalau kamu melrang ya sudah aku di rumah saja, tapi jangan salahkan aku ya kalau tidak membyar hutang dan menjadi suami pengangguran!” jawab Daka menyindir.
Bening yang mendengar masalah utang, jadi berfikir.
Iya juga, Bening tidak berhak melarang Daka kerja. Lagian kan justru kalau Daka berpenghasilan Bening bisa dibantu, Bening juga nanti kan bisa, minta cerai dan mengusir Daka tanpa kasihan.
“Oke terserah kamu!” jawab Bening.
“Ya sudah sana mandi, aku antar kamu ke tempat kerjamu dulu!” jawab Daka mendadak perhatian dan menawarkan bantuan.
“Nggak usah! Aku bisa jalan kaki!” jawab Bening menolak.
“Yakin?” tanya Daka mendekat dan menatap Bening intens menunjukan perhatianya.
Ditatap Daka, mendadak jantung Bening berdebar kencang. Apalagi tatapan Daka terasa seperti menusuk dan menembus jantung Bening dengan perhatianya.
Sebenarnya saat kemarin mereka akur, mereka berdua bersenang- senang mengayuh dan mengendarai sepeda dengan kompak. Tapi sekarang setelah mereka jadi suami istri pikiran Bening malah ke arah lain dan takut berdekatan dengan Daka. Kalau Daka sungguhan menganggap Bening istrinya, suami istri kan..?.
Bahkan Bening jadi dheg- dhegan, mukanua merah dan jadi jika Daka mendekatinya.
“Sangat yakiin! Dah sana pergi- pergi!” usir Bening gugup tidak mau dekat dekat dengan Daka.
“Oke...!” jawab Daka kemudian keluar.
****
"Hooh," Bening menghela nafasnya, mengelus dadanya dan mengipasi mukanua yang terasa panas dengan tangan.
"Kenapa aku jadi berdebar gini sih?" gumam Bening lalu segera bangun
Bening kemudian mandi, setelah mandi Bening berniat ke dapur membuat sarapan instan sedanya bahan di lemari es.
Sesampainya didapur, Bening kembali terlonjak kaget.
Sudah tersedia secangkir susu sereal hangat di atas meja.
"Apa dia bermaksud menyiapkan sarapan untukku?" batin Bening lagi.
Bukanya senang, Bening malah jadi panik atas sikap Daka. Bahkan Bening ragu meminumnya.
Tapi karena dia tahu, bahkan itu minuman sachet dia yang beli dengan uangnya sendiri, Bening yang irit dan pelit tidak mau buang buang uang. Bening meminumnya dan segera berangkat kerja.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus buat perjanjian pernikahan denganya. Kalau tidak aku harus segera usir dia? Bahaya kalau Kak Naka tahu. Dia pasti salah paham?" guman Bening.
Selama bekerja, Bening malah memikirkan kesepakatan apa saja yang harus dia buat dengan Daka. Bahkan walau sudah disakiti Bening masih terus memikirkan perasaan Naka.
__ADS_1