Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Bekerja


__ADS_3

“Ingat kataku, meski kamu suamiku, selama kamu belum ingat identitasmu, jangan menuntut apapun! Tidak boleh kontak fisik!” tutur Bening dengan mode galak memberi peringatan.


“Hmm... ya!” jawab Daka. 


Setelah merasa sudah cukup memberitahu dan disepakati beberapa aturan, Bening masuk ke kamar. Daka pun dengan percaya diri ikut bangun dan mengikuti Bening. 


“Haisssh..,” desis Bening menoleh dengan gemas. “Kenapa  ikut?” 


“Ya kan aku suami kamu, aku juga mau tidur di kasur yang empuk!” jawab Daka dengan percaya diri. 


“Ck...,” decak Bening kesal. “Kan aku bilang, meski kita sudah menikah di hadapan Tuhan dan orang tuaku, tapi aku tidak mencintaimu dan kamu juga belum tahu identitasmu, barangkali kamu sudah beristri. Nggak jangan tidur di sini!” 


“Apa kamu tidak kasihan denganku? Apapun itu, di hadapan Tuhan aku suamimu, kamu harus memperlakukan aku dengan baik, aku sakit dan kedinginan. Perjanjian kita kan aku tidak akan menuntut hak fisikku, aku tidak akan menyentuhmu santai aja!” ucap Daka merayu. 


“Aku ralat aturanya!” jawab Bening beralasan lagi. 


Sayangnya Daka yang sudah mengantuk nekad melangkah mendahului Bening dan langsung merebahkan diri di kasur Bening tanpa memberi kesempatan Bening verkilah


“Ih...,” desis Bening gemas. 

__ADS_1


“Aku tidak akan menyentuhmu santai saja. Aku suamimu, kamar ini kan juga sekarang jadi hakku, aku mau tidur, sudah jangan berdebat terus!” ucap Daka sembari menahan kantuk dan menengkurapkan badanya ingin segera tidur. 


“Hhh...,” Bening pun hanya bisa menghela nafasnya. Walau bagaimanapun, Bening takut akan Tuhanya, Bening juga sudah tidak tahu bagaimana cara mengusir Daka. Akhirnya Bening memperbolehkan Daka tidur di sampingnya namun berbatas guling. 


****


Hari pun terus berus berganti. Walau hatinya masih enggan disentuh Daka, dan masih tidak mau menerima Daka sebagai suaminya, namun Bening berdamai dengan Daka. Hati bening yang lembut selalu merasa kasihan ke Daka. Mereka pun semakin dekat dan akrab. 


Sementara Daka yang sudah tumbuh benih cinta pun setiap hari terus berusaha menyenangkan Bening dnegan membantu pekerjaan rumah juga mengikuti mau Bening. 


Mereka semakin kompak bekerja sama dalam pekerjaan rumah dan mencari makanan. 


“Aku antar kamu ya!” ucap Daka tiba- tiba. 


“Kenapa?” 


“Aku nggak mau ditanyai banyak sama temanku, sampai saat ini hanya Leon yang tahu kita menikah!” 


“Hem... tapi aku mau pinjam sepedamu lagi!” jawab Daka. 

__ADS_1


“Kaya nggak biasanya!” jawab Bening. 


Sudah beberapa hari ini, Bening jalan kaki berangkat ke museum karena sepedanya oleh Daka dibawa ke kota dengan alasan kerja. Padahal Daka tidak bekerja, dia hanya berkeliling di tempat Alika latian. Daka merasa tidak asing dengan tempat itu, sayangnya Daka masih belum mengingat. Daka jadi seperti preman yang setiap hari mengintai aktivitas di sekitar balai istana. 


“Tapi aku kasian kalau kamu jalan kaki!” ucap Daka. 


“Kalau kamu kasian, ya udah sana pergi kerja, cari duit yang banyak dan segeralah beli sepeda!” jawab Bening ketus. 


“Ya sudah aku jalan kaki saja. Silahkan kamu yang make sepedanya!” jawab Daka akhirnya mengalah. 


“Eits jangan, karywan baru nggak boleh telat. Tempat kerjaku kan deket sok pakai aja!” ucap Bening lagi. 


Daka hanya diam berfikir, Walau selalu beralasan karena uang, Bening juga marah- marah suka gengsi dan jual mahal ke Daka, tapi sejak awal sikap Bening selalu perhatian dan baik ke Daka. Termasuk Bening mengalah jalan kaki. 


“Yaya. Tapi bener kamu nggak capek?"


"Nggak. daah aku berangkat ya! Kunci pintunya baik- baik!" ucap Bening pamitan.


Daka mengangguk, Daka pun diam berfikir, dia selalu menggubakan sepeda Bening, mengorbankan jalan kaki beralasan bekerja padahal tidak. Daka berusaha mengingat tapi tidak ada hasil.

__ADS_1


"Sepertinya aku memang harus mencari pekerjaan sungguhan agar Bening tidak menderita," gumam Daka.


Daka kemudian menhambil jaketnya dan hendak serius mencari kerja.


__ADS_2