
Embun pagi yang jernih tampak berkilauan, menggantung, menghiasi sebagian ujung dedauan, saat pancaran sinar sang surya menyapa dan menyentuhnya. Dedaunan hijau yang lain jua tampak berseri menebarkan kesejukan, berpadu dengan hangatnya mentari pagi.
Daka menikmatinya dengan hati yang gembira, walau tidak dia luapkan dengan tertawa, wajahnya tetap saja, terbingkai dalam raut yang dingin. Daka hanya membungkus kebahagiaanya dalam asa di setiap langkahnya, berjalan cepat tanpa lelah.
Ayam yang berkokok, seperti alunan lagu yang mengantar langkah Daka berjalan kaki menuju rumah Leon, dengan penuh harap mendapat pertolongan.
Saat pergi bersama Leon tempo hari, Leon kan ajak Daka jalan- jalan menjual cincin dengan motor, Daka juga lihat ada sepeda di rumah sempit Leon. Daka yakin Leon akan meminjamkan salah satunya.
“Thok... thok...,” Daka mengetuk pintu rumah dinas Leon.
“Ya bentar!” jawab seseorang menuju ke arah pintu.
Walau hanya beberapa kali bertemu, Daka hafal suara Leon. Saat Daka diajak ke rumah Leon tempo hari, Leon sendirian. Daka jadi berfikir siapa yang di dalam menemani Leon, mendadak Daka jadi panik.
“Klek..,” pintu dibuka, benar saja, bukan Leon yang membukakan pintu.
Pria berkaos pendek dengan celana kolor, menggantungkan handuk di lehernya, tubuhnya lebih kerempeng dan berkumis, juga sedikit lebih tua. Berbeda dengan Leon yang badanya hampir sama tingginya dengan Daka tapi lebih berotor dan lebih besar.
“Pagi!” Sapa Daka singkat hanya sedikit menarik ujung bibirnya. Selain dilanda was- was dan kecewa bukan Leon yang keluar, Daka kan memang susah berbosa- basi ramah.
“Pagi. Siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?” jawab Pria itu menatap Daka.
“Saya mau ketemu Leon!” jawab Daka.
“Oh ya... tunggu sebentar!” jawab Pria itu.
Daka mengangguk lalu menunggu di teras, tidak berpa lama, aroma parfum dunhill blue menyeruak masuk ke indra Daka, Daka hafal ini adalah bau pria yang memberinya nama.
“Woy... ngapain di sini? Ganteng banget udah rapi?” tanya Leon sok akrab menyapa.
Daka yang sudah menyadari kedatangan Leon sejak Leon belum sampai hanya menoleh tanpa ekspresi.
“Aku mau pinjam sepeda!” jawab Daka tanpa bosa basi.
“Sepeda? Mau kemana?” tanya Leon kaget.
“Mau ke kota!”
“Ngapain?”
“Kepo!”
“Haish.. mau dipinjemin nggak nih! Meminjam harus ada alasanya. Apalagi kamu tidak punya KtP bahaya!” jawab Leon kesal.
“Ya ya!... aku mau beli sesuatu! Pelit amat” jawab Daka singkat merasa dilecehkan sebagai orang tanpa identitas.
"Beli apa?"
__ADS_1
"Kamu laki- laki kebapa bawel?"
"Maksudnya kamu punya uang nggak!"
"Ck. Punyalah!" jawab Daka percaya diri. Uang Bu Damita kan masih ada..
“Yaya oke!” jawab Leon.
Leon yang tahu waktu itu Daka menjual perhiasan dan punya uang, mengangguk iya- iya aja. Dan di saat itu pula, memory Leon jadi terhubung dengan cerita temanya tentang cincin. Leon langsuny memakaa otaknya mengingat.
“Ya udah mana sepedanya?” tanya Daka tidak suka bosa basi.
Leon yang sedang fokus tidak merespon.
“Ck!” jawab Daka hanya berdecak dan menggaruk pelipisnya. "Ternayta kau memang saudara yang payah?" cibir Daka menganggap Leon pelit.
“Hah iya, aku sekarang ingat!” celetuk Leon tiba- tiba malah mengagetkan Daka
Wajah Leon mendadak berbinar menatap Daka.
“Apa?” tanya Daka lagi.
“Oh iya Dak... aku mau tanya!”
“Apa?”
“Kamu kemarin jual cincin dengan batu dan berukir kan?” tanya Leon memastikan .
“Kamu masih ingat nggak pola ukiran di cincinmu? Bentuk batunya juga!”
“Ngapain diingat ingat, udah dijual ya sudah!” jawab Daka
“Aku dengar kamu dan Bening sedang berusaha obati ingatanmu kan? Cincin itu bisa jawab semua itu, aku ingin pastikan, yang aku lihat itu sama apa beda!” celetuk Leon lagi sangat bersemangat.
Daka yang mendengarnya jadi bingung.
“Ck... beda apanya sama apanya, sudah mana sepedanya! Kalau boleh kupKai kalo nggak ya sudah!” jawab Daka malas membahas.
“Tunggu... tunggu...,” ucap Leon lalu buru- buru masuk ke rumah, Leon mengambil pensil dan kertas, lalu menyodorkan ke Daka.
“Apa ini?” tanya Daka cuek dan enggan.
“Ayo, gambar ukiran cincinmu! Kamu pasti ingat! Kan menempel di tubuhmu dan punyamu!”
“Ck. Apa- apaan sih? Kurang kerjaan. Cinncin begitu kan banyak!”
“Bukan itu? Aku harus pastikan logo itu sama tidak dengan logo bendera dan kain itu! Ini akan spektakuler,!” jawab Leon lagi sangat bersemangat.
__ADS_1
“Ck!” Daka malah menampik kertas itu. “Boleh nggak nih aku pinjam sepedanya! Malah bahas cincin yang udah nggak ada!”
“Tali ni penting. Gue dikasih bocoran sama temanku, pola ukir yang dicincin kamu, itu sandi dan pola ukir keluarga bangsawan, raja malah, tapi kan Putri, Ibu ratu perempuan semua. Kayaknya bukan, tapi siapa tahu kamu bangsawan?
“Haish...,” desis Daka lagi tidak tertarik bahas sesuatu yang sudah Daka lupakan.
Daka malah bangun dari duduknya kesal ke Daka. “Banyak ngehalu kamu. Boleh nggak nih?” tanya Daka.
“Yaya sabar!” jawab Leon menelan ludahnya, Daka ternyata tidak kooperatif. “Tapi kita selfi dulu ya...,” ucap Leon lagi.
“Apa sih?” desis Daka risih.
Leon buru- buru mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera selfi ke dia dan Daka untuk mendapatkan wajah Leon.
“Oke... kamu mau kemana? Aku antar!” ucap Leon mendadak baik ke Daka.
Daka pun mengernyitkan mata jadi tidak nyaman.
“Malas, nggak usah sok baik, aku ingin sendiri!”jawab Daka.
“Haish..,” desis Leon kesal. “Jangan GR aku memang mau ke kota, aku dipanggil ke dinas, kayaknya aku mau dimutasi!” jawab Leon.
“Oh... oke, kebetulan sepeda Bening masih di penitipan, aku ikut kamu!” jawab Daka, ternyata Daka datang ke orang tepat, tapi Daka tidak ingin Leon ikut denganya.
Leon pun setuju, mereka pun berangkat bersama. Bahkan sesampainya di kota mereka menyempatkan sarapan. Daka pun cerita kalau semalam dia dinikahkan dengan Bening.
“Woah!” pekik Leon langsung melotot.
“Semalam kamu kemana? Katanya saudara, kamu eharusnya datang dan menjelaskan ke orang tua Bening!” jawab Daka lagi.
Leon yang masih syok segera mennelan makananya mengambil segelas air lalu mengambil jeda nafas.
“Jadi kamu sekarang suaminya Bening? Wah tante Mita memang nekat. Eit tapi. Bagus dong kalau gitu,” ucap Leon malah mendukung Daka.
Daka hanya dia sembari mengulum lidahnya sendiri. Daka menyeruput minumanya dengan menyembunyikan ekspresi senangnya. Daka memang gengsi menampakan ekspresinya.
“Kamu saudaranya kan? Ceritakan tentang orang tua Bening!” ucap Daka.
Leon pun menceritakan semuanya, tentang ayah Bening yang diam- diam menikah dengan orang lain di saat Ibu Bening sakit, kelakuan ibu tiri Bening, juga rivalitas Bening dan Alika mengenai Naka.
“Aku kasian ke Bening, cintanya bertepuk sebelah tangan, dia mendem perasaan sejak SMA, Naka nggak pernah peka, gue sih berharap Bening lupain Naka!” ucap Leon.
Daka hanya menyimak dan mengangguk. Tiba- tiba ponsel Leon berbunyi, Leon segera memeriksanya, ternyata jadwal acara Leon sebentar lagi.
Leon pun pamit ke Daka.
Daka mengangguk membiarkan Leon pergi.
__ADS_1
Sebenarnya Daka pergi bukan untuk cari pekerjaan, tapi saat di mobil menunggu Bening kemarin, Daka melihat mobil yang lewat seperti ada dalam mimpinya, juga jalanan di depan rumah Naka seperti tidak asing bagi Daka.
Daka menolak menggambar pola ukirnya, bukan karena dia tidak ingat dan tidak tertarik. Daka berfikir jika benar dia bangsawan, ada orang yang ingi membunuh Daka. Daka ingin bersembunyi sampai dia sendiri mengetahui identitasnya.