Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Bingung


__ADS_3

Leon mencoba mengingat, tapi tidak bisa dengan jelas, sebab Leon hanya melirik sekilas cincin yang Daka bawa, tidak memegang apalagi memperhatikan detail. 


“Masa kamu pernah liat cincin kerajaan, halu kamu lah!” ucap teman Leon. 


“Hh...,” Leon hanya menghela nafas kesal karena memory otaknya tidak bisa mengingat dimana dia lihat cincin itu. 


“Entahlah, mungkin hanya mirip” jawab Leon kemudian. 


“Hem... ya sudah. Besok mau ada sekolah yang mau study tour ke sini!” ucap teman Leon memberitahu. 


“Beneran?” tanya Leon dengan ekspresi malas. 


 “Iya!” 


“Hhh... malas gue!” jawab Leon. 


“Dasar lu, bukanya seneng gue bantu promosi, biar kalian nggak makan gaji buta!” jawab teman Leon lagi. 


Leon tidak menjawab. Museum tempat Leon dan Bening bekerja, konon dahulu kala adalah rumah kedua raja selain Istana utama.


Ratusan tahun lalu, di tempat itu, tempat mereka mengatur siasat dan menyiapkan senjata perbekalan perang. Seiring berkembangnya jaman dan teknologi, sekarang semua di pusatkan di kota. Museum itu dibangun untuk menjaga kekayaan masa lalu.


Tapi karena di pelosok jauh dari pusat kota jarang pengunjung. Hanya para pelajar yang belajar sejarah yang mengunjungi musuem itu, termasuk tamu esok.


"Sirik aja lu!" jawab Leon.

__ADS_1


Leon kan pegawai pemerintah, ada atau tidak pengunjung dia tetap digaji. Leon suka malah kalau tidak ada pengunjung.


P


"Huu dasar lu!" ejek teman Leon.


Leon tidak peduli mereka melanjutkan pekerjaan yang lain..


****


Bening dengan baju setengah basah berjalan cepat masuk ke rumah tanpa salam.


Daka yang hatinya mulai terpaut, datang rasa iba, kasihan, penasaran akan hidup Bening dan timbul keinginan menghibur Bening, langsung menoleh begitu Bening datang.


"Ehm...!" dehem Daka.


"Di rumah ini ada orang, salam kek!" sindir Daka usil ingin Bening bicara.


Bening masih ingin bersembunyi dari mata sembabny dan tidak menghiraukan Daka. Bening langsung mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi.


Tapi Daka tahu, atas semua yang terjadi. Apalagi saat Bening masuk rumah, pakaian basah Bening menimbulkan lantai terkena tetesan air.


"Susah sekali buat dia cerita?'" Daka mencari cara agar bisa ajak Benung ngobrol..


Daka mencari ide, Daka menunggu Bening mandi membilas tubuhnya. Begitu terdengar Bening membuka gagang pintu Daka pun berakting membersihkan bekas tetesan air Bening berjalan.

__ADS_1


"Ehm... ehm...!" dehem Daka.


Bening jadi menoleh ke Dakam


"Lagi apa kamu?"


"Aku yang harusnya bertanya ke kamu, sore- sore begini? Abis darimana sih. Basah kayak gini?" tanya Daka memancing Bening cerita.


"Apa peduli kamu?"


"Ya peduli. Jadi basah kan? Nih!" ucap Daka pura- pura kesal harus membersihkan rumah.


"Ya udah kalau nggak ikhlas nggak usah dibersihkan. Sini biar aku aja. Lagian aku nggak nyuruh kamu bersihkan kan?" jawab Bening tetap keras kepala.


Daka mulai kehilangan ide berbosa basi. Daka terdiam dan menatap dalam Bening. Hati Daka penuh simpati ingin memberi dukungan Bening tapi tidak tahu caranya.


Bening yang ditatap Daka malah salahh tangkap. Bening mengira Daka marah b,etulan kareqhh dan xnillna membersihkan lantai bekas Bening berjalan.


"Sini biar, aku yang bereskan!" ucap Bening menarik gagang kain pel.


Daka yang sebenarnya tidak masalah dan hanya penasaran terhadap Bening tetap berdiiri menatap Bening dan mengencangkan gagal kain pel.


Bening jadi tambah Bingung dan mengeratkan rahangnya.


"Sinih!" ucap Bening.

__ADS_1


Daka malah menarik Bening dan memeluknya.


__ADS_2