Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Keliling Istana.


__ADS_3

“Osh...” desis Daka kesal saat sudah sampai di komplek perumahan Naka tapi dia tidak ingat apapun lagi. 


Daka kembali memejamkan matanya mencoba mengingat, tapi tetap tidak bisa. Daka pun frustasi, sehingga dia memilih pergi. 


Bukan tentang ingatan dia yang dia dapat, saat Daka berbalik arah berjalan kaki mencari tukanng ojek, Daka segera berlindung ke balik pohon. 


Naka terlihat membonceng Alika. 


“Bening pasti sangat sedih melihat hal ini?” gumam Daka dalam hati.


Walau dia suami Bening, dia masih juga memikirkan perasaan Bening dari sisi sebagai sahabat. 


Entah mau kemana mereka, tapi Alika berpakaian rapi. Tidak menunggu lama tukang ojek lewat sehingga Daka cepat meminta berhenti dan mengikuti Alika dan Naka yang sudah berlalu agak jauh. 


“Agak cepet Pak!” ucap Daka menepuk bahu tukang ojek. 


“Kemana Mas?” tanya tukang ojek bingung. 


“Ikuti motor ninja itu, yang bonceng jauh!” 


“Ya...,” ucap tukang ojek menarik gas kencang. 


“Tapi jangan dekat- dekat juga Pak!” ucap Daka lagi menepuk bahu tukang ojek. Daka kan tidak mau ketahuan membuntuti. 


“Gimana sih Mas? Katanya suruh cepat!” jawab Tukang ojek kesal ke Daka. 


“Maksudnya, jangan sampai ketinggalaan mereka, tapi juga jangan di belakangnya persis!” tutur Daka memberitahu. 


Kali ini tukang ojek pun paham, mereka mengikuti arah Naka dan Alika. 


Ternyata mereka masuk ke wilayah komplek istana. Komplek Istana dan beberapa bagian, ada komplek museum besar yang digunakan untuk wisata. Sebagian lagi terdapat balai besar dan juga lapangan besar untuk pesta rakyat atau peringatan hari besar. Ada juga komplek perkantoran yang digunakan untuk bekerja dan ada beberapa rumah dinas untuk para abdi atau pegawai pemerintah. Dan yang terakhir adalah komplek tempat tinggal keluarga kerajaan. 


Komplek Istana itu seluas sebuah kecamatan besar untuk semua arah kemana mereka pergi selalu ada di bangunan tembok menyerupai pendopo besar di perbatasanya. Untuk akses museum besar, gedung perkantoran, tempat ibadah dan lapangan semua masyarakat bisa mengakses, tapi untuk komplek tempat tinggal keluarga kerajaan sangat ketat. Bahkan setelah gerbang bangunan tempat tinggal keluarga berada jauh di dalam, melewati taman yang di kelilingi pohon- pohon sebelum pohon- pohon juga berpagar. Di depan sudah ada gerbang yang di jaga, sampai ke dalam pun masih ada pintu masuk yang dijaga dan semua ada protokolnya, hanya keluarga raja pejabat tinggi dan tamu khusus yang bisa masuk. 


Di setiap melihat bangunan itu, Daka memperhatikan betul. Sekilas bayangan mimpi Daka hampir sama, tapi Daka masih belum bisa menyusunya. Tukang ojek pun terus mengikuti arah Naka yang mulai mengitari area dalam istana. 


Tiba- tiba tukang ojek berhenti.


“Kok berhenti, Pak?” tanya Daka kaget.


“Wah... Mas, mereka kayaknya menuju ke Pendopo istana!” ujar tukang ojek motor Naka tampak memasuki area perkantoran menuju arah pendopo. 


“Ngapain mereka ke sana?” tanya Daka polos.


“Ya saya nggak tahu, kenal aja enggak!” jawab Tukang ojek jujur. 


“Haish!” jawab Daka kesal. 


“Siapa mereka memangnya Mas?” 


“Kepo!” jawab Daka. 


“Terus tetap ikut masuk atau balik arah nih?” tanya tukang ojek lagi. 

__ADS_1


“Di balai istana ada apa memangnya?” tanya Daka lagi.. 


“Saya nggak tahu Mas, saya kan rakyat kecil. Gimana nih? Tapi biasanya kalau masuk ke sana di depan ada penjaga yang nanyain identitas dan tanda pengenal kita. Mas berkepentingan nggak?” 


“Harus ya begitu?” 


“Iya... kalau saya mah tukang ojek tinggal tunjukin tanda pengenal dan untuk apa?” 


“Tanda pengenal maksudnya?” 


“Ya KTP, Mas punya KTP kan?” tanya tukang ojek gemas ke Daka. 


Daka yang tidak kenal siapa dirinya langsung terdiam cemberut. 


“Ya sudah balik!” jawab Daka. 


“Hem... terus kita kemana Mas?” tanya tukang ojek lagi. 


Daka diam lagi berfikir dia kan tidak punya tujuan. 


“Aku ingin jalan- jalan!” jawab Daka abstrak. 


“Jalan- jalan kemana?” 


“Terserah Masnya!” jawab Daka asal. 


Tukang ojek pun mendelik menatap Daka aneh. 


“Tapi bayarr ya!” jawab Tukang ojek. 


“Sejam 100 ribu!” 


“Ya!” jawab Daka. 


Tukang ojek kemudian mengajak Daka keliling komplek istana, melewati depan- depan perkantoran penting negara yang Daka tempati, juga gerbang menuju arah tempat tinggal keluarga raja yang bangunan rumahnya tidak keliatan dari jalan, hanya ada gapura yang dijaga tentara. 


Daka sempat melirik tapi Daka malah mencibir. 


“Sombong sekali keluarga raja, untuk tempat tinggal saja begitu tertutup!” ucap  Daka spontan.


“Hussh! Hati hati kalau bicara, kalau sampai ada polisi atau abdi kerajaan yang dengar dipenjara kamu, mending kalau hanya dipenjara kalau dijadikan budak atau dicambuki kan berabe!” tutur tukang Ojek. 


“Iya kah?” tanya Daka. 


“Iya...!” 


“Coba ceritakan semua yang kamu ketahui tentang raja!” pinta Daka. 


“Nggak... aku mau hidup tenteram! Kamu anak muda pasti tahu lah!” ucap tukang ojek lagi. 


Daka menelan ludahnya, merutuki dirinya sendiri kenapa Daka tidak tahu apapun. 


“Aku bayar!” ucap Daka lagi. 

__ADS_1


“Tapi janji jangan bilang- bilang!” 


“Ya!” 


“Ya sudah, traktir aku makan siang ya!” 


“Dasar tukang ojek matre!” omel Daka. 


Tukang ojek hanya tersenyum. 


“Ya udah kalau nggak mau, kamu mau turun dimana? Bayar ongkosmu!” ucap tukang ojek lagi. 


Daka pun kalah tidak berkutik. Untung uang di dompet Bu Damita dan Mamanya Naka masih lumayan banyak. 


Daka pun menyanggupi, lalu mereka berhenti di sebuah warung makan yang menghadap ke sungai. 


Tukang ojek pun memberikan selebaran surat kabar yang tercecer di tempat itu ke Daka. Di situ terdapat artikel yang mengkeritik kebijakan raja yang otoriter dan terkenal kejam namun gemar melakukan pesta. 


Sebab bulan depan akan digelar pesta pertunjukan tari- tarian, padahal hanya hari ulang tahun raja. 


“Oh...jadi Bening ingin ikut ini,” batin Daka tersenyum getir. 


Daka kemudian menagih janji ke tukang ojek cerita mengenai rajanya. 


Tukang ojek pun mengungkapkan kegundahanya, di jaman sekarang negara- negra sudah menganut pemerintahan yang republik yang demokratis dan mendengar kata rakyat, tapi di negaranya masih memegang sistem kerajaan, yang semuanya berdasar keputusan penguasa dan tidak peduli pendapat rakyat. 


“Padahal kan ya... raja dan pemerintah dapat uang dari pajak rakyat yang tinggi, kasih kek orang kecil kaya saya bantuan atau turunkan tarif bbm, nih baca aja, untuk pesta ulang tahun doang sampai bermilyar- milyar, bayar penari segala!” ucap tukang ojek curhat. 


Daka diam menyimak dan bertanya tentang kesulitas para tukang ojek. 


“Ya.. saya jadi tukang ojek juga ada pajak penghasilanya Mas, udah gitu bahan makanan mahal semua, saya punya anak dua satu SD satu baru lahir, kemarin saya lahiran di rumah sakit mahal banget lagi, nggak ada keringanan sama sekali” ucap tukang ojek lagi curhat. 


Daka mengangguk- angguk. 


Tukang ojek melanjutkan kisah hidupnya yang menyedihkan. Daka sebenarnya juga ingin cerita dirinya lebih menyedihkan karena jadi sebatang kara. Tapi mulUT Daka seakan terkunci, untuk diam saja menghibur tukang ojek. 


Daka pun menepuk bahu tukang ojek kasian. Daka kemudian memesan makan siang untuk keluarga tukang ojek juga membayar tukang ojek lebih dari tarifnya. Daka memberi tukang ojek 500 ribu. 


“Duh Mas, ini kebanyakan, saya tadinya bercanda, udah 100 ribu aja . kan saya bilang tadi tarifnya 100 ribu, ini dibelikan makanan lagi!” jawab tukang ojek sungkan. 


“Sudah simpan saja! Antar saya ke mall di dekat rumah sakit!” tutur Daka tetap mode irit ngomong, uang hasil copetanya pun dia sedekahkan ke tukang ojek yang menanggung hutang setelah istrinya melahirkan.


“Ya... makasih ya Mas.” 


“Hem...”


Daka pun menuju ke Mall untuk membelikan Bening baju yang tempo hari ingin Bening beli. 


“Semoga kali ini kamu suka, dan sedikit baik padaku! Aku masih butuh tempat tinggal, aku juga harus punya status kan? Jadi suamimu kan tidak buruk!” batin Daka memutuskan. 


**** 


Di di atas meja recepsionist di saat teman- teman Bening  bergosip, Bening memangku tangan memikirkan peraturan yang hendak dia berikan ke Daka. 

__ADS_1


“Ah... kenapa dia ingin jadi suamiku beneran sih? Kan aku takut dosa kalau usir dia dan minta cerai?” gumam Bening menggerutu kesal. 


__ADS_2