
Bukanya memarkir mengarahkan Para pengunjung museum, Daka yang tidak tahu cara kerja tukang parkir malah memeriksa setiap kendaraan dan mencari uang yang tergeletak.
"Katanya kalau aku markirin kendaraan ini aku akan dapat uang? Mana uangnya. Dasar gadis galak dan kerempeng!" umpat Daka dalam hati memindah- mindahkan motor yang terparkir tapi tak menemukan uang.
Bukanya rapih. Parkiranya malah berantakan. Tukang parkir asli kemudian mendekat dan marah ke Daka.
"Heh...Mas. Lagi apa?" tanya Tukang parkir.
Daka yang dari sononya sudah berwajah angkuh beridir menoleh ke tukang parkir.
"Aku lagi cari uang!" tanya Daka jujur.
"Dompetmu jatuh? Maksudnya memang kamu markirin motor dimana? Kok sampai berantakin parkiran begini?" omel Tukang parkir lagi.
"Haisshh...," Daka malah jadi pusing sendiri harus jawab apa. "Kata temanku. Kalau aku markirin di sini aku dapat uang!" jawab Daka lagi dengan polosnya
Tentu saja tukang parkir resmi langsung melotot merasa tersaingi tapi juga heran, Daka tampak muda gagah dan normal tapi kenapa untuk dapat uang harus berantakin motor.
"Siapa yang bilang begitu?"
"Perempuan galak itu?" jawab Daka lagi..
"Perempuan galak?" tanya tukang Parkir bingung.
"Yang bekerja di dalam!" jawab Daka lagi memberitahu.
Tukang parkir pun memutar bola matnya berfikir. Pegawai museum kan cantik- cantik semua dan nggak ada yang galak.
"Siapa namanya yang jelas?"
"Orang- orang memanggilnya Bening?"
"Oh mbak Bening? Sembarangan kamu ngatain Mbak Bening galak? Dia pegawai paling manis dan ramah di sini!" omel tukang parkir tidak terima Bening dikatai perempuan galak.
Bening adalah pegawai yang masih wiyata, menyadari dia pegawai rendahan, bekerja di museum sebagai pelarian, Bening ramah ke semua pekerja di museum itu apalagi yang gajinya masih senasib dengan dia, termasuk tukang parkir dan tukang kebersihan.
"Dia? Ramah katamu?" tanya Daka heran dan mencebik.
__ADS_1
Tukang parkir jadi menatap heran ke tukang Daka. Sepertinya yang salah memang Daka, aneh, tampangnya memang ganteng tapi terlihat miskin heranya bersikap angkuh.
"Wajar sih kalau Mbak Bening galak ke kamu. Kamu kurang ajar. Bereskan motor- motor ini!"
"Nggak mau. Capek!" jawab Daka seenaknya.
Tukang parkir jadi tambah marah ke Daka.
"Waah. Kamu memang berandal kurang ajar. Parkiran sebelumnya rapih, kalau berantakan begini orang nggak bisa lewat. Rapihkan!"
"Aku belum dapat uang!" jawab Daka lagi
"Ck...," tukang parkir jadi geram. "Ya sudah kalau memang kamu temanya Mbak Bening tunggu di sini!" ucap Tukang parkir kemudian mengadu ke Bening.
Bening yang dilapori tukang parkir langsung syok.
"Astaga.. Daka. Buat masalah apalagi kamu?" geram Bening buru- buru menyerahkan pekerjaan ke temanya.
Bening pun segera mengikuti Tukang parkir. Begitu sampai parkiran, Bening langsung menelan ludahnya dan memegangi Dadanya agar jantungnya tidak meledak. Bahkan kepala Bening mengeluarkan asap.
Daka malah terlihat duduk santai di bangku bawah pohon.
"Dakaaaa!" teriak Bening geram.
Daka langsung menoleh.
"Hai... sudah selesai pekerjaanmu? Kamu bohong ya ke aku? Aku sudah ke parkiran ini memarkir semua kendaraan. Tapi nggak dapaat uang!" ucap Daka malah mengomel
Bening pun hanya bisa menghela nafasnya. Geramnya sangat mendesaknya untuk mengeluarkan bom emosi.
"Hoooh... benar- benar ya!" cibir Bening mengembungkan pipinya. Bening menoleh ke tukang parkir dan minta maaf.
Bening lalu mendekat ke Daka dan menginjak kaki Daka.
"Ih.. nih rasain!"
"Ou_hh" keluh Daka langsung mengangkat kakinya kesakitan dan mendelik ke Bening. "Apa- apaan sih kamu?"
__ADS_1
"Rapihkan motor- motor ini cepat!"
"Rapihkan seperti semula! Cara jadi tukang parkir bukan begini..Tuh liat!" ucap Bening menunjuk tukang parkir yang sedang bantu pengunjung pakai mobil dan keluar museum..
Daka menoley dan memoerhatikan sampai tukang oarkir dilempari uang 5 ribuan.
"Hhh....," Daka hanya mencebik.
"Ngerri kan sekarang? Cepat bereskan!" omel Bening.
Daka mau tidak mau menuntun motor yang dia cari uangnua lagi. Daka pun memperhatikan Daka dengan gemas. Saat dengan polosnya Daka mematuhi Bening menuntun satu per satu motornya dan menatanya lagi.
"Dia sebernarnya bodoh apa gimana sih? Masa kerjaan tukang parkir aja nggak ngerti? Dia sangat menyebalkan dan merepotkan. Tapi terkadang dia terlihat baik. Hah pusing aku kedapetan beban hidup kayak kamu. Tapi kasian juga kalau aku usir dia dalam keadaan begini?" gumam Bening dalam hati.
Akhirnya karena memikirkan Daka, Bening memutuskan ijin kerja pulang cepat. Bening pun segera mengajak Daka ke rumah sakit.
"Kamu nggak apa- apa ijin kerja?" tanya Daka lagi.
"Nggak usah banyak tanya. Kan memang aku mau temuin temanku?"
"Tapi katamu kan masih nanti. Nggak apa- apa aku oeriksa sendiri atau lain kali sampai uangku banyak!" jawab Daka sok dewas.
Membahas uang Bening langsung mendelik.
"Uangmu banyak? Emang kamu punya apalagi yang bisa kamu jual? Hah kerja aja nggak bisa? Udah yang penting kamu harus lakukan oemeriksaan seperti yang doktee minta!"
"Tapi mahal!"
"Aku yang bayar!"
"Aku khawatir ke kamu!"
"Haduh! Kalau kamu khawatir ke aku. Cepatlah sembuh, kembalikan ingatanmu dan pulanglah ke keluargamu!" omel Bening lagi.
Daka langsung diam dan melempem.
"Kali ini aku nggak akan ninggalin kamu periksa sendiri. Aku mau dengarkan tentang sakitmu!" omel.Bening lagi.
__ADS_1
Daka hanya diam.