Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Tanda Lahir Pangeran Abe.


__ADS_3

“Aileee...,” pekik Camillia sampai tidak menyebut nama kehormatan sebagai Putri dan menyingkirkan tangan Aille yang ikut menyentuh setir mobil Camillia.


“Seeet...,” mobil mereka pun langsung dibelokan cepat dan dilajukan cepat.


“Apaan sih?” omel Aille kesal.


Camillia kemudian mengambil nafasnya menahan sabar menghadapi gadis remaja yang masih abg dan emosional di sampingnya itu.


“Maaf, Putri...,” ucap Camillia.


Sementara Putri Aille tampak manyun dan kesal.


“Tidak begini caranya kalau kesal ke perempuan itu!” ucap Camilia sambil melihat ke Spion.


“Tapi aku tidak tahan melihat Kak Abe bersama perempuan murahan itu!” jawab Aille membela diri.


“Ya... aku pun tidak, Putri. Tapi kalau begini, kamu juga bisa mencelakai Pangeran Abe!” jawab Camilia memelankan mobil sambil tetap melihat ke belakang dari spion.


“Hhh... Kak Abe juga ngapain sih, harus lari segala!” gerutu Aille.


Mereka berdua berhasil membuntuti bus Daka dan Bening, hingga saat Bening menunggu Daka mengambil sepeda, Putri Aille gemas dan ingin mencelakai Bening.


“Tapi tetap saja, ini salah, kita harus pastikan dulu kalau dia adalah Pangeran Abe. Tujuan kita ke sini adalah memastikan dia Pangeran Abe dan kita tahu dimana dia tinggal. Jangan gegabah Putri!” tutur Camilia lagi jauh lebih dewasa dan bisa menyusun siasat.


Putri Aille memang Putri bungsu dari istri kedua raja. Umurnya masih belasan tahun, walau dia sangat sayang dengan Pangeran Abe tapi Putri mempunyai sifat manja keras juga sangat emosional dan gegabah.


“Ya udah kita temui saja mereka. Ajak Kak Abe pulang. Singkirin perempuan itu! Kita umumkan ke raja dan semua orang!" omel Aille tidak sabar.


“Bukan begitu caranya, kalau kita terang- terangan, mereka pasti akan mengelak. Kita harus tahu dan memastikan mereka siapa?” jawab Camillia lagi cerdas.


“Hhhh...,” sementara Aille tetap manyun dan kesal. “Aku yakin dia Kak Abe, suaranya, semuanya itu Kak Abe!” jawab Aille.


“Ya tapi kita harus pastikan, kenapa Pangeran bersamanya? Kalau benar sesuai perkiraan kita, dia memanfaatkan Pangeran Abe dan menjeratnya, kita harus tahu siapa dia!” jawab Camillia.


“Dia pasti hanya perempuan murahan dan suruhan musuh KaK Abe, paling nenek sihir itu! Atau mungkin suruhan Perdana Menteri. Bunuh aja dia!” gerutu Aille sangat kesal.


Camilia tidak mendengarkan ocehan Aille yang sebenarnya hasil dari pengaruh dan karangan ceritanya Camilia sendiri.


Tapi Camilia diam, karena tanpa Aille tahu, Camilia adalah orangnya Istri ketiga raja yang tak lain nenek sihir yang Aille maksud.


Camillia memilih fokus mengawasi ke arah jalan. Camillia lebih cerdas, terus maju meski mereka berjalan tanpa arah karena tidak mau ketahuan Daka dan Bening.


Saat Aille berniat membelokkan mobil dan ingin menyerempet Bening, Daka langsung melempar sepedanya dan Daka berlari menyeret Bening hingga jatuh, akan tetapi Bening dan Daka selamat karena mereka terlihat mengendarai sepeda lagi.


“Tunggu mereka belok!” ucap Camillia tiba- tiba.


Aille yang sedang kesal jadi ikut menoleh.


“Ya udah kalau gitu kita stop. Emang kita mau kemana sih? Ayo ikuti mereka!” ucap Aille cepat.


“Kita tidak mungkin mengikuti mereka memakai mobil,” jawab Camilia.


"Maksudnya?


"Kita cari tempat parkir, kita harus jalan hafalkan temlat dia belok!" ucap Camilia.


“What?” pekik Aille kaget, jarak mereka lumayan jauh, tapi mereka masih melihat dimana mereka melihat Daka dan Bening belok dan masuk ke jalan arah desa dan jalan kecil. “Capek jauh!” keluh Aille, Aile kan Putri selalu dikawal dan dimudahkan.


“Kita putar balik cari tempat parkir, mereka naik sepeda kayuh kita harus bisa temukan jejak mereka!” jawab Camillia.


"Gimana caranya?"


"Sepertinya jalan kecil. Kita pasti bisa!" jawab Camili sembari menyetir kembali ke arah Daka.


“Ya udah deh, terserah kamu!” jawab Aille.


Camillia pun memutar balikan mobilnya ke arah dimana mereka melihat Daka dan Bening belok, lalu memarkirkan mobilnya dan menyusuri jalan dimana Daka dan Bening masuk.


Jalan mereka memang jalan arah desa yang tidak begitu besar, Daka dan Bening juga masuk ke jalan sempit sehingga mudah mereka untuk mengejar.


****


“Aaak..,” Bening kaget dan terjatuh dalam dekapan Daka.

__ADS_1


Sesaat Daka dan Bening terdiam dalam posisi sama- sama terjatuh di semak pinggir jalan. Bening masih syok, akan tetapi dekapan Daka membuatnya tenang dan Bening segera mengembalikan detak jantungnya.


Sayangnya Daka tampak terdiam seperti memejamkan matanya. Bening pun mengurai tangan Daka.


“Kamu baik- baik saja kan?” tanya Bening peduli.


Daka masih tidak menjawab, dia hanya tampak memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya seperti membuang pusing.


“Dakaa... kamu baik- baik saja kan?” tanya Bening peduli dan panik, seperti apapun pertemuan mereka pada awalnya, Bening hanya punya Daka dan Bening sudah menyerahkan tubuhnya untuk Daka.


Daka masih terdiam dan belum membuka mata, tapi tanganya memberi kode dia baik- baik saja. “Sebentar, kepalaku pusing...” ucap Daka.


“Kamu nggak bentur apa- apa kan? Ayo duduk dan buka matamu, sini kubantu, benar- benar ugal- ugalan itu mobil, siapa sih?” ucap Bening mencoba membantu Daka agar duduk dan membuang pusingnya, mengulurkan tangan meraih tangan Daka.


Daka pun menyambut tangan Bening, duduk tegak sebentar dan membuka matanya. Kepala Daka terasa pusing dan seperti banyak bayangan berputar karena dia jatuh secara cepat.


“Kurang ajaar... itu mobil,” gerutu Daka sambil tetap menyetabilkan kepalanya.


“Sudahlah, yang kita selamat, ayo pulang!” ajak Bening.


Daka dan Bening pun bangun lalu mengambil sepeda dan berniat segera pulang.


“Sayang..,” panggil Daka saat mereke mengayh sepeda.


“Iyah...,” jawab Bening sembari mengeratkan peganganya di pinggang Daka. “Ada apa?” tanya Bening


“Awas tanganya jangan sentuh- sentuh bawah, lagi nyepeda nih” jawab Daka sudah sembuh pusingnya dan on lagi menggoda istrinya yang tanganya melingkar di pinggangnya, tapi memang tangan Bening dekat dengan pangkal tongkat Daka.


“Iiih, Plak!” keluh Bening malu dan langsung menepuk Daka gemas. “Siapa juga yang mau pegang- pegang!” jawab Bening.


“Hehe... ya jangan mukul juga!” jawab Daka mesra.


“Ada apa manggil- manggil?”


“Oh kamu Sayangnya aku berarti ya?” jawab Daka masih menggoda lagi.


“Iih buruan mau ngomong apa?”


“Yaya!" jawab Daka, "Kalau aku udah tahu siapa aku sebenarnya, kamu ingin aku tetap di sini bersamamu atau kamu ikut aku!” tanya Daka tiba- tiba serius.


“Tanya aja! Mau kamu gimana?” jawab Daka.


“Ya tergantung sih,” jawab Bening.


“Tergantung apa?” jawab Daka lagi.


“Ya tergantung kamunya, siapa kamu sebenarnya. Apa lebih baik dari sekarang atau tidak. Kalau kamu dulu lebih jahat seperti sekarang aja. Kalau baik, ya... aku istri kamu, ya aku terserah kamu!” jawab Bening asal.


Daka tampak tersenyum mendengar jawaban Bening.


“Apapun yang terjadi, tetap bersamaku ya!” ucap Daka lagi.


“Apaan sih kok tiba- tiba bahas gitu? Udah sih bahas yang lain!” tanya Bening lagi, tetiba Bening jadi sedih dan khawatir.


Daka diam tidak menjawab untuk beberapa saat.


“Kamu ingat siapa kamu?” tanya Bening lagi memecah keheningan karena Daka diam.


“Kita ke sungai lagi yuk!” jawab Daka ajek Bening, malah tidak menjawab pertanyaan Bening.


“Mau ngapain?” tanya Bening.


“Menarilah untukku, aku ingin berenang dan melihatmu menari lagi,” ucap Daka.


“Mahalll...,” jawab Bening bercanda.


“Aku bayar dengan hidupku,” jawab Daka merayu.


“Hehe.. yaya, aku juga pengen nyebur, kukasih tahu tempat yang indah lagi,” jawab Bening.


“Emang ada?”


“Belok- belok..,” ucap Bening memberitahu belokan jalan sebelum ke arah rumahnya, tapi ke arah sungai yang Bening tahu airnya lebih tenang dari aliran dekat rumahnya.

__ADS_1


Daka pun mengikuti Bening belok masuk ke arah jalan setapak dan menuju ke arah sambungan sungai.


Mereka pun kembali ke sungai hijau di desa Bening. Dan begitu melihat tempatnya Daka tersenyum lebar, meski jalanya lebih sepi, sempit dan juga terjal, ternyata lebih sepi dan indah.


“Kok kamu tauan sih? Kamu makhluk apa kok tahu semua aliran sungai ini?” tanya Daka.


“Issh... ini kan masih satu sungai Cuma ini cabangnya, aku kalau bete suka jalan ngikutin arus sungai ini memang!” jawab Bening.


“Ya udah yuk!” ajak Daka sambil mengerlingkan matanya.


“Hmmm...,” Bening hanya berdehem.


Bening pun melepas jaketnya juga celana panjanganya tapi masih menyisakan tunik yang menyerupai dress pendek. Sementara Daka melepas kaos dan celanya menyisakan celana pendeknya.


Mereka pun langsung mencebur ke air. Bekerja berdesakan di dalam bus, juga mengayuh sepeda membuat mereka berkeringat, masuk ke dalam air jernih sangat menyegarkan.


Kali ini mereka pun kembali berenang bersama. Aliran sungai kali ini lebih dalam dan tenang sehingga mereka bebas berenang. Sesuai keinginan Daka, Bening pun meliukan tubuhnya dengsn indah dan menunjukan keahlianya. Daka yang diam- diam pandai juga berenang mengimbangi. Hingga mereka tertawa bersama dan bersenang- senang di dalam air.


“Daka ... udah ah sana..,” keluh Bening saat Daka tiba- tiba menarik Bening menepi dan terus menempel.


“Aku mau kaya kemarin...,” bisik Daka menarik Bening dalam pelukanya meski mereka di dalam air sembari mengendus leher Bening.


“Da..kaa...,” lenguh Bening kegelian, pasrah.


Daka pun tidak tinggal diam tanganya memeluk Bening dan bergerak menyusuri tubuh Bening.


“Daka..,” pekik Bening lagi saat menyadari tangan Daka masuk ke tubuh bagian bawahnya, bahkan Daka meeremas bagian inti Bening dan menurunkan celana Bening.


“Nggak ada orang kok!” bisik Daka.


“Di rumah aja!” jawab Bening sedikit menahan dan menolak.


“Aku mau sekarang, sepi kok!” bisik Daka lagi sembari melepas pakaian segitiga bawah Bening. Bening pun pasrah, membiarkan Daka melakukan apa yang Daka mau, karena Bening pun menikmatinya.


"Daka... geli...," desah Bening menyambut Daka.


Daka pun mengangkat pakaian Bening dan meletakan di atas batu, juga melepas celananya sendiri.


Kini mereka berdua kembali beradu di dalam air. Jika kemarin, Bening masih tampak syok dan hanya pasrah. Kini Bening terlihat santai, juga menikmati dan memberikan respon.


Bahkan mereka berdapan. Bening menangkup wajah Daka, lalu mengalungkan kedua tanganya di leher Daka. Bening membiarkan tubuhya menggantung di tubuh Daka. Daka yang bersandar pada batuan pun tak tampak kebberatan karena massa tubuh Bening terbawa air dan terasa. Mereka pun beradu saling mencuumbu.


Hingga tanpa terlihat dari permukaan, saat tubuh bagian atas mereka saling terpaut, tubuh bagian bawah mereka pun saling menyatu. Bening tampak menggeliat liar menikmati semua sentuhan Daka. Bahkan Bening tampak jauh lebih aktif dan lepas. Tanpa mereka tahu dua pasang mata sedang memperhatikan mereka di balik semak.


***


“Owh., syyt.... perempuan gila.. kamu harus mati,” umpat Aille tanganya mematahkan ranting dan rerumputan, bahkan air matanya menetes.


Heranya berbeda dengan Aille yang wajahnya merah padam sampai menangis. Camillia yang katanya calon istri Daka, tampak diam, dia hanya tampak menegang dan matanya tidak lepas dari mengawasi Daka dan Bening yang sedang meneguk kenikmatan surgawi.


“Apa kamu yakin dia benar- benar, pangeran Abe, Putri?” tanya Camillia.


“Dia sudah merebut Kak Abeku! Dia harus mati!” isak Aille.


“Sepertinya mereka memang sudah menikah. Dari mana kamu yakin dia Pangeran Abelard? Tahan siapa tahu mereka orang lain” tutur Camillia,


“Kak Abe pernah berlatih militer, luka di punggung Kak Abe adalah bekas serangan ayah, tapi bekas luka di lengan Kak Abe sepertinya luka baru!” gumam Aile masih menangis dengan nafas tersendat.


Karena Daka tak memakai pakaian, Aille melihat jelas tubuh Pangeran Abelard. Aille tahu ada tanda lahir Daka di punggung kanannya.


Camilia lalu tersenyum kecil, “Sekarang kamu tahu kan musuhmu yang sebenarnya Aille, gadis bodoh, dan secepatnya kedokmu bukan anak kandung raja akan segera terbongkar. Kamu akan kujadikan bonekaku mengusir perempuan itu,” gumam Camilia dalam hati.


****


Buat Kaka pembaca Bening Dan Daka.


Makasih yang masih nungguin


Ingat waktu Daka ku tamatin? Aku sedang belajar buat ujian.


Alhamulillah, atas ijin Alloh, juga doa kakak semua. Alloh kasih aku gool.


Berkah luar biasa sih dan harus disyukuri, bisa tembus jadi posisi 4 dari 149 orang diambil 9 org. Itu sebabnya, aku skrg memang mengalahkan nulis dan utamain dunia nyata. Sekarang juga lagi pemberkasan yang riweuh.

__ADS_1


Jadi aku nulis suka- suka yaa. Apalagi tuntutan kerjanya skrg akan lbh banyak.


Tapi kapan ada waktu, tetap kulanjutkan. Makasih.


__ADS_2