
“Whoa?” pekik Daka mendengar perkataan Bening.
Sebenarnya Daka senang dan merasa berhasil memancing Bening keluar. Daka tidak benar- benar ingin ke rumah Leon, tapi mendengar perkataan Bening, Daka jadi terhenyak dan ingin tahu.
“Ehm..,” dehem Bening merasa tidak nyaman mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. “Minggir aku mau lewat!” ucap Bening
‘”O o, ya maaf, silahkan!” jawab Daka belok kanan mempersilahkan Bening lewat, tapi terus mengikutinya.
“Katamu Leon tidak di situ lagi? Lantas kemana?” tanya Daka mengikuti Bening.
Bening duduk di kasur lantai tempat mereka tadi duduk, Daka pun ikut duduk juga, hanya saja mereka bertukar posisi.
“Iyah... Leon dimutasi ke kota!” jawab Bening.
“Oh..,” jawab Daka mengangguk. “Terus siapa yang tinggal di Mess sekarang?” tanya Daka kemudian.
“Bu Melli!”
“What? Perempuan?” pekik Daka lagi.
“Iyah, kenapa? Dia janda!”
“Mmm.. pantas kamu melarangku kesana!” ucap Daka lagi sambil menganggukan kepala seakan tahu memikirkan sesuatu.
Bening kemudian mengernyit mendadak kesal mendengar ucapan Daka juga ekspresinya, entah kenapa Bening jadi merasa tersinggung malu melarang Daka pergi.
“Pantas apa? Jangan GR ya... aku melarang bukan karena cemburu!” jawab Bening salah paham, dan malah membuka perasaannya sendiri tanpa dia sadari.
“Empt...,” Daka spontan langsung terkekeh, mendengar Bening mengucap kata cemburu, apalagi wajah Bening mendadak merah meski mulutnya manyun.
Daka kemudian menatap Bening intens dan mendekatkan wajahnya. Tentu saja hal itu membuat Bening semakin salah tingkah dan menjauhkan wajah serta badanya.
“Apaan sih?” gerutu Bening lirih.
“Aku bilang pantas kamu melarangku ke sana, sebab udah berganti orang, aku juga pasti diusir kan? Siapa juga yang ngira kamu cemburu!” ucap Daka kemudian.
“Ehm...,” dehem Bening lagi, jadi malu. Bening jadi memalingkan muka tidak berani menatap Daka.
Sementara Daka masih melirik Bening sembari menahan senyum dan menggerakan lidahnya mendorong bibirnya.
“Jangan- jangan beneran kamu cemburu ya?” tanya Daka menggoda Bening.
“Apaan sih? Enggak ya!” jawab Bening berkilah.
"Iya juga nggak apa- apa. Istri cemburu itu bagus!" goda Daka lagi.
Bening dibuat semakin keki dan wajahnya seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Ish...," desis Beniing.
Bening kemudian bangun tidak kuat lama- lama berdekatan dengan Daka. Tapi saat Bening bangun, Daka langsung meraih tangan Bening.
“Apa?” pekik Bening lagi.
“Aku minta maaf ya!” ucap Daka tulus.
“Ehm...,” Bening jadi gelagapan kalau ditatap Daka dengan mode serius dan tulus. Tubuh Bening mendadak panas dingin gemetaran.
“Aku minta maaf, seharusnya kamu nggak lihat..,” ucap Daka tapi terpotong.
Daka ingin Bening tidak canggung lagi gegara melihat si otong nongol.
“Sssstt... jangan bahas apapun lagi!” ucap Bening memotong dengan cepat. Bening sangat risih dan malu membahas tadi.
“Ehm... oke! Itu artinya kamu maafin aku kan?” tanya Daka lagi.
Bening yang sedang panas dingin jadi bingung menanggapi Daka. Hati Bening kan sedang berkecamuk tidak bisa dijelaskan.
Jika Bening memaafkan Daka dan berdamai, mereka akan kompak dan solid, apa itu artinya Bening rela mengakui keberadaan Daka sebagai suami. Jika iya, sebagai suami berarti kan memang Bening berhak melihat barang Daka.
“Ya!” jawab Bening singkat menghindar dari Daka karena malu. Bening tidak mau berfikir panjang dulu.
“Ya udah, makan yuk!” ajak Daka lagi, selalu mendekati Bening dengan berupaya mereka kembali santai dan akrab.
“Ayo!” jawab Bening.
Daka pun bangun, berniat ikut Bening menyiapkan makan, tapi Bening yang terlajur tahu kalau Daka on fire saat bersamanya, juga Bening masih bisa merasakan hawa panas jadi paranoid saat Daka ikut bangun.
“Mau kemana?” tanya Bening.
“Bantu kamu siapin makan malam!” jawab Daka enteng.
Bening menelan ludahnya dan jadi ingin melihat ke pangkal paha Daka lagi. Bening pub melirik ke bawah, walau malu – malu dan tidak ingin ketahuan Daka, bahkan segera memalingkan pandanganya. Mata Bening jadu gatal ingin terus memastikan on fire lagi atau tidak.
“Nggak usah, aku bisa sendiri” jawab Bening cepat karena masih paranoid.
“Beneran?” tanya Daka santai.
“Ya!” jawab Bening cepat.
Daka pun mengangguk senang, beban Daka sesuia pesan Leon untuk membantu Bening gugur. Daka pun memilih menonton tv.
Malam itu, mereka bedua kembali akur makan bersama. Bahkan sesekali mereka mengobrol tentang pekerjaan Daka.
“Kamu kerja apa?” tanya Bening.
__ADS_1
“Adalah... kenapa?” jawab Daka menyembunyikan.
“Ya penasaran aja!” jawab Bening.
“Pekerjaan kuli, modal tenaga, santai saja, aku akan kumpulkan uang buat kamu, sekarang memang tidak banyak, tapi nanti banyak!” jawab Daka sok- sokan hendak menjadi suami yang bertanggung jawab.
Bening hanya diam, gengsi mengutarakan perasaan, walau hatinya berdesir. Setelah makan habis, Bening pun membereskan, dan kembali lagi, Bening menolak dibantu Daka.
Bukanya tersinggung, Daka yang tidak tahu diri, dan percaya dirinya kelewatan justru memanfaatkan itu. Sebelum Bening mengunci pintu kamarnya, tanpa tahu malu apa takut, Daka langsung masuk ke kamar Bening dan rebahan.
Setelah selesai cuci piring, bening pun berniat istrirahat. Tentu saja dia kaget Daka ada di kamarnya.
“Siapa yang suruh tidur di sini?” bentak Bening ke Daka. Bening kan sedang mengindari Daka dan sudah berniat menghentikan acara tidur bersama.
Tapi Daka tetap tidak peduli dan ngotot..
“Kenapa memangnya? Kan sesuai perjanjian, batas kita ini. Aku suamimu, aku berhak tidur di sini!" jawab Daka.
Bening yang paranoid melihat ke celana Daka lagi. Kali ini Daka menangkap tatapan Bening. Yang tadinya si dia tidur, ditatap jadi tergugah, tapi tetap saja Daka pura- pura santai. Bahkan Daka pura- pura malu diliat, reflek tangan Daka menyentuh menutupi.
“Kenapa liatin ini lagi? Ish... me sum kamu ya?” tanya Daka spontan.
Bening jadi tambah malu. “Ye enak aja! Kamu kali yang me um, aku nggak mau terjadi sesuatu, kamu tidur di luar!” jawab Bening kemudian.
“Santai aja, tadi itu berdiri kan karena mandi, aku pandai menahan diri. Aku orang baik, tidak terjadi sesuatu!” jawab Daka merayu Bening.
“Yakin? Kan nggak ada yang tahu?”
“Ck. Ya.. yakinlah, kalaupun terjadi sesuatu kan nggak apa- apa kita suami istri! Kita juga udah lama kan tinggal bersama!” jawab Daka lagi memberi kode.
“Ish...,” desis Bening jadi canggung lagi. .
“Udah... nggak usah kebanyakan paranoid. Tidur- tidur, aku tidak akan melakukan hal seperti itu tanpa persetujuan!” tutur Daka lagi meyakinkan.
Walau sebenarnya, Daka sangat ingin bilang ke Bening ayo kita lalukan itu, memeluk Bening sebebasnya dan bertindak sebagaimana pasutri. Tapi Daka harus menahan dan menjaga emosi Bening.
Bening pun luluh dengan pengertian dari Daka. Bening mengijinkan Daka tidur di kasurnya lagi.
Mereka kemudian tidur berdampingan walau saling membelakangi dan berjarak.
“Bagaimana caranya agar hubungan ini jadi membaik dan berjalan seperti seharusnya? Dia istriku? Seharusnya aku berhak memeluknya?” gumam Daka dalam pejaman matanya memeluk bantal sangan ingin memeluk Bening.
“Hubungan macam apa yang aku jalani ini? Mau sampai kapan begini? Aku masih tidak percaya dia suamiku? Tapi dia suamiku. Aku harus bagaimana?”
Sementara Bening tidur miring ke kiri menggenggam tanganya sendiri juga berfikir.
Lalu mereka sama- sama memejamkan mata.
__ADS_1