Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Mengaku.


__ADS_3

Bagai mendapat durian runtuh. Daka sangat senang, jutaan kupu- kupu beterbangan bersorak dan menari saat dia berhasil bersentuhan dengan bibir Bening.


Hanya sebatas menempel, karena Daka sendiri tidak ingat apa dia pernah melakukan hal itu sebelumnya atau tidak. Namun hati dan akalnya hanya terus mendorong untuk melakukanya, bibir Bening tampak begitu indah saat dia tidur tenang. Juga menggemaskan saat mengomel ketika dia sadar. Dia pun ingin tahu seperti apa rasa bibir itu.


Dan ternyata walau baru menempel saja tubuh Daka terasa melayang.


"Mmm.. cap... cap....," Bening hanya spontan menggeliat dan mulutnya mengecap acak namun masih tetap tidak sadar.


Daka pun tidak mau membuang kesempatan. Dia segera naik ke kasur dan memeluk Bening sesukanya. Bahkan Daka juga tidak takut jika Bening bangun dan memberontak.


Daka memang sudah semakin tidak sabar, ingin memberitahu Bening betapa dia ingin terus' di dekatnya dan jatuh cinta ke Bening. Apalagi sikap Bening yang cuek tapi oeehatian membuat Daka yakin Bening baik dan menerimanya.


Rupanya Bening terbuai mimpi. Meski dipeluk dia tidak merespon. Daka semakin suka. Mungkin karena di luar hujan jadi mereka sama- sama membutuhkan dan diuntungkan.


Daka mengeratkan pelukanya, hingga seluruh tubuhnya merapat Ke Bening tanpa celah. Karena memang cuaca sedang dingin, Bening terlihat tidak memberontak, Bening hanya bergerak acak dengan sedikit  mengerutkan tubuhnya layaknya mendapatkan selimut di kala dingin. 


Sepanjang malam itu pun, mereka berdua tidur dalam kehangatan. Bahkan Adik kecil Daka berdenyut memberontak. Namun Daka terus melawan untuk menahan. Meski sudah berusaha tetap tidak biasa karena dia sudah lama menahanya.


Tangan Daka pun tergerak tidak hanya memeluknya, tapi bergerilya nekat menyentuh apa yang dia lihat tadi. Dua benda bulat yang menempel di dada Bening.


Bening istrinya, Daka merasa berhak menyentuhnya. Karena gerakan tangan Daka kancing Bening terlepas dan sekarang dua satu dari bulatan kecil itu ada dalam genggamnya.


"Aa.ah...," Bening menggeliat mengeluarkan suara desaahanya yang begitu menggoda.


Daka senang mendengarnya. Dia semakin berani memainkanya. Mungkin Bening merasakanya tapi dia kira mimpi atau hanya pura- pura tidak tahu. Daka tidak peduli dan membiarkanya. Yang penting Daka hanya ingin mengikuti apa yang mendorongnya.


Hingga Daka semakin nekat tanganya masuk ke dalam dan menyusur ke bawah. Sayangnya Daka meraba ada bantal empuk seperti kapas dan plastik menutupi bagian yang ingin Daka raba. Sepertinya Bening sedang datang bulan.


Entahlah Daka tidak paham. Mungkin itu juga sebab tadi Bening langsung beringsut menangis dan menekuk tubuhnya saat ke gep Daka.


Daka pun mengurungkan niat besarnya. Meski hanya dengan seperti itu dia sudah merasa cukup sangat puas dan luar bisa. Bisa menggenggam benda bulat indah itu yang selama ini Bening tutup rapat. Daka pun akhirnya membiarkan adik kecilnya hanya menekan Bening masih di balik celana. Hingga dia mengeluarkan cairan ajaibnya tanpa disapa, sampai dia lelah sendiri, mengendur sendiri dan mengikuti sang, empunya tidur. 


**** 


Pagi harinya.


“Thok... thok..., Bening...!” panggil seseorang di depan rumah Bening dengan keras. 


Lampu depan rumah Bening masih menyala, pintu rumah mereka juga masih terkunci. Meski masih kelabu, dan sinar keemasan sang mentari belum muncul, namun langit yang hitam mulai terurai terang. 


Cica yang naksir berat ke Daka memenuhi janjinya, hendak menjemput Bening. Dan walau masih pukul jam 6 kurang 15 menit, Cica sudah datang. Dia ingin pendekatan untuk sarapan bersama dan berlama- lama menunggu Bening. 


“Emmpt..,” Bening yang sayup- sayup mendengar suara panggilan terbangun dan membuka matanya. 


“Hooh,” pekik Bening, begitu sadar ada tangan yang melingkar di perutnya juga kaki besar menguncinya kakinya. “Ya.. Tuhan terjadi lagi, bagaimana ini” Bening menyeringai dan menelan ludahnya, seketika itu tubuhnya merinding malu dan berdebar tidak jelas. “Tapi kenapa nyaman?” Bening hendak memarahi Daka tapi tak kuasa, karena dia juga merasakan nyaman yang sama. 


“Thok... thok... Bening, kamu udah bangun belum? Ini aku!” panggil Cica lagi di luar. 


Bening menajamkan pendengaranya. “Oh my God, Cica!” gumam Bening baru ingat kalau kemarin Cica berbisik hendak menjemputnya. 


Bening pun menggerakkan tubuhnya dan berusaha menggeser kaki Daka agar membebaskan kuncianya juga tangan yang melingkar. Heranya tangan dan kaki itu malah terasa menegang, dan menguncinya erat, sehingga membuat Bening terhimpit dan sesak. 


Bening pun melotot. “Apa ini? apa dia sadar?” gumam Bening 


“Tak.. tak...,” Bening kamu udah bangun belum? Bangun ih!” rupanya Cica nekat bukan hanya mengetuk di pintu depan tapi di jendela samping lebih tepatnya di kamarnya. 


Bening masih bingung mau menyahut atau tidak. Bening hanya semkin panik dan gugup. Dia pun memberontak dari pelukan Daka tak peduli Daka bangun atau tidak. 


Dan kembali lagi, semakin dia bergerak, gerakan tangan Daka semakin kentara. Bening pun memberanikan diri menoleh ke muka Daka. Seketika itu Bening mengernyitkan dahinya. 

__ADS_1


Daka benar sudah sadar dan bangun, bukan hanya itu, dia menarik sudut bibirnya tersenyum. Reflek Bening memukul tangan Daka agar melonggar. 


“Lepas.. sesak tahu!” bisik Bening takut kedengeran Cica.


“5 menit aja!” jawab Daka malah meminta dengan manja tanpa ragu dan takut. 


Bening semakin gelagapan, “apa ini?”


“Beniiing!” di saat yang bersamaan, di luar Cica semakin keras berusaha membangunkan mereka.


“Ada Cica... buruan lepas!” bisik Bening lagi. 


“Biarin aja! Tetaplah begini!” jawab Daka seenaknya malah mengendus ke rambut Bening. 


“Kasian dia...! Aku mau bangun! Ih” 


“Aku bilang lima menit lagi!” 


“Nyebelin banget sih? Siapa juga yang ijinin kamu peluk aku!” protes Bening nadanya mulai meninggi karena kesal. 


“Kamu!” jawab Daka dengan entengnya.


Bening semakin kesal tapi tak bisa berbuat bannyak.


Di Luar Cica semakin nekat, jemari tangan Cica terlihat berpegangan seperti hendak menjadikan tumpuan memanjat dan melihat Bening. 


“Hooh!” Bening semakin gelagapan. 


“Cica mau manjat... ayo bangun!” ucap Bening memegang tangan Daka erat berusaha melawan agar melepaskanya. 


“Biar saja. Biar dia tahu aku suamimu!” bisik Daka lagi sebari tetap kuat menahan agar Bening dalam kungkungnya. Dan di saat itu pula, Bening dengan jelass merasakan ada makhluk yang hidup dan membesar, juga menekan bagian belakangnya. Bening tahu itu tongkat besar yang dia lihat sore itu. 


Bening yang sudah keringetan pun berfikir keras melawan Daka. Karena tanganya tak  kuasa melawan kerasnya tangan Daka, Bening pun mempunya ide, melemahkan Daka dari tongkat pusakanya.


Tangan Bening yang terhimpit pun bergerak ke bawah, dan langsung memegang kunci kendali Daka dengan keras. 


“Ak..., kamu!” pekik Daka secara spontan mengurai kungkunganya. 


Bening yang nekad walau jantungnya berdegub keras tidak menyiakan kesempatan, dia langsung berguling turun. 


“Huuuh!” sementara Daka menghela nafasnya tersenyum melihat kecerdasan ide Bening yang mulai berani.


Dengan sangat jelas Daka merasakan kuatnya cengkeraman tangan Bening di benda kesayanganya. Sebenarnya bukan sakit yang dia rasa, bahkan ingin lagi, dia hanya kaget Bening ternyata senekad itu.


“Siapa ya...,” teriak Bening pura- pura baru terbangun. 


“Aku...Cica...,” 


“Ya ampun, Cica... maaf, aku baru bangun!” ucap Bening berusaha membukan jendela pura- pura memastikan. 


Ya.. Cica terlihat terjatuh bahkan bajunya kotor dan sedang berusaha bangun. 


“Cica... kamu kenapa? Lewat depan depan ya!” ucap Bening. Dia segera  menutup jendelanya lagi, 


Tapi begitu Bening berbalik arah hendak keluar, Daka sudah bangun dan mencegah Bening keluar, menghalangi jalanya dengan tubuhnya yang besar. Daka menatap Bening dengan napsuu karena Bening sudah berani memegang tongkatnya. 


“Apa sih, minggir!” pekik Bening gelagapan.  


“Katakan padanya aku suamimu! Atau aku yang akan mengatakanya!” ucap Daka lagi menuntut.  

__ADS_1


“Ck.. apa sih?” gumam bening menggerutu menghindar dengan raut kebingungan.


Daka semakin maju dan dengan tatapanya yang semakin tajam. Bening semakin gelagapan sampai, dengan reflek dia memundurkan langkahnya. 


“Ya... aku akan bilang! Minggir!” ucap Bening cepat kepepet. 


Daka tersenyum. 


“Cium pipiku!” ucap Daka lagi semakin nekad dan berani. 


“Apaan sih?” 


“Kamu aja berani megang ini, apa beratnya hanya cium pipi?” tanya Daka lagi. 


“Gelo!” ucap Bening menolak. 


Di saat yang sama, Cica yang sudah bangun dan berjalan ke teras memanggil Bening lagi. 


Daka tersenyum sementara Bening panik. 


“Minggir!” 


“Cium dulu!” ucap Daka menyodorkan pipinya. 


Bening malah menggigit bibirnya kesal. 


“Aku tendang nih!” ucap Bening malah mengancam. 


"Yakin tega?" tanya Daka.


"Tegalah! Minggir, hitungan 3 mundur, nggak minggir kutendang. Tigaa...duaa,"


"Cup!"


Daka tidak menjawab, bukanya minggir, karena dia sudah dekat, Daka malah membungkukan kepala dan mengecup pipi  Bening dengan cepat lalu membiarkan Bening lewat.


Bening hanya mengernyit, dan memegang pipinya, dia hendak marah tapi Cica sudah memanggilnya. Bening pun berjalan keluar dengan cepat tanpa peduli Daka.  


Walau rambutnya masih acak- acakan bahkan tanpa Bening sadari kancing bajunya ada yang terlepas, Bening segera membuka pintunya. Cica yang roknya kotor sudah cemberut di depan pintu dengan menenteng sekresek makanan mentah siap dimasak. 


“He... maaf, ayok masuk!” ajak Bening. 


“Pemalas banget sih baru bangun? Sampai harus ku bangunin, nih kotor nih. Bajuku!” gerutu Cica nyelonong masuk. 


“Maaf!” ucap Bening. 


“Ku bawain ikan presto nih, bisa digoreng buat sarapan! Aku pinjam rokmuu y buat ganti!” 


“Ya, ok. makasih ikanta ya!” ucap Bening. 


“Oh ya Daka mana?” tanya Cica. 


Bening langsung tergagap. Sementara Cica mengedarkan pandanganya. Dan tatapan Cica terhenti pada kasur lantai yang tergulung, hanya ada ember isi air bocor.


Baik wajah Bening dan Cica langsung menegang. Cica pun mulai curiga ke Bening dan Bening mulai gelagapan.


Cica kemudian menatap Bening dan fokus Cica kembali terhenti pada kancing baju Bening yang terlepas membuat belahan Dadanya yang menyembul sedikit terlihat. 


Baik Cica dan Bening nafasnya semakin memburu. Cica pun langsung menoleh ke kamar Bening. Dan dengan santainya Daka keluar dengan rambut acak- acakan juga muka bantalnya, Daka juga hanya mengenakan celana kolor dan kaos besar bekas Leon. 

__ADS_1


“Kalian tidur bareng?” pekik Cica kaget. 


__ADS_2