Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Kenapa


__ADS_3

Entah karena terlalu banyak dosa, atau usang dimakan jaman. Mata Hati Ayah Bening seperti tenggelam ditutup debu hitam. Suara penjelasan Bening seperti angin lalu, tidak dia dengarkan apalagi percaya dan hiraukan.


Padahal muka Daka jelas pucat, mereka juga berpakaian lengkap, kancing baju Bening tertutup sempurna dan di dekat mereka Bening sudah siapkan bubur dan obat untuk Daka. 


Rombongan Bu Damita pun pergi. Nu Damita pulang membawa kepuasan, merasa berhasil menjauhkan Bening dari Naka dan melepas tanggung jawabnya. Bening tetap ditinggalkan dalam sepi dan tanpa peduli. 


“Brak...,” Bening langsung menutup pintunya kasar sampai Daka tersentak kaget. 


“Huh...,” keluh Daka menghela nafas sembari menatap Bening yang sedang melampiaskan emosinya dengan penuh heran. Daka mulai terbiasa dengan Bening yang meletup letup emosinya.


“Kasian pintunya jangan dibanting- banting, nanti setan- setan di luar pada bangun!” ucap Daka mencoba merayu Bening agar mengurai emosinya. Perkataanya bercanda tapi ekspresinya datar.


Sayangnya Bening yang hatinya tidak bisa dijelaskan rupa dan bentuknya tidak menghiraukan Daka. Bening berjalan cepat sembari menghentakan kakinya menuju ke kamar mandi. Entah tidak bisa diungkapkan kacaunya hati Bening. Dia ingin teriak tapi tidak bisa. Bening sangat ingin menangis tapi sudah sangat sesak oleh marah.


“Huuuft..,” Daka hanya menghela nafasnya kemudian tersenyum. “ Gadis galak ini? Dia sekarang jadi istriku, bagus juga, berarti aku tidak berhutang! Kan sama istri sendiri,” batin Daka berfikir.


Semenjak Daka sadar, hidupnya tergantung dari Bening. Bagi Daka Bening menyenangkan, entah tidak bisa Daka jelaskan yang Pasti Daka peduli Bening dan ingin menemani Bening. Saat melihat Bening tersudut, Daka selalu ikut merasa sakit. Jadi bukan hal berat bagi Daka menikahi Bening karena memang hanya Bening yang dia punya. Bahkan baginya berkat.


Daka mengerjapkan matanya yang sedikit pening dan masih ingin tidur. Dia berjalan ke arah kasur lantainya yang lepek dan dingin.


Akan tetapi matanya tersangkut ke pintu kamar Bening yang terbuka. Pintu kamar yang setiap hari dia lihat, membuat tanda tanya di otaknya, karena tak sekalipun Daka berani masuk atau melihat isi dalamnya. Bening kan selalu menguncinya, kecuali hari ini.


“Aku suaminya kan?” batin Daka otaknya timbul ide iseng. 


Tanpa takut dosa dan salah apalagi dimarahi Bening, Daka masuk ke kamar Bening. Daka pun menatap seisi kamar Bening.


“Dia jorok sekali?” batin Daka menghina. 


Kamar Bening ukuran 2x3, dengan kasur dipan sepanjang 2x1,5 sehingga ruangan hampir habis untuk dipan. Barang- barang Bening padahal banyak.


Sebenarnya Bening sudah cukup kreatif dengan menyusun berbagai kardus dan lemari tempel. Tapi karena memang sempit jadi ya tetap sempit, outer Bening juga tertempel di gantungan dekat kaca. Jadi menurut Daka jorok. 


Meski menghina, melihat kasur yang tertata rapi dan terlihat lebih empuk juga nyaman, Daka langsung merebahkan badanya.

__ADS_1


“Ah... aku rindu tidur di kasur yang empuk dan hangat? Kenapa aku selalu bermimpi aku tinggal di rumah yang rapih dan luas, aku yakin aku sebenarnya orang kaya! Tapi dimana rumahku?” batin Daka lalu memejamkan matanya tidur di kasur Bening. 


**** 


Bening ke kamar mandi untuk mendinginkan emosi, membasuh mukanya, juga buang air kecil. Selesai hajatnya, Bening keluar kamar mandi. Walau benci dan kesal, melihat Daka tidak ada, Bening tetap timbul tanda tanya. 


“Kemana dia?” gumam Bening. 


“Apaa dia pergi? Syukurlah kalau dia sadar diri?” gumam Bening lagi. 


"Kenapa semuanya jadi kacau begini? Sial sekali aku harus menikah dengan pria tak punya masa depan, pemalas dan menyebalkan itu?" guman Bening.


"Syukurlah dia harus pergi!"


Berbeda dengan Daka yang justru mengambil keuntungan dan sekarang senang. Bening masih belum terima dengan semua yang terjadi, dia masih merasa menikah dengan Daka adalah kutukan.


Bening justru merasa semua masalah bersumber dari kebodohanya menolong Daka juga menyalahkan rasa kasihan yang menurutnya konyol. 


Bening kemudian masuk ke kamarnya, dan hatinya tersentak, marahnya semakin bertumpuk sampai ke ubun- ubun.


“Bug!” Tidak punya cara lain. Beningnya langsung mengambil sapu dan memukul Daka kencang. 


“Ak..,” keluh Daka langsung membuka mata tersentak kesakitan.


Di depan Daka, Bening wajahnya sudah merah padam dengan mata membulat sempurna. Bening berkacak pinggang siap memakan Daka.


Tapi Daka yang ngantuk dan sesungguhnya tahu hati Bening tetap dengan mode cool dan tetap bersikap tidak tahu diri.


“Apa sih istriku? Ini sudah malam? Ayo tidurlah!” ucap Daka dengan santainya sembari mengusap bagian yang terasa nyeri dipukul Bening. 


“Apa kamu bilang? Istrimu?” pekik Bening tidak terima.


“Kau ketularan aku?” tanya Daka lagi masih dengan santai. “Kita baru saja menikah, oh iya aku lupa, kenapa aku tadi tidak minta foto dokumentasi agar ada buktinya! Cukup aku saja yang amnesia kamu jangan!” jawab Daka lagi. 

__ADS_1


Bening menelan ludahnya dengan dada bergetar dan nafasnya jadi sesak saking gemasnya. Bening hanya bisa mengeratkan giginya sampai berbunyi.


“Ih,h.h sshh!” desis Bening mengepalkan tangan sampai kepalanya berasap.


Tapi Daka tetap santuy.


“Ayo sini, tidurlah, tidak baik begadang! Jangan marah- marah terus!” ucap Daka lagi malah menepuk tempat tidur di sampingnya meminta Bening tidur di sampingnya.


“Bangun dan pergi dari kamarku. Jangan kurang ajar kamu ya! Pernikahan kita tidak sah, semua hanya jebakan!” omel Bening lagi. 


“Ck!" decak Daka. "Tapi aku, kamu, kita dan yang lain sdah berjanji di hadapan Tuhan dan para saksi. Pernikah kita sah. Kamar ini sekarang kamarku juga kan?” ucap Daka.


“Tidak!” jawab Bening tegas. 


“Ya kalau tidak, kenapa kamu tadi mau menikah denganku. Kenapa nggak ikut ayah ibumu menikah dengan Barri?" jawab Daka enteng. 


“I.ih!” Bening gemas lagi. “Aku mau karena aku ingin cepat semua orang pergi dan aku selamat, tapi bukan berarti aku setuju menjadi istrimu. Jangan kurang ajar. Pernikahan kita tidak nyata!” omel Bening denail dengan kenyataan.


“Nyatanya sudah terlaksana. Sudahlah aku ngantuk mau tidur!” ucap Daka lagi merebahkan badanya lagi miring dan membelakangi Bening. Daka kan bosan tidur di kasur lantai dengan banyak nyamuk.


“Ini bukan kamarmu, cepat pergi!” ucap Bening lagi membentak. 


Sayangnya Daka cuek dan tetap memejamkan matanya. 


“Bug...,” Bening memukul lagi sekuat tenaga membuang semua emosinya, tapi kali ini Daka tidak merespon walau sedikit pegal dia hanya mengigit bibirnya, karena sapunya kecil selesai dipukul hilang. 


Bening memukul lagi, tapi Daka masih menahan. Sebenarnya walau sapunya kecil, karena pukulanua tidak. hanya ekali, tapi lambat laut Daka tetap menahan sakit.Tapi Daka tahu, sakit yang Bening rasakan melebihi sakitnya Daka menahan pukulan Bening.


Daka tahu Bening butuh tempat menyalurkan semua emosinya. Daka memilih membiarkan Bening melakukan sesukanya.


Sampai terdengar isak Bening. Bening gemas dan tidak tega sendiri. Bening berusaha menarik kaki Daka tapi ternyata Daka sangat berat karena melawan tidak mau diusir. 


“Hhh...” Akhirnya Bening kesal sendiri dan menangis sendiri lalu memilih mengambil selimut dan tidur di luar. 

__ADS_1


"Tuhan.. apa dosaku? Kenapa aku justru engkau nikahkan dengan pria pemalas dan menyebalkan itu? Apa aku salah berniat menolongnya? KataMu. Engkau akan memberikan balasan yang baik jika aku baik dan menolong orang dengan kasih. Kenapa justru nasib sial yang menimpaku?"


Isak Bening memeluk selimut berbaring di kasur lantai depan tivi.


__ADS_2