
Daun kering melambai tenang, angin malam menyapa kencang, membuat bulu kuduk berdiri tegak. Kunang- kunang pun menari beterbangan memecah gelap. Mereka berbisik lembut, memberi tahu malam sudah semakin larut, mengayun pelan sayap kecilnya, mengajak mata memejam masuk ke mimpi yang dalam.
Di dalam bilik kecil itu, segala prasangka yang sebelumnya ada dan rasa benci yang tak berdasar melebur dalam hangat cakap yang tercipta.
Karena memang Bening butuh tempat cerita, dan Daka juga butuh tempat berbagi, menggantungkan hidupnya yang terombang ambing, mengambang tanpa arah jadi menyatu. Mereka kini layaknya sahsbat yang berusaha saling simpati dan mengerti.
Daka berhasil memulainya, mereka berdua pun menambah kesepakatan untuk saling membantu.
“Hoaam...,” Bening menguap di akhir percakapanya membahas cara menghadapi Alika dan Naka.
Bening setuju dengan saran, Daka, esok Bening akan menemui Tya yang menjadi guru les tari di sebuah sanggar tari. Daka juga mendukung Bening untuk tetap berkomunikasi baik dengan Naka.
Jika kemarin Bening tidak memperdulikan bukti kejahatan Alika karena pihak penyelenggara tidak akan peduli. Kali ini berkaitan dengan cinta dan hidup Bening, Bening jadi ingin berjuang. Bening juga kasian ke Naka kalau salah memilih perempuan jahat seperti Alika.
“Tidurlah, jangan mengigau lagi! Berisik tahu . Katamu kamu mau pergi kan?” ucap Daka kemudian melihat Bening matanya sudah sembab karena nangis ditambah ngantuk.
Bening manyun karena malu, ternyata aibnya mengigau diketahui Daka.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang kalau kamu sering dengar aku mengigau?” tanya Bening mencebik karena malu.
“Memang kamu pernah memberi kesempatan aku memberitahu? Kamu selalu galak terhadapku, mana berani aku!” jawab Daka lagi.
“Nyatanya sekarang berani? Kau mengataiku galak, tapi nyatanya kamu lebih galak dariku!” ucap Bening lagi mendelik ke Daka
“Sudahlah, kamu berisik, sana masuk, aku ngantuk!” usir Daka lagi lalu membaringkan tubuhnya memposisikan dirinya tidur mengacuhkan Bening.
“Hhh...,” Bening hanya membuang nafasnya.
Daka memang nyebelin, dia pun bangun dari duduk bersilahnya di ruang tamu itu. Bening masuk ke kamarnya.
Bening memang lelah, berjalan jauh di tengah terik membawa emosi sambil menangis, menari dan berenang dalam air, menyita banyak energinya. Sesampainya di kamar, Bening langsung merebahkan badanya.
Tidak butuh waktu lama, Bening memejamkan mata, alam bawahnya pun masuk ke alam mimpi.
Berbeda dengan Bening. Ketika malam datang dan Daka berusaha memejamkan matanya, kepala Daka seperti berputar dan dadanya berdetak kencang.
Kata hendak tidur Daka adalah sebuah kebohongan. Selepas Bening menutup pintu kamar, Daka membuka pintu rumah, duduk di depan kontrakan Bening.
Sore tadi, Bening sibuk dengan hatinya dan lupa melihat perban luka Daka. Daka pun membuka sendiri. Daka kemudian tersenyum, lukanya sudah hampir sembuh, Bening merawatnya dengan baik. Jika Daka sembuh itu berarti perjanjian mereka akan segera berakhir.
“Kenapa aku jadi bergantung padanya, dia mencintai orang lain, kelak dia akan berkeluarga? Aku hanya orang asing. Aku tidak bisa terus bergantung padanya, tapi aku harus bagaiamana? Siapa aku? Siapa keluarga dan temanku?” batin Daka mulai risau.
Daka pun ingat obat yang sudah dia dapat dari rumah sakit. Daka masuk kembali ke rumah dan meminum obatnya. Efek obat itu membuat Daka tenang, selang beberapa menit, Daka ikut tertidur.
__ADS_1
****
Waktu berlalu, malam pun berganti pagi. Bening tidur nyenyak sehingga dia bangun lebih pagi.
Tidak seperti hari sebelumnya dimana Bening merasa kesal dan terbebani melihat Daka. Kali ini Bening melihat Daka sebagai seorang teman. Bening tersenyum melihat Daka masih melompong terlentang di atas kasur lantainya.
“Sebenarnya dia tampan? Tapi? Siapa dia sebenarnya? Kupikir- pikir dia pria yang baik dan tidak pernah macam- macam?” gumam Bening dalam hati.
Bening pun langsung melakukan aktivitasnya, memasak dan bersih- bersih tanpa meributkan Daka. Karena Daka minum obat, dia tidak terusik dengan aktivitas Bening.
Karena, Bening merasa Daka baik, pagi ini, selain sarapan dia juga membuatkan minuman kopi hangat.
“Sssh...” aroma kopi itu pun menyeruak masuk ke indra Daka, dan membuat Daka bangun.
Daka membuka matanya.
Tidak seperti sebelumnya, Bening biasanya galak dan cemberut, bahkan beberapa kali meninggalkan Daka tanpa pamit, pagi ini Bening tersenyum menyambut sahabat barunya.
“Bangun...sudah siang!” tutur Bening.
“Hmm....,” jawab Daka bangun.
Daka masih tetap dengan ekspresinya yang datar dan semaunya. Seakan cuek dengan Bening.
“Hu-um,”
“Nggak dikasih racun kan?” tanya Daka mulai kumat ngeselinya.
“Isshhh..., dibuatin bukanya terima kasih. Kalau aku mau racunin kamu udah dari pertama, kubiarin aja kami digigit piranha!,” desis Bening lalu keluar tanduknya ngomel.
Sayangnya Daka, tidak mendengarkan Bening, menoleh pun tidak. Daka mengabaikan respin Bening yang ngomel. Daka langsung menyeruput kopi Bening.
"Hhh...," geram Bening mulutnya mencucu dan gemas ingin memukulnya.
"Ehm...," dehem Daka hanya berdehem tanpa berterima kasih meletakan kopinya.
Bening kemudian duduk, di samping Daka. Daka pun menatap aneh, karena tumben sekali Bening menungguinya minum kopi.
“Mau apa kamu? Nggak kerja?” tanya Daka.
“Kemarin sore aku tidak mengganti perbanmu. Kamu juga belum cerita, gimana hasilmu periksa? Apa kata dokter? Kamu bisa sembuh kan?” tanya Bening penasaran.
“Ehm...” dehem Daka kemudian menghadapkan tubuhnya ke Bening. Daka, jadi gr karena mendadak Bening perhatian.
__ADS_1
“Kamu kok peduli sama aku? Apa karena kamu patah hati, kamu mulai beralih perasaan ke aku? Aku beritahu, aku tidak suka jadi pelarian! Aku terlalu tampan untuk sekedar jadi pelarian!” ucap Daka percaya diri.
“Haiiisssh...,” Bening kembali mendesis geram. "Amit- amit!" ejek Bening kesal.
Daka hanya diam dan kemudian kembali menatap jauh menghindari Bening.
“Nggak usah Gr ya. Aku tanya bukan peduli. Aku ingin kamu cepat sembuh. Cepatlah sehat. Jadi orang yang berguna. Harus bekerja, biar nggak jadi bebanku, terus!” omel Bening.
“Hmmm...,” Daka pun langsung melempem cemberut.
"Ya udah nggak usah!" jawab Daka. Karena semalam sudah menggantinya sendiri.
Tapi Bening yang merasa belum mengganti dan mengira Daka ngambek tetap nekat ingin ligat lukanya.
"Nggak usah ngambek! Sini aku ganti!" ucap Bening memaksa dan menarik Daka mendekat.
"Ehm... yaa.!" jawab Daka menurut. Daka tidak memberitahu Bening kalau semalam dia ganti sendiri.
"Ohya, dokter Syarafnya bilang apa? kamu bisa dapatkan ingatanmu lagi kan?" tanya Bening.
"Untuk ingatanku, katanya hari ini aku harus periksa, lagi!” ucap Daka dingin memberitahu.
"Ya udah. Ayo kita periksa lagi!"
"Aku takut uangku kurang?" jawab Daka..
Bening tidak menjawab dan fokus mengganti perban.
“Lukamu sudah jauh lebih baik, sepertinya sebentar lagi kamu sembuh, kamu harus cari kerja kalau sudah sembuh ya!” omel Bening lagu, mulai cerewet saat melihat luka Daka membaik.
“Ya.ya...,” jawab Daka kesal dituntut kerja terus.
“Oke...aku kerja bentar karena mau ada tamu, abis itu aku ijin pulan awal buat nemuin Tia. Ayo aku temani buat periksa! Aku punya uang kok. Aku akan pinjami kamu uang!” ajak Bening ke Daka dengan tulus.
Daka jadi tertegun dan menatap Bening.
“Yakin?” tanya Daka.
"Nggak gratis ya? Ingat- ingat bantuanku. Kamu harus mengembalikanya kalau udah kerja!" ucap Bening tetap matre dan perhitungan
Daka pun mencebik lagi. Bening kemudian nyengir.
"Cepat mandi, kamu juga boleh ikut kalau mau ke museum! Siapa tahu Leon baik hati cariin kamu kerjaan juga!' ucap Bening lagi.
__ADS_1
"Yaya...," jawab Daka malas.