Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Bertanggung jawab.


__ADS_3

Bening langsung gelapagapan, mukanya menciut dan nyalinya pergi mendengar pertanyaan Cica.


Bening kan sudah mengatai Daka beban hidup. Bening juga mempersilahkan Cica sok- sok aja kalau mau Daka, sebab Daka menyebalkan awalnya. Bahkan mengelak kalau terjadi sesuatu. 


Sementara Daka tersenyum santai sambil menggaruk kepalanya. 


“Eh... ada Dek Cicha... keren banget pagi- pagi udah cantik sampe sini? Sayang...contoh Cicha dong, jam segini udah wangi, jangan ajak Bang Daka mainan mulu!” jawab Daka malah sangat sengaja meledek Bening membuka semuanya.


“Ngeek...,” 


Mulai dari kata Sayang yang dilontarkan Daka, baik Bening dan Cicha langsung melotot. Disusul dengan pernyataan lain. Cicha kaget dan heran. 


Sementara Bening langsung geram, Daka samasekali tidak bisa diajak kompromi. Pandai sih bersandiwara, tapi sesat, mainan, mainan apa coba. Tidak ada mainan di antara mereka, hanua Daka yang bermain Bening tidak. Otak Cicha pun semakin travelling. 


“Kalian pacaran?” tanya Cicha mendadak mukanya pucat. 


“Cicha... aku bisa jelasin!” celetuk Bening cepat dengan wajahnya yang gugup.


“Pacaran? Kamu belum cerita Yang ke Dhek Cica? Aku siapanya kamu?” sementara Daka tidak mau kalah memberitahu. 


Cicha jadi menyeringai, menoleh ke Bening dan Daka bergantian. 


Bening langsung pucat dan hanya bisa mengeratkan rahangnya menoleh ke Daka. 


“Aku suaminya, Bening. Cha!” sahut Daka cepat tidak menjeda Bening berkata lagi.


“Hhh...,” Bening pun langsyng membuang nafasnya. “Aih... Daka,” gumam Bening menggigit bibir bawahnya dan menunduk malu.


“Hooh.” Sementara Cicha langsung terbengong, spontan menutup tangan dengan mulutnya, kemudian menoleh Bening yang menunduk dengan senyum masam. 


“Maaf, Kak. Cicha nggak tahu, Bening belum cerita! Jadi kalian suami istri? Pantas?” jawab Cicha menampakan sikap berjiwa besar. 


“Gimana kamu sih, Yang? Kok Cicha nggak dikasih tahu?” ucap Daka lagi tersenyum melihat Bening yang wajahnya sudah pucat pasi. 


Cicha pun ikut menoleh ke Bening, lalu mendekat dan menepuknya. 


“Bening kenapa kamu harus berbohong dan malu sih? Selamat ya.. ternyata kamu udah menikah, punya suami setampan Kak Daka lagi!” tutur Cicha memaksakan diri tersenyum. 


“Ca.. aku bisa jelasin!” ucap Bening tergugup. 


Cica hanya menjawab anggukan senyum. 


“Lo nggak perlu jelasin apa- apa kok. Aku seneng dengarnya!” jawab Cicha lagi dengan tersenyum. Tapi Bening merasa senyum Cicha aneh. 


“Aku nggak sengaja bohong, kita menikah, karena!” ucap Bening hendaak menjelaskan, saat Daka ke museum kan Bening dan Daka memang belum menikah. 


“Ssstt..,” Cicha yang hatinya sudah dibuat kecewa, merasa dibohongi dan dibodohi, langsung menyetop Bening untuk tidak banyak berkata.


“Udah nggak apa- apa. Berita baik, kan tidak seharusnya disimpan. Aku tahu kok gimana perasaanmu, jangan minder kalau suamimu bukan pria mapan atau bertitel, abaikan omongan orang, kamu nggak perlu sembunyikan pernikahanmu! Kak Daka pekerja keras kan?” tutur Cicha malah salah paham mengira Bening merahasiakan pernikahanya karena Daka hanya modal ganteng doang. Daka terlihat play boy, berandal, miskin dan tidak punya masa depan. 


Daka yang mendengarnya sedari tadi hanya senyum – senyum sendiri dengan tatapan dalamnya melihat reaksi Bening. 


“Bukan... bukan itu maksudku!” jawab Bening cepat, hendak memberitahu mereka menikah karena dijebak, dan baru beberapa hari. 


“Tuh dengerin Cicha, Yang. Jangan malu punya suami berandal kaya aku!” Daka langsung menyahut. 


“Hiish...,” desis Bening ke Daka. 


“Ya udah, maaf aku ganggu kalian. Sampai bangunin pagi- pagi. He... aku pulang ya!” ucap Cicha lagi raut mukanya malu dan kecewa karena ketahuan hendak mendekati suami orang. 


Dipamiti Cicha Daka hanya bersedekap. 


Sementara Bening langsung merasa tidak nyaman dan mencegah Cicha. 


“Cha... dengerin gue dulu. Jangan pergi gitu dong!” 


“Nggak apa- apa Bening. Itu udah kubawain bekal buat sarapan. Aku ada keperluan..., Daah!” pamit Cicha tetap pergi. 


“Cha....,” rayu Bening lagi merayu Cicha dan memegang tanganya.


Cicha langsung menghempaskan tangan Bening dan tetap berlalu pergi.


Bening pun melepasnya dengan wajah yang malu. Kini Cicha pun pergi. Bening berdiri lemas membelakangi Daka. 


Daka tidak mau ambil pusing dan memilih berjalan ke kamar mandi. Daka kan semalam ngompol jadi dia harus segera mandi. Tangan Bening yang sempat menyentuhnya juga merasa sedikit lembab. 


“Hhh... kenapa semuanya jadi begini sih? Aih... aku hanya berniat menolongnya, tapi kenapa dia jadi harus menempel di hidupku l?” gumam Bening lagi akal sadarnya masih gengsi mengakui kalau sekarang hidup Daka sudah terpaut dengan dirinya.


Bening menoleh ke belakang dan Daka tampak berjalan ke kamar manda. 


“Woy... stop, aku dulu yang mandi!" teriak Bening ke Daka tidak mau ke kamar mandi dilewati Daka. 


Daka berhenti dan menoleh. 


“Aku kebelet, aku dulu!” jawab Daka. 


Bening berjalan cepat sambil ngomel. 


“Ngaak! Aku dulu, aku mau susul Cicha dan jelasin semua. Lagian ngapain sih kamu bilang sayang- sayang segala Harusnya kamu tadi di kamar aja. Kan aku jadi dikira pembohong!” omel Bening ke Daka. 

__ADS_1


"Aku jujur sayang sama kamu!"


"Sayang palamu Peyang!" jawab Bening kesal.


Daka hanya memperhatikan Bening dengan tatapan dalamnya, sama sekali tidak merasa diomeli tapi justru gemas ke Bening yang marah- marah malu. Padahal Daka sangat bisa melihat ekspresi Bening saat cemburu. 


“Yakin nggak sayang? Yakin nih mau terus bohong dan nutupin? Ya udah kubatalin ya!” jawab Daka santai. 


Bening jadi terdiam dan mengernyit. 


“Kamu nanya aku? Yakin apa nggak? Batalin gimana maksudnya? Minggir!” tanya Bening. Sembari ingin menerobos Daka yang menghalagi Bening di depan pintu dapur. 


“Oke. Aku akan bilang lagi ke Cicha kalau kita sandiwara. Jangan marah dan uring- uringan lho, kalau nanti cewe- cewek pada nempel dan ngejar aku!” gurau Daka lagi. 


“Ish.. apaan sih. Nggak jelas. Lagian telat kasih tahu Cica. Minggir sih!” jawab Bening tersipu.


Sebenarnya Bening membenarkan pernyataan Daka, Bening memang tidak suka dan tidaak rela Daka didekati perempuan lain, tapi Bening juga tidak mau dikatai pembohong. Mau Bening kasih tahu Cica pelan- pelan dan dengan cara yang elegan.


Daka yang merasa belum puas mengorek perasaan Bening agar Bening mengakui, tidak mau mengalah, Daka malah semakin memperlebar kaki dan tanganya menutup pintu agar tak bisa dilewati. 


“Apaan sih. Aku harus kerja dan jelasin ke Cicha juga anak- anak. Kalau kamu itu gelandangan yang nggak tahu diri! Minggir sana!” 


“Gelandangan yang Nggak tahu diri apa jadi rejeki dan harta karun?” gurau Daka lagi.


“Ihh...,” 


“Suka juga, beruntung kan kamu nemuin aku?” 


“Ck!” decak Bening terus menekan kaki dan tangan Daka untuk turun dan menyingkir agar dia lewat. "Iiih!"  


“Kenapa sih?" jawab Daka ngotot menghalagi Bening dan malah senang disentuh Bening.


“Kenapa apanya, aku tuh nggak beruntung, tapi kena sial dan kesalahan besar udah bawa pulang beban hidup kaya kamu ke rumah,” jawab Bening tidak mau membuat Daka besar kepala. 


“Yakin? Berkah kali!” gurau Daka senang sekali menggoda Bening.


“Ihh...,” Bening akhirnya habis kesabaran dan berniat menggigit tangan Daka. 


“Auh...,” pekik Daka menarik tanganya.


Akhirnya Daka pun melepaskan


"Syukurin!" ejek Bening puas melihat Daka kesakitan. Bening langsung berjalan cepat ke dapur. 


“Mandi bareng aja yuk!” gurau Daka. 


“Ogah!” jawab Bening ketus sambil membanting pintu. 


“Krek!” pintu kamar mandi kembali terbuka, ternyata benar Bening lupa lagi, Daka pun hanya terkekeh, terpaksa Daka mengalah membiarkan Bening mandi  duluan. 


Sembari menunggu Bening mandi Daka mempersiapkan sarapan yang sudah dibawakan Cicha. 


Walau diam- diaman, karena Bening masih malu, Bening tetap menyantap sarapan yang sudah Daka siapkan, akan tetapi Bening makan saat Daka mandi. 


“Sepedanya pakai saja. Aku libur!” ucap Daka berbohong. 


Sebenarnya menjadi pemulung tidak ada hari kerja atau libur tapi semaunya, hanya saja Daka malas lelah dan kasian ke Bening harus terus jalan kaki. 


“Kamu kerjanya apa sih? Kok baru beberapa hari kerja udah libur?” tanya Bening heran. 


“Ada yang penting halal udah sana bawa aja sepedanya,” 


“Mencurigakan!” 


“Besok deh kamu aku kasih tahu tempat kerjaku kalau kamu libur!” ucap Daka lagi. 


Akhirnya Bening pun memakai sepedanya Daka. 


****


Sesampainya di tempat kerja, teman- teman Bening tampak lebih diam dan menatap aneh ke Bening.


Bening berusaha mencari Cicha, tapi Cicha tidak terlihat. Padahal seharusnya Cicha kan sudah sampai.


Atasan baru mereka pengganti Leon pun membuat peraturan baru. Pengganti Leon merupakan pegawai perempuan yang disiplin teliti tegas dan tanpa ampun. Berbeda dengan Leon. 


Di hari ini pun beliau membuat aturan selain pegawai tetap akan dinilai kerjanya. Juga tidak segan memberhentikan, megingat pendpatan museum sedikit dan tidak ada anggaran untuk menggaji. Tentu saja Bening satu- satunya pegawai tidak tetap di situ langsung tersindir dan merasa.  


Menyadari dirinya posisinya terancam. Bening pun melakukan pekerjaanya seperti biasa dan lebih rajin, tidak peduli hari ini teman- temanya tak menyapanya seperti biasa. 


Hingga siangnya, saat Bening hendak istirahat, terjadi kehebohan. 


“Ada apa ini?” tanya Via. 


“Kotak musik yang di sini tidak ada ini ditukar dengan yang palsu!” celetuk Vita. 


"Kok bisa?"


Ternyata satu benda museum yang bernilai ratusan juta itu hilang dan tinggal benda imitasi. Atasan Bening yang galak pun langsung mengadakan sidang.

__ADS_1


"Lihat aja cctv!" celetuk Via


"Iya!" sahut Cicha sudah nongol.


Mereka semua pun berkumpul.melihat cctv. Di ruang itu pun yang masuk hanya Bening karena Bening memang ditugasi menata bagian itu.


Semua pun menoleh ke Bening dan mereka semakin sinis.


"Aku nggak ngambil!" jawab Bening cepat.


"Aku nggak nyangka ya. Kamu takut dipecat lalu ambil jalan pintas nyuri?" celetuk Via.


"Bening kalau kaya gini. Kamu malah bunuh diri! Padahal kan nggak ada yang mau pecat kamu!" celetuk Sila.


Dituduh seperti itu, hati Bening pun semakin sakit. Bening langsung meneteskan air matanya dan menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak ambil. Sungguh percaya padaku!" jawab Bening sambil terisak


"Bagaimana aku percaya ke kamu Bening. Bahkan Kak Daka yang sebenarnya suami kamu kamu bilang bukan tipemu juga bukan siapa- siapamu?" celetuk Cicha menimpali.


"Cicha... tapi ini beda. Kamu nggak tahu masalahnya. Percaya ke aku!" isak Bening lagi mencova meyakinkan dan memohon belas kasihan.


Sayangnya semua tidak ada yang percaya dan semakin mencemooh.


"Biar objektif. Mending kita periksa semua tas pegawai!" celetuk atasan mereka.


Dan setelah di geledah, ternyata kotak itu ada di tas Bening


"Nggak nyangka ya Bening ternyata bermuka dua!"


"Waah parah!"


"Udah pembohong. Pencuri. Pantas diputusin Naka."


"Pantas nggak menang!"


Semua cemoohan dan tuduhan pun terlempar dan jatuh ke Bening. Bening pun hanya bisa menangis sesenggukan menahan semua sakit yang diberikan padanya.


Bening kemudian dipanggil.


"Pilihanya kamu bayar uang denda, atau kami laporkan ke polisi. Tapi tetap kamu saya keluarkan!" ucap Atasan Bening.


Bening masih terus menangis tidak terima.


"Saya bersumpah saya tidak mengambilnya Bu!" jawab Bening


"Ke kantor polisi atau bayar denda 1 juta sebagai pengembalian gaji kamu bulan ini!" ucap atasan Bening dengan tegas tidak mentolerir Bening untuk keluar. Bahkan Bukanya dapat pesangin Bening disuruh mengembalikan gaji bulan ini atau dilaporkan polisi. Itu saja melebihi gaji Beninf.


"Saya akan bayar!" jawab Bening akhirnya.


Bening pun menyeret kakinya dengan langkah yang berat sembari menangis dan membawa tasnya. Teman- teman Bening pun menatap Bening sinis selayaknya orang hina.


Bening pun berhenti di depan Cicha dengan derai air matanya.


"Aku bersumpah tidak mengambil barang itu. Aku pun menikah dengan Daka baru beberapa hari itu jarena Ibu tiriku yang memaksaku!" ucap Bening menjelaskan ke Cica.


Cica kemudian tersenyum masam.


"Aku nggak nyangka ya. Kamu terntata selain bermuka dua, pembohong, pencuri masih juga pendongeng ulung!" jawab Cica tersenyum sinis.


Bening pun menelan ludahnya dan memilih pergi. Hari itu pun Bening dipecat secara tidak hormat saat itu juga.


Sesampainya di rumah Bening menangis tersedu- sedu.


Daka yang tidak bekerja pun langsung mendekat dan memeluk Bening. Awalnya Bening memberontak dan menolak Daka. Tapi Daka memaksa memeluknya.


"Kamu kenapa? Menangislah di dadaku. Ceritakan padaku ada apa?" ucap Daka menepuk Bahu Bening.


Bening yang lelah dan depresi pun menyandarkan kepalanya di dada Daka sampai Bening berhenti menangis menyisakan sesak dan lemah.


"Ada apa?" tanya Daka lembut.


"Aku dikeluarkan. Aku difitnah!" lirih Bening sambil terisak, air matanya jatuh lagi dan segera Bening seka.


Daka pun mendudukan Bening dengan nyaman bersandar. Mempersilahkan Bening bercerita.


"Hh...picik sekali teman- temanmu!" jawab Daka berkomentar.


"Aku harus kemana setelah ini?" gumam Bening depresi. Dia tidak mungkin kembali ke orang tuanya. Mencari pekerjaan lain kan susah.


"Aku suamimu. Aku akan bertanggung jawab menafkahimu. Aku yang bekerja. Kamu tenang saja ya!" ucap Daka kemudian


Bening terdiam dan menoleh.


"Aku ragu dengan pekerjaanmu. Sebenarnya kamu kerja apa sih?" tanya Bening kemudian.


"Yang penting kamu tidak usah khawatir. Meski gajiky sedikit, aku akan bertanggung jawab mencari uang!" jawab Daka lagi meyakinkan Bening.


"Percaya padaku. Jangan sedih lagi ya!"

__ADS_1


Bening kemudian mengangguk tersenyum. Daka lega melihat Bening tersenyum..Daka ikut tersenyum dan menarik Bening ke dalam pelukanya lagi.


__ADS_2