Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Tolong Aku


__ADS_3

Bak tahanan yang tak berdaya, walau di rumah sendiri, tempat dimana sebelumnya kehidupan Bening bermuara indah, kini terasa sesak.


Tangan Bening dicekal oleh pria berbadan besar dengan begitu kencang, jika Bening melawan bukan dia lepas, tapi cengkeramanya terasa lebih kuat, membuat Bening kesakitan dan bahkan Bening dibentak juga dipukul.


Ruangan sempit yang sudah Bening dan Daka susun sedemikian rupa agar terasa longgar dan nyaman, kini menjadi sepetak ruang yang berantakan bak kandang pecah.


Bening pun dibawa masuk dan didudukan paksa di tengah barang- barang sederhana yang amat berjasa untuk hidupnya selama ini. Bening diikat seperti tawanan yang hendak diadili.


Seperti terdakwa, Bening di hadapkan pada perempuan belia yang sorot matanya menyiratkan kebencian yang teramat dalam. Bening terus melawan tapi tenaganya hanya habis tak berarti.


“Aku butuh bicara dengan perempuan ini! Jangan bunuh dia dulu!” ucap gadis nan cantik, yang Bening tebak sebagai bosnya.


Mendengar kata bunuh, Bening menelan ludahnya dan irama jantungnya berpacu lebih cepat. Isi kepalanya berputar kencanh dengan berbagai Tanya.


Salah apa Bening, dia tidak pernah menyalahi orang? Kenapa tiba- tiba rumahnya didatangi orang, diobrak abrik dan dia hendak dibunuh.


Siapa Abe? Jadi benar nama asli Daka adalah Abe. Lalu? Siapa suaminya sebenarnya? Gadis tepat di depanya terlihat sangat muda juga cantik. Tapi kenapa perkataan dan tindakanya begitu sadis. Kenapa juga gadis ini bersama orang- orang yang terlihat seram? Apa profesinya dan seberapa besar kekuasaanya?


“Kalian siapa? Apa salahku? Kenapa kalian obrak abrik rumahku? Kenapa juga aku dibunuh? Kalian salah orang! Lepaskan aku!” rengek Bening dengan berani.


Bukanya menjawab perempuan itu justru tersenyum sinis lalu maju ke Bening. Walau masih terlihat belia, tangan gadis itu mencengkeram dagu Bening dengan kuat dan menegakanya hingga mata Bening dan mata gadis itu beradu sangat dekat.


“Katakan dimana Kak Abe?” Tanya perempuan itu dengan tatapan menusuk penuh benci.


“Siapa Kak Abe? Aku tidak tahu! Kalian siapa? ini ada apa?” jawab Bening masih tidak gentar.


“Plak!” tanpa ampun dan kasian satu tamparan mendarat ke pipi Bening yang duduk dicekal tak bisa melawan.


“Auh…,” Bening pun hanya bisa mengaduh mengalihkan pandangan menahan rasa perih yang dihasilkan.


"Dimana Kak Abe!" bentak gadis itu lagi.


"Kak Abe itu siapa? Kenapa kalian mengikat dan memukulku begini? tidak bisakah kita bicara baik- baik?" tanya Bening mencoba berdamai.


"Plak!" sayangnya Bening malah dipukul lagi.


"Jawab pertanyaanku! Dimana Kak Abe!"


"Aku tidak akan katakan. Aku tidak tahu Abe!" karena dibentak Bening mencoba tangguh dan bertahan


"Plak!"


Sayangnya orang yang dihadapi Bening tengah diliputi emosi, sehingga perlawanan Bening berakibat kekerasan untuk Bening. Bening kembali dipukuli, namun Bening juga tetap berusaha bertahan.


"Dimana laki- laki yang bersamamu selama ini?" tanya gadis itu lagi.


"Apa urusanmu mencari suamiku? Kalian siapa? Kenapa kalian ganggu kami?" jawab Bening masih terus bertahan.


Mendengar jawaban Bening, gadis itu tiba- tiba tersenyum sinis.


“Apa kamu masih akan bangga dan berdalih kalau dia adalah Daka suamimu? Sementara kalian menikah secara paksa dan di saat dia tidak ingat siapa dirinya, Hah! Lancang sekali kamu berani memperdayai Kak Abeku!” omel gadis itu menggebu dengan penuh emosi.


Bening kemudian menelan ludahnya terdiam mendengar perkataan gadis itu. Sekarang Bening mengerti. Mereka adalah orang di kehidupan Daka. Tapi darimana mereka tahu kalau pernikahan Bening dan Daka terjadi secara paksa.

__ADS_1


“Benar kan? Jangan kamu pikir aku tidak tahu? Kalian menikah dengan paksa, di saat pengantin pria tidak ingat siapa dirinya, apa kamu pikir hanya karena kamu tidur denganya kamu bisa memilikinya? Hah! Tidak akan! Kak Abe milikku. Dia akan sadar dan meninggalkanmu!” ucap gadis itu lagi.


Bening masih menelan ludahnya menampung semua perkataan gadis itu sambil berfikir. Nama Daka yang sebenarnya adalah Abe? Lalu siapa gadis ini? Jika gadis tempo hari mengaku tunanganya? Lalu sekarang siapa? Kenapa semua mengaku Daka adalah milik mereka. Kenapa juga orang- orang yang mengaku kenal Daka selalu diikuti rombongan pengawal.


“Kenapa diam? Hah!” bentak gadis itu menatap nanar ke Bening.


Bening masih tidak bisa percaya dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang. Bening juga bingung harus bagaimana. Dalam hati Bening berkata, gadis ini terlihat masih muda dan penuh amarah, tapi kenapa dia begitu marah.


“Kami saling mencintai, Daka menikahiku dengan kesadaran walau dia tidak ingat siapa dirinya. Kami berjanji untuk selalu bersama. Kami hidup bahagia. Apa salah kami? Kalian siapa.” jawab Bening masih berusaha menjawab tenang.


“Plak!”


“Aak!”


Gadis ini kembali memukul Bening bahkan kali ini jauh lebih kuat berhasil membuat percikan darah di sudut bibir Bening.


Bening yang diikat tak bisa melawan, bahkan sekedar mengusap darahnya tak bisa. Dia hanya bisa merasakan perih di mulutnya.


“Kamu bilang cinta? Memperdayai orang yang lupa ingatan, apa itu cinta? Hah! Menjijikan!” bentak gadis itu kembali mencengkeram pipi Bening sangat kuat sehingga luka Bening semakin terasa perih.


“Aku membantunya berobat? Kita berobat? Daka terus berusaha mengingat masalalunya! Aku tidak pernah memperdayainya,” jawab Bening terus membela diri walau sambil menahan sakit.


“Plak!” Bening kembali dipukul tanpa ampun, bahkan kini memarnya ada di dua sisi.


“Kenapa kamu terus memukulku? Apa salahku? Aku menolongnya? Kami hidup bahagia!” jawab Bening lagi terus mempertahankan dirinya, bahkan kini Bening meneteskan air mata.


Heranya walau gadis itu yang memukul, mendengar kegigihan Bening menjawab dan menahan sakit, mendahuhuli Bening, gadis itu juga meneteskan air mata.


Aille pun menatap Bening dengan dengan berlinangan air mata. Dan dengan gerakan cepat tiba- tiba gadis itu menyerang Bening lagi.


“Kak Abe milikku, tidak ada orang lain yang boleh dicintainya! Kamu harus pilih, tinggalkan Kak Abe atau kau harus mati sekarang!” geram gadis itu tiba- tiba mencekik leher Bening.


“Hughs… hugsh.. hoh…,lep…” Bening yang tanganya diikat, dan lehernya dicekik hanya bisa berusaha mempertahankan nafas dan menggerakan kepalanya juga berusaha menjawab. “Lep- leps!”


“Putri..., dia hampir meninggal!” tegur salah satu pengawal gadis itu langsung melerai karena Bening hampir meninggal dan sudah pucat.


Gadis itu pun melepaskan tanganya dari leher Bening. "Biar saja!" ucap Aille dengan ekspresi frustasi.


“Uhuk…uhukk…,” Bening langsung terbatuk melonggarkan nafasnya begitu dia terbebas dari cekikan Aille. Tubuhnya langsung terasa lemas tak berdaya. Sejurud kemudian Bening menatap Aille yang menangis. Bening benar- benar heran. Aille seperti orang gila. Dia marah dia juga menyerang tapi dia juga ketakutan dan menangis, ada hubungan apa dan siapa dia di hidup Daka.


“Kenapa kamu ingin membunuhku?" lirih Bening bertanya pelan ke Aille.


Gadis itu masih berlinangan air mata dan tampak bernafas terengah juga. Dia kembali mendekati Bening.


“Tinggalkan Kak Abe! Dan katakana dimana dia! Kembalikan Kak Abe padaku!” ucap gadis itu lagi.


"Dia akan kembali jika memang dia mau!" jawab Bening lagi lirih.


"Diam kamu!" bentak Aille lagi tidak suka dengan jawaban Bening. "Kamu memang harus kubunuh rupanya!" teriak Aille tidak sabaran lagi, tapi langsung dicegah pengawalnya.


"Putri... jangan! Ingat tujuan kita!" bisik pengawal mengingatkan.


Aille pun menahan diri dan menatap Bening lagi.

__ADS_1


"Katakan dimana Kak Abe? Aku harus bawa dia pulang!" tutur Aille ke Bening


"Pulang?" gumam Bening dalam hati. Kali ini, mendengar kata pulang Bening meneteskan air matanya dan terasa sangat sakit.


Entah kenapa hati Bening berkata, gadis di depanya ini memang memiliki kedekekatan dengan Daka, dan Bening harus mengerti itu.


"Katakan dimana Kak Abe!" bentak gadis itu lagi.


Bening pun menelan ludahnya, menahan perih yang teramat sangat, lalu Bening memaksa membuka mulutnya menjawab.


“Dia pamit bekerja padaku!” jawab Bening lirih.


“Kerja?”


“Iyah!”


“Dimana dia bekerja?” tanya Aille mendesak.


Bening kemudian menjelaskan jalan dimana saja Daka biasa memulung.


"Kamu membuat Kak Abe memulung. Aku tidak akan mengampunimu!" ucap Aille lagi menjambak Bening mendengar penjelasan Bening.


"Aku tidak menyuruhnya. Dia bekerja dengan idenya sendiri! Tolong jangan sakiti aku!" lirih Bening menahan sakit karena rambutnya ditarik keras.


"Seharusnya kamu tidak biarkan Kak Abeku terkena debu dan kotoran. Lancang sekali kamu!" omel Aille masih tidak suka.


"Aak sakiit!" Bening yang kesakitan hanya bisa mengaduh memohon ampun.


Bak pertolongan Tuhan. Tiba- tiba terdengar suara motor dari luar. Aille pun melonggarkan cengkeramanya.


Anak buah Aille langsung memberi kode ke Aille kalau di luar ada orang yang hendak masuk dan sedang dihalau kawan mereka.


“Kalau ada yang tahu perbuatan kita, bisa jadi masalah Putri! Kita harus pergi!” bisik salah seorang pengawal.


“Oke… amankan!” jawab Aille mengangguk dan melepaskan Bening.


Sayangnya Bening sudah terlampau kesakitan dan lemas.


Aille kemudian menatap Bening sinis, lalu mendekat ke wajah Bening lagi dan mendekat ke telinga Bening.


“Aku beri kamu kesempatan hidup, tapi jika aku melihatmu bersama Kak Abe lagi, aku tidak segan menghabisimu. Tinggalkan tempat ini!” bisik gadis itu.


Bening tidak menjawab karenaa masih tidak mengerti.


Salah seorang pengawal memberi gadis itu masker lalu gadis itu tampak berlaalu diikuti anak buahnya membiarkan Bening terikat.


Di luar Bening memang mendengar suara perempuan ribut bertanya tapi kemudian menghilang disusul suara mobil yang berlalu.


Bening berusaha memutar kepala dan tubuhnya untuk memeriksa, dan tidak berselang lama, sahabatnya yang sudah beberapa minggu tak bertemu itu berjalan tergopoh menghampiri Bening.


“Bening!!! Ya Tuhan ada apa ini? Kamu baik- baik saja? Siapa mereka?” seru Tia kaget dan syok melihat Bening wajahnya sudah penuh lebam dan mengalir sedikit darah.


“Toloong, aku!” lirih Bening dengan sangat lemas.

__ADS_1


__ADS_2