Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Curiga ke Camilia


__ADS_3

“Hiks…,” Bening segera menyeka air matanya begitu mendengar langkah Tia mendekat dan suara pintu terbuka


Bening tidak mau, Tia tahu dia menangis. Bening juga bingung bagaimana dia harus bercerita kalau suaminya ternyata seorang pencopet. Bahkan di kepala Bening berjalan berbagai prasangka menyeramkan, lebih dari sekedar pencopet.


“Kreek…,” Tia pun berlenggang masuk, dengan cepat membawa dua kresek berisi aneka makanan.


“Taraaa… aku beli bakso! Makan....!” teriak Tia girang, akan tetapi seketika Tia tercekat melihat Bening memalingkan wajahnya dan menggenggam tisu. “Bening… kamu nangis lagi?” tanya Letitia menelisik.


“He… enggak kok!” jawab Bening memaksa senyum.


Tia langsung menaruh semua makanannya.


“Hhh… aku bingung harus gimana kalau kamu nangis terus gini, sebenarnya ada apa sih? Cerita dong!” ucap Tia merayu.


Bening tersenyum lalu menoleh ke bungkusan bakso yang dibawa Tia. Seketika itu wajahnya merekah dan tersenyum riang.


“Ah Tia.. kamu emang besti terbaikku, aku lapar dan lagi pengen bakso, makan yuk!” celetuk Bening keluar sifat sok kuatnya. Berusaha riang walau mata dan pipinya tak bisa berbohong.


“Ish…,” Tia pun hanya mencebiik dengan mulut manyunya.


Bening tidak peduli dia malah bangun dan bergegas mengambil mangkuk di kosan Tia, berasa di rumah sendiri.


“Syukurlah, kalau aku nggak salah beliin makanan, aku tadi sempet bingung mau beli apa? Aku telpon ke nomermu, yang angkat suamimu!” jawab Tia cerita.


“Praang…,”


Mendengar cerita Tia seketika itu, Bening melotot dan mangkuknya terjatuh. Tia pun ikutan melotot kaget.


“Heii… apa- apaan sih, aiih itu mangkuk kesayanganku, the one and only…kenapa dijatuhin, Bening?” gerutu Tia spontan ngomel.


Tapi Bening tidak peduli dan langsung menyergah Tia.


“Dia angkat nggak? Kamu bilang apa? Apa kamu bilang aku sama kamu? Iyah?” tanya Bening cepat.


“Ck…,” Tia hanya berdecak heran ke Bening.


“Kamu kasih tahu dia aku sama kamu?” tanya Bening lagi melotot.


“Enggak!” jawab Tia malas.


Bening tidak percaya, Bening mendekat dan meraih dagu Nila. “Beneran kan kamu nggak kasih tahu dia? Kamu nggak kasih tahu dia kan?” tanya Bening lagi.


“Hmmmm…,” Tia langsung menghempaskan tangan Bening. “Nggak! aku juga ngerti kalau kamu lagi kabur dari suamimu, ya nggak ku kasih tahu lah! Lagian kok ponselmu ada di dia sih?” cibir Tia.


Mendengar pertanyaan itu, Bening jadi diam lagi. Bening masih ragu dan malu menceritakan kehidupanya dan Daka yang memprihatinkan, bahkan ponsel butut saja berbagi, apalagi Bening tahunya sekarang Daka seorang pencuri.


“Ya sudah. Aku bereskan mangkuknya, nanti aku belikan yang sama, maaf ya! Ayuk kita makan!” ucap Bening malah mengalihkan pembicaraan.


“Ishhh… aneh banget sih kamu!” omel Tia.


Bening tidak peduli dan mencari sapu. "Besok aku ganti mangkukmu ini!" ucap Bening.


"Hei! Aku nggak butuh lagi mangkuk begitu! Aku butuh kamu cerita sebenarnya kamu kenapa? Taruh sapunya!” tanya Tia ngambek.


“Makan dulu, nanti aku cerita!” jawab Bening terus menghindar.


“Hmmm…, ya sudah!” Akhirnya Tia yang ngalah, Tia ke dapur mengambil piring, dan Bening mengumpulkan pecahan mangkuknya.


Setelah pecahan mangkuk rapih, dan Tia menuangkan bakso ke piring. Mereka berdua kemudian menyantap bakso yang dibelikan Tia, juga beberapa jajanan yang Tia beli.


“Sssrrrp… ah, ouuugh segarnya…, makasih ya,” ucap Bening dengan tidak anggun bersendawa.


“Aiiih Bening, kamu apa- apaan sih? Jijik!” omel Tia kesal melihat Bening tidak seperti biasanya.


“Up!” Bening langsung menutup mulutnya diejek Tia. “Maaf!” ucap Bening.


“Kaya preman tahu nggak? Ingat kamu tuh cewe!” cibir Tia lagii.


“Gleg!” mendengar kata Preman, Bening terdiam dan ingat Daka lagi.


Awal mereka bertemu, Daka juga mengatainya, kalau Bening tak menjadi perempuan seharusnya yang anggun, tapi urakan dan galak seperti preman, tapi apa nyatanya, Bening justru melihat bukti, Daka yang pencopet. Bening pun kembali menyeringai dan murung.

__ADS_1


“Ye… gitu aja ngambek! Maap map!” ucap Tia mengira Bening tersinggung karena mimic wajahnya kembali melamun dan murung.


“Tia…apa yang harus aku lakukan?” ucap Bening tiba- tiba kaya orang gila, karena bicaranya tidak nyambung.


“Hhhh…,” Tia jadi bingung sendiri. “Lakukan gimana?” tanya Tia menatap Bening.


Bening terlihat gelisah lagi, pandanganya kosong lagi. “Kenapa aku harus percaya? Aku bingung harus percaya pada siapa? Aku sudah salah jatuh cinta? Aku bodoh, aku salah, aku bodoh!” ucap Bening lagi meracau tidak jelas sembari menitikan air mata. “Hikks… hiks…,”


“Ssshhh…,” melihat Bening begitu kacau, Tia tidak menjawab dan langsung memeluk Bening.


Tia yakin batin Bening terguncang dan trauma, Tia melihat sendiri bagaimana Bening disekap dan dihajar oleh orang tak dikenal, kalau Tia sendiri, Tia pasti akan ketakutan dan depresi.


“Puk… puk… tenangkan hati kamu, Ning… tenang yah, ada aku yang selalu ada buat kamu, katakana padaku apa yang terjadi?” bisik Tia mengeluh pelan bahu Bening.


Sayangnya Bening tidak menjawab dan terus menitikan air mata. Sesaat setelah itu, Bening menjerit seperti orang gila dan mengacak- acak rambutnya.


“Aku kotor aku bodoh, aku bodoh Tiaa…hag… hag…” racau Bening lagi semakin tak terkendali meluapkan hati dan perasaanya yang kacau dan menyesal.


Bening merasa sangat menyesal sudah membawa pria asing yang ternyata pencopet, lebih dari itu, Bening mempercayainya, mencintainya dan menyerahkan tubuh beserta hati padanya.


Tia yang melihat Bening kacau langsung ambil sikap, Tia pun mencengkeram bahu Bening agar berhenti bersikap bodoh dan menatap matanya tajam.


“Heiii….Stop! Bening stop. Tenang! Kamu adalah Bening Gita Hanjaya, kamu jangan hancur begini? Tatap mataku!” ucap Tia sedikit keras.


Dengan bergetar, wajah jacau dan mata sembab Bening menatap mata Tia.


“Selama nafas kita masih berhembus, seburuk apapun yang terjadi, kita masih punya harapan. Jangan sakiti diri kamu sendiri Bening. Tuhan itu adil dan ada! Kamu liat Alika kan? Dia nggak jadi tampil di istana karena jalan dia salah! Sadar Bening, apa yang terjadi?” omel Tia sedikit keras berusaha menyadarkan Bening.


“Aku udah hancur Tia!” lirih Bening, “Aku lebih hancur dari Alika!” ucap Bening.


“No! Tidak ada yang bisa menghancurkan kita selain diri kita sendiri, sekarang cerita. Cerita kamu kenapa? siapa mereka yang hampir menghabisimu tadi?”


Bening menelan ludahnya mengambil jeda, dan Tia mengedikan matanya meyakinkan, meminta Bening cerita.


“Daka ternyata seoraang penjahat, mereka keluarga Daka, aku salah sudah percaya padanya!” ucap Bening sambil meneteskan air mata.


“Hhh…” Tia mendengarnya hanya menghela nafasnya dan menelan ludahnya masih bingung.


Tia masih terdiam mencerna dan mencoba memahami Bening, kenapa mengerikan?


“Aku nggak mau ketemu lagi sama dia? Aku nggak boleh jatuh cinta?” racau Bening lagi sembari memeluk tubuhnya erat, merasakan betapa menyesalnya Bening setelah merelakan tubuhnya untuk Daka.


“Jadi kamu mencintainya?” tanya Tia pelan setelah lama berfikir dan memperhatikan Bening begitu kacau.


Bening tidak menjawab dan masih menitikan air mata. Tia yang bingung melihat sahabatnya seperti orang gila kemudian bangun mengambilkan minum, lalu menyerahkanya ke Bening.


“Minumlah, kalau kamu begini terus, aku panggilkan tabib atau dokter jiwa!” ucap Tia sedikit mengancam, agar Bening dengar dan berfikir mengendalikan emosinya.


Bening yang masih dengar dan sadar patuh, mengambil air dari Tia dan meminumnya.


Tia pun menunggu Bening stabil beberapa saat.


“Tidak ada yang salah dengan cinta Bening, kamu tahu darimana kalau suamimu itu penjahat dan orang yang menyergapmu itu keluarganya?” tanya Tia lagi, setelah Bening terlihat terkendali.


Bening menegakan tubuhnya menatap Tia dan bersiap bercerita. “Aku kira dia memberiku hadiah, memberiku nafkah, setelah dia bekerja keras karena mencintaiku, aku begitu terharu dengan sikapnya, tapi ternyata dia mencopet Tia! Hiks…” lirih Bening akhirnya berani ceriita, “Aku malu…,”


“Darimana kamu tahu dia mencopet?” tanya Tia lagi.


Akhirnya Bening lengkap menceritakan semuanya, mulai dari kehidupan sehari- hari mereka sampai saat dia hendak membeli ponsel ke kota bertemu dengan ibu tirinya, lalu menanyakan dompetnya dan kemarin Benar Bening menemukanya, juga tentang orang- orang yang memanggil Daka dengan panggilan Kak Abe yang menanyakan Daka.


Tia pun mengangguk sekarang paham apa yang Bening rasakan.


“Aku sudah sangat percaya dan membelanya, tapi ternyata aku salah! Aku bodoh kenapa aku harus percaya pada orang asing yang tidak kukenal, aku harus pergi aku harus lupakan dia!” lirih Bening lagi.


“Hh… tapi menurutku bukan kabur solusinya Bening!” ucap Tia pelan.


“Nggak! Aku nggak mau ketemu dia lagi!”


“Bening, kalau begini nggak ada jalan keluar, harusnya kamu cerita ke suamimu, dia kan lupa ingatan. Kamu cerita tentang orang- orang yang mukulin kamu itu, kalau bisa temuin mereka. Kamu juga harus tanya baik- baik kenaapaa Daka ambil dompet Bu Damita dan Bu Lisa. Bukan kabur begini!” tutur Tia menasehati.


“Nggak, Tia. Untuk apa aku ketemu dia lagi? Aku juga takut. Aku nggak kuat jika harus hadapi kenyataan kalau ternyata dia seorang penjahat atau bahkan mafia atau buronan? Aku nemuin dia dalam keadaan luka parah, bahkan di lenganya ada luka sayat, dia pasti habis bertengkar kan? Mungkin dia abis ngelakuin kejahatan, lalu dikejar polisi atau musuhnya dan terjatuh ke sungai? Harusnya dulu aku laporkan dia ke polisi, bukan malah aku jatuh cinta kan?” tutur Bening menggebu dan terus menyalahkan dirinya.

__ADS_1


“Hhhh…,” Tia jadi garuk- garuk kepala bingung sendiri ke Bening.


“Aku nggak mau ulang kesalahan yang sama Tia. Please blokir nomer aku, jangan sampai dia hubungi kamu, biarin aku tenang, aku mau lupain dia!” ucap Bening lagi.


“Tapi kamu harus kasih tahu dia, atau setidaknya bantu dia ingat! Berpisahlah baik- baik.” rayu Tia lagi.


“Nggak Tia! Justru kalau sampai dia ingat, kalau dia nyelakain aku gimana? Atau aku diajak jahat? Kamu gimana sih? Kamu mau aku terus tolongin orang jahat? Kamu mau aku jadi penjahat juga?” jawab Bening malah emosi dan marah.


Tia pun menelan ludahnya mengangguk.


"Oke.. oke…” jawab Tia.


“Aku nggak mau terlibat apapun denganya. Please bantu aku, Tia!” tutur Bening lagi..


“Ya udah, oke"


"Ijinkan aku bersembunyi di sini. Jangan kasih tahu siapapun!"


"Ya. Baiklah, kalau itu mau kamu, tapi stop seperti orang gila, semua udah terjadi, dan ini bukan salah kamu, karena kamu nggak tahu apa- apa, jadi jangan sakiti diri kamu sendiri, ngerti?”


“Iyah”


“Yu udah istirahat di sini dulu!” ucap Tia.


Tia pun berfikir yang penting Bening tenang lalu setelah itu mereka akan kembali bahas apa yang akan mereka lakukan.


*****


Di tempat lain.


“Siapa sih nggak jelas!” gerutu Pangeran Abe saat panggilan Tia masuk tapi Tia tidak bicara. Pangeran Abe pun melihat nama kontak Tia.


“Berani- beraninya, dia menggoda wanitaku, siapa dia? Jadi Bening berani centil- centil di belakangku? Akan kuhukum kamu! Dimana kamu Bening?” gumam pangeran Abe malah cemburu.


Bening menamai kontak Tia dengan nama Si Comel.


Pangeran Abe yang gusar kehilangan Bening ditambah panggilan si Comel jadi emosi dan mematikan ponsel Bening.


“Ada apa Yang Mulia?” tanya Ares yang sudah bersama dengan Pangeran Abe lagi.


“Tidak apa- apa!” jawab Pangeran Abe.


“Kalau begitu, silahkan yang Mulia!” jawab Ares mempersilahkan Pangeran Abe masuk ke pesawat yang sudah terparkir di depanya.


Pangeran Abe pun memasukan ponsel butut Bening ke sakunya. Lalu berjalan tegap melewati tanah lapang yang terparkir satu helicopter mewah diikuti Ares dan dua pengawal lain.


Bernand dan Leon pun hanya berdiri di tepi privat bandara itu melepas kepergian Pangeran Abe.


Pangeran Abe dan yang lain menemukan petunjuk yang ditinggalkan Aille di rumah Bening. Pangeran Abe dan yang lain percaya, dalang dibalik hilangnya Bening adalah orang istana. Itu berarti orang istana sudah tahu kalau Pangeran Abe masih hidup.


Itu sebabnya Pangeran Abe mengubah rencana memberi kejutan pada Ayahanda dan keluarganya. Karena sudah ketahuan dia masih hidup, dia lebih baik datang dan menunjukan dirinya.


Meski begitu, Pangeran Abe akan tetap menyusun rencana bersandiwara lupa ingatan walau sebenarnya dirinya mulai ingat, Pangeran Abe juga akan melanjutkan pengobatan agar pulih semua ingatanya.


Untuk menemukan Bening, Pangeran Abe juga butuh uang dan kekuatan. Apalagi, dia yakin yang dihadapi, orang istana. Pangeran Abe pun berfikir harus melawanya sebagaii Pangeran Abe.


Yang pernah Daka temui saat Daka bersama Bening kan putri Camilia. Jadi Pangeran Abe yakin, Putri Camilia yang membawa Bening. Dia pun berniat akan menyelidiki Putri Camilia.


Saat ini, Pangeran Abe menggunakan pesawat pribadinya menuju ke kediamanya. Pavilliun Pangeran Abe saat bersama mendiang ibunya yang letaknya di pulau kecil yang privat di kelilingi laut.


Di sana, sudah menunggu seorang dokter syaraf juga orang kepercayaan Pangeran Abe. Setelah itu barulah Pangeran Abe menampakan dirinya ke keluarga besarnya.


****


Hai Kakak pembacaku.


Maap aku malu mau nyapa. Soalnya aku skrg upatenya nggak jelas. Aku jg bingung mau jelasin alasanya. Kalau nggak alamin ya nggak akan ngerti.


Tapi apapun itu, dukung aku terus ya. Doain Alloh kasih aku bisa tamatin..


Makasih yaaa.

__ADS_1


__ADS_2