Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Tidak Ada.


__ADS_3

Pangeran Abe memerankan peranya dengan baik. Di taman istana yang berjajar bunga- bunga indah nan wangi, Pangeran Abe duduk berdua dengan putri Camilia, bersikap menjadi pria sakit yang takt ahu apa- apa dan menampakan wajah penuh sesal.


“Saat itu, aku kira, kamu orang asing yang ingin menyakitiku, aku minta maaf!” tutur Pangeran Abe ke Camilia.


Tentu saja, Camilia yang kenyataanya dulu mengejar- ngejar Abe, namun selalu diabaikan, kini mendengar Abe merendahkan diri dengan meminta maaf, jadi terbang ke atas awan, dan merasa menang.


Camilia pun menyunggingkan bibirnya yang terpoles oleh pewarna merah menyala.


“Sungguh, sama sekali tidak ada rasa sakit dalam diri saya, apapun perlakuan Pangeran terhadap saya waktu itu. Sebab dapat berjumpa kembali dengan Pangeran itu berkat yang luar biasa untuk saya,” tutur Camilia dengan sangat anggun.


Ya, tentu saja, Camilia putri bangsawan yang terdidik pandai menempatkan diri, termasuk berkamuflase. Hanya saja, Camilia tidak tahu kalau pria yang dia bodohi juga sedang membodohinya.


“Terima kasih ya. Aku beruntung mengenalmu. Kamu setia untukku, pasti banyak hal sulit yang kamu lalui selama aku tidak ada di sini!” tutur Pangeran Abe.


Camilia semakin mengembangkan senyumnya.


“Aku mencintaimu, Pangeran. Bahkan jika aku harus menunggu, seumur hidupku, aku akan tetap menunggumu,” tutur Camilia mengeluarkan rayuanya.


Abe pun membalasnya tersenyum sembari tanganya terulur membelai Camilia, lalu menyelipkan magnet ajaibnya ke kalung yang menempel di leher Camilia.


“Sebentar lagi, waktuku minum obat, sepertinya aku harus kembali ke kamarku, Si Ares akan mengomel seharian jika aku tak segera kembali,” tutur Abe beralasan, jika misinya selesai untuk apa lagi pura- pura bermesra dengan Camilia, menjemukan.


Tentu saja, Camilia langsung masam.


“Waktu berlalu sangat cepat ya? Rasanya baru sekejap kita duduk di sini,” ucap Camilia mengungkapkan kekecewaanya.


“Bukankah setelah menikah, suami istri akan tinggal dalam naungan atap yang sama?” jawab Abe menghibur Camilia, berperan sebagai calon tunangan sebagaimana mestinya menenangkan pasanganya.


“Kapankah waktu itu tiba, Pangeran?” tanya Camilia.


Tentu saja, Abe sedikit terhenyak, sesaat Abe menyunggingkan senyum, walau dalam hati mengutuk.

__ADS_1


“Maaf jika saya lancang!” sahut Camilia merasa tidak enak saat Abe menatapnya aneh.


“Oh tidak, kekasih berhak menjemput kepastianya kan?” jawab Abe lagi tersenyum. “Jika kamu bertanya itu, sama halnya, kapan aku bertanya aku akan sembuh, di situlah jawabanku!” jawab Abe pelan tapi tatapanya mengandung arti.


Camilia pun sedikit gelagapan, sebab Jika Abe sembuh justru tidak akan mau bersanding dengan Camilia.


“Bolehkan saya, ikut menyiapkan obat untuk anda, Pangeran? Saya ingin melayani, Anda?” tutur Camilia lagi rupanya gigih berjuang dan tidak mau menyiakan kesempatan.


Abe pun kembali terhenyak, dan benar- benar melemparkan tatapan sinis. Abe tahu, jika Camilia yang menyiapkan obat yang ada Abe tambah gila.


“Aku butuh istirahat!” tutur Abe mendadak ketus, lalu bangun dan meninggalkan Camilia begitu saja bahkan tidak peduli Camilia.


Camilia yang sudah menyiapkan penampilan di salon mahal dan latian senyum anggun pun jadi gatal mengeluarkan sifat aslinya. Mukanya langsung cemberut.


“Sialan, dia mengabaikanku, hoh… sembuh? Aku tidak akan membiarkanmu sembuh!” batin Camilia mengepalkan tangan di otaknya berputar mencari cara agar bisa mengejar Abe.


Sayangnya begitu keluar area taman, di depan pagar Ares sudah menunggu, sehingga Camilia benar- benar diabaikan.


***


Pangeran Abe langsung menajamkan matanya.


“Kamu tahu apa hukuman orang yang berani mempermainkanku!” jawab Abe tajam hatinya senang tapi tidak mau kecewa.


Anak muda itu baru saja memberitahu, kalau Nona Bening menginap di sana,” lnjut Ares.


“Haish!” Pangean Abe pun langsung mendesis kesal dan gemas. Lalu untuk apa dia berpura- pura sok manis pada Camilia. “Kenapa kamu masih di sini. Cepat jemput dia, dan bawa ke hadapanku!” omel Abe langsung.


“Sudah, Pangeran!” jawab Ares.


“Kalau begitu siapkan aku air untuk mandi, najis aku baru saja dekat- dekat dengan nenek sihir itu!” desis Abe kesal.

__ADS_1


Lalu mereka menuju ke istana tempat Daka tinggal. Pangeran Abe sangat bersamangat mendengar Bening akan tiba.


****


Di kosan Alletia.


Tia dan Leon pun segera masuk ke kontrakanya bersemangat menemui Bening.


“Bening…,” panggil Tia masuk ke kamar.


“Gleg..,” seketika itu Tia langsung menelan ludahnya dan deguban jantungnya berdetak cepat.


Spontan Tia langsung memeriksa ruangan lain dengan wajah paniknya.


“Kenapa Ai?” tanya Leon.


“Bening nggak ada!” pekik Tia sedikit berbisik, takut kedengaran orang kerajaan yang berjaga di luar.


“What?” pekik Leon ikut panik.


*****


Hai Kak


Maap baru nongol, sedang berusaha ngonekin lagi


Doain ya Alloh kasih ijin aku namatin inj nupel. Dilancarkan


Kasih semangat makanya ya.... Komen kalau baca


Makasih

__ADS_1


__ADS_2