Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Damita


__ADS_3

Bening mengunci rapat bibirnya selama dalam perjalanan. Dia kesal ke Daka, tapi dia juga ingat perjanjian mereka. Daka dan Bening kan juga sudah punya kesepakatan, untuk tidak melaporkan Daka ke petugas. Kalaupun mau lapor, Bening sudah terlambat, pasti petugas akan anggap Daka dan Bening berbohong, kejadian Daka ditemukan juga terlalu lama.


Tidak ada pilihan lain, Bening harus egera mendapatkan diagnosa pasti dari dokter.


Ya, Bening harus pastikan Daka sungguhan seorang yang malang hilang ingatan atau hanya pura- pura, itu juga yang akan buat dia menentukan pilihan, tetap menolong Daka atau mengusirnya. 


Sementara Daka yang sedang dimarahi Bening tahu diri, Daka pun memilih ambil posisi aman agar harimau cantik itu tidak bangun.


Bahkan Daka mengambil tempat duduk di sebrang Bening, dengan posisi menyerong. Daka sepanjang hanya memandangi Bening yang terus diam. 


“Kalau diperhatikan, perempuan galak ini memang manis?” gumam Daka malah lama- lama mengagumi fisik Bening. 


Jika dilihat dari samping, hidung Bening yang nampak naik, dan bulu mata lentiknya, terlihat sangat nyata seperti pahatan patung Sang dewi yang bisa bergerak. Sayanganya kalau dilihat dari depan dan matanya menampakan kemarahan, juga bibirnya yang manyun karena geram, jadi seram. 


Sejurus kemudian, Daka jadi sungguhan kasian ke Bening, dia masih ingat penjelasan rincian biaya pengobatanya. 


"Dia memang baik karena mau menolongku. Seharusnya aku tidak membuatnya marah. Aku harus senangkan dia?" batin Daka.


“Uang si nenek lampir kan masih ada?” gumam Daka tiba- tiba ingat uang hasil nyopetnya.


Karena Daka men_opet hanya karena kesal ke Bu Lisa dan mepet, hati nuraninya juga enggan menggunakanya.


Uang lengkap beserta dompetnya masih dia simpan. “Aku pakai saja uang itu? Tapi masih kurang? Masih sisa berapa ya?” gumam Daka jadi ingin memeriksa uangnya. 


“Waduh... dimana ya?” gumam Daka memeriksa kantong celananya. “Oh iya ada di celana satunya?” ternyata Daka tidak membawa dompet Bu Lisa.


Perjalanan berakhir, Bus sebentar lagi sampai di halte depan rumah sakit. Bening pun bangun dan mengajak Daka segera turun. Daka jadi seperti adik manis yang penurut pada Bening. Dan jika orang lain yang melihatnya, seperti sepasang kekasih yang laki- lakinya patuh pada pacar juteknya. 


Mereka pun segera melakukan pendaftaran, beruntung hari itu pasien dengan poli tujuan yang sama dengan Daka sepi, jadi Daka tidak banyak mengantri. Bening masih dengan raut wajah penuh tekanan tapi juga tanggung jawab penuh, dengan setia mendampingi, setiap step pemeriksaan yang Daka lakukan. 


Ternyata benar terbukti, Daka memang amnesia, tapi kata dokter akan sembuh dengan obat yang sudah diberikan. Bening jadi kembali bersimpati dan kasian ke Daka. Walau sering membuat kesal, sejauh ini Daka sebenarnya banyak membantu Bening, tidak begitu merepotkan atau berbuat jahat.


“Diminum yang rutin obatnya!” ucap Bening galak lagi, setelah keluar dari tempat periksa.


“Ya!” jawab Daka balas singkat. 


Bening kemudian mengantri membayar semua tagihan Daka. Kali ini Daka malu merasa menjadi beban untuk Bening. Daka memilih menunggu dari kejauahan, tapi matanya tampak memperhatikan berapa uang yang Bening keluarkan. Sayangya Bening terlihat melakukan transaksi via hp.  


Daka jadi celingkukan sendiri.


Selesai membayar, masih dengan mulut mecucu, Bening pun mengajak Daka pergi. 


“Ehm..,” dehem Daka hati- hati, hendak menanyakan berapa habisnya. 


“Apa ham- hem, ham hem?” 


“Jangan galak- galak kenapa sih? Aku minta maaf!” ucap Daka hati- hati. 


Mendengar Daka bicara lembut, membuat hati Bening tersentil dan jadi timbul rasa kasian, tapi dia gengsi cepat terlihat ramah dan baik setelah apa yang dilakukan Daka. Beingpun diam tak merespon. 

__ADS_1


Daka juga tidak mau kalah, Daka pun terus berusaha memberanikan diri bertanya. 


“Habis berapa?” tanya Daka pelan.


Kali ini, Bening menghentikan langkahnya dan menoleh. 


“Kamu mau apa tanya- tanya? Mau ganti uangku, hah?” 


“Ehm... ya kan biar aku masukin ke daftar hutangku kan?” jawab Daka lagi berniat baik. 


“Udah kubilang, nggak usah tanya dulu! Utangmu padaku sangat banyak. Ingat tinggal di rumahku dan makan di rumahku juga tidak gratis! Nanti saja kutotal, kalau kuberitahu sekarang kamu nggak bisa tidur. Kata dokter kamu harus tidur cukup kan agar cepat sembuh? Anggap aja aku peri cantik yang baik hati. Mengerti?"


"Ya!"


"Itu berarti kamu harus patuh padaku!"


"Ya!"


"Dengar baik- baik! Aku Cuma mau kamu cepat sembuh dan pergi dari rumahku!” 


“Yaya!” jawab Daka mendengus kesal.


“Setelah ini kamu harus ikuti saranku agar kamu bisa kerja dan tidak merepotkanku! Semoga saja kamu orang kaya bisa bayar utangmu!” cibir Bening. 


“Iya... kenapa diulang terus sih? Aku tau kok! Aku akan bekerja dan bayar utangku!” 


“Hm Oke. Baguslah kalau tahu. Oh ya. Aku tidak mau kamu bikin masalah lagi, ikut aku! Aku lapar dan mau beli hadiah untuk temanku! Jangan bikin masalah!” tutur Bening mengajak Daka hendak mencari cemilan untuk Tia di mall. 


“Ya!” jawab Daka patuh saja.


“Jangan pegang apapun selama berjalan di belakangku!” omel Bening lagi memberi peringatan. Mereka kan hendak masuk ke pusat perbelanjaan.


Daka hanya mencebik karena merasa sangat dilecehkan oleh Bening, sebenarnya Daka juga tidak tahan diperlakukan seperti itu, tapi dia sadar hidupnya tergantung pada Bening. Daka hanya mencebik cemberut. 


Mereka kemudian, berjalan ke mall ke court makanan.Sebelum sampai ke tempat makanan, Bening melewati tempat- tempat pakaian.


Bening berhenti sejenak di depan manequin dengan dress cantik.


"Kok berhenti?" tanya Daka.


Bening mendekat ke dress itu, tanganya terulur memeriksa bahan dress itu. "Cantik banget lembut dan dingin?" gumam Bening lirih.


Daka pun memperhatikanya.


"Kamu mau beli ini? Bagus memang gaun ini?" ucap Daka ikut memegang.


"Nggak usah pegang- pegang!" bentak Bening menghempat tangan Daka.


"Pelit banget bukan punyamu kan?"

__ADS_1


"Tapi ini mahal. Aku aja nggak mampu beli! Nanti kotor lagi. Bahaya kalau aku suruh ganti!" omel Bening lagi.


Daka pun hanya melengos diam dimarahi Bening terus.


"Sudah ayo jalan!" titah Bening berlalu. Daka pun terus mengekori Bening.


Mereka kemudian berhenti dan masuk ke sebuah kedai makan. Di saat yang bersamaan Tia menelpon kalau dia sudah selesai. Bening kemudian mengajak Tia menyusulnya. Mereka pun ketemuan dan makan di mall. 


Saat Bening menunggu Tia, di saat yang bersamaan, ibu tiri Bening, Nyonya Damita lewat. 


“Gita?” pekik Nyonya Damita berhenti di dekat meka Bening. Nyonya Damita, langsung berwajah sinis melihat Bening bersama Daka. 


“Tante?” pekik Bening tidak suka bertemu dengan ibu tiri jagatnya.


“Hoh...,” Nyonya Damita sembari menenteng tasnya, meghela nafas dan tersenyum mengejek melihat Daka.


“Jadi kamu menolak menikah denngan Tuan Barri karena berpacaran dengan berandal seperti dia?” ejek Bu Damita melihat penampilan Daka. 


“Hhh...,” Bening hanya menghela nafasnya pelan sembari mengepalkan tanganya. 


"Dia bukan berandal, Tante! Dan jangan bawa- bawa dia dengan Tuan Barri. Tidak perlu alasan untuk saya menolak menikah dengan Tuan Barri!" jawab Bening tegas.


"Hahaha. Oh ya?"


"Sampai kapanpun aku memang tidak sudi menjadi tumbalmu menikah dengan aki- aki itu!"


"Bodoh kamu! Kamu akan hidup enak jika menikah denganya!"


"Kalau gitu kenapa tidak Alika saja?" jawab Bening menantang.


Nyonya Damita pun naik pitam dengan sikap Bening yang berani melawanya. Bu Damita lalu maju lebih dekat dengan Bening dan meletakan tasnya di meja.


"Kamu menantangku? Kamu lupa siapa aku? Aku istri dari ayahmu!"


"Kenapa? Bening tidak peduli. Ibuku cuma satu. Dan ayahku sudah lama mati setelah menikah denganmu!" jawab Bening lagi semakin berani.


"Berani kamu ya!" omel Damita hendak menampar Bening.


Akan tetapi tangan Damita segera ditangkis Daka. Daka dari tadi diam sembari memperhatikan.


"Jangan sakiti pacarku. Cepat pergi dari sini!" omel Daka memelintir tangan Damita


Damita melotot kesakitan dan meminta ampun. Daka langsuny menghempaskanya, Damita segera pergi.


Bening langsung melotot saat Daka bilang Bening pacarnya.


"Kamu bilang apa tadi?" omel Bening.


"Nggak apa- apa. Biar aja dia kapok, tenang aja kamu bukan tipeku!" jawab Daka.

__ADS_1


"Isshh...," Desis Bening


Daka kemudian tersenyum, tanpa Bening tahu, Daka juga berhasil merogoh tas Bu Damita dan mengambil dompetnya dengan cepat.


__ADS_2