
Daka berjalan dengan langkah tegapnya membawa sepatu Bening. Bening jadi bengong, sementara Tia terus dan bertambah kekagumanya.
“Kamu abis darimana? Jangan buat masalah lagi! Pusing aku! Jangan tambah bebanku!” omel Bening menyambut Daka.
Tia yang belum tahu apa- apa jadi memicingkan matanya mendengar pernyataan Bening. Kok Bening berani banget marah- marahin pria tampan yang mencuri hatinya. Heranya Daka diam saja. Siapa Daka? Saudara? adik atau siapa? Kalau pesuruh jelas bukan.
“Hmm...,” Sementara Daka yang terus disuudzoni Bening hanya mendengus kesal. “Nih sepatumu!” ucap Daka menyodorkan sepatu Bening denga nada tak kalah jutek dari Bening.
“Huh?” Bening terbengong, Tia langsung yang meraih dan memeriksanya.
"Jangan suka berfikiran buruk. Cuci tuh otakmu!" omel Daka tidak mau kalah.
“Waah kamu hebat. Nemuin dimana?” tanya Tia polos.
Daka tidak menjawab karena langsung disela Bening.
Bukanya terima kasih, Bening malah suudzon dan menatap Daka curiga.
“Kamu hantu ya? Atau jangan- jangan kamu selama ini udah tahu tentang sepatu ini? Kamu yang umpetin? Terus kamu pura- pura pingsan tidak berdaya dan pura- pura baik sama aku?” tanya Bening saking tidak habis pikir kok Daka nemuin sampah yang sudah dibuang. Padahal dia baru saja dari dokter.
“Ck.. haissh...,” Daka langsung mendesis gemas ke Bening. “Tak jitak lama- lama kamu ya!” cibir Daka.
"Iyuh!" desis Bening.
“Taaah, di sana Taah. Aku tanya sama tukang bersih- bersih yang lagi milahin sampah itu. Sepatu kamu disimpenin sama dia!"
"Oh!" jawab Bening singkat sedikit malu. Bening mengangguk tanpa terima kasih. .
“Waah keren kamu. Makasih ya!” celetuk Tia , malah dia yang makasih. Tapi Tia tidak dibalas lagi. Karena Daka belum puas mengomel ke Bening.
"Kamu kali yang nglindur. Kamu sendiri yang bawa aku. Baru juga tadi kamu suruh aku minum obat? Masih juga nuduh aku. Dasar! Jangan kebanyakan ngigau makanya!” ucap Daka balas omelin Bening
Tia jadi hanya menelan ludahnya jadi obat nyamuk di antara pertengkaran Daka dan Bening.
"Yaya udah stop!" ucap Bening tidak mau disalahkan.
"Udah sih jangan ribut. Makasih ya!" ucap Tia ke Daka menanangkan.
Daka hanya mengangguk ke Tia dengan mengangkan sudut bibitnya. Tatapan Daka masih fokus ke Bening yang mulutnya terkunci rapat. Entahlah Bening tidak bisa ditebak, sikapnua seperti sangat jedal ke Daka tapi dia juga yang menampung dan peduli Daka.
“Yuk berangkat!” ajak Bening dingin.
Tia mengangguk.
Lalu dengan menggunakan mobil Tia pergi meninggalkan tempat itu. Bening yang sudah menelpon Naka, mengajak ketemuan dengan Naka hendak menjelaskan apa yang terjadi denganya dan tunjukan siapa Alika.
Saat ini, Naka kerja lembur, jadi Bening diminta datang ke rumah pribadi Naka yang letaknya dekat dengan tempat kerjanya. Rumah Naka adalah rumah yang sempat menghiasi percakapan Bening dan Naka membayangkan indah masa depan mereka.
Karena itu mobil Tya, meski Daka laki- laki, Tia di depan bersama Bening dan Daka di belakang jadi penumpang.
“Daka!” ucap Bening tiba- tiba.
“Hmmm...,” jawab Daka dingin.
__ADS_1
“Ingat pesen aku. Jangan pergi- pergi dan buat aku pusing atau aku nggak peduli lagi sama kamu. Ingat kamu harus sembuh dan bayar hutangmu!” titah Bening tiba- tiba selalu mengucapkan oeringatan yang sama dan berulang- ulang.
“Iya berisik banget sih!” jawab Daka yang sudah bosan dengar peringatan Bening.
“Aku nggak mau Naka salah paham, nanti kamu di mobil aja, jangan pergi- pergi! Ingat!"
lanjut Bening memberi aturan.
“Ya...!” jawab Daka dengan nada kesal, heran Bening sangat cerwet. Daka seperti anak kecil yang merepotkan.
Tiapun hanya mendengarkanya dengan bingung, kepala Tya mendadak pening. Tya pun memilih diam. Mereka lalu terdiam dan suasana hening. Tidak lama terdengar dengkuran halus dari Daka.
“Ish...,” Bening pun kembali geram menoleh ke belakang. Daka tertidur.
“Dia sebenarnya siapa?” tanya Tia berbisik.
“Dia beban hidup gue!” jawab Bening asal dengan raut cemberut.
Tia pun mengernyit, "Maksudnya?”
“Dia orang pingsan yang aku temuin di kali!” jawab Bening dnegan nada kesal.
“What?” pekik Tia.
“Beneran!”
“Kamu nggak nglindur kan? Dia orang hilang yang kamu tolongin maksudnya?” tanya Tia.
“Iya beneran. Dia lupa ingatan jadi dia menguntitku!” ucap Bening.
“Makanya jangan asal naksir- naksir! Dia orang nggak jelas!” ucap Bening lagi.
“Tunggu- tunggu! Maksudmu? Dia lupa ingatan? Berarti nggak punya temlat tinggal dan nggak punya keluarga? Dia tinggal sama kamu?” tanya Tya sembari melirik ke Daka yang tampak pulas.
“Iyah!” jawab Bening mengangguk.
“Whoah, kamu serumah sama dia?” tanya Tya lagi semakin tidak menyangka.
“Iyah!”
“Kok bisa?”
“Ya gimana? Dia menolak aku suruh lapor ke polisi atau dinas terkait?” jawab Bening.
"Bukan itu maksudku!" jawab Tya.
"Terus Bisa apa?"
“Ehm... ehm...,” Tia jadi berdehem, “Kamu yakin nggak ada perasaan sama dia?” tanya Tia berbisik.
“Apaan sih?” tanya Bening jadi geram ke Tya.
“Yakin di antara kalian nggak terjadi sesuatu?” tanya Tia lagi.
__ADS_1
“Ish ngawur deh! Nggaklah! Aku tidur di dalam dia di luar!” jawab Bening menyangkal dengan tegas.
“Kok bisa sih kamu tahan, tinggal serumah dengan pria seganteng dia nggak ngelakuin apa- apa?” celetuk Tia lagi berbisik.
Bening yang mendengarnya jadi kesal dan langsung menoyor Tia dengan tasnya. Tia pun terkekeh.
Bening pun cerita, kalau Daka masih pengobatan dan baru sembuh dari lukanya.
"Kamu nggak tahu sih pas dia oertama kutemuin. Pucat pasi. Berdarah- darah!" ucap Bening.
“Oh gitu?” Tya pun mengangguk. "Ya. Kontrakanmu terpencil sih. Yang penting orang nggak salah paham ke kalian!" ucap Tya mengingatkan dan sekarang normal.tidak rese.
“Hmm... iya. Leon nggak mau bantu aku. Dia juga katanya juga butuh tempat sepi. Kamu punya kerjaan nggak biat dia? Biar dia pergi dari rumahku dan bisa mandiri!” tutur Bening lagi masih memikirkan nasib Daka.
“Nanti ya aku tanya teman!” jawab Tia jadi ingin bantu Daka juga.
"Oke!"
Karena asik ngomongin Daka, tidak terasa mereka sampai ke komplek permahan Naka. Mereka pun menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Naka di tepi jalan.
Daka masih terlelap. Tya dan Bening kemudian memilih tetap menyalakan AC dan meninggalkan Daka di mobil.
Bening yang dicintai Naka, sudah Naka beritahu dimana letak kuncinya. Bening pun melangkah masuk dan membuka pagar yang ternyata tidak terkunci.
Akan tetapi langkah mereka terhenti di depan pagar.
“Kalian?” pekik Bening kaget melihat perempuan yang sedang menikmati camilan di teras rumah Naka.
“Hai...,” sapa perempuan cantik yang tampak mengobrol dengan perempuan cantik satunya.
"Hoh?" Bening hanya menghela nafasnya menahan geram
"Ngapain kamu di sini? Penyihir?" tanya Tia kesal ke Alika.
"Aku yang tanya kalian ngapain ke sini?" jawab Alika.
"Iyah. Kalian siapa?" sahut perempuan manis di depan Alika.
Bening yang tahu itu adik Naka hanya menelan ludahnya. Tia yang tidak tahu langsung menyahut.
"Aku teman Naka. dan Dia pacar Naka!"
"Aku adiknya, dan dia calon istri Kak Naka!" jawab Adik Naka dengan jelas.
Tya yang belum tahu pun menelan ludahnya.
"Bening?" lirih Tya.
"Iyah. Dia adik Naka!" jawab Bening.
Alika pun tersenyum puas melihat Bening dan Tya. Lalu tatapan Alika terpaut ke sepatu Bening.
Alika lalu beranjak dari duduknnya dan mendekat ke Bening.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Alika.