
“Emmmt….,” di bawah gulungan selimut tebal, suara lenguhan lembut terdengar dari perempuan manis nan cantik itu. Lalu dia menggeliat lembut, dengan perlahan, dia membuka matanya.
“Gleg!”
Namun sesaat, begitu mata Bening terbuka, Bening langsung melotot kaget, dan segera menyingkap selimutnya cepat.
“Aku dimana?” pekiknya kebingungan.
“Hoh!” Bening langsung menutup mulutnya reflek.
Seketika itu, Bening memejamkan matanya lagi, lalu membukanya. Tidak berubah, masih sama.
Bening mengucek matanya lalu memejamkan lagi, mengingat dengan pasti apa yang dia lalui. Ya Bening ingat dia terakhir sadar masuk ke sungai karena marah, Bening ingin meniru lelaki pemancing itu, seperti di film action, menyelam ke air untuk kabur. Bening kan jago renang.
Sayangnya Bening tak menguasai medan, saat masuk ke sungai dan hendak mencari tempat menepi Bening malah hilang keseimbangan dan kelelahan. Setelah itu Bening tidak ingat.
Bening buka matanya lagi, tidak berubah. Dengan nafas tersengal, Bening menepuk- neouk pipinya, juga mencubit kulitnya.
“Aku masih hidup atau sudah mati sih? Aku dimana? Apa ini negeri akhirat? Atau dimana?” gumam Bening berfikir.
Bening pun bangun dari kasur nan luas dan sangat empuk itu, lalu melihat ke sekeliling kamar. Bening berada di ruangan yang sangat megah, bahkan wangi.Langit- langit kamar begitu tinggi, tidak sempit seperti kontrakanya yang saat menatap ke atas bisa melihat cicak, atau tikus berlarian. Bahkan saat melihat ke plafon, Bening melihat mahakarya yang luar biasa indah, bahkan hordenya juga indah.
Dan yang lebih membuat Bening terkagum, di balik horden, di hadapanya, terdapat aquarium besar, seperti di bawah laut.
“Ya Tuhan, ini negeri akhirat, atau kerajaan laut seperti di negeri dongeng? Apa jangan- jangan ada mermaid juga? Aku diselamatkan mermaid?” gumam Bening lagi malah jadi halu.
__ADS_1
“Tidak, tidak, di dongeng, istana mermaid ada batu- batunya, ini kamar ber Ac, alat- alatnya juga modern. Apa iya mermaid kenal listrik. Lalu dimana aku?" Bening melihat di dekat kasur ada lampu hias nan indah.
"Ini seperti istana? Hooh?" pekik Bening melongo, di otaknya muncul pikiran lain.
"Inikah surga yang diperbincangkan banyak orang? Aku masuk surge? Sungguh?” gumam Bening malah cemberut dan mencebik berfikir.
“Tapi amal apa memang yang sudah aku lakukan sampai aku masuk surga? Aku bahkan mengeluh dan mau bunuh diri? Seharusnya kan Tuhan tidak suka?” gumam Bening berpikir lagi.
“Huft, apa mungkin karena Mamah orang baik, mamah banyak amalnya kali? Jadi aku masuk surga!” gumam Bening lagi tetiba tersenyum sendiri lalu menggigit jarinya sendiri.
“Au… kok masih sakit?” gumam Bening menggigit jarinya sendiri terasa nyeri. “Teryata di surga kita masih isa merasakan sakit, hihi,” Bening cengengesan sendiri.
“Aaargh aku masuk, surga! Terima kasih Tuhan!” tetiba Bening langsung menjerit dan berjingkat sendiri, bahkan Bening menari- nari sendiri,
"Ya Tuhan, sebentar lagi, mamah akan datang kan? Aku rindu Mamah. Mamah!" panggil Bening seperti orang gila.
Lalu, dia merebahkan dirinya di atas Kasur besar dan empuk lagi.
“Aku mau ngapain ya? Tidur lagi aja kali? Ah jangan- jangan ini mimpi? Nanti bangun tidur aku jadi gembel lagi. Nggak aku nggak mau tidur. Ish. Tapi aku masih sakit. Aku sungguh ingat semua, aku masuk ke sungai dan aku kelelahan. Aku pasti sudah mati kan?.” Bening terus bicara sendiri sembari menepuk- nepuk pipinya.
Di kamar itu juga tersedia makanan dan minuman. Tidak mau pusing dengan dia sudah mati atau masih hidup, Bening pun tidak ragu, menyantapnya.
"Hoh. Aku juga masih bisa makan. Ini enak!" jerit Bening kegirangan
Di meja tersaji buah- buahan segar yang Bening sendiri harus mikir sepuluh kali kalau mau membeli. Juga masakan daging lezat yang penyajianya indah. Mata Bening langsung berbinat melihatnya. Karena dia mengira dia di surga, Bening pun tidak peduli dia di kamar siapa, dan di luar ada apa. Bening menikmati semua yang ada.
*****
__ADS_1
Ya. Bening berada di surga, tapi bukan surga akhirat, melainkan surga dunia yang diimpikan oleh Alika.
Walau sungai yang Bening masuk adalah sungai besar, namun, pengawal Pangeran Abe adalah bodyguard handal yang sudah mengantongi banyak keterampilan, juga menjadi orang terpilih setelah melewati banyak ujian. Dengan cepat mereka berhasil menolong Bening.
Justru yang hampir tak tertolong adalah Leon, dan saat ini Leon masih berbaring di rumah sakit, masih butuh bantuan oksigen untuk bernafas.
Bening sempat tak sadarkan diri dan juga mendapatkan perawatan. Namun dengan segera, Bening diamankan di salah satu Villa milik Daka di tepi pantai, dekat dengan muara sungai tempat Bening diselamatkan.
Walau belum bisa bertemu, namun, Daka sudah mendengar semua kabar tentang istrinya itu. Bahkan Daka juga bisa melihat sempat terhubung dan melihat Bening saat mengawalnya menyambungkan video.
“Bening sudah ketemu, secepatnya dia ada di sisihku. Aku tidak perlu lagi bersandiwara?” gumam Daka ke Ares
Daka menyerahkan alat yang terhubung ke pendeteksi yang dia tempelkan ke tubuh Camilia.
“Aku sudah tidak butuh alat ini, secepatnya aku katakana pada ayahku, aku sudah siap bekerja, aku juga sudah menikah dan secepatnya aku akan tinggalkan istana ini, aku akan tinggal di mansion ibuku bersama istri dan anakku!” ucap Daka enteng dan percaya diri ke Ares.
Sayangnya, Ares tidak mengangguk, tapi langsung menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Pangeran!” jawab Ares cepat.
Daka pun mengernyit kesal.
“Kenapa tidak?”
“Membawa Nyonya Bening ke hadapan raja dan istana, sama saja membawa Nyonya Bening dalam bahaya. Kita harus menahan diri dan mempersiapkan semuanya!” ucap Ares memperingatkan.
“Gleg!”
__ADS_1