
Tidak peduli layak atau tidak, bagaimana perasaan Bening dan Daka. Bu Damita hanya ingin membuat Naka membenci Bening dan melupakan Bening seperti mau Alika.
Bu Damita pun mendesak petugas desa untuk melangsungkan pernikahan Bening dan Daka malam itu juga. Petugas desa yang dihasut mau.
Bening yang diberi ancaman dipaksa menikah dengan Tuan Barri pun pasrah. Dan malam itu tali pernikahan itu diikatkan oleh ayah Bening ke Daka dan Bening.
Warga sekita kontrakan Bening sudah tua- tua dan tak banyak ambisi. Merasa sudah melaksanakan tugasnya dan menyelesaikan masalah karena ada orang tua Bening. Mereka pulang dan bubar.
Kini tinggal Orang tua Bening dan para pegawainya. Mereka pun ke rumah Bening.
"Hid bersama dengan Berandal ini pilihanmu kan Bening? Kita sudah memikirkan masa depanmu dengan Tuan Barri yang lebih baik Jadi jangan salahkan kami. Senang kan kamu?" ucap Bu Damita setelah semuanya selesai dengan bangga ke Bening yang membisu menahan amarah yang memuncak di dada.
Daka yang diperlakukan tidak sopan dan sedari tadi menahan pusing, kali ini hilang kesabaran mendengar dirinya direndahkan sebagai berandal. Daka kesal, Daka maju melindungi Bening dan langsung mencekik Bu Damita.
"Daka!" pekik Bening kaget lalu mencekal tangan Daka.
Begitu juga ayah Bening langsung menghardik Daka.
"Kurang ajaar kamu!" hardik Ayah Bening hendak memukul tapi terhenti mendengar istrinya terbatuk.
"Uhuk..uhukk...," Bu Damita yang terlepas dari cengkeraman Daka, langsung terbatuk memegangi lehernya. Ternyata tangan Daka sangat kuat, bahkan leher Bu Damita langsung merah.
Ayah Bening langsung memeriksa Bu Damita.
Bening pun maju menyuruh Daka mundur.
"Tante nggak apa-apa?" tanya Bening peduli.
__ADS_1
Bu Damita lalu menatap Bening sinis sambil memegang lehernya yang sesak.
"Hhh...sok peduli?"
"Kalian benar- benar bi Adap. Ibu sendiri hendak kalian bunuh!" omel Ayah Bening hendak memukul Daka.
Tapi oleh Bening dihadang. Bening tahu perasaan Daka karena Bening juga sangat gemas ke Bu Damita. Bedanya Daka lepas kendali dan Benijg masih sadar.
"Papah. Daka lepas kendali. Maafkan Daka! Ini sudah malam. Cukup Pah?" ucap Bening masih baik.
"Bening kamu apa-apan sih?" sahut Daka tidak terima Bening minta maaf.
"Diam kamu!"
"Dia memfitnah kita. Mengancam kita dan membuat kamu menikah denganku dengan cara tidak hormat. Dia tidak pantas diperlakukan dengan baik!" ucap Daka ke Bening membela diri.
Mendengar itu Bu Damita dan Ayah Bening yang merasa melakukan hal yang benar tidak terima.
"Ayah cukup!" pekik Bening sangat trauma kekerasam dan Bening langsung mencegah perkelahian
Daka memegangi pipinya yang pegal atas tonjokan ayah Bening.
Bening kemudian maju dan menatap ayah dan ibu tirinya.
"Pah!" ucap Bening dengan suara paraunya.
Ayah Bening tertegun melihat Bening. Bening melanjutkan perkataanya.
__ADS_1
"Bening nggak tahu. Kenapa Tante dan Papah malam- malam sampai kesini, tahu Daka ada disini dan melakukan semua ini. Bening beritahu Papah. Daka tinggal di rumah Bening sudah berhari- hari. Dia sungguh laki- laki yang hilang arah. Dan Demi Tuhan. Yang Papah dan Tante Damita tuduhkan tidak benar. Bening memang salah menampung Daka. Tapi Bening tidak melakukan yang Papah tuduhkan!" ucap Bening tetap mengupayakan menyelematkan nama baiknya.
"Heh...," Bu Damita hanya menyunggingkan senyum sinis. "Maling mana mau ngaku. Nggak tahu malu!" ucap Bu Damita.
Daka geram hendak maju tapi tangan bening langsung terulur mencegah.
"Sekarang keinginan Papah dan Tante buat nikahkan Bening sudah terlaksana kan? Tolong jangan buat keributan dan sakiti Bening lagi. Silahkan pergi dari sini Pah!" ucap Bening dengan mata berkaca- kaca terpaksa mengusir orang tuanya.
Bening mendengar dengan mata kepalanya sendiri. Perbincangan ayahnya dan ibu tirinya. Dia ingin Bening cepat menikah dan lepas tanggung jawab sebagai orang tua. Ya itu tujuan Bu Damita.
Bu Damita pun tersenyum sinis setelah diusir
"Lihatlah Pah. mereka mengusir kita dan ingin kembali bermesra!" ucap Bu Damita.
"Kurobek mulutmu. Perempuan jelek!" sahut Daka emosi.
"Daka tahan emosimu!"
"Dia menyebalkan sekali!" sahut Daka.
"Silahkan Pergi Tante!"
"Tanpa kamu suruh, aku memang mau pergi. Aku tidak bisa lama- lama di tempat menyeramkan seperti di sini. Apalagi berdekatan dengan berandal seperti dia?" ucap Bu Damita melirik Daka sangat benci.
Bening masih berdiri tegak tidak menoleh dan menahan sakit.
"Kalian sudah menikah. Ingat ya! Jangan repotkan kami!" ucap Bu Damita sembari bersiap pergi "Ayo Pah. Kita pulang. Tugas kita sudah selesai sebagai orang tua!" ucap Bu Damita.
__ADS_1
Ayah Bening pun berjalan melewati Bening.
"Papah malu dan menyesal jadi ayahmu?" ucap Papah Bening dengan jelas.