Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Kejutan


__ADS_3

Matahari bersinar cerah, dedaunan hijau dengan ceria menampakan wajahnya. Kupu-kupu dan burung pun bermain riang, singgah dari ranting ke ranting, menjelajah dari pohon ke pohon sambil bernyanyi, di bersenandung ikut bersorak gembira. 


Sepasang suami istri pun tampak harmonis menyantap hidangan sarapan bersama. Walau hanya berlaukan sambal serta sayuran hasil memetik tanaman di pekarangan rumah, semua terasa nikmat.


"Kamu hari ini di rumah aja yah!" ucap Daka begitu selesai makan.


"Hoh?" pekik Bening menatap Daka. "Kenapa aku harus di rumah?"


"Haish... katamu kamu mau memulai produksi kerajinan kamu. Kamu sudah memilah sampah plastik yang bersih dan layak di daur ulang kan? Kamu buat di rumah saja. Hari ini jadwal setor sampah sisa pilihanmu dan ini tugasku. Kamu di rumah saja! Mulailah buat karya ajaibmu! Aku ingin liat, coba kamu bisa buat apa?" jawab Daka mengingatkan Bening.


Beberapa hari ini, Bening ingin menyeriusi niatnya, untuk mengolah limbah hasil Bu Maria dan suaminya mulung diolah menjadi kerajinan, baik pot bunga, atau bunga plastik yang pernah Bening pelajari selama sekolah.



"Oh!" jawab Bening mengerti. "He.. Ya..


Baiklah aku memang ingin buat di rumah. Aku juga malu kalau buat di depan Bu Maria. Aku lupa- lupa ingat cara buatnya. Hehe...," jawab Bening terkekeh.


Bening sebenarnya juga tidak begitu membidangi seni. Dia hanya pernah mendapatkan pendidikan tentang itu, jadi untuk berkreasi dia butuh ruang sendiri.


Melihat Bening terkekeh, Daka langsung gemas mengacak- acak kepala Bening acak.


"Bagus... kalau patuh begini kamu kan terlihat manis," puji Daka menggoda Bening.


"Ye...! Terus kalau nggak nurut nggak manis gitu?" tanya Bening langsung mendelik gemas dan kesal.


"Nggak... nggak! Kamu selalu manis!" jawab Daka segera bangun dan menghindar sebab dia tahu kalau lama- lama bisa lecet Daka dicubit Bening.


"Boong!" jawab Bening


"Beneran.. kamu manis. Udah aku berangkat ya!" ucap Daka buru- buru mau berangkat.


"Tunggu!" ucap Bening.


"Apa?" jawab Daka berhenti menoleh.


"Kamu pulang jam berapa? Jangan jajan. Bawa bekel aja!" ucap Bening mulai keluar sifat pelit dan perhitunganya.


"Yaya... siapkan! cepat!" jawab Daka.


Bening pun masuk dan mengambil makanananya.


"Makasih ya sayang.. aku berangkat ya. Cup!" jawab Daka berpamitan sembari mengecup kening Bening.


Bening pun berdiri pasrah melepas Daka.


Sementara Daka berjalan mengambil sepedanya sembari terus menoleh ke Bening dan tersenyum.


Sayangnya Bening tampak berfikir.


"Daaah...mmwah!" pamit Daka untuk yang terakhir masih sambil melambaikan tangan.


"Tunggu!" ucap Bening lagi.


"Apalagi sih? Aku pergi kerja sayang. Nanti balik lagi!" jawab Daka berhenti, dan menatap Bening tajam dan hangat, Daka merasa aneh melihat gelagat Bening.


"Ponsel bawa kamu aja. Siapa tahu kamu butuh!" ucap Bening kemudian dengan suara lembut dan lirihnya.


"Yakin? Terus kamu gimana?"


"Sebenarnya aku masih punya satu lagi. Mati sih emang, nanti aku bawa aku ke konter ku benerin! Semoga masih bisa dipakai," jawab Bening, dan merogoh sakunya memberikan ponselnya ke Daka.


Mendengar penjelasan Bening Daka pun tersenyum dan mengangguk.


"Oke kalau begitu. Aku bawa. Maafin aku ya. Uangku belum cukup untuk beli lagi!" jawab Daka menerima ponsel Bening.


"Nggak apa- apa!" jawab Bening.


"Ya udah, aku bawa! Aku berangkat ya! Daah!" pamit Daka terakhir kalinya sembari melambaikan tangan.


Bening pun mengangguk tersenyum dan membalas lambaian tangan Daka. Berdiri di teras mengantar Daka dengan senyumnya, menatap Daka sampai Daka tak terlihat dalam pandangan Bening.

__ADS_1


Setelah Daka pergi, Bening kembali ke dalam rumah. Sebagai istri Bening membereskan sisa makan dan merapihkan rumah, setelah rapih, Bening kembali mengingat keterampilan yang diajarkan gurunya dan hasil karya yang pernah dia liat.


Membuat bunga- bunga plastik, pot, tas juga hiasan dinding dari sampah yang dia bawa pulang dari rumah Bu Maria.


"Dari yang simple dulu deh!" gumam Bening sudah menyiapkan lilin, lem, penggaris pola dan gunting, Bening ingin membuat yang menurut Bening ringan membuat Bunga.


Bening pun dibuat fokus terhadap bahan- bahan yang ada di depanya. Sayangnya sudah hampir satu jam, bunga yang ada di bayangan Bening tak kunjung jadi dan justru berantakan.


"Aiih... kenapa gagal sih...hiish!" gerutu Bening kesal sembari garuk- garuk kepala.



Seharusnya kalau ada ponsel Bening mau melihat lagi tutorial di youtube. Tapi ponsel Bening sudah diberikan ke Daka.


"Hhh...," Bening pun hanya menghela nafasnya.


Lalu mencoba membuat yang lain, sayangnya tetap tak seindah harapanya.


"Kenapa aku lupa caranya sih? dulu Aku bisa!" gerutu Bening lagi.


Bening pun menenangkan pikiranya ternyata masih ada bahan yang kurang. Akhirnya Bening menyerah dan berfikir belanja dulu ke kota.


"Sepertinya aku harus segera benerin ni hp!" gumam Bening.


Bening pun memutuskan berangkat ke kota walau harus jalan kaki dan ikut angkutan desa. Bening bertekad membetulkan ponselnya juga agar matang belajar dan belanja.


"Bisa dibenerin Pak?" tanya Bening di tukang reparasi ponsel.


"Tunggu sebentar ya Mbak!" jawab tukang reparasi.


Bening mengangguk dan memilih menunggu di depan toko. Bening duduk tenang menunggu sembari melihat lalu lalang orang dan jalanan. Akan tetapi tiba- tiba Bening tersentak akan datangnya seseorang.


"Ini dia...anak nggak tahu diri!" ucap seseorang mengagetkan Bening.


"Tante!" pekik Bening kaget.


Ibu tirinya dan adik tirinya tampak berjalan beriringan membawa barang belanjaan banyak.


"Apa maksud tante?" tanya Bening tidak mengerti. Apa maksud Bu Damita tiba- tiba tanya Dompet.


Bu Damita dan Alika pun tersenyum sinis.


"Hah...nggak usah sok polos kamu. Balikin dompetku!" ucap Bu Damita lagi.


"Dompet apa? Aku tidak mengerti!" jawab Bening.


"Hallah. Kamu kan istrinya. Kamu pasti udah nikmatin uangku dari hasil nyopeet suamimu yang berandal itu kan? Sok sokaan nggak tahu lagi!" tuduh Bu Damita sadis.


"Nyopet?" pekik Bening tergagap. Bening masih tidak mengerti, Bening melihat sekeliling, rupanya banyak orang yang memperhatikan mereka.


"Ya... jangan bilang kamu nggak tahu ya? Karena aku nggak percaya!" jawab Bu Damita.


Bening yang menyadari jadi tontonan, mengambil nafasnya agar tidak emosi dan menatap Bu Damita berani.


"Aku nggak ngerti dengan apa yang tante omongin. Tante nglindur apa gimana sih? Aku tidak pernah mencopet dan suamiku pun tidak!" jawab Bening berusaha tenang.


"Aku tahu kamu udah nggak kerja kan? Suamimu juga nggak kerja kan? Uang dari mana kamu bisa bertahan hidup dan mau beli hape? nggak usah ngelak. Ngaku aja. Sook uangnya kamu ambil tapi balikin dompet mamah!" tuduh Alika mengimbuhi melihat di bawah Bening ada keresek belanjaan dan Bening ada di toko hp.


Alika dan Bu Damita mengira Bening juga habis belanja seperti dirinya dan mereka tidak terima jika hidup Bening lebih baik.


Orang- orang di sekeliling Bening yang berkeliling menonton mereka dan mulai mencibir Bening. Bening pun semakin tidak terima.


"Dengar Tante. Alika. Suamiku tidak mencopet, aku belanja dengan uangku dan kami bekerja!" jawab Bening tegas membela suaminya.


"Masa?" tanya Alika mengejek.


"Kalau memang suamimu bekerja? Kerja apa emang? Nyopet kan?" imbuh Bu Damita semakin menjadi.


Ditanya apa pekerjaan Bening dan suaminya, Bening sedikit tergagap. Akan tetap Bening tidak mau kalah. Bening pun tetap menjawab.


"Tante cukup ya! Kalian sudah merebut papah, menyingkirkan mamahku. Dan rebut semua yang aku punya. Aku biarkan kalian. Aku sudah tidak pernah mengganggu kalian. Kenapa sih kalian masih saja usilin hidupku. Apa buktinya Tante ngatain suamiku pencopet. Suamiku bekerja kami berdagang! Itu juga kalian liat kan?" jawab Bening membela diri.

__ADS_1


Bu Damita tersenyum lagi.


"Aku dan Sis Lisa sama- sama kehilangan dompet di waktu yang sama setelah bertemu dengan suamimu. Apa itu kebetulan? Hah? Mana uangku dan barang- barangku kembalikan!" jawab Bu Damita ngotot.


"Suamiku tidak mencopet!" jawab Bening bersikeras membantah.


"Masih nggak ngaku juga! Nggak usah pura- pura nggak tahu, paling juga kalian kerja sama kan? Jangan- jangan kamu di sini juga lagi cari mangsa!" cibir Alika.


"Jaga ucapanmu Alika! Aku bukan pencopet! Suamiku bukan pencopet!" jawab Bening lagi setengah berteriak.


"Maling mana ada mau ngaku!" tuduh Bu Damita terus memojokan Bening.


Sehingga orang- orang memandang kini memandang sinis Bening.


"Terserah kalian mau ngomong apa. Tapi aku bukan pencopet!" jawab Bening.


Bu Damita semakin ingin mempermalukan Bening. Bu Damita justru sengaja berbicara lantang ke semua pengunjung toko dan karyawan toko.


"Bapak- bapak ibu ibu, Mas Mbak. Hati- hati ya! Dijaga barang bawaan anda semua kalau dekat- dekat dengan perempuan ini. Dia ini istri pencopet!" ucap Bu Damita.


"Tante cukup. Tutup mulutmu Tante!" ucap Bening kini berteriak melawan.


Sayangnya orang- orang percaya kata Bu Damita dan mencibir. Mereka ketakutan, mereka memeriksa dan menjaga barang- barang mereka takut dicopet Bening.


Bening yang dipermalukan merasa risih dan segera ingin mengambil ponselnya. Sayangnya orang- orang masih mencurigai Bening dan mencegah Bening pergi.


"Coba diperiksa tasnya siapa tahu isinya barang copetan!" celetuk salah seorang pengunjung.


"Aku bukan pencopet suamiku juga bukan pencopet! Di tasku tidak ada apapun!" jawab Bening berdiri tegak tetap membela diri, walau matanya berkaca- kaca dan hatinya terbakar.


Tapi orang- orang sudah termakan provokasi Bu Damita mereka mendekat dan bersikap kasar ke Bening memaksa mengambil tas Bening untuk diperiksa.


Bening pun tidak terima, dan mempertahankan tasnya.


"Kalian apa-apaan sih?" teriak Bening melawan


"Periksa!" ucap seseorang memaksa.


Akhirnya Bening pun mengalah memberikan tasnya untuk diperiksa.


Bening dipermalukan di depan umum dengan semua menatapnya penuh curiga. Untungnya Bening tidak membawa apapun karena dia hanya membawa uang pas dan sudah dia gunakan untuk belanja.


"Tidak ada barang kalian kan?" ucap Bening dengan berani memperhatikan setiap orang yang menuduhnya.


Meski Bening tidak terbukti bersalah. Mereka tetap tidak mau meminta maaf dan tetap mencibir Bening. Bahkan melempar tas Bening begitu saja.


"Belum dapat mangsa kali! Untunglah! Hati- hati suruh dia pergi!" cibir orang- orang ke Bening sembari pergi memegangi tasnya seakan Bening hendak mencuri isinya.


Terhadap orang yang tak dikenal Bening tidak menjawab. Bening memilih menahan diri dan merapihkan tas serta barang belanjaanya. Bening kemudian mendekat dan menatap Bu Damita dan Alika tajam.


"Puas kalian? Beginikah prestasi kalian, kalian bahagia melihatku dipermalukan? Aku bersumpah kalian akan menyesal memperlakukan aku begini! Aku bukan pencopet!" ucap Bening masih berdiri tegak menatap Bu Damita dan Alika dengan mata nanar.


Bu Damita dan Alika tidak bergeming. Bening berjalan meninggalkan konter hape itu.


Bu Damita dan Alika hanya tersenyum masam, lalu mereka memilih- milih ponsel hendak membeli ponsel baru.


Walau di depan orang- orang Bening tegar sesampainya di bus, Bening menitikan air matanya.


Bening sesenggukan sendirian sembari menatap jalanan mengurai sesak yang mendesak memenuhi dadanya. Tetes demi tetes air mata yang keluar dia seka dengan tangan lembutnya. Dia yakin kelak air mata itu akan terbayar walau dia tak tahu entah kapan.


"Tuhan kenapa engkau beri aku cobaan seperti ini? Apa iya Daka mencuri? Tidak, aku yakin Daka pria yang baik? Aku percaya dia? Dia dapat uang dari hasil barangnya kan? Dia tidak mencuri!" batin Bening meneguhkan hatinya mempercayai pria yang sudah ia nikahi dan menjadi tempat dia menjatuhkan hatinya.


Ya, walau Bening tidak tahu apa yang terjadi, Bening harus membela suaminya dan mempercayainya. Hanya tinggal Daka teman Bening. Hanya tinggal Daka tempatnya menaruh harapan.


Tidak berapa lama Bening sampai di jalan menuju ke rumahnya, Bening pun menyewa ojek.


"Siapa mereka?" gumam Bening tercekat begitu sampai di rumah. Bening kembali dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan.


Dua mobil besar dan mengkilap terparkir di rumahnya, bahkan masuk ke pekarangan kosong di dekat rumah Bening karena halaman rumah Bening sempit.


"Ada apa ini?" gumam Bening berjalan gemetar menghampiri tamu nya.

__ADS_1


Beberapa laki- laki tinggi berjas rapi berdiri di depan rumah Bening seperti penjaga.


__ADS_2