
Malam sepi itu berlalu, bening terbangun saat alarm alam terdengar. Seperti biasanya, begitu membuka mata dan terkumpul kesadaranya Bening bangun meninggalkan tempat memanjakan badanya. Bening harus beraktivitas mencari nafkah.
“Kemana Daka?” pekik Bening kaget, Daka tidak ada di depan televisi.
Bening kemudian berjalan ke dapur, kamar mandi tampak sepi dan dapur juga masih sama. Itu berati Daka tidak ke dapur.
“Kemana dia? Siapa dia sebenarnya?” gumam Bening mengusap tengkuknya tiba- tiba merinding dan takut.
“Ah terserahlah. Hidupku memang sudah tidak ada harapan, aku tidak perlu takut mati kan? Siapapun dia, hendak melukaiku atau tidak? Pergi atau kembali aku tidak peduli? Aku hanya melakukan apa yang seharusnya manusia lakukan kan?” batin Bening lagi.
Walau Bening bersikap kuat dan berusaha tegar, tapi sikap dan permintaan ayah Bening cukup dalam mengeruk lubang luka di hati Bening. Itu sebabnya di hari kemarin Bening terus murung. Betapa tidak, ayah Bening, tega hendak menjual Bening.
Bening benar- benar merasa sendiri dan patah. Arah hidupnya seperti limbung. Yang terpenting untuk Bening saat ini bertahan entah bagaimana jalanya nanti.
Setelah selesai menggosok gigi, dan bersih- bersih, Bening bersiap memasak untuk sarapan dan membawa bekal kerja.
“Ya Tuhan aku lupa belum belanja!” gumam Bening melihat ke lemari pendingin tidak ada sayuran, ataupun lauk.
“Hhhh..,” Bening hanya menghela nafasnya dan bersandar ke tembok.
Pasar di desa Bening cukup jauh, jika ke pasar waktunya hanya akan habis di jalan. Bening memilih hanya memasak nasi.
“Udah ah mandi aja?” gumam Bening putus asa.
Bening berjalan ke kamar hendak mengambil pakaian kerjanya. Akan tetapi begitu Bening melangkah meninggalkan dapur langkahnya terhenti.
Bening terbelalak. Daka datang memperlihatkan senyum sumringahnya.
“Aku dapat dua! Besar kan? Mau kumasakin atau kamu yang masak?” ucap Daka menenteng dua ekor ikan dari sungai yang cukup besar.
Bening masih syok, dia hanya menelan ludahnya.
“Kamu suka ikan kan?” tanya Daka lagi.
“Kamu dapat darimana ikan itu?” tanya Bening.
“Katamu aku harus cepat sehat kan? Jadi harus makan protein, bukan mie instan. Aku memancing di sungai!” jawab Daka.
__ADS_1
“Memancing?” tanya Bening masih tidak menyangka.
“Ya.. kemarin aku pergi dengan temanmu itu, aku beli kail ikan!” jawab Daka.
“Leon, maksudmu?” tanya Bening.
“Ya!”
Leon memang sempat cerita ke Bening, kemarin Leon memang mengajak Daka mendapatkan uang dengan menjual cincin Daka.
“Oh!”
“Santai saja, memancing tidak mengotori perbanku. Jangan marah ya?” tutur Daka lagi sok akrab ke Bening.
“Ishhh,!” desis Bening. “Siapa juga yang peduli?” cibir Bening lirih.
“Kamu kan mau kerja, aku aja ya yang masak. Tapi jangan protes rasanya!” ucap Daka kemudian.
“Hmmm...,” dehem Bening cuek, yang artinya terserah.
Daka tersenyum, kemudian berjalan melewati Bening masuk ke dapur.
Bening cuek dan memilih bersiap bekerja. Daka sendiri memilih sibuk membersihkan ikan dan membumbuinya.
Lengan Daka yang terluka, sebelah kiri, jadi untuk aktivitas ringan Daka masih bisa.
Bersamaan dengan Bening selesai mandi, aroma wangi bumbu bawan dan ketumbar bercampur daging ikan segar tercium ke hidung Bening.
Bening masih gengsi untuk bertanya dan memilih berlalu, walau sebenarnya perut Bening sudah meronta untuk melahapnya. Sesampainya di kamar Bening langsung berfikir lagi.
“Sepertinya kata Leon benar, dia pria yang baik. Dia hanya terkesan agak sombong, tapi tidak ada tampang kriminal. Apa aku ijinkan saja dia tinggal? Hhh tapi aku harus buat perjanjian!” gumam Bening lagi.
Setelah berdandan rapih, Bening pun menulis pernjanjian tinggal di rumah itu.
Setelah itu, Bening membuka pintu kamarnya. Bening kembali tersentak, ikan goreng yang harum dan nasi hangat masakannya sudah tersaji di depan televisi lengkap piring dan gelasnya.
“Sarapan sudah siap!” ucap Daka tiba- tiba.
__ADS_1
“Ehm... ya!” jawab Bening.
Mereka berdua kemudian sarapan bersama. Setelah sarapan Bening menyodorkan kertas perjanjian yang sudah dia susun.
“Baca!” ucap Bening dingin.
“Apa ini?” tanya Daka.
“Baca!” jawab Bening lagi.
Daka mengangguk dan membacanya.
“Tata tertib tinggal di rumah Bening.
Tidak boleh ada kontak fisik kecuali dalam hal pengobatan.
Tidak boleh mencampuri urusan masing- masing.
Tidak boleh merepotkan.
Membantu pekerjaan rumah.
Memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak bergantung.
Harus pergi setelah luka sembuh.
Tidak boleh menghina atau menyakiti satu sama lain.
Bening diam menunduk, menunggu respon Daka. Daka selesai membacanya, dia tidak berekspresi.
“Hanya tujuh? Nggak kurang aturanya?” tanya Daka malah menantang Bening.
Bening langsung mendongak berdecak.
“Lakukan saja semua itu!” jawab Bening ketus.
“Oke!” jawab Daka.
__ADS_1
Jam dinding sudah menunjukan waktu Bening harus kerja. Bening bangun tanpa kata membawa piringnya meninggalkan Daka. Bening pun memilih segera berangkat kerja.