
“Huh... semoga pas aku pulang nanti, dia udah pergi beneran? Hah...,” gumam Bening duduk di meja lobby museum.
"Dia pura- pura amnesia atau amnesia beneran ya? Kasian juga dia kaya orang hilang?"
"Ah tapi masa bodo. Kenapa juga aku mikirin dia. Dia merepotkan!" batin Bening lagi.
Bening kemudian melakukan rutinitas hidupnya, berjalan berkeliling museum, untuk membersihkan dan mengecek kelengkapannya.
Bening menatap satu persatu benda mati yang tetap sama dan tidak berubah berdiri di tempatnya dari waktu ke waktu. Sangat membosankan memang.
Heranya saat benda itu hendak Bening bersihkan, benda itu seperti hidup dan seakan menertawainya. Sama seperti benda- benda peninggalan kerajaan di masa lampau itu, jika Bening tetap di situ, hidupnya akan stagnan seperti itu, hidup dalam kesepian, gaji kecil dan tidak punya circle keren untuk bergaul.
Apalagi jaman sekarang peminat pengunjung museum sangat kecil, kadang seminggu hanya ada 3 pengunjung. Rutinitas yang benar- benar buat Bening siklus hidupnya berhenti dan tidak berkembang. Tapi Bening butuh makan dan itu satu- satunya peluang kerja yang dia dapat.
“Hhhhrrrggg!” setiap Bening mau mengelap dan bersihkan, hatinya pun jadi bergejolak kesal, tidak mensyukuri nikmat dan terus menggerutu.
“Sabar Bening. Jalani Syukuri nikmati, daripada jadi gelandangan kan? Lebih baik di sini!” Ucap Bening bertekad dan menghibur diri.
“Argh! Teori semua akan indah pada waktunya bukan bualan kan? Tapi kapan waktu itu tiba?” gumam Bening lagi merasa sangat lelah dengan hidupnya.
“Kenapa rasanya ingin kucabik- cabik orang yang bikin teori itu, pandai sekali dia menghiburku, akan indah pada waktunya? Waktu apa? Yang ada semakin lama hidupku semakin tidak jelas” cibir Bening melamun malah memaki pembuat pepatah bijak yang sangat fenomenal itu.
Bening begitu karena melihat perbedaan dirinya dengan Alika terlalu jauh. Alika kuliah, Alika berprestasi, selalu dipuji ayah kandungnya dan juga ibunya. Semua yang Alika mau dituruti.
Sementara Bening hanya lulus SMA disuruh bekerja keras terus lagi.
“Kenapa juga aku sok pahlawan, harusnya dari awal aku sadar, hidupku saja sangat menyedihkan, kenapa juga harus bantu orang? Hah?” keluh Bening lagi.
Di saat yang bersamaan Bening melamun, ponselnya berdering. Mata Bening langsung berbinar dan segera meraih benda pipih yang tampak retak pada ujungnya. Ya ponsel Bening memang murahan dan sering terjatuh.
“Kak Naka,” gumam Bening sangat senang. Laki- laki mapan tampan dengan sejuta karisma dan kesopanan yang dia cintai dalam diam menelponya.
“Halo, Kak! Ada apa?” tanya Bening.
“Hai.. Bening, aku dengar kamu kemarin cidera?” tanya Naka lagi.
Seketika itu hati Bening mengembang bahagia, ahh Kak Naka memang terbaik, dan selalu perhatian, bahkan dia menanyakan cedera kaki Bening. Ibaratkan tanaman yang layu kekeringan, langsung segar mendapat siraman perhatian dari Naka.
“Ehm... he.. Kaka tahu dari siapa?” tanya Bening selalu gerogi dan malu jika ditanya Naka.
“Maaf ya, Kakak telat, soalnya kemarin ada kerjaan di kantor, Kakak niatnya datang pas kamu tampil, eh tapi pas Kaka datang udah selesai tinggal pengumuman ma acara penutup,” tutur Naka lagi menjelaskan.
Tentu saja hati Bening semakin mengmbang bahagia saat Naka bilangs secara khusus mencarinya.
“Makasih, ya Kak! Bening minta maaf nggak bisa kasih hasil yang bagus!” jawab Bening lagi.
“Nggak apa- apa, kamu udah berlatih maksimal kok. Kata Tia kakimu, cedera. Aku kejar kamu ke parkiran kamu udah nggak ada! Aku telpon kamu telponmu mati!” sambung Naka lagi.
“He...,” Bening hanya tersenyum menyeringaii sangat menyesal dan malu seakan Naka di depanya. Kemarin Bening patah hati tidak peduli ponselnya langsung main di kali dibuat sibuk urusin pria gelandangan dan malam mati lampu.
“Maaf, semalam di sini mati lampu Kak!” jawab Bening lagi.
“Its oke, hari ini ada acara nggak?” tanya Naka.
“Huh?” pekik Bening kaget, tumben Naka menanyaakan kegiatan Bening.
__ADS_1
“Ada acara nggak hari ini?” tanya Naka mengulangi.
“Ehm...,” Bening berdehem dan diam sesaat, rencana Bening hari ini mau lapor ke desa kalau ada orang hilang di rumahnya. Tapi ajakan Naka adalah hal berharga yang tidak boleh dilewatkan.
“Ada acara nggak?” tanya Naka mengulangi.
“Em... nggak sih Kak, emang kenapa?” tanya Bening.
“Aku jemput ya!”
“Huh?”
“Iyah, aku jemput kamuke tempat kerja?”
“Kakak mau ke sini?” tanya Bening mengulangi.
“Iyah, aku habus gajian, aku ingin ajak kamu makan mau kan?” tanya Naka lagi.
Mendadak jantung Bening berdegub kencang, rasanya seperti ada bintang jatuh di hidunya. Saking bahagianya, Bening tak bisa berkata- kata.
“Bening?” tanya Naka mengulangi.
“Iya Kak!”
“Mau yah!”
“Iya mau!” jawab Bening cepat.
“Oke.. museum tutup jam berapa?”
“Jam 4 sore Kak!”
“Iya Kak!”
“Dandan cantik ya!” ucap Naka lagi membuat Bening tersipu dan pipinya merah.
“Iya Kak!”
“Ya udah, dah, selamat bekerja!”
“Dah Kak Naka selamat kerja juga!” jawab Bening berbunga- bunga.
Seluruh tubuh Bening langsung bergetar, mendapat ajakan berkencan dari pria yang bertahun- tahun dia kagumi. Bening langsung menggenggam ponselnye di dadanya sambil menahan degub jantungnya yang hampir meledak dan loncat keluar.
“Ya Tuhan, maaf kan aku, sudah berburuk sangka. Bapak pembuat kata bijak maafkan aku sudah meremehkanmu, inikah waktu akan indah pada waktunya yang orang bilang itu? Oh Tuhan? Apa Kak Naka mau nembak aku?” batin Bening kegirangan pipi dan seluruh wajahnya sekarang bersemu kemerahan.
“Puuk!” dari kejauhan, Leon melempar gulungan kertas membuyarkan lamunan indah Bening.
Bening pun menolehh ke Leon mendelik kesal.
“Iiiisssh!” desis Bening “Apa sih? Hoby banget gangguin orang?” omel Bening.
“Kerja woy, kerja! Jangan ngelamun, pagi- pagi bengong. Bukanya bersih- bersih!”
“Udah bersih, mang mau bersihin apalagi? Aku kan bukan ob, lagian nggak ada pengunjung, semua bersih!” jawab Bening membela diri menatap Leon si sepupu sekaligus seniornya dalam bekerja.
__ADS_1
Jika Leon sudah emnjadi karyawan tetap yang digaji kerajaan, Bening baru pekerja kontrak dan baru.
“Eh kamu ingat kan janjimu? Kamu traktir aku makan sate dan kasih nomer Tia!” tanya Leon menagih janji.
Bening langsung mengkerucutkan bibirnya.
“Giliran makanan dan Tia aja, ingat. Suruh bantuin aku nggak beres?”
“Lah aku udah bantu angkatin? Nggak beres gimana?” jawab Leon.
“Oke- oke, karena aku lagi bahagia, aku penuhi janjiku. Kita makan siang pesen sate!” jawab Bening .
“Nah gitu dong! Mana nomer Tia?”
“Tunggu dulu!”
“Apalagi? Katanya kamu hari ini lagi seneng? Seneng apa? Udah akur sama pria itu?”
“Ye enak aja! Aku seneng karena aku mau kencan sama Kak Naka!” jawab Bening tersenyum lebar dan memberikan senyum bahagianya.
“Naka?” pekik Leon terheran.
Bening mengangguk senang.
“Ya udah, mana nomer Tia?” tanya Leon terus meminta.
“Kalau itu nanti, masih ada tugas!”
“Apalagi?”
“Kamu urusi pria itu ya! Usir dia atau antar dia ke kantor desa!” jawab Bening meminta.
Sayangnya Leon tidak menjawab dan malah berdecak manyun. “Hhh malass kamu asik kencan aku suruh urusin orang sakit!” jawab Leon berhari.
“Heeeiii....,” teriak Bening kesal. “Kamu nggak mau nomer Tia?” tanya Bening teriak.
“PHP!” jawab Leon berlalu.
“Isssh,” desis Bening lagi. “Ah masa bodo dengan pria itu, yang penting aku mau kencan!” batin Bening bahagia.
****
Di rumah Bening.
Pria yang hilang ingatan itu bangun dari tidurnya. Dia pun segera menemukan catatan Bening. Pria itu menyunggingkan senyumnya.
“Gadis aneh!” gumam Pria itu duduk menoleh ke sekeliling dan ke meja.
Walau galak, rupanya Bening sudah meninggalkan secangkir teh dan susu hangat, juga saraapan nasi putih, dan telur dadar pedas.
Walau tubuhnya masih terasa linu di beberapa bagian seperti sehabis dipukuli, Pria itu bangun, ke kamar mandi buang air dan membersihkan wajahnya.
“Makanan apa ini? Kenapa semua makanan yang dia sajikan buatku semua asing? Apa tidak hanya ingatanku tentang siapa aku yang hilang, tapi tentang makanan juga?” gumam Pria itu memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya yang sedikit pening.
Tapi sekuat apapun dia mencoba mengingat, semuanya terasa gelap. Dia seperti berada di dunia lain, tapi kesakitanya nyata. Pria itu pun melahap semua makanan yang Bening sajikan. Lalu meminum obat. Dia kemudian mebuka tirai jendela dan duduk melamun sendirian.
__ADS_1
“Semalam dia kemana hujan- hujanan, aku tidak melihat ada rumah lain di sini? Dia kerja dimana?” gumam Pria itu lagi.
Rupanya saat hujan tadi malam, dia tidak benar- benar tidur, bahkan dia memperhatikan Bening dan menunggu Bening pulang.