
Setelah sarapan di pasar desa dan memilih pedagang yang murah, Daka dan Bening melanjutkan perjalananya, mengayuh sepeda ke halte bus dengan santai, saling berpegangan menikmati panorama jalan.
Walau mengayuh tak ada lelah yang Daka rasa, semua terasa indah, bahkan waktu tempuh tak terasa karena sepanjang jalan mereka bercengkerama, saling berandai- andai tentang hari indah bersama dan sesekali Bening mencubit mesra pinggang Daka.
"Beli mobil, gimana ceritanya? Makan aja nggak ada uang!" cibir Bening menjawab ocehan Daka yang tiba- tiba bilang ke Bening, target Daka usaha, beli handphone, rumah sampai bekerja mengendarai mobil.
"Ck. nggak ada yang nggak mungkin. Buktinya aku bisa bertemu denganmu dan menikah denganmu!" jawab Daka lagi.
"Hemmm... sudah- sudah jangan banyak menghayal. Sekarang fokus dulu. Kamu belum punya ponsel kan? Itu yang paling penting!" jawab Bening lagi.
"Ya! Tapi harganya berapa? Ponsel itu?" jawab Daka.
"Terserah, kalau mau yang second. 1 juta boleh! Yang penting kamu punya dulu. Jadi kita nggak susah buat komunikasi dan jualan lagi!" sambung Bening menasehati Daka.
"Oke.. siap Tuan Putri!" jawab Daka.
"Tapi ngomong- ngomong kamu kerja apa sih? Kapan kamu gajian lagi?" tanya Bening mendesak.
Ditanya tentang pekerjaan Daka, seketika itu Daka terdiam. Daka kan gajian dari setiap setor sampah. Jika tidak mulung ya tidak dapat.
Walau setuju Bening ikut ke tempat Bu Maria, Daka masih ragu mengajak Bening mulung. Daka hanya ingin ajak Bening tanya hasil jualan kemarin saja.
"Pokoknya halal! Kan hanya sementara?" jawab Daka.
"Iya, apa?" tanya Bening lagi.
"Ya kan udah tahu, Bu Maria dagang kita juga?" jawab Daka kemudian.
Ya.. selain mulung, Bu Maria memang dagang makanan tapi hanya di acara ramai saja, bukan keseharian. Itu juga Bu Maria jualan hasil buatan temanya.
Bening pun mengeratkan peganganya pada Daka. Bahkan sesekali menyandarkan kepalanya. laki- laki tampan menyebalkan yang dia tolong menjadi pria tampan yang menyediakan dadakya sebagai topangan yang nyaman untuk Bening bersandar.
Tidak lama mereka sampai ke halte bus dan Daka langsung mengajak Bening ke tempat Bu Maria.
"Jangan marah dan kecewa ya, kalau tahu pekerjaanku," bisik Daka ketika turun dari bus sembari menarik tangan Bening dan menatapnya dalam.
Bening menjadi terharu, dibuatnya. Bening pun menatap Daka dengan penuh cinta. Pria yang hampir mati dan awalnya dia anggap sebagai parasit, kini tampak begitu gagah berjuang dan bekerja keras untuknya, tentu sekecil apapun pekerjaan Daka akan Bening hargai. Apalagi sekarang Bening hanya punya Daka.
"Selama itu halal dan kamu jujur ke aku. Aku bangga sama kamu!" jawab Bening.
Daka tersenyum senang kemudian mengacak- acak rambut Bening. Daka pun kembali menggenggam tangan Bening dan menggandengnua masuk ke pemukiman padat penduduk.
****
"Sstt.. jangan gegabah, Putri! Tunggu!" tutur Putri Camillia pada Putri Aille menarik tangan Putri Aille.
"Itu Kak Abe... siapa perempuan itu?" gerutu Putri Aille wajahnya langsung merah padam.
Putri Camillia pun tersenyum kecil.
"Sekarang kamu percaya padaku kan? Tapi kita tidak bisa menemuinya sekarang. Kita harua buntuti mereka dulu sampai kita tahu dimana mereka tinggal," bisik Putri Camillia ke Putri Aille.
"Kak Abe.. itu Kak Abe. Kak Abe masih hidup. Aku harus temui dia. Aku tidak mau dia bersama gadis dekil itu!" gertu Putri Aille kesal.
"Sabar....,"
"Kak Abe ngapain di rumah kumuh itu?" tanya Putri Aille lagi tidak berhenti mencibir.
Daka dan Bening tampak menghampiri Bu Maria. Bu Maria pun sedang memilah sampah, mengetahui kedatangan Daka dan Bening, Bu Maria langsung bangun dan menyambut.
Sementara Bening wajahnya langsung pucat dan matanya sendu.
"Bu Maria sedang apa?" tanya Bening kaget.
Bu Maria langsung tersenyum, sementara Bening menoleh ke Daka. Daka menelan ludahnya kemudian menjelaskan ke Bening.
"Aku selama ini bantu Bu Maria, kumpulin sampah plastik, setelah itu kita jual!" jawab Daka lirih.
"Ya...Ibu ini pemulung dan petugas kebersihan. Suamimu yang nakal ini bukan pegawai Ibu, tapi dia yang bantuin Ibu angkut sampah- sampah ini!" tutur Bu Maria menjelaskan.
Bening langsung menyeringai kaget.
__ADS_1
"Oh.. Gerobak makanan yang kemarin, itu apa?" tanya Bening lagi. Setahu Bening, Bu Maria penjual makanan.
"Itu punya ponakan! Kalau ada pesta besar seperti kemarin, Ibu ikut bantu jualan soalnua seringnya ramai. Kalau sehari- hari jualan sendiri. Yang mbak kemarin itu, Mbak Sita," sahut Bu Maria menjelaskan.
Bening tampak tercekat dan tidak menjawab lagi. Daka pun peka dan langsung berucap.
"Pekerjaanku begini. Sudah kubilang kan? Jangan ikut makanya! Kamu tenang aja, aku nanti akan cari pekerjaan lebih," ucap Daka menebak dari raut muka Bening, Bening kecewa.
Akan tetapi, Bening tampak menghela nafasnya, menunduk sebentar kemudian mengangkat wajahnya tersenyum sembari meraih tangan Bu Maria.
"Saya ikut bantu kumpulin sampahnya, boleh kan Bu?" tanya Bening sumringah.
"Hoo.?" Daka yang mendengarnya dan dicueki langsuny terbengong menoleh Ke Bening. Bening beneran mau mulung juga.
Akan tetapi Bu Maria langsuny menolak dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" jawab Bu Maria tegas.
"Kok?" tanya Bening.
"Ayo masuk dulu. Jangan ngobrol di sini. Ibu tak cuci tangan!" jawab Bu Maria.
Bening pun tampak mencebik. Bu Maria cuci tangan lalu mengajak Bening masuk ke dalam rumah kecilnya. Daka terus menatap Bening dengan penuh kagum dan cinta, begitu Bening yang semakin bersyukur Daka mau bekerja seperti itu untuknya.
Mereka berdua pun masuk melewati beberapa sampah yang sudah Bu Maria tata.
Semua gerakan mereka tidak luput dari pemantauan Putri Camillia dan Aille yang bersembunyi di dalam mobil.
"Duduklah...," tutur Bu Maria mempersilahkan mereka duduk di tempat yang sangat sempit.
Daka dan Bening duduk, mereka berdua sama sekali tidak segan, Daka malah senang karena dia jadi bisa berdekatan dengan Bening. Bening sendiri sudah terlatih untuk hidup miskin.
"Ini hasil jualan kalian. Alhamdulillah habis, belum sore sudah habis!" ucap Bu Maria menyerahkan hasil jualan mereka kemarin.
"Wuaah..., banyak. Kita berhasil!" Daka langsung tersenyum senang dan bangga.
Sementara Bening tersenyum tenang lalu memundurkan uangnya.
"Terima kasih Bu. Bu Maria juga ambil, keuntunganya," tutur Bening ramah.
"Kaliaj kan baru merintis. Ambilah dan jadikan modal lagi. Ibu bisa cari uang sendiri,"
"Tapi, Bu nggak apa- apa. kan kita kerja sama. Jadi bagi hasil!" jawab Bening.
"Sst.. jangan ngeyel. Simpan dan buat belanja lagi. Satu lagi! Kalian berdua masih muda, ganteng cantik sehat energik dan punya otak. Jangan sekalipun berniat jadi pemulung kaya Ibu. Suamimu saja yang pemalas dan nakal tidak mau mikir ide cari uang. Ibu nggak mau kamu kaya ibu mungutin sampah. Ayo berfikir lagi ide apa yang bisa kalian pilih untuk dapat uang!" tutur Bu Maria memarahi Daka dan Bening
Daka hanya melengos dan mencebik tanpa salah. Sementara Bening tampak tersenyum lalu menunduk berfikir.
"Makasih ya Bu!" jawab Bening menarik uangnya.
"Ya... sebentar. Tak ambilkan minum dulu, Nak Cantik," ucap Bu Maria.
"Nggak usah repot- repot, Bu!" jawab Bening sungkan.
Akan tetapi Bu Maria tetap ke belakang.
"Tuh...jangan ikut. Dimarahin kan? Bu Maria itu galak, ngeyel kamu sih!" bisik Daka malah mencibir
Bening yang mendengarnya hanya manyun dan mendesis.
"Ishh... apaan sih?" jawab Bening malah bangun dan hendak keluar rumah.
"Eits.. Kamu mau kemana?" tanya Daka.
"Brisik!" jawab Bening.
Bening berjalan ke arah hiasan dinding yang Bu Maria buat juga pot- pot tanaman yang Bu Maria buat. Bening tampak mengamati memegangnya lalu Bening keluar dan melihat- ligat sampah Bu Maria
Daka hanya bisa menatap Bening heran, sampai Bu Maria keluar membawa minuman.
"Minum dulu, Nak," sapa Bu Maria mengajak Bening.
__ADS_1
Daka sendiri sudah langsung mengambil cangkir teh dan menyeuputnya.
"Ah iyaa... Bu!" jawab Bening lalu membawa satu pot cantik Bu Maria.
Bu Maria pun tersenyum.
"Ibu suka iseng...jadi buat begituan!" tutur Bu Maria.
"Ini semua Ibu yang buat?" tanya Bening
"Iya!"
"Kalau gitu kenapa kita nggak coba daur ulang sampah- sampah ini jadi kerajinan ini Bu?" celetuk Bening kemudian
"Uhuk...," Daka langsung terbatuk
Sementara Bu Maria hanya tersenyum.
"Siapa yang mau beli Nak? Wong ming mainan begini?" jawab Bu Maria.
"Hp.. Bu. Nanti Bening yang pasarin, buat sambilan aja. Sedapatnya!" sahut Bening.
"Setuju, Bu. Iya aja!" sahut Daka.
Bu Maria pun tersenyum dan ikut saja. Lalu mereka bercengkerama dan setelah tehnya habis. Saat itu juga Daka dan Bening langsung action mengambil beberapa plastik yang menurut Bening bisa diolah.
Sisanya tetap dijual.
****
"Tunggu apalagi? Kok kita malah liatin mereka sih?" gerutu Putri Aille tidak sabar.
"Kalau kita turun sekarang, yang ada Pangeran Abe akan marah dan tidak akan berdama kita, Putri!"
"Ya tapi masa.kita biarin Kakak begitu? Mereka lagi apa sih?" jawab Putri Aille lagi.
"Maka itu kita lihat dulu. Kita harus tahu juga dimana mereka tinggal, sabar!" ucap Camilli terus menahan Aille yang tidak sabar untuk turun dan menghampiri Daka.
Aille pun cemberut, akan tetapi seketika mereka itu sama- sama fokus ke Daka dan Bening saat Bening dan Daka tampak audah selesai bekerja.
"Segini cukup ya Bu?" ucap Bening sudah menyimpan mana yang akan dijual dan mana yang akan diolah
Bu Maria yang dibantu pun sangat senang melihat anak muda seperti Bening dan Daka mau bekerja.
"Ya...,"
"Ya sudah, hari ini segini dulu ya Bu. Kita pulang dulu!" pamit Bening.
Bu Maria mengangguk tersenyum dan mempersilahkan. Tentunya memberi bekal oleh- oleh makanan untuk mereka berdua.
Bening dan Daka oun menerimanya de gan senang. Mereka kemudian kembali berjalan mencari bus untuk pulang.
"Kok kaya ada yang liatin kita, ya!" ucap Bening ke Daka merasa ada yang mengawasi.
Daka tersenyum menenangkan lalu tanganya tergerak merengkuh bahu Bening dengan mesra.
"Aku yang merhatiin kamu terus, udah tenang aja!" bisik Daka.
"Ish...tempat umum jaga sikap!" bisik Bening risih dipeluk Daka.
"Kan sama istri!" jawab Daka.
"Tapi nggak sopan!" jawab Bening menjauhkan duduknya.
"Hmmm...," dehem Daka, dan bus yang mereka tunggu datang.
Bening dan Daka pun naik.
****
Di dalam mobil dua perempuan cantik itu sama- sama mengeratkan rahangnya kesal.
__ADS_1
Lebih dari Putri Camillia, Putri Aille benar- benar merah padam dan sangat tidak suka ke Bening.
"Kamu harus berhadapan denganku berani menyentuh Kak Abeku!" gerutu Putri Aille.