Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Perhatian


__ADS_3

Mendengar cerita Leon, Bening langsung berkacak pinggang. Kenapa Leon tidak  tegas menyuruh pria itu pergi. Pakai kasih nama segala.


"Haisshh... Leon?"


"Dia sepertinya baik kok!" jawab Leon.


“ Baik gimana? Aku minta tolong ke kamu suruh laporin dia sebagai orang hilang. Kenapa kamu suruh dia begitu sih?” omel Bening lagi.


“Aku kasian ke dia, Ning! Dia masih terluka!” jawab Leon. 


“Ya kan kalau ke kantor desa dia juga ditolong. Orang hilang itu tanggung jawab pemerintah!"


"Dia tidak mau. Udah tolong aja. Dia baik kok? Aku bisa rasain itu!"


"Ya udah kalau gitu, kenapa nggak kamu aja yang tolong, tinggal di rumahmu!” jawab Bening. 


“Lah kan kamu sendiri yang tolong dia. Tau sendiri aku juga numpang! Santai aja, warga di sini tidak ada yang peduli. Lagian kontrakanmu di ujung juga kan?” jawab Leon. 


Ya Leon hanya menempati rumah dinas kecil di dekat museum. Sama seperti kontrakan Bening hanya ada satu kamar. Sebenarnya Leon juga sudah punya teman sesama pegawai. Hanya saja dia sering pulang. Jadi Leon harus ijin ke temanya jika mau nampung orang.


Bening kemudian menatap Leon kesal dan gemas, tapi tidak bisa berkata- kata karena tau situasinya.


"Tau ah pusing ah!" gumam Bening lalu meninggalkan Leon begitu saja. 


“Eh tunggu! Katamu dia pergi? Yakin pergi? Pergi kemana?” tanya Leon penasaran.


“Tauk!” jawab Bening ketus lalu pergi meninggalkan Leon. 


“Eh kamu kok ikutan pergi sih?” protes Leon. 


Sayangnya Bening tidak menghiraukanya. Bening seharian mendiamkan leon. Bahkan sampai hari kerja selesai Bening tampak murung. Leon jadi tidak berani mengganggu. Entah apa yang terjadi dengan Bening Leon tidak tahu. Leon hanya menebak marah karena Daka.


Begitu jam kerja selesai, tanpa beramah tamah Bening langsung pulang ke rumahnya cepat.


Sesampainya di rumah sesuai kata Leon, Daka tidak pergi tapi dia di rumah menunggu Bening pulang. Duduk bersandar di depan tivi.


Bening masuk tanpa salam dan mukanya masih cemberut. Daka juga tampak canggung menatap Bening setelah sehari semalam mereka tidak bertemu.


“Ehm...,” dehem Daka. “Semalam kamu kemana?” tanya Daka menghentikan langkah Bening.


Bening berhenti lalu menatap Daka.


“Apa urusanmu?" tanya Bening ketus.


"Aku hanya bertanya. Oh ya. Aku sekarang punya nama. Panggil aku Daka!" ucap Pria itu tampak senang.


Bening yang sudah tahu tetap ketus.


"Baguslah. Sepertinya kamu sudah sehat, kenapa tidak pergi?” tanya Bening masih ketus.


“Kau tidak lihat, lenganku masih diperban dan masih sakit? Aku tidak tahu tempat lain kecuali rumah ini! Aku tidak bisa pergi!” jawab Daka. 


Bening diam, melirik ke lengan Daka. Perban Daka tampak merah dan kotor, wajah Daka juga pucat. Lenganya juga tampak membengkak. Walau kalau diingat, kelakuan Daka buat Bening kesal, tapi Bening kasian.


“Kamu tidak sedang berakting kan? Kamu beneran lupa ingatan dan sakit? Atau hanya berpura- pura. Jangan- jangan kamu penjahat yang ingin berlindung di rumahku?” tanya Bening lagi. 


“Ck!" Daka berdecak. "Kamu yang menolongku, kamu sendiri yang bilang aku hampir mati. Kenapa kamu bertanya begitu padaku? Kenapa juga kamu menyelamatkan aku?” jawab Daka. 

__ADS_1


Bening diam lagi dan melihat sekeliling, rumah Bening jadi rapih dan bersih. Sebenarnya Bening cukup terkejut dan senang, tapi Bening tidak mau langsung memuji dan berbaik hati. 


“Ehm... katamu kamu masih sakit? siapa yang bereskan rumah?” tanya Bening. 


Daka kemudian duduk dan menatap Bening. 


“Aku lihat kamu marah karena perkataanku, aku minta maaf. Terima kasih atas sarapan waktu itu! Entah aku penjahat atau bukan di masa lalu. Tapi aku berjanji tidak akan jahat padamu. Aku akan baik ke kamu dan bantu kamu. Apa kamu masih ingin aku cepat pergi?” tanya Daka tiba- tiba dengan intonasi merendah. 


Daka yang sudah ditraining Leon berubah jadi baik dan lembut. Sayangnya perubahan Daka membuat Bening merasa aneh. 


“Ehm...,” Bening jadi berdehem salah tingkah. 


“Aku benar- benar lupa tentang kejadian yang menimpaku sebelumnya. Juga siapa keluargaku? Aku merasa ada sesuatu hal buruk terjadi sehingga aku terdampar di sungai. Aku tidak suka keramaian atau banyak orang. Aku hanya ingin bertemu dengan keluargaku jika aku sendiri ingat siapa kawan dan siapa temanku?" jawab Daka.


"Hoh... naif sekali. Kalau kamu ingat? Kalau tidak? Memang berapa lama kamu akan ingat masalalumu?" tanya Bening mengejek dan keberatan.


"Kalau tidak ingat. Aku akan hidup sebagai Daka!" jawab Daka.


"Terserah ya. Entah siapa kamu di masalalu. Kamu ingin hidup seperti apa yang kamu sebagai Daka? Tapi jangan repotkan aku!" jawab Bening lagi.


"Kamu yang menolongku dan membawaku ke sini! Aku hanya tahu tempat ini. Aku tidak punya tujuan lain. Ijinkan aku tinggal di sini setidaknya sampai lukaku sembuh!” Ucap Daka lagi. 


"Katamu rumah ini sempit dan pengap!" jawab Bening menyindir.


"Tapi di sini sepi. Aku suka! Sampai lukaku sembuh aku akan pergi!" jawab Daka berkebalikan dari kemarin saat pertama sadar.


Daka berbicara dengan intonasi serius. Daka yang tidak sombong membuat Bening yang bawel tapi hatinya lembut jadi meleleh iba.


Benung terdiam berfikir. Bening melihat luka Daka lagi.


“Tadi pagi kamu kemana?” tanya Bening.


“Ini aku bayar uang yang kau gunakan untuk mengobatiku!” jawab Daka menyodorkan satu amplop uang. 


Bening jadi semakin merasa tidak enak.


“Kamu dapat uang darimana?” tanya Bening. 


Tiba- tiba Daka bangun mendekat ke Bening, lalu meraih tangan Bening dan meletakan uang itu ke telapak tangan Bening. 


“Bukan urusanmu uang ini darimana. Terima saja. Aku boleh kan tinggal di sini!” jawab Daka. 


“Ehm...,” dehem Bening menarik tanganya cepat.


Bening mendadak gugup. Dan hal yang membuat Bening kaget, tangan Daka terasa panas. Bening jadi khawatir dan penasaran.


“Boleh aku pegang tanganmu lagi?” tanya Bening pelan memastikan. 


“Hoh?” pekik Daka tidak mengerti dan terbengong menatap Bening. Bening terlihat menghindar tapi malah ingin menyentuhnya.


Pertanyaan Daka memang tidak dijawab Bening, tapi sikap Bening, Daka artikan Bening memperbolehkan Daka tinggal. 


Bening yang melihat Daka terbengong langsung bertindak. Tidak menunggu persetujuan, Bening yang menebak Daka infeksi langsung  memeriksa lengan Daka. 


“Kamu panas! Lenganmu juga bengkak! Ini infeksi, perbanmu harus diganti!” ucap Bening kemudian dengan ekspresi seperti marah.


Daka hanya diam, mencoba menebak walau tanpa jawab. Awalnya Daka kira Bening bersimpati, tapi kenapa Bening bersikap ketus, dan galak.Daka jadi bingung lagi. Bening meski marah seperti perhatian.

__ADS_1


“Aku tidak bisa menggantinya sendiri!” jawab Daka beralasan.


"Tunggu di sini, dulu!” jawab Bening singkat.


Daka mengangguk patuh, Daka kan memang tidak punya tujuan.


Bening masuk ke dalam kamarnya meletakan tasnya. Lalu keluar membawa alat p3knya. 


“Sini kubantu!” ucap Bening dingin. 


Daka tidak menjawab, tapi menggeser tempat duduknya dan membiarkan bening mengobatinya. 


Mulut Bening terkunci rapat, wajahnya juga menegang, tatapan mata Bening tertuju pada lengan Daka, seakan Bening menghindari tatapan Daka.


Akan tetapi gerakan tangan Bening begitu lembut dan cekatan, membuka perban luka jahitan Daka, hati- hati. Setelah itu membersihkan sebagian nanah dan kotoran, lalu memberinya salep dan menutupnya lagi. 


Suasana hening, hanya terdengar helaan nafas masing- masing dari mereka. Hingga Bening mengusap telapak tanganya tanda selesai. 


“Terima kasih!” ucap Daka. 


“Memang apa saja yang kamu kerjakan sampai perbanmu kotor begini?”


Sekali lagi, Bening tidak menjawab pertanyaan Daka atau menanggapi ucapanya, tapi membuat pertanyaan ulang.


“Aku kerjakan apa saja? Kamu tidak lihat, aku membersihkan rumahmu,” jawab Daka ingin Bening baik dan mengakui kebaikan Daka.


Ya. Daka mengabaikan lenganya yang sakit. Menggunakan satu tanganya berusaha membereskan pekerjaan rumah dan bahkan memasak. Tapi Alhasil luka Daka jadi kotor.


Sayangnya Bening tidak terima kasih atau memuji. Dia hanya menelan ludahnya dan menatap Daka masih dengan tatapan ketus. 


“Nggak usah sok baik ke aku. Aku tidak akan berterima kasih ke kamu. Aku hanya butuh kamu cepat sembuh dan pergi dari rumahku. Jadi sehat- sehat dan jaga lukamu!” jawab Bening kemudian. 


Daka mengulum lidahnya, perkataan Bening cukup membuatnya kesal, tapi dia ingat pesan Leon, harus baik ke Bening.


Jadi Daka menahan diri untuk tidak membalas keketusan Bening. 


“Ya. Kamu tenang saja! Aku segera sehat dan pergi!” jawab Leon. 


Bening tidak menjawab.


"Minum obatmu dengan baik!" ucap Bening lagi melirik ke keresek obat Daka. Daka memang malas minum obat.


"Ya!" jawab Daka malas.


Bening bangun membereskan sampah bekas perban Daka dan membereskan kotak P3k nya. 


Setelah itu Bening masuk ke kamar. Daka pun hanya memperhatikan Bening.


Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Bahkan Bening mengunci pintunya juga mematikan lampu.


Akan tetapi beberapa saat kemudian samar- samar, Daka mendengar Bening  menangis sendirian di dalam kamar. Daka pun menajamkan pendengaranya. Entah Bening mengigau menangis atau menangis sungguhan.


Daka menebak, ada hal buruk yang menimpa Bening. Tidak mau bertengkar dan mengganggu. Daka merebahkan dirinya di atas kasur lantai Bening. 


Daka ikut memejamkan matanya berusaha tidur. Akan tetapi tiap kali Daka tidur, Daka bermimpi tentang potongan- potongan kejadian yang menimpanya.


Daka seperti berada di keramaian, di tengah- tengah orang yang bergelimang harta. Semua pakaianya bagus, tempatnya luas dan indah. Ya Daka yakin dia sebelumnya hidup dengan mapan.

__ADS_1


Ada bayangan datang pada Daka. Seperti ada potongan kejadian Daka terlibat adu mulut dengan banyak orang. Hanya saja Daka tidak ingat detail, siapa dimana. Itu sebabnya Daka ingin tinggal di rumah Bening yang berada di ujung desa dekat sungai. 


__ADS_2