
Bening diam di posisinya, berada tepat di depan Daka dan dalam rengkuhan tangan Daka. Meski begitu Bening menempatkan tanganya di depan kedua dadanya agar dia tidak benar- benar menempel Daka. Mendadak jantung Bening berdetak kencang.
Kalau saja Daka sadar, Bening pasti mendorong Daka, tapi Bening melihat sendiri, Daka sakit, seperti berada di pengaruh obat yang membuatnya tidur sejak tadi di jalan. Badan Daka panas. Daka juga mengigau terus. Daka tenang saat dia memeluk Bening jadi Bening membiarkanya memeluknya.
“Tidurlah dengan tenang, apa kamu punya trauma juga sepertiku? Trauma apa yang kamu punya?” batin Bening.
“Aku harus kompres dia nanti! Badanya panas lagi? Padahal lukanya sudah sembuh?” batin Bening lagi.
Bening sama sekali tidak tahu ada orang di balik tembok, melalui celah jendela Bening sedang memata- matainya.
Melihat Daka bernafas dengan tenang, Bening berusaha melonggarkan tangan Daka agar dia terlepas dari pelukan Daka.
Sayangnya saat dia berusaha bergerak, alam bawah sadar Daka yang butuh tempat bersandar kembali memeluk Bening, bahkan lebih erat.
"Aku tidak suka sendiri... Tetap di sini! Jangan pergi Bu!" lirih Daka mengigau lagi bahkan seperti menangis.
Bening mau memberontak, tapi kasian. Tidak bisa Bening terjemahkan dari mana dan kenapa datang, rasa kasian berubah menjadi peduli, dan kini rasa nyaman Bening ke Daka tumbuh.
Bening tidak tega melepaskan rengkuhan Daka atau mendorongnya kasar. Bening memilih membiarkan dirinya berada dalam pelukan Daka menjadi tempat Daka bersandar. Karena terus diam, Bening yang tadinya kaki jadi melonggar. Bening yang juga lelah akhirnya tidak bertahan, ikut terlelap.
****
Setelah 3 jam berlalu.
“Lihat anakmu Pah!” hujat seorang perempuan dengan pekikan suara cemmprengnya tiba- tiba ada di berdiri di dekat Bening dan membuat Bening dan Daka terbangun kaget.
“Bening!” pekik ayah Bening sangat marah meligat Bening dan Daka tidur bersama di atas kasur lantai rumah Bening.
“Ehm..., Papah? Tante?”
Bening dan Daka saling melepaskan, mereka mengucek matanya masih syok. Kenapa tiba- tiba kontrakan Bening dipenuhi ayah ibu tiri karyawan dan warga sekitar.
“Bangun kalian, jangan berbuat asus_ila di desa kami!” teriak seorang laki-laki tua.
Daka masih tidak mengerti apa yang terjadi. “Siapa kalian?” tanya Daka.
Bening gelagapan dan mencubit tanganya masih mengira ini semua mimpi.
Belum Bening menjawab, tangan Bening diseret kasar oleh ibu tirinya.
“Ak...,’ jerit Bening kaget, “Sakit Pah!” lirih Bening.
“Bangun kamu! Ikut kami! Anak memalukan! Kalian harus diadili ke kantor desa!” umpat Bu Damita.
__ADS_1
Daka yang melihat Bening di seret kasar reflek marah dan mendangkling kaki Ibu Damita. Bu Damita terjatuh Bening yang lain jadi menatap Daka heran.
“Dasar berandal kamu ya!” umpat Damita ke Daka.
“Kalian yang berandal? Kenapa mengganggu tidur kami dan tiba- tiba berlaku kasar begini? Tidak ketuk pintu lagi! Ditanya tidak jawab lagi?” tanya Daka tenang.
Semua yang mendengarnya langsung menatap Daka geram. Di hadapan mereka, yang ikut ibu Damita kan menganggap Daka dan Bening melakukan pelanggaran norma, tidur berdua dalam satu rumah berpelukan lagi. Bisa- bisa nya Daka masih merasa tenang dan menyalahkan mereka mengganggu Daka.
“Bug!” satu tamparan pun mendarat ke pipi Daka dar bogeman ayah Bening.
Daka yang baru bangun dan sakit langsung terhuyung jatuh.
“Daka...,” pekik Bening kasian ke Daka.
“Kurang ajar kalian sudah berlaku seperti binatang yang tak punya akhlak, masih juga minta dihormati orang tua!” sahut seorang laki- laki tua yan diketahui Pak RT yang sudah dihasut BU Damita.
Bening mendengarnya mulai bisa menyadari situasi yang terjadi.
“Pak... ini tidak seperti yang kalian kira. Kami bisa jelaskan!” ucap Bening.
“Ciih...,” Bu Damita langsung berdecih sambil meludah.
“Sudah ayo ke pendopo desa!” ucap ayah Bening.
“Tunggu ini ada apa?saya bisa jelaskan!” ucap Bening berusaha meluruskan.
Sayangnya semua tidak ada yang mendengar dan justru menyeret Bening dan Daka. Daka awalnya memberontak, tapi ayah Bening membawa pegawainya, sehingga Daka yang pusing kalah tenaga.
Mereka teryata dibawa ke pendopo desa, hendak dinikahkan.
“Apa? Menikah? Nggak!” ucap Bening tegas.
Daka yang menahan pusing memilih diam memejamkan matanya.
Bu Damita dan suaminya langsng melotot mendengar ucapan Bening.
“Kurang baik apa? Aku san ayahmu hah? Kami tidak menghukummu dan membenarkan jalan hidupmu masih juga tidak mau nurut?” omel Ibu Damita. Bu Damita kan yang ngotot ingin Bening pergi dari Naka dan tidak jadi saingan Alika.
“Tante, Papa... bapak- bapak semuanya, dia lupa ingatan.. dia sakit dia butuh pertolongan, saya salah memang karena tidak segera melapor. Kami tidak melakukan apapun!” tutur Bening tegas berusaha menghentikan pernikahan.
“Plak!” satu tampara mendarat lagi di pipi Bening
“Papah!” pekik Bening syok ayahnya justri menamparnya.
__ADS_1
“papah memikirkanmu dan menginginkan kamu hidup dengan baik. Kenapa kamu masih juga berbohong dan mengarang cerita? Menikah dengan Tuan Barri kamu menolak, pergi dari rumah tanpa pamit. Ternyata jarang pulang karena kamu kumpuul keebo dengan laki- laki begini? Masih juga tidak mau kami luruskan?” tutur Papah Bening merasa dirinya sudah sangat bijak mengikuti Bu Damita menikahkan Bening dan Daka.
“Tapi yang teradi bukan begitu, Pah!” rengek Bening berusaha.
“Apa yang Bening katakan benar? Aku hanya numpang tidur di rumahnya, tidak ada apa- apa di antara kami!” tutur Daka akhirnya buka suara.
“Mana ada maling yang mengaku!" sanggah semuanya.
"Kamu harus anakku. Panggil keluargamu sekarang!" ucap Ayah Bening.
"Pah.. Daka lupa ingatan. Dia terdampar di sungai. Jangan nikahin kita gini!" sahut Bening masih tetap ngeyel.
Bu Damita swmakin geram
"Tidak waras kamu ya? Masih bisa karang verita?" ejek Bu Damita malah menuduh Bening.
"Bening benar Tante. Kalau nggak percaya tanya Leon!" ucap Bening lagi.
"Leon tidak ada! Kami sudah mencarinya!" sahut pegawai ayah Bening.
"Ya sudah kalau nggak mau nikah sama laki- laki ini. Tinggalkan dia. Pulang ke rumah dan menikahlah dengan Tuan Barri!" ucap Ayah Bening dengan nada geram
Bening langsung memicingkan matanya.
"Tidak!"
Daka pun menatap Bening, bingung.
"Ya sudah menikah! Kami sudah baik tidak menghukum kalian?" sahur warga.
"Benar. Pilih nikah dengan dia atau dengan Tuan Barri?" tanya Bu Damita lagu.
Bening pun kembali meneteskan air matanya. Bening jijiik sekali mendengar nama Barri. Tapi Daja juga bukan solusi. Lalu kenapa dia ada di posisi ini
"Apa aku boleh menikahimu!" bisik Daka menatap Bening kasian.
Bening masih menunduk menangis.tidaj terima.
"Kamu mau menikah dengan Barri itu?" tanya Daka lagu.
"Terserah kamu saja!" jawab Bening singkat karena putus asa. Bening pun membiarkan semua terjadi sesuai mau Bu Damita.
Bening dan Daka tanpa ada keluarga Daka menikah.
__ADS_1