Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Kamar


__ADS_3

Tempaan ujian hidup, membuat Bening pandai menahan diri.


Bening mengerti, aib keluarga dan masalah dengan saudara tak sepatutnya sembarang tercurah pada orang lain apalagi tanpa bukti. Dirinya dan Naka belum resmi jadian, jadi Bening mengikuti alur Alika untuk sandiwara. 


Begitu Naka pergi, Bening tak mau berpura- pura lagi. Masih dengan hati yang menganga karena terluka, dengan mata nyaalang dan berani, Bening menuntut kejujuran dari Alika.


Bening berharap, walau tidak merubah apapun, masih ada kejujuan dari Alika. Sebab Bening juga ikut bahagia jika dengan cara Alika sukses membahagiakan ayahnya. Bening mencoba mengikhlaskan tanpa dendam jika Alika yang harus lebih sukses darinya. Tapi dia ingin kejujuran, kata maaf dan tanggung jawab.


“Kamu kan yang naruh jarum di sepatuku?” tanya Bening ke Alika. 


Alika justru tersenyum tanpa salah.


“Jarum apa sih Kak?” jawab Alika. 


“Alika, kakak nggak apa- apa kalau kamu yang menang, tapi bukan berarti harus dengan cara curang dan nyakitin aku?  Kemenangan dengan cara curang itu nggak baik Alika,” tutur Bening lagi. 


“Ahahaha,” Alika kembali tertawa.


Tertawa sinis yang membawa pesan mengejek dan membuat Bening semakin geram. 


“Kakak, kalau kalah, ya udah sih, terima aja kekalahan Kakak, nggak usah fitnah- fitnah orang. Kakak nggak terima kalah? Hah?” jawab Alika malah mengatai Bening. 


“Hah?” Bening pun tersenyum simpul dengan tatapan putus asa sambil membuang nafasnya. Alika pandai sekali berkilah. 


“Aku tidak punya saingan dan musuh, peserta lain tidak ada yang kukenal dan belum ada yang tahu kemampuanku. Tidak mungkin mereka berupaya mencelakaiku . Ada tiga jarum tertancap di ujung sepatuku. Itu kamu kan?” tanya Bening lagi dengan berani.  


"Kakak punya bukti nuduh aku begitu?" jawab Alika.


Bening terskak tidak bisa menjawab.


Alika pun mengangkat sudut bibirnya lagi.


“Kakak, kalau kakak kalah ya udah terima aja, jangan cari pembenaran dan mengkambinghitamkan orang lain. Itu kan sepatu kakak sendiri, kakak yang harusnya menjaganya dengan baik, barangkali kakak berjalan dan menginjak jarum lalu ke bawa? Iya kan? Kenapa harus nyalahin orang lain?” jawab Alika lagi. 


“Kalau jarum itu terbawa, tidak mungkin letaknya tertancap di ujung dan begitu rapih, seharusnya aku kerasa dari awal!” jawab Bening mengelak.  


“Udahlah Kak, udah malam aku mau pulang. Malas berdebat sama Kakak. Kalau mau ikut aku ayo. Apa mau tinggal di sini?” tanya Alika lagi dengan mata sinisnya dan jelas menunjukan kejahatanya, membuat pertanyaan retoris dan menyakitkan.


Dia tadi yang bilang menyuruh Bening pulang. Sekarang menawari tinggal. 


Walau dengan berat hari dan sebenarnya sangat enggan, Bening ikut Alika. Masuk ke jok bagian belakang.


Ya,  orang tua Bening pedagang dan mempunyai 3 toko pakaian, bukan orang yang sangat miskin. Bahkan Alika dipegangi mobil walau mobil kelas menengah ke bawah. 

__ADS_1


“Lika bukan supir Kak!” ucap Alika tidak terima Bening duduk di jok belakang. 


Padahal Bening sangat malas duduk berdampingan dengan Alika. 


“Aku juga tidak mengataimu supir. Aku lebih nyaman di sini!” jawab Bening menolak. 


“Kakak turun, atau pindah ke sampingku!” bentak Alika mulai menampakan sifat aslinya. 


“Kamu bilang kakak harus turun? Bukankah kamu yang mencegah, Kak Naka mengantarku dan kau bilang Papa mau bertemu? Kamu gimana sih?” tanya Bening tak kalah geram. 


“Ini mobilku, ikuti perintahku atau turun!” jawab Alika lagi tegas dan tidak memikirkan belas kasihan.


“Alika!” 


“Tiga.. dua...,” jawab Alika malah menghitung mundur memberi peringatan dan mengintervensi Bening.


Bening tidak ada pilihan lain. Jika dia tinggal di situ, pulang ke kontrakan pun tidak mungkin karena sudah malam dan jauh. Bening terpaksa meningkuti aturan Alika dan duduk di samping Alika. 


Mereka kemudian segera melaju ke rumah orang tua Bening.


Rumah orang tua mereka memang ada di kota, sehingga tidak butuh waktu lama sampai. Alika pun mematikan mobilnya di halaman rumah.


Bening diam termangu, menatap nanar rumah lantai dua yang kini nampak di depanya. Rumah yang sudah satu bulan lebih dia tinggalkan. Sejak mengontrak Bening hanya datang sesekali dan kadang tidak menginap.


Akan tetapi sekarang rumah itu lebih mirip seperti tempat perasingan yang menyeramkan.


Kaki Bening terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam. Setiap melihat pintunya, seperti ada yang memaksa Bening untuk menutup matanya. 


Setiap pintu rumah itu terbuka, bayangan potongan kisah yang membawa luka Bening terbuka.


Bening masih ingat seperti apa rasanya, saat dirinya dan ibunya pertama mengetahui, kalau ternyata diam- diam ayahnya punya simpanan, tepat di saat ibu Bening sakit. Waktu dimana, simpanan ayahnya itu dengan berani datang dan memberitahu Bening mempunyai saudara tiri. Semua itu seperti goncangan besar bagi hidup Bening. 


Dan setelahnya, hari- harinya begitu kelam dan menyakitkan. Ketika ayahnya memutuskan membiarkan kedua istrinya tinggal satu rumah.


Dari hari kehari, satu persatu, apa yang Bening miliki lepas dan direnggut paksa. Hingga ibu Bening tak kuasa menahan pedih , dia pergi untuk selamanya, membawa kekalahan.


Bening masih mengingat betul bagaimana sakitnya dia harus menghadirkan kata ikhlas saat apa yang dia punya lepas, mulai dari kasih sayang Papanya, mainanya, lama kelamaan kamarnya bahkan hak kuliahnya. 


“Masuk!” tutur Alika lirih berlenggang mendahului Bening. 


Bening tidak menjawab dan berjalan masuk. 


“Hooh, ada Kak Gita rupanya?” sambut Ibu Tiri Bening langsung memberikan muka ketus. Bu Tiri Bening tampak sedang menghitung uang hasil penjualan di depan televisi dengan beberapa nota dagang.

__ADS_1


“Malam, Tante!” sapa Bening ke ibu tirinya. 


“Malam, masih ingat rumah kamu? Aku kira sudah betah tinggal di gubug sempit itu?” jawab Ibu tiri Bening malah mengatai kontrakan Bening. 


“Kata Alika, Papah mau ketemu Bening dan mau bicara? Bening mau ketemu Papah!” jawab Bening terus terang.


Bening terlalu muak jika harus berbosa basi dan baik pada ibu tirinya itu. 


“Papanya Alika sedang ada undangan doa bersama dari temanya. Mungkin 10 menit lagi baru pulang!” jawab Ibu tiri Bening. 


Bening mengangguk lalu berniat masuk ke kamarnya. 


“Eeee kamu mau kemana?” tanya Ibu tiri Bening sedikit berteriak, menghentian langkah Bening.


Bening pun berhenti menoleh. 


“Ke kamar, Bening!” jawab Bening. 


“Ehm...,” Ibu tiri Bening tampak berubah ekpresi masam. “Kamarmu ditempati Darsi, sekarang!" tutur Ibu Bening. 


“Darsi?” pekik Bening langsung melotot. 


“Dia pegawai baru yang membantu membersihkan rumah ini. Kamu kan udah satu bulan lebih nggak pulang. Nggak ada kamar lagi, sayang kan kalau tidak ditempati,” jawab Ibu tiri Bening lagi tanpa rasa bersalah.


“Gleg,” Bening mengepalkan tanganya menguraikan sesaknya dan mengatur ritme nafas dan jantungnya yang hampir tersedak.


Bening berusaha tetap kuat dan membangun bendungan kokoh di semua sisi matanya agar tidak sampai runtuh. Walau sakit dan sangat ingin menangis, Bening berusaha bertahan untuk tetap berdiri tegak. 


Dia masih ingat betul, bagaimana kamar dia direbut dan dia dipaksa pindah kamar di dekat dapur yang sempit. Lalu kamarnya diminta untuk Alika. Bening saat itu tak kuasa menolak, dirinya masih lemah dirundung kesedihan karena ibunya baru saja meninggal dan tidak punya pembela. 


Dan sekarang kamar itu diberikan pada pembantu. Apa kedudukan Bening sebagai anak tertua sama dengan pembantu? Bahkan sekarang tidak punya kamar, apa Bening sudah tidak dianggap sebagai keluarga?


“Kenapa Tante nggak kasih tahu aku? Terus barang- barangku dimana? Aku harus tidur dimana?” jawab Bening berani.


“Kamu bisa tidur di depan tivi, atau di kamar Alika? Adiba? Atau di kamar Abra?” jawab Ibu Tiri Bening tanpa rasa salah, meminta Bening menumpang di kamar adik tirinya. 


Bening pun menarik langkahnya maju dan memilih duduk di ruang televisi menunggu ayahnya.


Kamar semua adik tiri Bening memang besar, tapi Bening paham betul, ketiga  adiknya tidak ada satupun yang menghormatinya sebagai Kakak. Mereka hanya memanggil dan menyapa Bening saat butuh bantuan dan hendak menyuruh Bening melakukan sesuatu. Selebihnya mereka enggan bertegur sapa. 


“Bening tidur di depan televisi saja!” jawab Bening. 


“Oke!” jawab Ibu Bening tanpa sungkan. 

__ADS_1


__ADS_2